NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 7 – Sisi Barat yang Terlupa

Matahari baru saja menyelinap di ufuk timur, menyisakan kabut tipis yang masih menggantung rendah di antara pepohonan saat Arga, Kakek Wito, dan Dimas berjalan menyusuri jalur yang lebih sempit lagi—arah ke sisi barat kawasan kuburan lama. Dimas berjalan agak di belakang, membawa perlengkapan cadangan dengan wajah masih pucat namun lebih tenang; ia bersikeras ikut untuk menebus kesalahannya.

“Jalur ini jarang dilewati bahkan oleh penghuni tempat itu sendiri,” ujar Kakek Wito pelan, suaranya tertahan di keheningan lembap. “Dulu, konon di sini dikuburkan mereka yang meninggal dengan cara paling tidak wajar—dibunuh, gantung diri, atau terkena sumpah. Energinya lebih gelap, lebih mudah meledak dibanding bagian tengah.”

Semakin jauh masuk, suasana berubah drastis. Pohon‑pohon tidak lagi berjejer rapi, melainkan tumbuh berantakan, batang‑batangnya miring seolah hendak menutup jalan. Rumput jarang tumbuh; tanahnya berwarna merah kecokelatan, berpasir namun lengket, mengeluarkan bau besi bercampur anyir yang mengingatkan pada darah lama. Tidak ada suara burung, tidak ada desir serangga—hanya keheningan yang menekan, seolah alam pun menahan napas.

“Lihat ke sana,” tunjuk Kakek Wito ke arah samping. Di antara akar pohon besar, terlihat tumpukan tulang berserakan, sebagian sudah lapuk, sebagian lagi masih utuh namun tergerus waktu. “Bukan hanya manusia… hewan pun sering tersesat ke sini dan tidak pernah kembali.”

Arga mempererat genggaman pada tongkat kayu dan sisa garam yang dibagikan. Piringan batu timur sudah dibungkus kain putih, diletakkan di dalam tas anyaman yang dijaga agar tidak bergesekan sembarangan. Namun hawa dingin yang menyelimuti sisi barat ini terasa berbeda—bukan sekadar suhu rendah, tapi hawa yang menusuk hingga ke tulang sumsum, seolah menyedot kehangatan tubuh perlahan.

Tiba‑tiba Dimas tersentak. “Ada… ada yang berjalan di atas kami.”

Mereka mendongak. Di dahan‑dahan tinggi yang menjulang rendah, bayangan‑bayangan bergerak cepat, melompat tanpa suara. Wujudnya samar, berukuran kecil namun bergerombol, rambut panjang menjuntai, kaki mereka yang terbalik menyentuh batang pohon.

“Anak‑anak gantung…” bisik Kakek Wito, matanya waspada. “Penghuni paling rewel di sini. Tidak berani menyerang langsung, tapi suka melempar ranting, menabrak dari samping, atau membuat pandangan kabur.”

Benar saja, tak lama kemudian ranting kering mulai berjatuhan dari atas, diikuti suara cekikikan yang tajam dan berulang. Arga segera menyalakan seikat kemenyan kering yang dibawanya. Asap yang beraroma tajam itu naik ke atas, dan bayangan‑bayangan itu segera menjauh, bergerak gelisah namun tidak berani turun lebih rendah.

“Jangan menoleh ke atas terus. Fokus ke depan,” perintah Kakek Wito. “Mereka ingin memecah konsentrasi.”

Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalur berliku yang penuh akar silang, mereka tiba di sebuah ceruk yang lebih terbuka. Di sana, tanahnya terlihat lebih padat, namun di tengahnya terdapat lubang besar—bukan lubang alami, melainkan bekas galian yang belum tertutup sempurna. Dan di pinggir lubang itu, tergeletak sebuah batu besar yang posisinya sudah miring, sebagian dasarnya terangkat dari tanah. Ukiran di permukaannya sudah banyak tergores, seolah ada yang mencoba merusaknya dengan sengaja.

“Ini dia… Batu Penjaga Barat,” ucap Kakek Wito dengan nada berat. “Bukan hanya tercabut, tapi juga rusak. Pencuri itu tidak hanya mengambil benda, tapi juga mengganggu fondasinya.”

Belum sempat mereka melangkah mendekat, tanah di sekitar lubang itu bergetar. Dari dalam kegelapan lubang, terdengar suara gesekan yang berat dan basah, disertai bau anyir yang sepuluh kali lebih tajam dari sebelumnya.

“Mundur perlahan… jangan berbalik punggung,” bisik Kakek Wito, tangannya sudah meraba benda tajam di ikat pinggang.

