Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Formula Pertama Felicia
Kalau Felicia cuma istri kontrak, kenapa Kevin membiarkan dia ikut semua urusan keluarga?
Komentar itu menjadi pintu.
Pagi berikutnya, akun anonim lain masuk. Lalu akun ketiga. Dalam beberapa jam, kalimat yang sama muncul dengan variasi berbeda.
Felicia Santoso dulunya tidak pernah terlihat di bisnis. Sekarang tiba-tiba ikut rapat?
Kevin Surya berubah setelah menikah. Positif atau berbahaya?
Ada yang bilang ini pernikahan kontrak. Kalau benar, kenapa istrinya terlalu dominan?
Felicia membaca semua itu di ruang kerja kecil The Residence dengan wajah tenang. Di sampingnya, Rina mengumpat setiap tiga menit. Jason duduk di lantai sambil memegang laptop, karena katanya ide lebih lancar kalau posturnya menderita. Kevin berdiri di dekat jendela, menerima update dari Adi.
"Kita bisa bantah," kata Rina. "Tulis mereka pengecut anonim."
Jason mengangkat tangan. "Sebagai orang yang sering pengecut di grup chat, aku tersinggung."
"Bagus."
Felicia menutup tablet. "Kalau kita hanya membantah, kita main di panggung mereka."
Kevin menatapnya. "Lalu?"
"Kita buat panggung sendiri."
Ia membuka notebook. Di halaman pertama, ia menulis tiga kata besar.
Cia Skin Lab.
Rina membaca. "Kamu mau jual skincare sekarang? Di tengah perang keluarga?"
"Justru karena perang keluarga."
Jason duduk lebih tegak. "Aku tertarik, tapi bingung."
Felicia menunjuk tablet. "Rumor mereka bilang aku mendadak muncul tanpa kemampuan, cuma memanfaatkan nama Kevin. Kita jawab dengan sesuatu yang bisa dilihat publik. Bukan drama. Bukan klarifikasi panjang. Produk. Proses. Data. Aku mulai dari hal yang bisa kukerjakan cepat."
Kevin menatap tulisan itu.
"Skincare?"
"Iya. Tubuh ini punya wajah yang dulu sengaja dirusak makeup. Banyak perempuan mengerti rasa itu. Aku mau buat rangkaian sederhana untuk skin barrier. Bukan klaim ajaib. Bukan putih instan. Aman, jelas, dan transparan."
Rina meletakkan keripik. "Oke. Ini baru menarik."
***"Host, misi bisnis mikro tersedia: mulai lini produk skincare pertama. Reward berdasarkan penjualan dan reputasi positif."***
Felicia menahan senyum.
*Akhirnya misi yang tidak dimulai dengan orang jahat.*
Kevin menangkap nada lega itu.
"Kamu punya formula?"
Felicia membuka folder riset yang disusun semalam setelah tidak bisa tidur. "Basic hydrating serum. Niacinamide rendah, panthenol, centella, hyaluronic acid. Fokus menenangkan kulit setelah makeup berat. Kita bisa mulai dari small batch lewat lab maklon yang legal. Tapi aku ingin uji dulu secara pribadi dan dokumentasi proses."
Jason bersiul. "Bu Felicia datang membawa perang dan ingredients list."
Rina menunjuknya. "Kamu tahu niacinamide itu apa?"
"Tahu. Kata yang sering muncul di iklan cewek."
"Jadi tidak tahu."
"Setidaknya aku jujur."
Kevin mengambil notebook Felicia. Ia membaca dengan cepat, lalu bertanya, "Legalitas?"
"BPOM butuh proses. Jadi tahap pertama bukan jual massal. Kita buat konten edukasi dan waiting list. Produk sample hanya untuk inner circle dengan disclaimer uji coba, lewat lab yang punya izin bahan. Tidak jual klaim berlebihan."
Kevin mengangkat mata.
Felicia mengangkat bahu. "Saya tidak mau kena masalah hukum karena serum."
