"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 8
Dua hari kemudian...
Secercah harapan muncul di saat waktu yang paling rapuh.
Layla sedang merapihkan beberapa vas bunga di toko.
Kemudian ponsel Layla berdering. Ia mengambil ponsel itu dari kantongnya lalu mengangkat telepon itu.
"Hallo, Layla kamu mau enggak coba buat nglamar kerja jadi ART? Kebetulan di tempat Tante ku kerja lagi butuh ART baru buat ngurus kebutuhan pribadi majikan. Sebenarnya kerjaan itu biasanya Tante ku yang handle tapi berhubung tanteku sekarang ada anak kecil di rumah, jadi dia cuma bisa datang waktu pagi aja buat bersih-bersih. Selebihnya enggak ada yang handle. Katanya gajinya lumayan loh, gimana mau coba?" ucap Alea.
Layla sangat senang mendengar kabar baik itu. Tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan.
Layla tersenyum lebar...
"Boleh banget. Aku emang lagi butuh banget kerjaan part time. Kapan aku bisa ketemu Tante kamu?" tanya Layla.
Layla pun berantusias ingin segera bertemu tantenya Alea.
Alea tersenyum kecil mendengar antusiasme Layla dari telepon.
"Kalo mau sih besok. Tapi kata tanteku syaratnya kamu harus tinggal di rumah itu. Gimana?" tanya Alea.
Bak mendapat durian runtuh, kebetulan Layla juga butuh tempat tinggal jadi ia langsung menyetujui persyaratan itu tanpa pikir panjang,
"Ok aku setuju," ucap Layla mantap.
Alea kembali menambah keyakinan Layla untuk mengambil tawaran itu
"Tenang aman kok," ucap Alea.
Dengan hati yang senang Layla berkata...
"Terimakasih Alea karena kamu bawa kabar yang baik buat aku,"
Alea ikut tersenyum atas kebahagiaan Layla.
"Ia sama-sama. Yang semangat ya kerjanya," ucap Alea.
Air mata penuh haru mengalir di kedua pipi Layla.
Ia mengangguk mantap.
"Iya..," jawabnya.
Lalu keesokan harinya mereka menemui tantenya langsung di tempat kerjanya.
Alea menyapa Tante Tari dengan ceria.
"Hai Tante Tari,"
Tante Tari yang semula sibuk menyapu halaman menghentikan aktivitasnya sejenak untuk membalas sapaan dari suara yang tak asing itu.
Tante Tari tersenyum ramah.
"Hai Aly, apa kabar? Ada apa datang ke sini?"
Alea tersenyum lebar sebelum berkata..
"Di sini butuh tenaga ART kan? Nih, ini teman aku namanya Layla,"
Alea memperkenalkan Layla kepada tantenya.
Layla sedikit melangkah maju lalu ia
memperkenalkan diri dengan sopan.
Ia tersenyum...
"Hallo Tante saya Layla Nurmala, panggil saja Layla"
Tante Tari membalas senyuman itu dengan senyuman terbaiknya.
Kemudian ia bertanya dengan suara yang lembut serta ramah.
"Ohh iya. Kamu cantik sekali, namanya juga cantik. Sebelumnya punya pengalaman kerja di bidang ini?"
Layla tersenyum.
"Ohh belum tante, tapi soal beberes dan bersih-bersih saya juga jago kok tante," jawab Layla.
Tante Tari tersenyum ramah.
"Ya sudah, nanti tante ajarin job desk kamu di sini apa aja. Yang penting sekarang kita masuk, kamu kenalin diri kamu ke majikan kita. Ok?" ucap Tante Tari.
Layla merespon dengan semangat.
"Ok Tante."
Alea berpamitan pada Layla dan tante Tari.
"Ya udah deh kalo gitu aku pamit ya Layla, aku ada kencan sama pacarku. Mari tante.'' ucap Alea.
Alea melangkah pergi, tugasnya sudah selesai mengantarkan Layla ke rumah utama keluarga Zhao.
Kemudian tante Tari dan Layla masuk menemui majikan mereka.
Sang majikan sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor.
Dengan sopan Tante Tari memperkenalkan ART baru kepada majikannya.
"Permisi Tuan, ini asisten baru untuk Tuan. Namanya Layla Nurmala."
Sang Tuan menoleh kearah meraka.
Matanya tertuju pada Layla yang sedang menunduk melihat ubin.
Sang Tuan sedikit mengangkat ujung bibirnya.
"Layla...," ucapnya dalam hati.
Kemudian tante Tari berpamitan dengan sopan.
"Kalau begitu saya permisi hendak melanjutkan pekerjaan saya yang belum selesai, Tuan."
