Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan Kemenangan di Istana Menteng
Matahari siang naik perlahan.
Menyinari sudut-sudut kota Jakarta dengan hangat.
Iring-iringan mobil mewah milik Andra membelah jalanan.
Masuk ke dalam gerbang utama istana Menteng.
Pintu gerbang besi terbuka lebar secara otomatis.
Menyambut kepulangan sang pemilik rumah.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan teras utama.
Pengawal bergegas membukakan pintu dengan sigap.
Andra melangkah keluar dengan setelan jas rapi.
Tubuhnya tegap.
Wajahnya tampak jauh lebih santai.
Tidak ada lagi beban berat di pundaknya.
Di tangan kokohnya, ia memegang map dokumen penting.
Berisi kontrak internasional yang sudah sah.
Andra menaiki anak tangga marmer satu per satu.
Langkahnya mantap dan penuh percaya diri.
Pintu utama terbuka.
Aroma harum masakan rumahan langsung tercium.
Kirana berdiri di ujung koridor.
Senyum manis langsung terkembang di bibirnya.
Wanita itu mengenakan pakaian santai bernuansa pastel.
Membuatnya terlihat sangat memesona.
Mata indah Kirana berbinar terang.
Melihat suaminya pulang membawa kemenangan besar.
Andra mempercepat langkahnya.
Ia langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Hangat.
Erat.
Menyalurkan rasa lega yang luar biasa.
"Selamat atas kemenangan besar hari ini, Mas," bisik Kirana lembut.
Andra mengecup puncak kepala istrinya.
Ia mengeratkan pelukan itu beberapa detik.
"Terima kasih, Kir."
"Semua ini berkat doa dan kesabaranmu."
Mereka melepas pelukan perlahan.
Sembari tersenyum bahagia.
Andra mengangkat map dokumen di tangannya.
Menunjukkannya pada sang istri.
"Kontrak internasional itu sudah resmi ditandatangani."
"Semuanya sudah sah."
"Tidak ada lagi birokrat korup yang bisa mengganggu kita."
Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kaget bercampur bahagia.
Air mata haru menggenang di sudut matanya.
Namun ia segera tersenyum lebar.
"Aku tahu kamu pasti bisa, Mas."
"Kamu memang pria hebat."
"Yuk, kita rayakan di ruang makan," ajak Kirana antusias.
Suasana ruang makan terasa sangat hangat.
Berbagai hidangan lezat tersaji rapi di atas meja panjang.
Sup ayam herbal.
Daging sapi lada hitam.
Serta buah-buahan segar.
Andra dan Kirana duduk berdampingan.
Menikmati makan siang tanpa rasa cemas.
Tidak ada lagi teror.
Tidak ada lagi ancaman.
Hanya ada suara alat makan yang beradu pelan.
Serta tawa kecil di antara mereka.
"Bagaimana dengan rencana liburan ke Maladewa, Mas?" tanya Kirana di sela makan.
Andra meletakkan garpunya sejenak.
Ia menatap lekat mata istrinya.
"Semua tiket dan resor privat sudah diatur."
"Kita bisa berangkat lusa pagi."
Kirana mengepalkan kedua tangannya.
Girang bukan main.
"Lusa pagi?!"
"Wah, aku tidak sabar!"
Andra tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Iya, sayang."
"Waktunya kita bersantai berdua saja."
Selesai makan, mereka berpindah ke ruang santai.
Menghadap langsung ke kolam renang.
Air kolam tampak jernih berkilau terkena cahaya matahari.
Andra duduk di sofa empuk.
Kirana menyandarkan tubuh di sampingnya.
Pikiran Andra melayang sejenak.
Mengingat masa-masa sulit dulu.
Saat ia sering dihina dan dipandang rendah.
Dianggap sebagai suami miskin yang tidak berguna.
Namun roda berputar kencang.
Kini ia kembali ke puncak kejayaannya.
Kekayaan.
Kekuasaan.
Dan wanita hebat di sisinya.
"Mas... sedang mikirin apa?" tanya Kirana membuyarkan lamunan.
Andra menoleh.
Ia menggenggam jemari lembut istrinya.
"Aku cuma bersyukur, Kir."
"Ketemu sama kamu adalah hal terbaik dalam hidupku."
"Tanpa kamu, aku mungkin sudah menyerah sejak dulu."
Kirana menggeleng pelan.
Ia merapatkan posisinya.
Menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Kita saling melengkapi, Mas."
"Setia itu mahal, dan aku pegang itu."
Sore berganti perlahan.
Langit Jakarta berubah warna menjadi jingga.
Lampu-lampu kota mulai menyala.
Menghiasi malam yang tenang,Andra merangkul pinggang istrinya,Menatap masa depan yang cerah.
Di sudut lain istana yang megah.
Para pelayan berlalu-lalang menyelesaikan tugas malam mereka.
Lampu kristal memancarkan cahaya terang ke seluruh ruangan.
Andra dan Kirana menikmati waktu santai di balkon lantai utama,Menghirup udara malam yang berhembus lembut.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya.
Tiba-tiba...
Ponsel pribadi di atas meja kerja Andra berdering nyaring.
Suara getarannya memecah keheningan malam.
Layar ponsel menyala terang memancarkan sebuah nomor asing.
Panggilan darurat dari kode wilayah Jawa Timur.
Andra melirik sekilas ke arah layar ponsel tersebut.
Alis tebalnya langsung berkerut dalam.
Ia melepaskan rangkulan tangannya perlahan dari pinggang Kirana.
"Ada apa, Mas?" tanya Kirana penasaran melihat perubahan ekspresi suaminya.
Andra menggeleng pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Sebentar, Kir. Ada panggilan penting."
Ia melangkah meninggalkan balkon menuju meja kerjanya di dalam kamar.
Ponsel itu berdering tanpa henti seolah membawa berita mendesak.
Andra mengangkat panggilan tersebut dan menempelkannya di telinga.
"Halo?" ucap Andra dengan nada berat,Suara di seberang sana terdengar sangat panik dan terengah-engah.
"Tuan Andra... gawat..."
"Aset sisa perusahaan di Surabaya tiba-tiba diserbu pihak tak dikenal malam ini!"
"Seseorang sedang berusaha mendobrak brankas dan merebut dokumen rahasia cabang timur!"
Mata Andra mendadak menyipit tajam.
Sorot matanya memancarkan bahaya yang membara.
Rupanya, musuh lain sedang mengincar celah saat ia lengah.
Urat di leher Andra menegang.
Ia mencengkeram ponselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siapa yang memimpin penyerangan itu, Dimas?" tanya Andra dingin.
Suara di seberang sana diiringi suara pecahan kaca yang mengerikan.
"S-saya tidak tahu pasti, Tuan!"
"Mereka berjumlah belasan orang!"
"Semuanya berpakaian hitam dan bersenjata lengkap!"
"Ini bukan preman bayaran biasa, Tuan.
Mereka profesional!"
Napas Dimas terdengar memburu, diselingi suara tembakan peringatan dari kejauhan.
Andra mengertakkan giginya.
Pikirannya berputar cepat mencari strategi.
"Dengarkan aku baik-baik, Dimas."
"Tinggalkan area lobi depan sekarang juga."
"Tarik mundur semua staf keamanan yang tersisa ke lantai bawah tanah."
"Aktifkan Protokol Nol."
Hening sejenak di seberang sana.
"Protokol Nol, Tuan? Tapi... itu akan mengunci seluruh gedung otomatis."
"Lakukan saja!" bentak Andra tegas.
"Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuh brankas baja di ruangan Rian dulu."
"Nyawa kalian lebih berharga daripada kertas-kertas itu."
"Bertahanlah. Bantuan akan segera datang."
"Baik, Tuan Andra! Laksanakan!"
Klik.
Panggilan terputus secara sepihak.
Andra menurunkan ponselnya perlahan,Rahangnya mengeras.