*Musuh boleh banyak, tapi jangan sampai kalah oleh botol skincare.*
Kevin hampir tersenyum.
Adi masuk membawa folder. "Bu Felicia, ini daftar lab maklon yang legal dan punya rekam jejak baik. Pak Kevin meminta disiapkan tadi pagi."
Felicia menoleh ke Kevin.
"Tadi pagi?"
Kevin berkata datar, "Kamu menulis ingredient list jam dua malam."
Felicia membeku.
"Kamu lihat?"
"Lampu ruang kerja menyala."
*Atau dia mata-mata? Tidak. Jangan curiga. Tapi kenapa dia secepat ini?*
Kevin menaruh notebook kembali. "Pakai yang aman."
Felicia menerima folder itu, dada terasa hangat dengan cara yang mengganggu konsentrasinya.
"Terima kasih."
"Ini bagian strategi reputasi."
"Tentu. Alat kerja lagi?"
"Ya."
Jason berbisik pada Rina, "Mereka punya bahasa cinta administrasi."
Rina menjawab, "Menyedihkan tapi efektif."
Felicia pura-pura tidak mendengar, tapi telinganya memanas.
Sore itu, dapur bersih di area servis The Residence berubah menjadi laboratorium sementara. Bukan untuk produksi massal, hanya untuk mencatat tekstur, aroma, dan konsep konten. Felicia memakai sarung tangan, hair cap, dan apron. Rina merekam dengan ponsel. Jason bertugas memegang reflektor kecil, walau ia lebih sering protes pegal.
"Jangan terlalu dekat," kata Felicia. "Ini bukan vlog bakmi."
"Aku sutradara kreatif."
"Kamu tripod hidup," kata Rina.
Kevin berdiri di pintu, memperhatikan tanpa masuk. Bola tidur di belakang pagar kaca kecil di area jauh, aman dari jalur Kevin.
Felicia menuang gel bening ke wadah kaca, lalu mencatat.
"Tekstur terlalu lengket."
***"Saran: kurangi humectant, tambah soothing agent. Tapi jangan buka fitur formula premium dulu, poin belum cukup."***
*Sistem pelit.*
***"Sistem realistis."***
Kevin mendengar pertukaran itu dan menyadari bahwa bahkan dalam bisnis kecil, Felicia tidak sepenuhnya mengandalkan sistem. Ia mencoba, mencatat, salah, memperbaiki.
Itu membuatnya lebih tenang.
Menjelang malam, video pendek pertama selesai: tangan Felicia membersihkan makeup tebal dari separuh wajah, lalu menampilkan kulit yang bernapas, disertai caption sederhana.
Kulit tidak perlu dipaksa jadi orang lain. Mulai dari memperbaiki yang rusak.
Rina membaca caption itu dan diam beberapa detik.
"Cia," katanya pelan. "Ini tentang kamu, kan?"
Felicia tersenyum kecil. "Tentang banyak perempuan."
Kevin berdiri di ambang pintu, matanya gelap dan tenang.
Felicia mengunggah video itu ke akun baru bernama Cia Skin Lab.
Tidak ada klarifikasi rumor.
Tidak ada menyebut keluarga Surya.
Hanya proses, wajah, dan satu kalimat yang terlalu jujur untuk diabaikan.
Satu jam kemudian, video itu mulai dibagikan.
Bukan viral besar.
Belum.
Tapi cukup untuk membuat komentar pertama yang bukan serangan muncul.
Ini Felicia Santoso? Kok vibe-nya beda. Aku suka pesannya.
Felicia menatap komentar itu lama.
Di sampingnya, Kevin berkata, "Panggungmu mulai terbentuk."
Felicia menoleh.
"Panggung kita," koreksinya.
Kevin tidak membantah.
Di tempat lain, Stella melihat video itu dari ponselnya. Tangannya berhenti di atas layar.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung merasa marah.
Ia merasa tertinggal.