Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desember
Keluarga Barnabas sudah ada di Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan mereka tiga jam lagi. Selesai melapor dan menaruh bagasi mereka. Keluarga ini mencari makan sambil menunggu jam terbang.
Rombongan akan transit satu kali di Doha Dubai dan melanjutkan penerbangan dari Doha ke Norwegia. Delapan jam penerbangan pertama akan dilalui. Penguman boarding bagi penumpang pesawat qatar airways sudah berbunyi. Karel bersama keluarga besarnya siap untuk boarding. Karel bersama Adel, orangtua dan tante Nunik di kelas bisnis sedangkan Simeon dan Resa di kabin ekonomi.
"Dokter Adel....." Karel dan Adel mendengar namanya disebut. Karel pun melihat ke arah suara. Ternyata di antrian belakang mereka ada Ethan bersama mamanya dan juga adeknya sedang antri. Adel hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Karena dia berada pada barisan antrian menuju pesawat.
"Sa, coba kamu cek, apa ada Jack Omar dalam penerbangan ini."
"Ada komandan bersama keluarganya. Tepat di belakang antrian komandan."
"Kenapa harus sepesawat ya??"
"Jodoh komandan."
Pesan Karel dengan Resa yang adalah sahabatnya. Mereka satu letting namun beda kelulusannya. Karel perwira, Resa bintara.
Benar sekali didalam pesawat itu ada Jack omar sekeluarga. Ethan anak dari Jack sedang menyapa Adel dokternya bersama Elisabeth dan Eliana mami dan adiknya. Ternyata mereka juga liburan ke eropa. Tetapi eropa sebelah mana tidak diketahui.
Karel sudah mengatur posisi duduk istrinya biar nyaman. Karena dia lagi hamil. Karel duduk disebelah istrinya dan kursi disamping di deret tengah ada mama, papa dan tantenya. Jack sekeluarga berada di sebelah orangtuanya.
Penerbangan delapan jam siap dilalui keluarga ini dengan qatar airways. Adel akui pelayanan di pesawat ini sangat bagus, apalagi buat dirinya yang sedang hamil. Terlebih keluarga yang memberi perhatian baginya. Karel laki - laki yang dia cintai, suami dan papi bagi anak - anaknya nanti yang selalu siap, apapun yang dia mau. Bahkan ketika Adel bergerak sedikit saja, Karel sudah tanggap menanyakan apa yang dia mau.
Mereka transit satu jam di Dubai di bandara Doha untuk melanjutkan perjalanan enam jam lebih lagi ke bandara Oslo di Norwegia. Karena waktu di Doha waktu Karel dan keluarga akan berangkat ke Norwegia menunjukan pukul sembilan pagi berarti enam jam perjalanan mereka akan tiba jam tiga sore waktu Dubai sedangkan waktu Norwegia baru jam satu siang. Karena waktu di Dubai dua jam lebih cepat. Keluarga Barnabas tetap menumpang pesawat qatar airways.
Sesuai dengan perkiraan jam satu siang mereka tiba di kota Akershus di Norwegia. Sebuah kota yang berdekatan dengan kota Oslo. Satu jam sebelum pesawat mendarat di bandara ini, kru pesawat sudah menyebutkan suhu mines tiga di daratan. Karel sudah membantu istrinya untuk menggunakan baju hangat agar ketika keluar dari pesawat Adel tidak kaget dengan perubahan suhu ini. Apalagi dia sedang berbadan dua.
Di bandara sudah ada Kaleb Imanuel Barnabas, duda keren yang menjemput keluarganya. Setelah mengambil koper menuju ke imigrasi, mereka langsung keluar. Karena Kaleb sudah menunggu. Mengingat kondisi Adel, mereka memilih istirahat sebentar di hotel disekitar bandara. Sambil menunggu penerbangan mereka, besok hari menuju ke kota Tromso yang berada di bagian utara Norwegia.
Malam hari mereka menyempatkan diri ada jalan - jalan di pasar natal di kota Oslo. Adel sangat senang sekali. Dia menikmati semua yang ada disana. Cahaya lampu bahkan lagu - lagu natal yang sengaja di putar agar menambah kesan natal bagi setiap pengunjung. Penduduk asli disini tahu, bahwa pada moment natal ini, akan banyak turis asing datang ketempat mereka.
