Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bram
Nathan melangkah keluar melewati garis pembatas polisi, menghampiri Reno yang sedang berdiri di dekat mobil patroli.
Di samping Reno, duduk seorang pria berusia tiga puluhan akhir di atas pijakan ambulans.
Pria itu tampak sangat terguncang. Bajunya agak kusut, wajahnya pucat pasi, dan kedua tangannya gemetaran hebat saat memegang cangkir kertas berisi teh hangat yang diberikan oleh petugas medis.
Pria itu adalah Bram—suami korban sekaligus orang yang pertama kali menelepon dan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.
Reno menoleh saat menyadari kehadiran Nathan. "Nat, ini Pak Bram, suami dari korban. Dia yang pertama kali menemukan jasad istrinya dan melapor ke kita."
Nathan menatap Bram lekat-lekat. Sorot mata Nathan begitu tajam dan dingin, memperhatikan setiap detail kecil dari penampilan pria di hadapannya,mulai dari tatanan rambut, ekspresi wajah, keteraturan napas, hingga gerak-gerik sekecil apa pun.
"Pak Bram, saya Nathan dari kepolisian," panggil Nathan dengan suara tenang namun menekan. "Bisakah Anda menceritakan kembali secara terperinci kronologi kejadian sebelum Anda menemukan istri Anda?"
Bram mendongak, matanya yang sembab dan memerah menatap Nathan. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata lalu menghembuskan napas yang patah-patah.
"S-saya... tadi sore sekitar jam lima keluar rumah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor dan bertemu klien, Pak. Istri saya tinggal sendirian di rumah," ujar Bram memulai penjelasannya dengan suara bergetar.
Bram kemudian membeberkan cerita versi dirinya secara mendalam:
Ia mengaku baru selesai dari urusannya dan kembali sampai di rumah sekitar pukul delapan malam.
Saat tiba di pekarangan, ia merasa aneh karena lampu teras depan dalam keadaan mati dan pintu utama sedikit terbuka tanpa terkunci.
Begitu melangkah masuk, ia melihat keadaan ruang tamu yang agak berantakan. Ia memanggil nama istrinya berulang kali, namun tidak ada sahutan sama sekali.
Ketika berjalan menuju arah ruang tengah, ia histeris melihat istrinya sudah tergeletak kaku di lantai bersimbah darah.
Dalam keadaan panik luar biasa, Bram mengaku sempat mendekati jasad istrinya dan berlutut untuk memeriksa urat nadi di leher serta napasnya, namun sang istri sudah tidak bernyawa.
Setelah itu, ia menyadari pintu kamar utama terbuka. Ia masuk untuk memeriksa lemari dan mendapati brankas kecil berisi perhiasan emas serta uang tunai puluhan juta telah hilang dibawa kabur.
Karena takut dan panik, Bram langsung berlari keluar rumah sambil berteriak meminta tolong pada warga sekitar, lalu segera menelepon layanan darurat kepolisian.
Reno sibuk mencatat setiap ucapan Bram di buku catatan kecilnya sembari mengangguk-angguk paham. "Jadi, Anda menduga ada perampok yang menyusup dan membobol rumah saat Anda pergi?"
"Pasti perampok, Pak! Tidak ada alasan lain!" seru Bram dengan emosi yang meledak-ledak, air matanya kembali menetes. "Siapa lagi yang tega berbuat sekeji itu kalau bukan pencuri yang ketahuan lalu panik?! Tolong tangkap pelakunya, Pak... Tolong balaskan kematian istri saya!"
Di saat Reno terus mencatat keterangan tersebut, Nathan tetap berdiri gemalih dalam diam.
Pikirannya bekerja cepat bagaikan mesin analisis, membedah setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut Bram.
Naluri penyidik Nathan menangkap beberapa janggalan fatal dari penjelasan tersebut:
Keberadaan Bercak Darah: Bram mengaku sempat berlutut dan mendekati jasad istrinya yang bersimbah darah untuk memeriksa nadi leher. Namun, Nathan memperhatikan bagian bawah celana dan ujung sepatu kulit yang dikenakan Bram sama sekali bersih dari noda darah, padahal genangan darah di sekitar korban sangat luas.
Kondisi Pintu: Pintu depan tidak mengalami kerusakan paksa pada gagang atau engselnya—suatu hal yang aneh untuk sebuah perampokan spontan.
Kesimpulan Terburu-buru: Bram sangat gencar mengarahkan opini petugas bahwa ini adalah murni kasus pencurian dan perampokan berdarah, bahkan sebelum tim forensik selesai melakukan olah TKP.
Nathan menyipitkan matanya. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke hadapan Bram.
"Pak Bram... Anda bilang tadi sempat masuk ke kamar dan memeriksa isi brankas yang hilang sebelum menelepon polisi, kan?" tanya Nathan santai.
Bram mengangguk cepat. "I-iya, Pak. Saya panik, jadi saya langsung memeriksa barang-barang berharga kami."
"Lalu... bagaimana Anda bisa tahu secara pasti perhiasan dan jumlah uang yang hilang jika Anda berada dalam kondisi sepanik itu?" cecar Nathan dengan nada halus namun mengunci.
Bram seketika tertegun. Gerakan tangannya yang gemetaran mendadak terhenti. Matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan selama beberapa hitungan detik sebelum akhirnya ia berusaha menguasai diri kembali.
"K-karena... karena itu uang tabungan yang baru saya masukkan ke brankas kemarin, Pak! Saya ingat betul jumlahnya!" jawab Bram dengan nada defensif yang sedikit meninggi.
Nathan mengukir senyum tipis yang tak terlihat dalam remang malam. Reaksi dan jeda ragu dari Bram barusan sudah lebih dari cukup untuk memperkuat kecurigaannya.
Nathan menepuk bahu Reno pelan. "Reno, tolong minta tim untuk memeriksa juga semua rekaman CCTV di sepanjang rute perjalanan kantor dan tempat pertemuan klien yang disebutkan Pak Bram tadi. Pastikan jam keberadaannya cocok."
Reno menoleh ke arah Nathan, langsung memahami arti dari perintah terselubung adiknya itu. "Oke, Nat. Akan langsung kuurus."
Bram menatap Nathan dengan riak ketegangan yang tersembunyi di balik raut dukanya.
Penjelasan yang ia berikan mungkin terdengar sangat sempurna dan masuk akal bagi orang awam, namun bagi Nathan, kesempurnaan cerita yang disusun rapi itu justru menjadi celah terbesar yang menunjuk siapa dalang sebenarnya.