Aura membunuh yang sudah lama ia kubur, kini kembali menguar ke permukaan.
Ia menoleh ke arah ambang pintu kamar.
Kirana berdiri di sana dengan wajah cemas.
Tangan wanita itu meremas ujung gaun
tidurnya.
Ia sudah mendengar sebagian pembicaraan suaminya.
"Mas..." panggil Kirana dengan suara bergetar pelan.
Andra segera mengubah raut wajahnya.
Ia tidak ingin istrinya ketakutan.
Andra berjalan mendekat, lalu merengkuh kedua bahu Kirana dengan lembut.
"Ada sedikit masalah di kantor cabang Surabaya, Kir," ucap Andra tenang.
"Mereka mencoba mengambil alih aset yang sudah kita menangkan hari ini."
Mata Kirana berkaca-kaca.
"Apakah... apakah ini ulah orang-orang Rian lagi?"
Andra menggeleng pelan.
"Rian sudah hancur. Ini pasti pihak lain yang mencoba memancing di air keruh."
"Mereka mengira aku akan lengah karena sedang merayakan kemenangan."
Kirana menatap dalam ke kedua bola mata suaminya.
Ia bisa melihat badai yang sedang berkecamuk di sana.
"Lalu... bagaimana dengan rencana liburan kita besok pagi, Mas?"
Pertanyaan itu membuat dada Andra terasa sesak.
Ia sangat ingin memberikan liburan impian itu untuk istrinya.
Tapi membiarkan markasnya diserang adalah sebuah kelemahan fatal.
Dalam dunia bisnis berdarah ini, kelemahan setitik saja bisa berakibat hancurnya kekaisaran.
Andra menarik napas panjang.
"Maafkan aku, Kirana."
"Sepertinya kita harus menunda penerbangan ke Maladewa."
"Setidaknya untuk satu atau dua hari ke depan."
"Aku harus terbang ke Surabaya malam ini juga."
Andra menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
Namun, Kirana justru mengangkat wajah suaminya dengan kedua tangannya yang lembut.
Wanita itu tersenyum tulus.
Senyuman yang selalu menjadi sumber kekuatan Andra.
"Tidak apa-apa, Mas."
"Aku mengerti."
"Maladewa tidak akan ke mana-mana."
"Tapi perusahaan dan nyawa karyawanmu di sana sedang dalam bahaya."
"Pergilah. Selesaikan tugasmu."
Andra menatap takjub pada wanita di hadapannya.
Ketegaran Kirana selalu berhasil membuatnya kagum berulang kali.
Andra langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Terima kasih, sayang."
"Aku janji ini tidak akan lama."
"Begitu urusan di Surabaya selesai, aku akan langsung menjemputmu."
Andra melepaskan pelukannya.
Ia segera berjalan menuju lemari pakaian.
Melepas jas kasualnya dan menggantinya dengan setelan serba hitam.
Kemeja hitam.
Celana kain hitam.
Dan sebuah mantel panjang berwarna gelap.
Ia bukan lagi sekadar CEO perusahaan malam ini.
Ia adalah penguasa bayangan yang siap merobek siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
Andra meraih ponselnya kembali.
Ia menekan nomor kontak Handoko, asisten kepercayaannya.
Hanya butuh dua detik hingga panggilan itu tersambung.
"Tuan Muda?" sapa Handoko di seberang sana.
"Siapkan jet pribadi kita malam ini juga, Handoko."
"Bukan ke Maladewa."
"Ubah rute penerbangan ke Juanda, Surabaya."
"Kumpulkan dua puluh pengawal bayangan elit."
"Persenjatai mereka dengan peluru tajam."
"Kita berangkat lima belas menit lagi."
Handoko sama sekali tidak banyak bertanya.
"Baik, Tuan. Jet akan bersiap di landasan VIP dalam sepuluh menit."
Andra memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel.
Ia menoleh ke arah Kirana untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Kunci seluruh gerbang istana Menteng."
"Aku sudah menyuruh tim keamanan lapisan pertama untuk berjaga di luar."
