Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL2
Hari-hari setelah itu tidak banyak berubah. Hannah masih menjalani rutinitasnya seperti biasa. Bangun lebih pagi daripada Romi, menyiapkan sarapan sederhana sebelum berangkat bekerja, lalu pulang menjelang malam dengan senyum yang selalu ia usahakan tetap sama. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun semakin lama, ia mulai menyadari bahwa yang melelahkan bukan lagi penantian itu sendiri, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang terus datang tanpa pernah benar-benar berhenti.
Tidak hanya dari keluarga. Di saat ada acara kumpul keluarga, ada saja yang bertanya kapan mereka akan memberi cucu kepada orang tua. Di lingkungan rumah ibu mertuanya, beberapa tetangga bahkan tidak segan membandingkannya dengan pasangan lain yang baru menikah beberapa bulan tetapi sudah mengandung. Hannah berusaha tersenyum setiap kali mendengarnya. Ia menjawab seperlunya, lalu mengalihkan pembicaraan. Namun setelah sampai di rumah, senyum itu perlahan menghilang, meninggalkan rasa sesak yang setiap hari terasa semakin berat.
Ia tidak pernah menceritakan semuanya kepada Romi. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena ia tahu suaminya juga berada di posisi yang sulit. Romi adalah anak semata wayang. Di satu sisi, ia ingin membela istrinya. Di sisi lain, ia juga tidak ingin melukai hati ibunya. Hannah memahami itu. Justru karena memahami, ia memilih lebih banyak diam.
Sampai suatu malam, setelah mereka selesai makan malam bersama, Hannah meletakkan sendoknya pelan.
"Mas."
"Hm?"
"Kita periksa ke dokter lagi, ya."
Romi yang sedang mengambil segelas air berhenti sejenak.
"Dokter?"
Hannah mengangguk. "Iya."
"Kamu sakit?"
"Tidak."
"Lalu?"
Hannah menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Aku pengin kita sama-sama periksa.”
Romi menatap wajah istrinya beberapa detik. Tidak ada nada marah di wajah laki-laki itu, hanya kebingungan yang perlahan berubah menjadi kelelahan.
"Na... bukannya kamu sudah sering periksa?"
"Itu aku."
"Dan hasilnya selalu bagus."
Hannah terdiam.
"Kamu sehat, Na."
"Iya, aku."
"Terus buat apa lagi?"
"Karena kita belum pernah benar-benar periksa berdua.”
Kalimat itu membuat Romi mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu mengusap wajah pelan.
"Dan kamu nyuruh aku lakuin hal yang sama dengan kamu? Aku aja capek lihat kamu bolak-balik rumah sakit."
"Aku juga capek, Mas."
Jawaban itu keluar pelan, tetapi cukup membuat Romi kembali mengangkat wajah.
"Aku capek berharap semuanya baik-baik saja, padahal setiap hari orang-orang terus nanya kapan kita punya anak."
"Hannah..."
"Aku cuma pengin kita tahu apa sebenarnya yang terjadi."
Romi tidak langsung menjawab. Ia tahu istrinya sedang terluka. Ia juga tahu setiap pertanyaan tentang anak selalu berhasil membuat Hannah kehilangan senyumnya sedikit demi sedikit. Namun entah kenapa, setiap kali pembicaraan itu muncul, ada sesuatu dalam dirinya yang memilih menghindar.
"Kalau nanti ternyata memang nggak ada masalah gimana?" tanyanya pelan.
"Ya artinya kita harus bersyukur."
"Kalau hasilnya tetap sama?"
"Setidaknya kita sudah berusaha mencari tahu."
Romi kembali diam. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Hanya bunyi jarum jam di ruang makan yang terdengar pelan mengisi keheningan.
"Aku belum siap."
Hannah mengangkat pandangan.
"Belum siap apa?"
"Kalau ternyata..." Romi menggantungkan kalimatnya sejenak. "Kalau ternyata hasilnya nggak seperti yang kita harapkan."
Untuk pertama kalinya Hannah menyadari sesuatu. Selama ini ia selalu mengira hanya dirinya yang takut. Ternyata Romi juga. Bedanya, rasa takut itu membuat Hannah ingin mencari jawaban, sementara Romi memilih menghindarinya.
Hannah mengangguk pelan.
"Aku ngerti."
Romi meraih tangan istrinya di atas meja makan.
"Nanti dulu, ya?"
Hannah membalas senyum suaminya, meski terasa begitu tipis.
"Iya."
Hanya satu kata. Namun di dalam hatinya, ada harapan yang kembali runtuh tanpa suara.
Malam itu mereka tidur di ranjang yang sama, dipisahkan oleh jarak yang sebenarnya tidak sampai satu meter. Romi sudah lebih dulu memejamkan mata, sementara Hannah masih menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar ke mana-mana. Ia mencoba memejamkan mata berkali-kali, tetapi bayangan percakapan tadi terus kembali memenuhi kepalanya.
Pelan-pelan air matanya jatuh.
Ia segera membalikkan tubuh, membelakangi Romi agar isak yang ia tahan tidak terdengar. Tangannya menutup mulut sendiri, berusaha meredam suara tangis yang mulai pecah sedikit demi sedikit.
"Apa aku memang belum pantas jadi ibu, ya Allah?" bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang terasa semakin pekat di dalam kamar itu.
Hannah mengingat kembali semua usaha yang telah ia lakukan. Vitamin, menjaga pola makan, ramuan tradisional, hingga berkali-kali memeriksakan diri ke dokter dan setiap hasil pemeriksaan itu selalu mengatakan hal yang sama.
Tidak ada masalah katanya. Namun justru karena itulah ia semakin bingung. Sebab kalau dirinya baik-baik saja, lalu...
Kenapa mereka belum juga dikaruniai seorang anak?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga tanpa sadar air matanya kembali mengalir.
Di sampingnya, Romi masih tertidur lelap.
Hannah menoleh ke arah suaminya beberapa saat. Wajah laki-laki itu tetap sama seperti yang selalu ia lihat setiap pagi. Tenang, hangat dan menenangkan. Tetapi entah kenapa, malam itu ia merasa ada jarak yang mulai tumbuh di antara mereka.
Bukan karena cinta mereka berkurang, melainkan karena luka-luka kecil yang terlalu lama dipendam perlahan mulai membangun dinding yang tidak terlihat. Dan tanpa mereka sadari… dinding itu sedang tumbuh sedikit demi sedikit di antara keduanya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