Sang Tuan mengangguk.
Kemudian Tuan rumah menghampiri Layla yang masih berdiri diam terpaku menunggu perintah tugas pertamanya.
Sang Tuan berdiri tepat di hadapan Layla, kedua tangannya di masukan ke saku celana.
Ia terdiam sejenak sebelum memanggil nama Layla.
"Layla...." panggilnya
Layla nampak terkejut dengan suara yang terasa tidak begitu asing di telinganya. Namun ia tak berani mengakat kepalanya untuk memastikan.
Kemudian sang Tuan memanggil kembali nama Layla dan agak sedikit ditekankan
"Layla Nurmala!"
Layla menjawab dengan wajah yang masih tertunduk.
"Iya, Tuan."
Ketegangan terasa menyelimuti di sekeliling Layla.
"Tidak sopan menunduk jika lawan bicaramu sedang berbicara kepada mu," ucap sang Tuan.
Kemudian Layla mengangkat kepalanya.
Layla di buat terkejut melihat apa yang ada di depannya. Ia tak menyangka suara itu benar-benar dia.
Tatapan dingin sang Tuan kepada Layla terlihat mengintimidasi.
"Zhao Lee...," ucap Layla lirih.
Dengan antusias Layla kembali bertanya untuk memastikan.
"Zhao Lee?! Iya kan?! Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? Bahkan kita saling mengenal."
Zhao Lee mengeryitkan dahi.
Ia bersikap dingin.
"Saya tidak terbiasa mengingat semua orang yang pernah saya temui," ucap Zhao Lee.
Layla tersenyum ramah.
"Apa anda tidak ingat saya, Tuan?,''
Tatapan Zhao Lee yang dingin membuat atmosfer di sekitar Layla terasa mencekik.
"Saya tidak suka mengulang penjelasan. Mulai sekarang fokuslah pada pekerjaan mu, Layla," ucap Zhao Lee.
Ia membalikan badan, kembali menghadap cermin.
Layla kebingungan dengan sikap yang di tunjukan Zhao Lee kepadanya, karena sebelumnya Zhao Lee adalah orang yang baik dan rapuh.
Di depan cermin Zhao Lee melirik kearah Layla.
Dengan dingin ia berkata,
"Pasangkan dasi itu untuk ku."
Itu perintah pertama Zhao Lee kepada Layla.
Layla membungkuk sopan.
"Baik Tuan," ucap Layla.
Layla mencoba untuk bersikap professional, ia masih memasang senyum yang menyenangkan.
Layla berjalan teratur mendekati Zhao Lee lalu berdiri didepannya. Ia mulai mengerjakan tugas pertamanya.
Ada kejadian lucu.
Karena kaki jenjang Zhao Lee, Layla sempat kesulitan. Tangannya tak bisa menggapai leher Zhao Lee.
Suasananya menjadi agak canggung.
Zhao Lee yang paham akan situasi itu akhirnya dia memutuskan sedikit membungkuk untuk Layla.
Padahal dia tidak pernah sekalipun membungkuk kepada siapapun tanpa terkecuali.
Layla agak terkejut dengan sikap Tuannya.
''Terimakasih, Tuan," ucap Layla lembut.
"Saya akan merapihkan kancing Tuan," ucap Layla.
Ia mengancingkan kemeja yang tadi belum sempat terkait dengan sempurna.
Lalu memasangkan dasi. Tangannya melingkari leher Zhao Lee.
Zhao Lee menatap Layla dari jarak yang sangat dekat, tatapannya dingin seolah-olah dia tidak perduli, namun jauh di lubuk hatinya dia menantikan momen ini.
Aroma bunga yang samar dari tubuh Layla memenuhi indera penciumannya.
Zhao Lee mengepalkan tangan di balik tubuhnya agar tidak menyentuh wanita itu.
Layla tersenyum...
"Anda bersikap seperti ini kepada saya apa itu karena penolakan saya kepada anda Tuan?"
Dengan dingin Zhao Lee melemparkan pertanyaan kepada Layla.
"Apa kau ingin kehilangan pekerjaan mu, Layla?"
Sontak pertanyaan itu itu membuat Layla ketakutan.
Ia takut kehilangan pekerjaan yang baru di dapatnya itu.
"Baik Tuan saya minta maaf. Hal seperti ini tidak akan terulang kembali. Jadi tolong terima saya untuk bekerja di sini," Layla berharap.
"Kalau ingin bertahan di rumah ini, berhentilah mengungkit masa lalu." ucap Zhao Lee.
Layla telah selesai merapihkan pakaian Zhao Lee dan memakaikan tuksedonya.
Zhao Lee melirik dingin ke arah Layla.
