Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUNA
Keira memejamkan mata.
Namun tubuhnya tidak merasakan benturan apa pun. Ternyata seseorang menarik lengannya hingga tubuhnya terjatuh ke arah trotoar.
Keira membuka mata perlahan. Seorang gadis yang lebih tinggi 5 cm berdiri di hadapannya. Ia mengenakan atasan tanpa lengan yang memperlihatkan seekor kupu-kupu indah di atas dada kirinya.
Refleks, Keira berbisik, "...Anneta."
*Deg*!
Keira mengangkat wajahnya untuk melihat gadis yang sudah menolongnya. Gadis itu mengernyit.
"Queen bully?!" pekik Keira saking terkejutnya.
"Maaf." Keira menutup mulutnya sendiri.
Gadis di hadapannya menghela napas pelan.
"Kamu mengatakannya seolah-olah aku masih suka membully."
"Maaf." Keira menundukkan kepala.
Suasana kembali hening beberapa saat. Aleta memperhatikan koper yang dibawa Keira.
"Mau pindah?" tanyanya. Dan Keira hanya mengangguk pelan.
"Nggak tahu harus ke mana." Jemari Keira kembali saling memilin, kebiasaan yang tak pernah lepas saat rasa gugup datang.
Aleta menatapnya beberapa detik. Lalu berkata singkat, "Tinggallah bersamaku."
"Benarkah?" tanya Keira dengan mata membelalak kaget. Aleta mengangguk pelan.
"Hmm. Apartemenku punya banyak kamar kosong."
Untuk pertama kalinya hari itu, senyum kecil akhirnya muncul di wajah Keira.
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterimakasih. Aku hanya tidak ingin teman ku berkeliaran di jalanan seperti ODGJ," ucap Aleta pedas.
"Kau menganggap ku teman? Sulit di percaya," ucap Keira senang.
Aleta kembali melangkah tanpa menjawab pertanyaan Keira.
"Eh... tunggu!"
Keira buru-buru mengejarnya. Langkah Aleta yang panjang dan cepat membuat Keira harus menyeret koper sambil sedikit berlari agar bisa menyamai langkah gadis itu.
"Jalanmu cepat banget..." gumam Keira pelan.
Aleta tidak menanggapi. Beberapa meter kemudian, keduanya berhenti di depan sebuah Lamborghini Aventador berwarna hitam yang terparkir rapi di pinggir jalan. Mata Keira membulat.
"Ini... mobilmu?"
"Hmm."
Aleta membuka bagasi belakang. Tanpa banyak bicara, Keira mengangkat koper itu dan memasukkannya ke dalam bagasi sebelum menutupnya kembali.
"Ayo."
Keira segera mengangguk lalu masuk ke kursi penumpang. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman...
*Vrooom*...
Mesin Lamborghini itu mengaum pelan sebelum akhirnya melaju meninggalkan tempat tersebut.
Selama perjalanan...
Tak banyak percakapan terjadi. Aleta hanya fokus memegang kemudi, sementara Keira sesekali mencuri pandang ke arah gadis di sampingnya.
Beberapa menit kemudian...
Mobil itu berbelok memasuki jalan yang jauh lebih lengang dibanding jalan utama. Di kanan-kiri hanya dipenuhi pepohonan dan beberapa bangunan tua yang jarang dilewati kendaraan.
"Kau... sengaja memilih jalanan sepi ini?" tanya Keira sambil menoleh keluar jendela.
"Hmm."
"Oh..." Keira hanya mengangguk kecil.
Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, Aleta kembali bersuara. "Aku tidak sedang menculikmu. Jangan khawatir."
Keira spontan terkekeh kecil. "Aku tahu."
Belum sempat percakapan berlanjut...
*Ciiittt*!!
Aleta menginjak rem mendadak. Tubuh Keira refleks terdorong ke depan, namun tertahan oleh sabuk pengaman.
"Ada apa?" tanya Keira, sebelum melihat ke depan.
Di tengah jalan yang sepi, sekelompok pria sedang terlibat perkelahian. Jumlah mereka sekitar dua puluh orang. Di antara kerumunan itu, dua sosok yang sangat dikenalnya masih terus melawan tanpa mundur sedikit pun.
Gavin dan Ariana.
Tanpa ragu, Aleta mematikan mesin mobil. Pintu mobil terbuka.
"Aleta?" Keira belum sempat menghentikannya.
Aleta sudah melangkah cepat menuju pusat perkelahian. Tatapannya berubah dingin. Aura yang sejak tadi ia sembunyikan, kini perlahan mulai kembali muncul. Keira yang semula hanya terpaku akhirnya tersadar.
"Oh!" Ia buru-buru meraih kunci mobil yang masih berada di dashboard.
*Bip*!
Pintu Lamborghini itu terkunci otomatis. Setelah memastikan mobil dalam keadaan aman, Keira segera berlari menghampiri Aleta.
Baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya untuk mengamati sekitar. Matanya menyapu medan pertarungan. Gavin dan Ariana mulai terlihat kewalahan menghadapi banyaknya lawan.
Namun...
Hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Aleta. Setiap gerakannya begitu tenang dan efisien. Tanpa gerakan yang sia-sia.
Seorang pria menerjang dari samping sambil mengayunkan bogem mentah. Aleta sedikit memiringkan tubuhnya. Pukulan itu meleset.
Dalam satu gerakan, siku Aleta menghantam ulu hati pria tersebut hingga ia terbatuk hebat.
*Bughh*!
Belum sempat pria itu kembali berdiri...
*Bruk*!
Sebuah tendangan memutar menghantam pelipisnya. Tubuhnya langsung ambruk tak sadarkan diri.
"Wow!" Keira membelalak kagum.
Di saat yang sama...
Seorang pria bertubuh besar diam-diam mengangkat balok kayu dari belakang Aleta. Matanya menyipit. Balok itu diayunkan sekuat tenaga.
"ALETA, AWAS!!" teriak Keira sekuat-kuatnya.
Nyaris bersamaan, Aleta memutar tubuhnya.
*Buk*!
Lengan kirinya menahan ayunan balok kayu itu.
Tanpa memberi kesempatan lawannya bereaksi, lutut Aleta menghantam perut pria tersebut.
*Bughh*!
Pria itu terbungkuk kesakitan. Aleta merebut balok kayu dari tangannya, lalu menghantamkannya ke bahu lawan hingga balok itu terlepas dan pria tersebut tersungkur ke aspal.
*Brukk*!
"AHH!"
Sementara perhatian semua orang tertuju pada Aleta...
Seseorang diam-diam mendekati Keira dari belakang. Balok kayu kembali terangkat.
Namun...
Sebelum sempat menghantam kepalanya... Keira lebih dulu memiringkan tubuh. Ayunan itu hanya membelah udara kosong. Karena posturnya lebih kecil, Keira bergerak lincah melewati sisi tubuh pria itu.
Dalam sekejap, posisinya sudah berada tepat di belakang sang penyerang.
"Kalau mau nyerang, belajar untuk tidak berisik," bisiknya.
*Duk*!
Sebuah tendangan keras menghantam lipatan belakang lutut pria itu hingga kehilangan keseimbangan.
Saat tubuhnya jatuh berlutut...
*Buk*!
Keira menghantam tengkuknya dengan siku. Pria itu langsung roboh tak bergerak. Keira mengembuskan napas panjang.
"Aku terpaksa ikut pertarungan sialan ini."
Tanpa menunggu lebih lama...
Ia berlari menghampiri Aleta, Gavin, dan Ariana. Kini, empat orang melawan sembilan preman yang masih tersisa. Dan jumlah itu tidak terlihat menakutkan bagi mereka.
......
Beberapa menit kemudian...
Pertarungan itu akhirnya usai. Seluruh preman yang tadi menghadang mereka kini telah terkapar tak berdaya di atas aspal. Keempatnya berdiri sambil mengatur napas.
Beruntung, tak ada satu pun yang mengalami luka serius. Gavin dan Ariana hanya mendapat beberapa lebam serta lecet di tangan dan wajah. Sementara Aleta dan Keira hanya mengalami luka kecil di sudut bibir akibat sempat terkena serangan lawan.
Tak lama kemudian, deru beberapa mobil hitam terdengar mendekat. Puluhan anggota Black Demon turun dengan sigap, langsung mengamankan lokasi dan mengangkut para preman yang masih tergeletak.
Melihat anak Black Demon telah mengambil alih keadaan, Gavin mengembuskan napas lega.
"Untung mereka datang."
Aleta berjalan menuju Lamborghini miliknya, lalu membuka bagasi belakang. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak P3K.
"Hmm."
Tanpa banyak bicara, Aleta menyerahkan beberapa plester dan cairan antiseptik kepada Gavin dan Ariana. Keempatnya pun duduk di pinggir trotoar. Sesekali terdengar ringisan kecil saat luka dibersihkan.
"Pelan dikit, Ta," keluh Gavin ketika Aleta mengoleskan antiseptik ke lecet di lengannya.
"Perih."
"Itu tandanya masih hidup," Jawaban datar Ariana membuat Keira menahan tawa.
"Makanya lain kali jangan banyak gaya," ucap Keira.
"Halah, tadi yang hampir dikeroyok siapa?" balas Gavin.
"Aku. Tapi kan akhirnya menang."
"Iya, Ri terserah."
'*Akhirnya bukan hanya Adrian, tapi aku juga bisa merasakan gimana rasanya diobati sama Ariana*.'
Keira yang duduk di samping Aleta hanya tersenyum kecil melihat keduanya kembali saling menyindir.
