Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 # Batu kerikil
Selama makan malam, Queena hanya diam. Tidak ada pembahasan apapun di meja makan, kecuali makan malam khidmat. Dean beberapa kali melirik sang kakak, pasalnya ada yang aneh. Queena biasanya tidak akan sediam itu, hingga rasa penasaran membuat Dean mencolek lengan sang kakak.
“Sariawan, kak?”
Queena berdecak pelan, dia melirik sang adik.
“Habiskan makan malammu, Dean!” bukan Queena, melainkan papa Rega yang bersuara.
Dean langsung kicep, dia kembali melanjutkan makan malamnya. Dean tahu benar jika papa Rega sudah bicara dengan nada lembut namun tegas, itu berarti dia atau sang kakak yang membuat papa mereka marah. Dean seharian ini tidak membuat ulah, sudah bisa di pastikan kakak cantiknya tersebut yang membuat papa mereka marah.
Pantas dari tadi kakak diam saja, ternyata habis bikin papa marah.
Mama Rhea tersenyum lembut. “Jangan marah terus sama kakak, mas. Takut dia nanti,” mama Rhea dengan lembut mengusap lengan suaminya.
Papa Rega membalas senyuman istrinya. “Aku tidak marah,” lirihnya.
Papa Rega hanya ingin tahu alasan Queena menyetir sendiri, tapi putrinya tersebut masih diam dan hanya menunduk. Papa Rega memang tidak perlu marah pada Queena, putri sulungnya tersebut sudah paham dengan sendirinya jika dia bersalah.
Mama Rhea yang paham situasi berusaha mencairkan suasana. “Tumben bekalnya tadi siang sisa, sayang?”
Queena mendongak, dia menghela napas lalu menatap mama Rhea. Wajah sang mama yang penuh keteduhan tersebut membuat Queena merasa nyaman. “Gara-gara Arlo,” jawab Queena dengan wajah masam. “Dia selalu rebut makan siangku, belum jadi habis malah ngajak pulang. Di jalan lapar, akhirnya mampir beli mie ayam. Akhirnya Arlo ngantuk karena kekenyangan,” jawab Queena.
Dari penjelasan tersebut tersirat jika Queena tidak hanya memberitahu sang mama, melainkan dia juga memberitahu papa Rega kenapa bukan Arlo yang menyetir. Queena melirik papa Rega, dia ingin tahu ekspresi sang papa. Namun papa Rega tetap dengan ekspresi datarnya, Founder sekaligus CEO Allegra tersebut tetap makan malam dengan tenang. Seolah ucapan putrinya tidak terdengar, Queena hanya bisa menghela napas. Namun, papa Rega tersenyum tipis nyaris tak terlihat tanpa putri sulungnya tersebut tahu. Hanya mama Rhea yang dapat melihat perubahan mimic muka sang suami.
“Ueena pasti mengira kalau kamu marah, mas. Sana ke kamar kakak dulu!” ucap mama Rhea, mereka baru saja selesai makan malam. Sepasang suami istri tersebut masih ada di ruang makan, papa Rega menemani istrinya membereskan meja makan bersama bi Yuyun.
“Iya, sayangku. Aku ke kamar Ueena setelah ini,” jawab papa Rega.
Queena memang sudah kembali ke kamarnya setelah selesai makan malam, begitu juga dengan Dean. Namun remaja tujuh belas tahun tersebut tidak langsung ke kamarnya, dia justru ikut masuk ke dalam kamar sang kakak.
Queena menatap curiga sang adik. “Ngapain ikut masuk ke sini?”
Dean tidak langsung menjawab, dia justru berjalan menuju tempat tidur sang kakak. Remaja tersebut menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur Queena. Dean menaruh kedua tangannya kebelakang sebagai bantal kepala.
“Papa marah karena kak Ueena nyetir sendiri?” Dean melirik sekilas sang kakak yang duduk di tepian tempat tidur.
Queena mengangguk. “Padahal dia janji tidak bilang papa,” Queena menghela napas.
Dean terkekeh. “…dan kakak percaya?”
“Sempat ragu,” jawab Queena.
Dean bangun, dia duduk bersila. “Aku heran dengan kalian berdua, kak. Bang Arlo itu hanya mode rese kalau sama kakak doang, ketemu Aila saja dia tidak seheboh waktu sama kakak. Aqila pernah bilang kalau bang Arlo itu most wanted di kampus,”
“Dia memang most wanted di kampus. Banyak yang ngefans sama dia, Intan saja terbucin-bucin. Tapi soal Arlo merespon mereka atau tidak…aku tidak tahu dan tidak mau tahu,” jawab Queena.