"Jangan lupa siapa dirimu, Layla" ucap Zhao Lee tenang.
Layla menunduk.
Tekanan yang di berikan Zhao Lee begitu terasa. Pundaknya terasa berat.
"Baik Tuan," jawab Layla.
Sebelum pergi Zhao Lee berpesan kepada Layla.
"Saat saya pulang, hidangan sudah harus tersaji. Hidangan apa yang akan di masak, kamu tanya bibi," ucap Zhao Lee.
Akhirnya Zhao Lee melangkah pergi meninggalkan Layla sendiri di ruangan itu.
Kepergian Zhao Lee membuat dada Layla terasa lega.
Layla menghampiri Tante Tari di dapur.
"Tante. Apa Tuan selalu seperti itu?" tanya Layla.
Tante Tari tersenyum.
"Tuan Zhao Lee sebenarnya baik. Tapi lingkungan yang membentuknya seperti itu," ucap Tante Tari.
"Panggil saja bibi," timpal Tante Tari.
Malam itu Zhao Lee pulang lebih awal dari biasanya. Ia tidak sabar untuk bertemu Layla.
Zhao Lee melangkah masuk rumah. Ia di sambut Layla yang berdiri di samping meja makan.
Layla tersenyum...
"Selamat malam Tuan, hidangan anda sudah siap. Silahkan di nikmati."
Senyum yang merekah di wajah Layla membuat hati Zhao Lee tenang, seakan kelelahan yang sebelumnya di rasakan hilang tak bersisa.
Zhao Lee menjawab dingin.
"Ya selamat malam."
Layla membukuk hormat.
"Kalau begitu saya permisi. Saya hendak istirahat, Tuan."
Layla berpamitan dengan sopan, baru satu langkah hendak meninggalkan ruang makan, buru-buru Zhao Lee menahan Layla untuk tidak pergi dari sana.
"Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk pergi"
"Aku tak suka makan sendirian, duduk dan makan dengan ku!" perintah Zhao Lee kepada Layla.
Layla merasa agak canggung jika makan bersama satu meja dengan majikan. Ia mencoba menolak dengan baik.
"Tapi Tuan, saya sudah makan tadi" jawab Layla.
Zhao Lee menatap Layla dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa kau ingin mengabaikan pekerjaan mu, Layla?,'' ucap Zhao
Lee.
Layla tak bisa berkutik ia hanya bisa menuruti semua perintah sang majikan.
"Baik Tuan, saya akan makan malam bersama anda," ucap Layla.
Kemudian Layla duduk di sebrang tempat duduk Zhao Lee.
Zhao Lee menghela nafas.
"Aku tidak menyuruhmu untuk duduk sejauh itu, Layla." ucap Zhao Lee.
Layla tercekat mendengar itu. Batinnya ia melakukan kesalahan lagi.
"Duduklah disini," ucap Zhao Lee.
Zhao Lee melirik kursi di sebelahnya.
Tatapan Zhao Lee membuat Layla begidik ngeri.
Makan malam itu terasa sunyi, tidak ada percakapan diantara mereka. Sampai akhirnya Layla meminta izin untuk di perbolehkan bekerja paruh waktu di toko bunga milik sahabatnya itu, dan yang tidak di duga Zhao Lee mengijinkanya. Tetapi dengan syarat dia harus tetap profesional bekerja sebagai ART di rumah itu.
Layla membungkuk hormat.
"Terimakasih Tuan, anda telah mengijinkan saya untuk tetap bisa bekerja di toko bunga itu."
Layla senang dan ia bersyukur atas kemurahan hati majikannya itu.
Zhao Lee berdiri dari tempat duduknya.
"Saya sudah selesai, tolong bersihkan ini sebelum tidur." ucap Zhao Lee.
Layla tersenyum.
"Baik Tuan, dengan senang hati" Layla tersenyum.
Lalu Zhao Lee melangkah meninggalkan Layla sendiri di ruang makan dan menuju kamar lalu beristirahat.
Zhao Lee berbaring di kasur menatap langit-langit kamar.
Malam itu ia tidak bisa tidur, ini malam pertama dia tinggal satu atap dengan Layla.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, orang yang selalu memenuhi pikirannya kini hanya terpisah beberapa dinding darinya. Ia merasa puas.
Rencana yang disusunnya perlahan mulai berjalan sesuai keinginannya.
Zhao Lee memejamkan mata.
Bayangan Layla kembali memenuhi pikirannya.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Selamat datang di rumahku, Layla."
"Mulai sekarang... kau tidak akan bisa menjauh dariku."
******
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
menyebalkan, memaksakan kehendak mentang dia kaya.