Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERPINDAHAN JIWA
Dunia Elena terasa berputar, di depan sana dia melihat seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengannya, tapi versi jauh lebih kurus dan menyedihkan, gadis itu sedang meringkuk di lantai yang dingin dan kotor.
Itu adalah Rania Belmont.
"Bangun, dasar pemalas!"
BHUK
Sebuah tendangan keras dari sepatu hak tinggi seorang wanita paruh baya dimendarat di rusuk Rania.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Gadis itu terbatuk, memuntahkan cairan bening bercampur darah.
"Sial! Apa yang kalian lakukan pada gadis itu!" teriak Elena, membelalakkan matanya.
"Ibu, lihatlah, dia bahkan tidak punya tenaga untuk memohon," ucap Viola sambil tertawa mengejek
Viola, Kakak tiri Rania, berdiri di sana, memutar-mutar sebuah tang besi kecil yang biasanya digunakan untuk memotong kawat.
Viola berlutut di samping Rania, lalu dengan gerakan kasar menarik paksa tangan kiri Rania yang gemetar.
SRETT
"Kudengar kamu masih menyimpan cincin peninggalan ibumu yang pelacur itu, ya? Di mana? Di jari ini?" tanya Viola dengan nada manis yang memuakkan.
"T-tolong... Kak Viola... tidak ada..." rintih Rania pelan.
"Oh, tidak ada ya? Kalau begitu, jari-jari ini tidak berguna lagi, kan?" tanya Viola, tersenyum miring.
Tanpa peringatan, Viola menjepit jari kelingking Rania dengan tang besi itu dan menekannya sekuat tenaga.
KREKK
"AAAAAAKKKKHHHHH!"
Jeritan Rania pecah, memenuhi gudang bawah tanah yang pengap itu.
"HENTIKAN! KALIAN GILA?!"
Raung Elena, mencoba memukul Viola dan Nyonya Diana, tapi tangannya hanya menembus udara.
Elena menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kuku kelingking Rania yang kini terlepas dan jarinya hancur bersimbah darah.
Nyonya Diana tidak berhenti di situ, dia mengambil seember air es yang dicampur dengan pecahan kaca kecil dari meja.
"Biar otaknya sedikit dingin," ucap Nyonya Diana, tersenyum jahat.
BYUUURRR
Air es itu menyiram seluruh tubuh Rania yang sudah penuh luka cambuk, pecahan-pecahan kaca yang ikut tersiram menancap di kulit punggung dan bahu Rania yang terbuka.
Dinginnya air membuat luka-luka itu berdenyut hebat, sementara kaca-kaca itu mengiris dagingnya setiap kali Rania gemetar karena kedinginan.
"T-olong...." rintih Rania, merintih di lantai.
Mata Elena berkaca-kaca, melihat pemandangan menyesakkan itu, entah kenapa walaupun Elena tidak kenal siapa mereka, tapi dada Elena merasa sesak, melihat penderitaan gadis malang itu.
"Ibu, aku bosan, dia bahkan sudah tidak bisa bicara," keluh Viola sambil berdiri, mengelap tangannya yang terkena cipratan darah Rania dengan sapu tangan nya.
"Biarkan saja, pelayan akan mengurus sisanya, kalau dia mati, buang saja ke hutan belakang, tidak akan ada yang perduli," ucap Nyonya Diana acuh tak acuh.
Kedua wanita itu melangkah pergi, meninggalkan Rania yang tergeletak sekarat dalam genangan air es dan darahnya sendiri.
Sementara Elena masih terpaku, dengan airmata yang membasahi pipi nya, dia melihat Rania mulai kehilangan cahaya di matanya.
"Balaskan... dendamku...dan ibu ku..."bisik suara itu di kepala Elena.
Detik itu juga, kegelapan menelan segalanya, kesadaran Elena ditarik paksa masuk ke dalam raga yang hancur itu.
"AAAKKKKHH!"
Elena tersentak, rasa sakit yang tadi hanya dia tonton, kini meledak di dalam tubuhnya.
Bau amis darah dan debu yang menyesakkan paru-paru adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Elena.
"Masih belum mati juga? Benar-benar anak sialan!"
Sebuah suara melengking yang penuh kebencian menusuk telinganya.