Dari kegelapan lubang itu, muncul sesuatu yang belum pernah Arga lihat sebelumnya. Wujudnya panjang seperti ular raksasa namun memiliki banyak lengan kurus di sisi tubuhnya, kepalanya bulat tanpa leher, sepasang mata besar menyala merah, dan mulutnya penuh gigi runcing. Tubuhnya dilapisi lendir pekat berwarna kelabu, dan setiap gerakannya membuat tanah bergetar.

“Pengawal lubang…” suara Kakek Wito bergetar sedikit. “Makhluk yang terikat khusus menjaga sisi ini. Biasanya diam saja selama tidak ada yang mengganggu.”

Makhluk itu mengangkat kepalanya tinggi‑tinggi, lalu mengeluarkan desisan panjang yang membuat telinga berdenging. Ia menatap lurus ke arah Dimas—seolah bisa mencium jejak siapa yang paling banyak merusak wilayah ini.

“Dia menuduhmu,” ucap Arga singkat pada Dimas.

Dimas menelan ludah, kakinya gemetar namun tetap berdiri tegak. “Aku… aku akan memperbaikinya.”

Makhluk itu melesat maju lebih cepat dari yang diperkirakan. Arga segera melempar segenggam garam ke arahnya, membuat makhluk itu mundur mendesis kesakitan, namun tidak cukup untuk mengusirnya sepenuhnya. Kakek Wito segera melompat ke samping, mengayunkan pisau pusaka yang sama yang pernah dipakai Arga sebelumnya, ujungnya menyambar lendir di sisi tubuh makhluk itu—menimbulkan asap dan jeritan marah.

“Dia tidak bisa mati, hanya bisa dipaksa mundur!” seru Kakek Wito di tengah keributan. “Arga, Dimas! Perbaiki batu itu sekarang juga!”

Arga segera berlari mendekati batu miring itu, sementara Dimas dengan ragu namun tegas ikut membantu. Mereka mengangkat batuan kecil yang terlepas, menimbun kembali celah di dasarnya, lalu membersihkan lumut dan kotoran yang menutupi ukiran. Di belakang mereka, pertarungan berlanjut: makhluk itu berusaha melewati perlindungan Kakek Wito, sementara suara‑suara dari pohon atas kembali terdengar, berusaha ikut campur.

“Cepat! Dia makin marah!” teriak Kakek Wito saat lengan makhluk itu hampir menyambar bahunya.

Arga mengambil piringan batu timur dari tas, lalu meletakkannya tepat di sisi batu besar barat itu, menyusunnya sesuai pola yang terlihat. Ia menaburkan sisa garam yang sudah dicampur abu, lalu Dimas menyiramkan air yang dibawanya—air dari mata air suci di dekat rumah Kakek Wito.

Saat air menyentuh ukiran yang sudah bersih, perubahan terjadi. Cahaya samar berwarna keemasan kembali muncul, menyebar perlahan menyelimuti kedua batu itu. Makhluk itu berhenti bergerak, mendesis panjang sekali lagi, lalu perlahan menyusut kembali ke dalam lubang, seolah dipanggil pulang oleh kekuatan yang bangkit kembali. Suara‑suara di atas pohon lenyap seketika, dan tanah yang tadinya bergetar menjadi tenang.

Hening kembali menyelimuti tempat itu, namun kali ini terasa lebih ringan.

Arga dan Dimas berdiri terengah‑engah, menatap hasil kerja mereka. Segitiga pelindung—tengah, timur, dan barat—kini sudah kembali utuh.

“Kita selesaikan di sini,” ucap Kakek Wito mendekat, napasnya sedikit terengah namun wajahnya lega. “Tapi ingat: lubang ini tetap ada. Ini peringatan abadi.”

Mereka berjalan pulang dengan langkah yang jauh lebih ringan. Dimas menatap ke belakang, ke arah sisi barat yang perlahan tertutup kabut lagi, namun bukan kabut ancaman—hanya kabut biasa.

“Kau belajar pelajaran mahal ini, Nak,” kata Kakek Wito pada Dimas sepanjang jalan. “Di tempat ini, tidak ada yang benar‑benar milik kita untuk diambil. Segala sesuatu punya penjaganya, dan harga yang harus dibayar sering kali jauh lebih berat daripada keuntungan yang didapat.”

Sesampainya di tugu batas, matahari sudah tinggi. Angin berhembus segar, membawa aroma bunga liar yang tidak tercium sebelumnya. Arga tahu, pekerjaannya selesai. Namun pengalaman ini mengajarkan satu hal lagi: dunia ini penuh segitiga pelindung, kesepakatan lama, dan konsekuensi yang tak terelakkan.

Dan di balik hutan itu, di tempat yang terlarang namun kini kembali terjaga, ada keheningan baru—bukan keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan yang menghormati.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!