NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir

Langit tidak berubah warna ketika dunia berakhir. Tidak ada petir yang membelah cakrawala, tidak ada meteor yang menghantam bumi, bahkan angin malam masih bertiup selembut beberapa menit sebelumnya. Justru ketenangan itulah yang paling mengerikan, karena hanya Arga yang mengetahui bahwa seluruh peradaban sedang berdiri tepat di tepi jurang tanpa pernah menyadarinya.

Bip...

Jam digital di ruang kontrol berganti angka dengan bunyi pendek yang nyaris tak terdengar. Tepat ketika layar menampilkan pukul 00:00:00 pada tanggal 15 Juli 2026, sesuatu yang tak kasatmata menyapu seluruh permukaan bumi layaknya riak ombak yang melintasi lautan tanpa suara. Gelombang energi itu menembus gunung, lautan, kota, hingga dasar bumi, membangunkan setiap kristal yang selama ini tertidur di berbagai penjuru dunia.

Duum...

Jauh di bawah tanah, ribuan kristal yang tersimpan di laboratorium rahasia, markas militer, tambang, hingga koleksi pribadi memancarkan denyut cahaya kebiruan secara bersamaan. Denyut itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat seluruh jaringan energi planet beresonansi seperti jantung raksasa yang baru saja mulai berdetak. Perubahan itu begitu singkat hingga sebagian besar manusia bahkan tidak menyadari bahwa hukum dunia telah berubah.

Di Jakarta, lampu-lampu gedung pencakar langit berkedip sesaat sebelum kembali menyala normal, sementara layar komputer di pusat kendali lalu lintas sempat mati sepersekian detik hingga membuat para operator saling berpandangan dengan bingung. Di Surabaya, kompas digital kapal-kapal di pelabuhan berputar liar sebelum kembali stabil, sedangkan beberapa sistem navigasi mendadak menampilkan koordinat yang bergeser beberapa meter seolah bumi sendiri baru saja berubah posisi.

Bzzzt...

Gangguan serupa terjadi hampir bersamaan di seluruh dunia. Satelit komunikasi kehilangan sinkronisasi selama beberapa detik, sistem GPS menunjukkan kesalahan posisi, dan pesawat yang sedang melintasi jalur internasional menerima peringatan navigasi sesaat sehingga para pilot terpaksa melakukan pemeriksaan ulang, meski seluruh instrumen kembali normal sebelum laporan resmi sempat dikirimkan.

Di sebuah observatorium di Jepang, para astronom saling bertukar pandang ketika seluruh sensor elektromagnetik mencatat lonjakan energi yang belum pernah muncul sebelumnya. Di Amerika Serikat, beberapa laboratorium fisika menerima data aneh dari instrumen superkonduktor yang tiba-tiba mengalami fluktuasi tanpa penyebab yang dapat dijelaskan, sementara para ilmuwan di Eropa menganggap seluruh gangguan itu hanyalah kesalahan perangkat lunak atau efek badai matahari yang belum terdeteksi. Tidak seorang pun menyadari bahwa penyebab sebenarnya sama sekali berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan mereka.

Namun fenomena yang paling mengerikan bukan terjadi pada mesin, melainkan pada manusia. Seorang mahasiswa di Bandung yang sedang belajar hingga larut malam tiba-tiba memegangi kepalanya ketika rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Darah mengalir dari hidungnya dan menetes ke buku-buku yang masih terbuka di atas meja, sementara di Makassar seorang perawat mendadak pingsan saat memeriksa pasien, dan di Medan seorang sopir taksi terpaksa menghentikan kendaraannya karena dadanya terasa seperti terbakar dari dalam.

Bruk...

Tubuh-tubuh mulai berjatuhan di berbagai tempat. Dalam hitungan menit, ribuan orang di berbagai negara mengalami gejala yang sama, mulai dari demam tinggi, menggigil hebat hingga gigi saling beradu, mimisan tanpa sebab, kejang, sampai kehilangan kesadaran begitu saja. Sebagian berteriak kesakitan sambil memegangi dada dan kepala, sedangkan sebagian lainnya hanya roboh tanpa sempat meminta pertolongan.

Sirene ambulans mulai terdengar bersahutan di berbagai kota ketika rumah-rumah sakit menerima pasien dalam jumlah yang terus bertambah dari menit ke menit. Ruang gawat darurat segera dipenuhi keluarga yang panik, sementara para dokter bergerak secepat mungkin melakukan pemeriksaan. Anehnya, hasil tes darah, CT scan, hingga EKG hampir selalu menunjukkan kondisi normal meski para pasien terus mengalami kejang hebat.