"Jangan keluar rumah sampai aku memberimu kabar."
Kirana mengangguk patuh.
"Hati-hati di jalan, Mas. Habisi mereka yang berani merusak kebahagiaan kita."
Kata-kata Kirana terdengar lembut namun penuh ketegasan.
Andra menyeringai tipis.
"Pasti."
Lima belas menit kemudian.
Iring-iringan tiga mobil SUV anti peluru melesat meninggalkan istana Menteng.
Membelah keheningan malam ibu kota dengan kecepatan tinggi.
Jalanan Jakarta yang mulai sepi mempermudah laju kendaraan mereka.
Di dalam mobil utama, Andra duduk di kursi belakang dengan tatapan tajam.
Handoko duduk di kursi depan, terus memantau situasi dari tabletnya.
"Laporan terbaru dari Surabaya, Tuan."
"Protokol Nol sudah berhasil diaktifkan oleh Dimas."
"Gedung cabang tertutup rapat oleh pintu baja otomatis."
"Tapi pihak penyerang membawa alat pemotong las tingkat militer."
"Mereka sedang berusaha menembus ruang brankas di lantai bawah tanah."
Andra menyandarkan punggungnya dengan tenang.
Namun tangannya bersedekap di dada, menyiratkan kemarahan.
"Berapa lama perkiraan pintu baja itu bisa bertahan?" tanya Andra.
"Sekitar dua jam, Tuan. Tergantung daya alat las yang mereka bawa."
"Cukup," guman Andra pelan.
"Waktu tempuh penerbangan kita ke Surabaya hanya satu jam tiga puluh menit."
"Pastikan konvoi mobil sudah menunggu kita di bandara Juanda."
"Kita akan langsung menyergap mereka dari belakang."
"Mereka pikir mereka adalah pemburu."
"Malam ini, aku akan menunjukkan siapa predator sebenarnya."
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Area VIP terlihat sibuk di tengah malam.
Pesawat jet pribadi berlogo perusahaan Andra sudah menyalakan mesinnya.
Suara deru mesin menderu keras melawan angin malam.
Andra melangkah turun dari mobil.
Diikuti oleh dua puluh orang pengawal bayangan berpakaian serba hitam.
Wajah mereka datar tanpa ekspresi.
Namun postur tubuh mereka memancarkan aura membunuh yang kental.
Mereka adalah pasukan elit yang dilatih khusus di luar negeri.
Hanya bergerak di bawah perintah langsung dari Andra.
Rombongan itu naik ke dalam pesawat dengan cepat.
Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Pintu pesawat ditutup rapat.
Pesawat langsung melaju ke landasan pacu.
Hitungan menit kemudian, burung besi itu lepas landas menembus awan gelap.
Di dalam kabin pesawat, suasana terasa sangat dingin dan mencekam.
Tidak ada yang berani berbicara.
Andra menatap ke luar jendela kabin.
Melihat kerlap-kerlip lampu kota yang perlahan menjauh.
Pikirannya kembali memutar memori lama.
Aset di Surabaya adalah kunci utama dari jaringan bisnis gelap Rian di masa lalu.
Di dalam brankas itu, terdapat sebuah 'Buku Hitam'.
Buku catatan fisik yang memuat daftar nama-nama pejabat korup, aliran dana ilegal, dan rahasia besar para penguasa di Jawa Timur.
Andra sengaja belum menghancurkan buku itu.
Ia menyimpannya sebagai senjata pamungkas jika suatu saat ia butuh pengaruh politik.
Kini, ada pihak yang mengetahui keberadaan buku tersebut.
Dan mereka cukup berani untuk mengambilnya secara paksa.
"Handoko," panggil Andra memecah keheningan kabin.
"Ya, Tuan."
"Cek jaringan CCTV lalu lintas di sekitar gedung cabang Surabaya."
"Cari tahu dari mana rombongan penyerang itu datang."
Handoko mengetik dengan cepat di atas keyboard tabletnya.
"Sistem kamera lalu lintas di radius dua kilometer dari gedung kita sudah diretas, Tuan."
