Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 34 : Wulan Semakin Dekat
Artikel Wulandari Kusuma yang judulnya "Siapa Sebenarnya Dalang di Balik Ledakan Pabrik Hartono: Penyelidikan Ulang Mengungkap Celah Dalam Narasi Resmi" akhirnya terpublikasi di salah satu media daring yang cukup besar, dan begitu artikel itu hidup, langsung aja jadi viral, dibagikan berbagai tempat, dikomentari kemana mana, orang orang tiba tiba mulai mempertanyakan narasi yang mereka terima tujuh tahun lalu.
Ada thread di media sosial yang trending, "#DamarTakBersalah" mulai menyebar, ribuan orang share teori teori, share bukti bukti lama yang katanya pernah dihapusin dari arsip publik, dan tiba tiba, kasus yang seharusnya sudah ditutup dan selesai, tiba tiba jadi hidup lagi, jadi relevan lagi, jadi sesuatu yang semua orang mulai bicarain.
Dan Wulan, setelah bertahun tahun kerja sendirian, tiba tiba jadi tokoh publik, jadi wajah dari penyelidikan yang mungkin bakal mengubah semuanya tentang gimana orang orang memandang ledakan pabrik Hartono.
Rendra pantau semua itu, pantau dari jarak aman, dan dia lihat, dengan campuran kepuasan dan kekhawatiran, bahwa penyelidikan Wulan udah mulai ciptakan momentum yang kuat banget, cukup kuat untuk bikin orang orang mulai bertanya tanya, mulai menggali, mulai keluarin kasus kasus lama, bukti bukti lama yang dulu orang orang coba kubur.
Tapi sekarang, dengan Wulan jadi tokoh publik, dengan artikel-nya dapet perhatian banyak, Rendra sadar dia perlu lebih hati hati, soalnya paparan bisa jadi pedang bermata dua, bisa cepat cepatin timeline, atau bisa bawa perhatian yang nggak produktif ke arah arah yang nggak dia inginkan.
Dia atur pertemuan sama Wulan, katanya kebetulan, katanya cuma kebutulan bertemu di sebuah kafe yang sama sama dia sering datangi.
"Oh, Pak Rendra!" Wulan bilang, ngeliatin dia dengan kejutan yang keliatan asli, "itu Pak Rendra, kan?"
"Ya, Bu Wulan," Rendra jawab, dengan senyum yang diperhitungkan hangat, "selamat soal artikel-nya. Itu menciptakan banyak perbincangan."
"Terima kasih," Wulan bilang, dan dia duduk di meja Rendra tanpa diundang, kayak orang yang tiba tiba butuh bicara sama seseorang, "jujur, saya masih proses semua yang terjadi. Tiba tiba ada ribuan orang yang peduli sama kasus ini, tiba tiba ada media yang mau wawancara saya, dan saya cuma... overwhelmed banget."
"Itu sifat dari kebenaran," Rendra bilang, hati hati, terukur, "begitu mulai menyebar, dia punya momentum sendiri. Dan momentum ini bisa jadi alat yang powerful buat keadilan, atau bisa jadi berbahaya kalau nggak dikelola dengan baik."
Wulan ngeliatin dia dengan rasa penasaran yang keliatan lebih dalam dari sebelumnya, "Anda keliatan seperti orang yang memahami ini dengan detail yang quite dalam. Biasanya, orang bisnis nggak care terlalu jauh soal kasus pidana yang lama dan rumit kayak gini."
"Saya care soal kebenaran," Rendra jawab, dan dalam kata kata itu ada ketulusan yang mustahil dipalsukan, "terlepas dari implikasi bisnis."
Mereka mulai ketemu lebih sering, dengan alasan kolaborasi bisnis, atau dari "minat bersama soal kebenaran", dan setiap pertemuan, Wulan slowly mulai share lebih banyak dari penyelidikannya, share detail yang dia temukan, share kecurigaan yang dia kembangkan, dan dengan setiap sharing ini, Rendra rasakan sesuatu yang menakutkan mulai terjadi dalam dirinya.
Dia mulai ingat, pelan pelan, menyakitkan, detail dari malem ledakan itu, detail yang dia tekan tekan dalam dalam selama tujuh tahun, detail yang sekarang kembali menyerbu dengan suara Wulan yang menyambung titik titik, melukis gambaran dari kematiannya, dari penderitaannya, dari kehilangannya.