Elena membuka kelopak matanya perlahan, pandangannya kabur, tapi dia bisa melihat sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, dan di depannya berdiri seorang gadis muda dengan gaun mengembang dan make up tebal, perempuan itu memegang cambuk kecil yang ujungnya berlumuran darah, sementara di sampingnya, dua pelayan kekar tertawa mengejek.
"Di mana aku? batin Elena.
Ingatan terakhirnya adalah ledakan di laboratorium militer saat dia sedang menguji senjata terbaru dan mimpi buruk yang dia lihat.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema hanya di dalam kepalanya.
"Sistem Anti-Kiamat Diaktifkan!"
"Selamat datang, Letnan Elena. Anda kini berada di tubuh Rania Belmont, Nona Terbuang dari Kediaman Duke Belmont."
"Peringatan, dunia ini akan hancur dalam 365 hari karena Kiamat Sihir. Indikator Kiamat 95% Kritis!"
Elena, atau sekarang kita panggil Rania, gadis itu mengerutkan dahi nya, di susul beberapa kilatan ingatan asing yang masuk ke otak nya.
Time Trevel? Kiamat? Sistem? Namun, rasa perih di punggungnya tidak memberinya waktu untuk berpikir.
"Heh, gadis bodoh! Kenapa kamu menatapku seperti itu? Mau aku congkel matamu hah?"
Teriak adis di depannya, yang tak lain adalah saudara tiri Rania, anak dari selir Ayah nya.
Viola melangkah maju dan bersiap mengayunkan cambuknya lagi, ke tubuh Rania.
Selama ini, Rania asli adalah gadis yang rapuh, penakut, dan selalu menangis saat disiksa, tapi hari ini, melihat sesuatu yang berbeda, mata Rania yang biasanya redup, kini tajam seperti mata elang yang siap menerkam mangsa nya.
"Rasakan ini gadis bodoh!" ucap Viola, tersenyum miring.
CTASSS
Cambuk itu melesat di udara.
Rania tidak berteriak, dengan gerakan cepat, hasil latihan militer bertahun-tahun, dia memiringkan kepalanya, mambuat cambuk itu hanya mengenai angin.
"Apa?! Kau berani menghindar?!" ucap Viola berteriak murka.
"Pegang dia!" perintah Viola, pada pelayan nya.
Dua pelayan maju, namun, sebelum tangan mereka menyentuh kulit Rania, Rania yang saat ini sudah berjiwa sang Letnan militer, dia bergerak lebih dulu, lalu meraih kaki meja kayu yang sudah lapuk di sampingnya, mematahkannya dengan satu hentakan kaki.
Brak
Tanpa membuang waktu dan banyak bicara, Rania bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit di punggungnya, dan melayangkan tendangan lurus ke ulu hati pada kedua pelayan di depan nya.
BHUK
"AAAAKKKKKKHHHH!"
Kedua Pelayan itu terkapar, dan kehabisan napas.
"Ka... kau... kau!" teriak Viola, gugup dengan wajah pucat pasi melihat apa yang baru saja terjadi.
Rania berjalan mendekat perlahan, setiap langkahnya terasa berat dan mengintimidasi, sangat jauh berbeda dengan Rania yang asli, yang selalu beraura suram.
"Jangan mendekat!" teriak Viola, memundurkan tubuhnya.
"Kenapa hem? Takut?" tanya Rania, tersenyum miring.
CTASSS
PYARRR
"AAAAAKKKKKKHHH!"
mengayunkan cambuk itu ke arah vas bunga mahal di samping Viola, hingga hancur berkeping-keping.
Bruk
Viola jatuh terduduk, gaun mahalnya kini kotor terkena cipratan air vas dan debu lantai ruang bawah tanah, dengan napas memburu, matanya melotot tidak percaya melihat Rania, kakak tirinya yang biasanya cuma bisa menangis ketakutan, sekarang berdiri tegak dengan tatapan dingin nya.
"K-kamu... kamu kesurupan ya?!" teriak Viola dengan suara gemetar.
"Berani-beraninya kamu melawan! Kalau Ayah tahu, kamu pasti di pasung!" teriak Viola, berusaha tidak takut.
Kalau biasnya Rania akan menangis ketakutan, tapi tidak untuk sekarang, dia adalah jiwa Elena, sang Letnan militer yang sudah pernah memimpin ribuan prajurit perang, dengan segala pelatihan yang sudah dia terima, baik latihan fisik atau mental, sudah Elena kuasai.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor