Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Ancaman Dari Luar
Matahari baru saja merayap naik di ufuk timur, namun kedamaian pagi itu tiba-tiba pecah oleh bunyi bel tanda bahaya yang nyaring bergema ke seluruh penjuru rumah. Langkah kaki berat terdengar berlarian, suara perintah singkat saling bersahutan, dan pintu-pintu jendela segera ditutup rapat oleh pengawal yang sigap.
Nayara yang sedang merapikan meja di ruang tengah terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Arya keluar dari ruang kerja dengan wajah yang kini kembali dingin dan penuh kewaspadaan. Ia memegang selembar kertas yang diremas erat di tangan kanannya, sementara tangan kiri merapikan sarung senjata yang terselip di pinggang.
"Apa yang terjadi?" tanya Nayara dengan suara bergetar.
Arya berhenti sejenak di hadapannya, menatap lekat wajah gadis itu sebelum menjawab singkat. "Mereka tahu kau ada di sini."
Darah seketika terasa mengalir lambat di pembuluh Nayara. "Siapa... siapa yang tahu?"
"Kelompok musuh yang kemarin datang," jawab Arya tegas. "Mereka mengirim pesan. Mereka menuntutmu diserahkan pada mereka sebagai ganti wilayah kekuasaanku. Jika dalam dua puluh empat jam kau tidak ada di sana... mereka akan menyerbu tempat ini dan menghancurkan apa saja yang ada di dalamnya."
Bima segera menghampiri mereka dengan napas memburu. "Tuan, pasukan mereka sudah mulai terlihat bergerak mengelilingi kawasan bukit. Jalur keluar utama sudah terblokir. Kita terkepung."
Arya mengangguk pelan, tak sedikit pun terlihat panik meski bahaya sudah berada tepat di depan mata. Ia berbalik menatap Nayara, lalu meraih kedua bahunya dengan lembut namun tegas.
"Dengarkan aku baik-baik," ucapnya rendah, menatap lurus ke manik mata gadis itu. "Kau akan ikut Bima ke ruang persembunyian rahasia di ruang bawah tanah. Di sana kau aman. Tidak ada yang tahu tempat itu selain kami bertiga. Apa pun yang kau dengar, apa pun yang terjadi di luar sana... jangan keluar. Tidak peduli seberapa keras kau mendengar suaraku, atau siapa yang memanggil namamu."
"Tapi Anda..." potong Nayara, air mata mulai menetes deras. "Bagaimana dengan Anda? Bagaimana jika mereka mengalahkan Anda? Saya tidak bisa membiarkan Anda terluka demi saya..."
"Jika kau ikut bertarung, kau hanya akan menjadi sasaran empuk," potong Arya tegas namun penuh perhatian. "Satu-satunya cara kau bisa membantuku adalah tetap hidup dan aman. Percayalah padaku, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Dan aku tidak akan membiarkan mereka melangkah melewati mayatku sendiri."
Ia mencium kening Nayara sekilas—sebuah sentuhan yang penuh janji dan perpisahan yang menyakitkan—sebelum menyerahkannya pada Bima. "Bawa dia pergi sekarang. Jangan biarkan siapa pun melihat kalian."
Saat Bima menariknya pergi, Nayara menoleh ke belakang berkali-kali. Ia melihat Arya berdiri tegak di tengah ruangan, dikelilingi anak buahnya yang siap berkorban nyawa. Pria itu tampak begitu kokoh, begitu tak terkalahkan. Namun Nayara tahu, di balik kekuatan itu, ada hati yang bergetar takut bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk nyawa gadis yang kini harus ia sembunyikan.
Di dalam lorong menuju tempat persembunyian, suara bentakan dan suara benda keras berbenturan mulai terdengar samar dari kejauhan. Ancaman yang selama ini mereka hindari akhirnya datang mengetuk pintu. Dan pertarungan terbesar Arya bukan lagi soal kekuasaan atau balas dendam—melainkan pertarungan untuk melindungi satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.
Lanjut ke Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya? 😊