"Kamu tau apa yang aneh?" Wulan bilang, di salah satu pertemuan mereka, mereka duduk di pojok kafe yang sepi, "saya penyelidik kasus ini selama bertahun tahun, dan saya masih nggak bisa sepenuhnya paham psikologi Damar. Seperti, kenapa dia kabur? Kalau dia tidak bersalah, kenapa dia nggak lawan lebih keras di pengadilan? Kenapa lompat dari jembatan daripada terus berjuang?"
Rendra rasakan sesuatu mengencang dalam dadanya, dan dia sadar, dengan ketakutan yang membesar, bahwa dia almost break karakter, dia almost bilang ke dia, "soalnya saya takut, soalnya saya sendirian, soalnya saya pikir semua orang udah berkhianat ke saya."
Sebaliknya, dia teguk kopi-nya, dan dalam suara yang keliatan tenang, "Mungkin dia dimanipulasi. Mungkin dia pikir nggak punya jalan keluar. Mungkin dia lindungi seseorang."
Wulan instantly kunci pandangan mata dengan dia, "lindungi seseorang? Siapa yang mau dia lindungi di titik itu?"
"Anggota keluarga," Rendra bilang, hati hati, "orang yang dia sayangi, meskipun mereka berkhianat ke dia."
Ada moment dimana Wulan cuma stare ke dia, dan Rendra bisa literally rasakan, dari intensitas tatapan itu, bahwa dia process sesuatu, bahwa dia sambung potongan potongan yang sebelumnya terpisah.
"Rendra," Wulan bilang, final, deliberately, suaranya keliatan hati hati, "kenapa rasanya kamu tau terlalu banyak soal kasus ini? Kenapa rasanya... seperti kamu bukan cuma orang yang tertarik soal kebenaran, tapi seperti kamu... seperti kamu personally terlibat?"
Rendra rasakan seluruh dunia-nya pause, rasakan seperti setiap hal yang dia bangun, setiap strategi yang dia rencanain, tiba tiba berada di risiko dari satu pertanyaan sederhana yang ditanya dengan kepolosan, tapi dengan ketajaman yang berbahaya.
Dia lihat Wulan, di mata-nya, dan dia sadar, dengan clarity yang overwhelming, bahwa dia jatuh, jatuh ke dalam perangkap emosional yang dia sendiri ciptain, bahwa perempuan ini, perempuan yang dedikasiin hidupnya buat keadilan, buat kebenaran, untuk keadilan dia, dia mulai lihat melalui dia, dia mulai kenal dia, dan pengetahuan itu, koneksi itu, itu hal yang paling berbahaya yang bisa terjadi sekarang.
"Soalnya," Rendra akhirnya bilang, suaranya rendah, intimate, penuh emosi yang nggak bisa dia sembunyiin lagi, "keadilan adalah hal yang personal buat semua orang, Bu. Dan semakin banyak ketidakadilan yang kamu penyelidiki, semakin personal itu jadi."
Wulan nggak putus pandangan, dan Rendra bisa liat, di mata-nya, ada pemahaman yang membesar, ada sesuatu yang click, ada moment dimana dia almost sambung potongan potongan akhir, almost sampai ke kebenaran yang bakal ubah segalanya.
"Saya berharap," Wulan bilang, pelan, hati hati, "siapapun yang bertanggung jawab soal penderitaan Damar, mereka hadapi keadilan. Itu semua yang saya ingin. Itu semua yang pernah saya inginkan."
Dan begitu dia bilang itu, Rendra rasakan sesuatu dalam dirinya yang break, literally break, soalnya dia sadar, dengan clarity yang menghancurkan, bahwa tujuan dia dan tujuan Wulan, mereka sejalan, mereka udah selalu sejalan, dan mungkin, mungkin itu hal yang paling menakutkan dari semuanya, soalnya berarti dia nggak bisa gunakan dia, dia nggak bisa manipulasi dia, soalnya dia berjuang buat orang yang sama, dia berjuang buat keadilan dia, meskipun dia nggak realize dia lagi berjuang buat dia.