"Layarnya dibekukan sepuluh menit sebelum penyerangan terjadi."
Andra tersenyum miring.
"Peretasan sistem kota?"
"Menarik. Ini bukan pekerjaan kelas teri."
"Hanya ada tiga keluarga besar di timur yang punya akses ke sistem retas semacam itu."
"Keluarga Wijaya, Sindikat Naga Merah, atau..."
Andra menghentikan ucapannya sejenak.
"Atau keluarga Cendana Tua."
Mendengar nama terakhir, wajah Handoko langsung pucat.
"Keluarga Cendana Tua? Tapi Tuan, mereka sudah lama tidak ikut campur urusan permukaan."
"Mereka penguasa pasar gelap sejak era delapan puluhan."
"Kenapa mereka tiba-tiba mengincar aset peninggalan Rian?"
Andra mengusap dagunya perlahan.
"Karena Rian adalah anak haram dari salah satu petinggi mereka."
Fakta mengejutkan itu meluncur begitu saja dari mulut Andra.
Handoko terbelalak kaget.
Ia tidak pernah mengetahui rahasia kelam itu sebelumnya.
"Rian... punya hubungan darah dengan Cendana Tua?"
"Ya," jawab Andra singkat.
"Saat aku menghancurkan Rian dan memenjarakannya, Cendana Tua memilih diam."
"Karena Rian dianggap gagal dan mempermalukan nama keluarga mereka."
"Tapi 'Buku Hitam' itu berbeda."
"Buku itu berisi rahasia yang bisa menghancurkan Cendana Tua jika jatuh ke tangan aparat penegak hukum."
"Mereka datang bukan untuk balas dendam atas Rian."
"Mereka datang untuk mengamankan leher mereka sendiri."
Suasana kabin pesawat semakin terasa berat.
Musuh yang akan mereka hadapi malam ini bukanlah lawan biasa.
Cendana Tua adalah legenda di dunia bawah tanah.
Namun, di wajah Andra tidak ada sedikit pun raut ketakutan.
Justru sebaliknya.
Senyum mengerikan perlahan terbentuk di bibirnya.
"Bagus," bisik Andra pelan.
"Aku butuh hiburan baru setelah membantai pion-pion lemah di Jakarta."
Penerbangan terasa sangat cepat.
Pukul dua dini hari.
Ban pesawat jet pribadi itu menyentuh aspal landasan Bandara Juanda dengan mulus.
Hujan deras sedang mengguyur kota Surabaya malam itu.
Suara petir menggelegar menyambar di kejauhan.
Langit seolah ikut marah menyambut kedatangan sang penguasa muda.
Begitu pintu pesawat terbuka, angin basah langsung menerpa wajah Andra.
Di bawah tangga pesawat, lima buah mobil SUV hitam legam sudah berbaris rapi.
Mesinnya menyala, menembus tirai hujan yang lebat.
Andra melangkah turun tanpa menggunakan payung.
Membiarkan butiran air hujan membasahi rambut dan mantel hitamnya.
Aura dingin yang dipancarkannya bahkan lebih membekukan daripada hujan malam itu.
Para pengawal bayangan segera menyebar, masuk ke dalam mobil masing-masing.
Andra masuk ke mobil kedua.
"Langsung ke lokasi," perintah Andra tegas.
Kelima mobil itu melesat membelah jalanan Surabaya yang tergenang air.
Lampu strobo dimatikan agar kedatangan mereka tidak mencolok.
Mereka bergerak bagaikan hantu di tengah badai.
Dua puluh menit kemudian.
Konvoi mobil Andra tiba di kawasan pergudangan elit tempat cabang perusahaannya berada.
Kondisi di luar gedung tampak sepi.
Namun, indra Andra yang tajam bisa mencium bau mesiu di udara.
Pintu gerbang utama gedung tersebut tampak rusak.
Besi tebalnya penyok, seperti baru saja ditabrak menggunakan truk besar.
"Matikan mesin. Kita masuk lewat jalur belakang," instruksi Andra.