"Mas.... Aku mau makan jajan ini."
"Oke bisa. Apapun yang tuan putri mau, mas penuhi."
Adel menikmati coklat panas, dengan cangkir yang unik. Cangkir itu bisa menjadi milik. Karena harga coklat hangat ini sangat mahal.
"Mahal amat ma."
"Yang mahal itu cangkirnya sayang."
"Ngak papa, sesekali."
Adel, mama dan tante Nunik yang minum menggunakan cangkir sedangkan laki - laki hanya menggunakan gelas sekali minum. Jajan - jajan dan aneka pernik natal di beli oleh Adel sebagai ole - ole. Dua jam lebih mereka mengelilingi pasar natal itu. Setelah puas mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.
Besok paginya mereka menggunakan pesawat komersil menuju ke kota Tromso di bagian utara Norwegia. Tentu suhu di kota ini sangat dingin bisa mines enam derajat celsius.
"Sayang.... Sedikit lagi kita terbang sekitar dua jam, satu jam lebih lah."
"Seperti Jakarta ke Bali ya mas?"
"Iya sayang. Dan sampai di kota ini kita susah melihat matahari???"
"Sayang .... Polar night?? Tromso???"
"Yap. Jam dua belas siang juga masih gelap sayang. Ini sebentar kita berangkat am delapan pagi, tiba setegah sepuluh pagi, tetapi suasananya seperti malam hari."
"Oke ... I see, ngak sabar melihat dan menikmati. Mas harus foto aku banyak. Biar ada kenang - kenangan. Mas sudah berapa kali ke kesini??"
"Ini dua kali, waktu masih remaja dan sekarang sudah menikah."
Karel dan rombongan sudah boarding menuju pesawat, prediksi Dia benar bahwa jam delapan tepat mereka akan berangkat. Sebelum take off, Karel berdoa di depan perut istrinya dan mengelus perutnya.
"Kamu baik - baik ya sayang di perut mami. Papi akan menjaga mami baik - baik. Sampai waktu kamu lahir ya sayang."
Aksi romantis Karel dilihat oleh papa, mama dan kakaknya. Tepat pukul sembilan lewat lima belas menit mereka tiba di bandara yang ada di kota Tromso. Sedikit turbulensi, namun bisa dilalui. Karen perubahan cuaca yang ekstrim.
Akhirnya Adel melihat kota yang gelap, padahal baru jam sembilan pagi dan kota yang diselimuti dengan salju. Suhu sangat dingin dari kota Oslo, mines enam. Adel sudah menggunakan baju untuk cuaca dingin berlapis - lapis. Mereka langsung menuju penginapan yang disewa oleh mereka. Ada empat kamar, ruang keluarga dan dapur. Dan betapa bahagianya mereka, tuan rumah sudah menyiapkan makan pagi buat mereka makan sebelum beraktivitas.
"Mas, ade mau ikut."
"Mas mau belanja sayang." Muka Adel berubah, diam terdiam, walau ditolak halus oleh suaminya.
"Sudah minum vitamin."
"Sudah mas."
Karel akhirnya membawa Adel. Kaleb dan Resa sudah di mobil. Menunggu mereka.
"Kak, Adel ikut ya, Aku pengen lihat kotanya."
"Naik sayang. Kakak ngak mungkin nolak. Tetapi ingat ngak boleh lelah."
Satu keluarga tidak bisa menolak keingin seorang Adel Emanuella Sanjaya, menantu tersayang di keluarga Barnabas. Kaleb yang mengendarai mobil hanya bisa tersenyum bersama Resa melihat Adel yang bahagia melihat pemandangan kota gelap ini.
"Seperti didalam mimpi."
Karel juga waktu pertama kali ke kota ini juga berkata sama seperti Adel. Mereka mampir ke toko yang menjual sembako, mereka membeli kebutuhan daging dan sayur buat beberapa hari. Beras mereka sudah bawa dari Indonesia untuk dua minggu masa liburan mereka di Eropa. Dua keranjang besar belanjaan penuh. Bagi keluarga Barnabas uang bukan merupakan suatu kebanggaan. Kebahagiaan yang merupakan kebanggaan bagi keluarga ini.