Setelah memastikan luka mereka sudah ditangani, Aleta menutup kembali kotak P3K.
"Kalian bisa pulang sendiri?" tanya Keira.
Gavin langsung mengacungkan jempol.
"Tenang. Lebam doang, bukan patah tulang."
"Aku juga masih bisa nyetir," sahut Ariana.
Aleta mengangguk pelan.
"Thanks ya Ta, Kei. Udah bantu kita," ucap Ariana lagi.
Aleta dan Keira mengangguk. Keduanya kini tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi.
Setelah berpamitan singkat, Gavin dan Ariana menaiki motor mereka masing-masing. Sementara itu, Aleta dan Keira kembali masuk ke dalam Lamborghini hitam.
*Vrooom*...
Mobil itu melaju meninggalkan lokasi, menuju apartemen Aleta.
Sedangkan anggota Black Demon masih sibuk membereskan kekacauan yang tersisa di jalanan sepi tersebut.
......
Sesampainya di lantai apartemen Aleta...
Pintu unit terbuka pelan. Dari ruang tamu terdengar suara Aura yang sedang melakukan panggilan video.
"Iya, Ma. Tenang aja..."
Aura yang sedang duduk di sofa hanya melambaikan tangan kecil begitu melihat Aleta masuk. Aleta membalas anggukan singkat.
"Satu kamar udah kubersihin," ucap Aura sebelum kembali fokus pada panggilan videonya.
"Hmm."
Aleta membawa koper Keira menyusuri lorong apartemen. Apartemen itu memiliki empat kamar tidur. Satu kamar ditempati Aleta dan Aura. Satu kamar lagi menjadi milik Viana. Sedangkan dua kamar sisanya sudah lama kosong hingga dipenuhi debu.
Beruntung, sejak siang tadi Aura sudah membersihkan salah satunya.
"Nanti kamu tinggal di sini," ucap Aleta singkat.
Keira mengangguk.
"Terima kasih."
Aleta hanya mengangguk kecil sebelum keluar kembali.
Keira mulai membuka koper dan menyusun pakaian-pakaiannya ke dalam lemari.
Di luar kamar, Aura telah mengakhiri panggilan videonya. Ia langsung menuju dapur.
"Aku sudah masak. Bantu aku menyajikannya di meja."
"Hmm."
*Ding dong*...
Bel apartemen berbunyi.
"Biar aku yang buka!" teriak Aura dari dapur.
Namun, belum sempat ia melangkah. Pintu sudah lebih dulu terbuka dari luar.
"HAI SEMUANYA!!"
Suara Viana menggema memenuhi apartemen.
"Aku pulaaanggg!"
Keira yang sedang merapikan pakaian spontan keluar dari kamar.
Langkahnya langsung terhenti saat melihat seseorang yang berdiri di belakang Viana.
"Ravian..." gumamnya.
*Deg*!
Tatapan keduanya langsung bertemu. Ravian mengembuskan napasnya kasar.
"Ternyata benar di sini." Tatapannya berubah tegas. "Pulang."
Keira menggeleng pelan.
"Aku nggak mau."
"Keira. Aku bilang pulang."
"Nggak. Aku udah bukan siapa-siapamu lagi."
Suasana ruang tamu seketika menjadi tegang.
"Aku cuma mau—"
Belum sempat Ravian menyelesaikan ucapannya...
*Clek*!
Seluruh lampu apartemen tiba-tiba padam.
"Hah?"
Keira menoleh ke sekeliling. Ruangan mendadak gelap gulita. Beberapa detik kemudian...
*Clek*!
Lampu kembali menyala.
"HAPPY BIRTHDAY, TWINS!!"
Suara riuh memenuhi apartemen. Keira membelalak.
Di hadapannya, Viana berdiri sambil membawa kue ulang tahun yang dipenuhi lilin menyala. Aura berdiri dengan sebuah kotak hadiah kecil di tangannya. Bahkan Aleta yang biasanya datar kini tersenyum hangat di sampingnya.
"Tiup lilinnya..."
"Tiup lilinnya..."
"Tiup lilinnya sekarang juga..."
Keira mematung. Perlahan ia mendekat.
"Kita tiup bersama, oke?" ajak Ravian sambil tersenyum hangat pada Keira.
"Kita?" tanya Keira lagi, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Ya, kita." Ravian menatap lilin di depannya. Tangannya menggenggam tangan Keira.
"3... 2... 1..."
Setelah Ravian selesai menghitung mundur, keduanya lalu meniup seluruh lilin itu. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
Alih-alih tersenyum lebar, air mata justru jatuh satu per satu dari pelupuk mata Keira. Ia langsung memeluk Aleta yang berada paling dekat dengannya.
"Kalian..." suaranya bergetar. "...sebenarnya siapa?"
Aleta membalas pelukan itu sambil mengusap pelan punggung Keira.
mana dipanggil honey lagi /Doge/