Mobil-mobil itu diparkir rapi di gang sempit sebelah gedung.
Dua puluh pengawal bayangan Andra turun serempak.
Mereka mencabut senjata api berlapis peredam suara dari balik jas mereka.
Andra memimpin di barisan paling depan.
Langkah sepatunya tidak menimbulkan suara sedikit pun meski menginjak genangan air.
Mereka menyelinap masuk melalui pintu darurat di area loading dock.
Pintu itu sudah dirusak dari luar, pertanda musuh sudah masuk lebih dulu.
Lantai dasar gedung terasa sangat gelap.
Listrik utama telah diputus.
Hanya cahaya dari lampu darurat berwarna merah yang berkedip redup.
Menambah kesan horor di dalam bangunan luas tersebut.
"Handoko, periksa jalur ke ruang bawah tanah," bisik Andra.
Handoko memberi isyarat tangan kepada dua orang pengawal di sampingnya.
Mereka bergerak cepat menyusuri lorong kiri.
Belum sampai sepuluh meter, terdengar suara langkah kaki berat dari arah depan.
Tiga orang pria berpakaian taktis hitam-hitam muncul dari balik sudut lorong.
Mereka membawa senapan laras panjang di tangan.
Salah satu dari mereka menyalakan senter ke arah rombongan Andra.
"Siapa di sa—"
Dor! Dor! Dor!
Tiga peluru melesat dalam keheningan mematikan.
Tepat mengenai dada dan dahi ketiga penjaga tersebut.
Mereka tumbang ke lantai tanpa sempat menarik pelatuk senjata mereka.
Darah segar mengalir pelan di atas lantai marmer yang dingin.
Pengawal bayangan Andra menurunkan senjata mereka dengan tenang.
Eksekusi yang sangat rapi dan tanpa ragu.
Andra melangkah melewati mayat-mayat itu tanpa melirik sedikit pun.
"Terus maju. Jangan biarkan ada yang hidup kecuali pemimpin mereka," perintah Andra dingin.
Mereka menuruni tangga darurat menuju lantai bawah tanah.
Semakin ke bawah, suara bising semakin terdengar jelas.
Suara percikan api las dan benturan logam.
Para penyerang sedang fokus menghancurkan pintu baja brankas utama.
Andra memberi isyarat tangan untuk berhenti.
Mereka berada tepat di ujung tangga, mengintip ke arah ruang bawah tanah yang luas.
Di sana, terlihat belasan orang bersenjata sedang berjaga membentuk formasi melingkar.
Di tengah mereka, dua orang sedang sibuk menggunakan alat las potong pada pintu baja raksasa.
Pintu baja itu sudah mulai meleleh di bagian engselnya.
"Sial, mereka hampir menembusnya," kutuk Handoko pelan.
Andra mengamati sekeliling.
Matanya tertuju pada seorang pria tua yang duduk tenang di atas sebuah peti kayu tak jauh dari pintu brankas.
Pria tua itu mengenakan jas berwarna merah marun.
Tangannya memegang sebuah tongkat berkepala naga emas.
Ia sedang mengisap cerutu dengan santai di tengah kepungan anak buahnya.
"Jadi benar... Cendana Tua turun tangan langsung," gumam Andra.
Pria berjas merah itu adalah Ki Darmo.
Salah satu petinggi elit dari sindikat Cendana Tua.
Melihat target utamanya ada di sana, senyum Andra semakin lebar.
Ia perlahan melonggarkan kerah kemejanya.
"Handoko."
"Ya, Tuan."
"Kalian urus kecoa-kecoa bersenjata itu."
"Sisakan pria tua berjas merah itu untukku."
"Laksanakan, Tuan."
Handoko memberi kode menggunakan jari tangannya.
Dua puluh pengawal bayangan langsung menyebar ke berbagai sudut dengan kecepatan luar biasa.
Mereka merayap di atas pipa ventilasi, bersembunyi di balik pilar, mengepung musuh dari segala arah.