“Sepertinya memang hanya bang Rafa yang bisa membuat kalian anteng saat bersama, kak. Nasib bang Rafa ngenes amat,” celetuk Dean.
Queena mengangguk setuju, Rafa memang selalu bisa membuat dia dan Arlo bisa tenang tanpa berdebat. Entah magis apa yang putra papa Dio itu lakukan pada Arlo dan Queena, hingga keduanya bisa akur saat ada dirinya.
Tok.. Tok
“Papa boleh masuk, sayang?” papa Rega berdiri diambang pintu kamar putrinya, pintu kamar Queena memang tidak di tutup.
“Iya, pa.”
Papa Rega masuk ke dalam kamar. “Kalian ngobrolin apa, hmm?” papa Rega mengacak rambut Dean, remaja tersebut langsung membenahi rambutnya.
“Ghibah bang Arlo, pa. Papa marah gara-gara dia juga, kan?” bukan Queena, melainkan Dean yang menjawab.
Papa Rega kemudian duduk santai di sofa kamar putrinya, dia duduk menghadap kedua anaknya tersebut.
“Papa heran. Kenapa kakak selalu saja bisa di jahili Arlo? Sehari sampai berkali-kali. Padahal princessnya papa ini kan cerdas,” ucap papa Rega setengah meledek.
“Papa…” Queena mencebik.
“Sama bakteri dia menang, pa. Sama bang Arlo? Sudah pasti…” sahut Dean. “…kalah,” lanjutnya membuat papa Rega dan Dean tertawa ringan.
Queena memberengut karena candaan papa dan sang adik, dia kemudian berdiri dan pindah duduk di samping sang papa. “Papa sudah tidak marah sama Ueena?” tanya gadis itu polos.
Papa Rega tersenyum, sorot matanya penuh hangat saat melihat putrinya tersebut. “Papa tidak marah, sayang. Tapi papa ingin kakak mengatakan alasan apa yang membuat Ueena sampai harus menggantikan Arlo menyetir,”
“Arlo bilang capek dan ngantuk, pa. Malam sebelumnya dia begadang menyiapkan presentasi project tugas kuliahnya,” jawab Queena jujur dan diangguki papa Rega.
Papa Rega, Dean dan Queena akhirnya deep talk, Dean bahkan ikut duduk di sofa bergabung dengan papa dan kakaknya. Dean dan Queena bergantian menceritakan apa saja yang mereka lalui hari itu.
***
Arlo sudah berada di kediaman papa Rega, dia masuk setelah mengetuk bagian samping pintu gerbang yang sering di gunakan penjaga keamanan rumah keluar masuk. Pemuda itu tentunya sudah sangat hapal area rumah Queena, karena dia dan kedua orang tuanya memang sering kesana.
Penjaga keamanan rumah Queena tentu mengijinkan Arlo masuk, karena memang dia mengenal Arlo. Dia berdiri di depan pintu rumah Queena, namun Arlo ragu untuk mengetuk pintu tersebut. Karena Arlo melihat lampu ruang tamu sudah padam, kemungkinan papa Rega dan mama Rhea sudah istirahat. Karena tidak ingin mengganggu, Arlo memutuskan untuk langsung mencari Queena. Dia melangkahkan kakinya menuju taman samping, di mana Arlo bisa memanggil Queena dari sana.
Saat itu Arlo sudah ada di bawah balkon kamar Queena, padahal Arlo punya cara yang lebih mudah untuk bertanya no Azura tanpa harus ke sana langsung. Namun entah kenapa malam itu kecerdasan Arlo merosot, dia justru melakukan cara yang membuatnya akan mendapat masalah nantinya.
“Psstt…Queen…Queen!” Arlo memangil Queena dari bawah. “Sudah kealam mimpi apa, ya?” monolog Arlo.
Karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari Queena, Arlo akhirnya mencari sesuatu. Pemuda itu tersenyum smirk, dia menemukan benda yang bisa di gunakan untuk membuat Queena keluar.
“Semoga om Rega dan aunty Rhea sudah tidur lelap. Jadi mereka tidak akan dengar saat aku melempar batu kecil ini ke balkon kamar Queen,” monolognya lagi.
Arlo melempar batu kerikil ke balkon kamar Queena, batu-batu kerikil tersebut mendarat sempurna di lantai balkon hingga menghasilkan suara.
Klotak
klotak
“Suara apa itu, kak?” papa Rega mendengar bunyi dari arah balkon Queena.
“Ueena lihat dulu, pa. Mungkin buah mangga yang di samping jatuh ke balkon,” Queena beranjak dari sofa, dia menarik tirai balkon dan membuka pintu. “Siapa sih iseng banget? Malam-malam melempar batu,” monolognya.