Andra sendiri melangkah santai menuruni anak tangga terakhir.
Langkah kakinya sengaja dibuat berbunyi nyaring.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah itu menggema di ruang bawah tanah.
Menarik perhatian seluruh penjaga bersenjata di ruangan tersebut.
Belasan senapan laras panjang langsung diacungkan ke arah Andra.
Lampu senter dari senjata mereka menyorot menyilaukan ke wajah sang Tuan Muda.
Namun Andra tidak berhenti melangkah.
Ia berjalan dengan penuh wibawa, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel.
Seolah ia sedang berjalan-jalan di taman bunganya sendiri.
Ki Darmo, pria tua berjas merah itu, menoleh perlahan.
Asap cerutu mengepul dari bibirnya.
Mata tua yang tajam itu memicing melihat sosok Andra.
"Wah, wah, wah..." suara serak Ki Darmo menggema memecah ketegangan.
"Lihat siapa yang datang jauh-jauh dari ibu kota di tengah malam badai ini."
"Andra... sang Tuan Muda yang sedang naik daun."
Andra berhenti pada jarak sepuluh meter dari Ki Darmo.
Ia menatap pria tua itu dengan pandangan merendahkan yang sangat menusuk.
"Ternyata anjing-anjing tua dari Cendana masih belum kehabisan napas."
"Kukira kalian semua sudah mati membusuk di dalam liang kubur."
Mendengar hinaan telak itu, belasan anak buah Ki Darmo langsung menarik pelatuk senjata mereka bersiap menembak.
"Jaga mulutmu, bocah!" teriak salah satu komandan penyerang.
Namun Ki Darmo mengangkat tongkat naganya, memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri.
Pria tua itu terkekeh pelan.
"Kau punya lidah yang sangat tajam, Andra."
"Sama seperti ibumu dulu."
Mendengar ibunya disebut, raut wajah Andra mendadak berubah sangat gelap.
Suhu di ruangan itu seolah turun drastis menembus titik beku.
"Jangan berani menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu itu, Darmo."
Ki Darmo tertawa keras hingga bahunya berguncang.
"Kenapa tidak?"
"Kau pikir kau bisa berdiri di atas angin hanya karena kau mengalahkan Rian?"
"Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, Andra."
"Serahkan Buku Hitam itu sekarang."
"Maka aku akan berbaik hati membiarkanmu pulang ke Jakarta menemui istrimu yang cantik itu."
"Jika tidak..."
Ki Darmo mengetukkan tongkat naganya ke lantai dengan keras.
"Malam ini, darahmu akan menjadi cat merah untuk dinding gudang ini."
Andra menunduk sejenak.
Lalu bahunya mulai bergetar.
Ia tertawa.
Tertawa sangat dingin hingga membuat bulu kuduk para penjaga bersenjata di sana berdiri.
Tawa itu bukanlah tawa ketakutan.
Melainkan tawa seorang iblis yang baru saja menemukan mangsa sempurnanya.
Andra perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya menatap lurus ke arah Ki Darmo bak malaikat maut.
"Kau salah, Darmo."
"Aku tidak datang untuk menyerahkan apa pun."
"Aku datang... untuk menutup peti matimu."
Andra menjentikkan jarinya dengan keras di udara.
Trak!
Itu adalah sinyal kematian.
Dalam sepersekian detik, dari arah atas dan sudut-sudut gelap ruangan...
Terdengar rentetan tembakan peredam suara bertubi-tubi.
Pusss! Pusss! Pusss!
Belasan anak buah Ki Darmo bertumbangan dalam sekejap mata.
Darah muncrat membasahi dinding dan lantai.
Kepanikan luar biasa langsung melanda sisa-sisa penyerang.
Malam itu, di bawah guyuran hujan badai Surabaya.
Gudang bawah tanah itu resmi berubah menjadi arena pembantaian.
Dan Andra, berdiri di tengah-tengahnya, menyongsong badai perang yang baru.
Langkah pertamanya menuju kehancuran total Cendana Tua baru saja diayunkan.