"Kok bisa begini?" gumam seorang dokter muda di sebuah rumah sakit Jakarta sambil menatap monitor pasien yang menunjukkan kondisi stabil meski tubuh pria di hadapannya terus bergetar hebat. "Secara medis... ini tidak masuk akal."

Di atas bukit yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Arga masih berdiri di ruang kontrol vilanya. Puluhan monitor CCTV memperlihatkan lingkungan sekitar yang tetap sunyi, tetapi perhatian Arga tertuju pada sebuah panel kecil yang baru saja menyala merah disertai bunyi alarm yang selama ini hanya ada sebagai antisipasi.

Tiiit... Tiiit... Tiiit...

Alarm deteksi energi berbunyi untuk pertama kalinya sejak dipasang. Arga melangkah mendekati monitor tersebut dan memperhatikan grafik resonansi kristal yang melonjak tajam sebelum perlahan kembali stabil, persis seperti yang masih terpatri dalam ingatannya dari kehidupan sebelumnya. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kepastian bahwa hitungan mundur akhirnya benar-benar berakhir.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Hari Nol..." bisiknya lirih. "Akhirnya dimulai."

Beberapa jam pertama berlalu tanpa kekacauan besar. Televisi nasional hanya menayangkan siaran khusus mengenai gangguan listrik sesaat yang terjadi hampir serempak di berbagai wilayah, sementara para pembawa berita berbicara dengan nada tenang untuk meyakinkan masyarakat bahwa belum ada alasan untuk panik.

"Menurut Badan Meteorologi dan beberapa lembaga terkait, fenomena ini masih dalam tahap penyelidikan," ujar seorang penyiar dengan senyum profesional yang perlahan tampak dipaksakan. "Selain itu, rumah-rumah sakit di sejumlah kota juga melaporkan peningkatan pasien dengan gejala demam misterius. Masyarakat diimbau tetap tenang dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala serupa."

Arga meraih remote lalu mematikan suara televisi. Ia tidak membutuhkan penjelasan media karena seluruh kejadian itu telah ia saksikan bertahun-tahun sebelumnya. Baginya, semua yang sedang terjadi hanyalah awal dari babak berikutnya yang jauh lebih mengerikan.

Sementara itu, di berbagai rumah sakit, jumlah pasien terus meningkat hingga lorong-lorong dipenuhi ranjang darurat. Dokter mulai kehabisan ruang isolasi, sementara hasil laboratorium tetap menunjukkan kesimpulan yang sama. Tidak ditemukan virus, bakteri, ataupun racun yang dikenal manusia, seolah penderitaan itu muncul begitu saja tanpa penyebab yang dapat dijelaskan.

Di markas Organisasi Hitam, suasana justru jauh berbeda. Sirene internal meraung nyaring ketika layar-layar besar di ruang komando menampilkan kode merah yang selama bertahun-tahun hanya muncul dalam simulasi Project Genesis.

Klik...

Seorang petugas memasukkan kartu akses khusus ke panel utama sebelum mengaktifkan sistem darurat. "Protokol Genesis Alpha diaktifkan." Perintah itu segera menyebar ke seluruh cabang Organisasi Hitam di berbagai negara, membuat laboratorium darurat dibuka, tim penelitian dipanggil, dan seluruh aset Project Genesis memasuki status siaga penuh seolah mereka memang telah menunggu hari ini sejak lama.

Raven berdiri diam di depan dinding monitor yang dipenuhi laporan fenomena global. Wajahnya tetap setenang biasanya, tetapi kedua matanya bergerak cepat membaca setiap data mengenai lonjakan energi kristal, peningkatan pasien dengan gejala kompatibilitas ekstrem, serta fenomena sinkron yang kini telah terkonfirmasi di puluhan negara.

Salah seorang bawahannya melangkah mendekat. "Tuan Raven, semua prediksi Project Genesis... benar."

Raven tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang langit yang masih gelap di balik jendela sebelum bergumam pelan, "Kalau Ghost Collector benar-benar mengetahui masa depan... sekarang dia pasti sudah bergerak."

Sementara Organisasi Hitam mengaktifkan seluruh protokol darurat, waktu terus berjalan menuju fajar. Di sebuah rumah sakit di Seoul, seorang pria berusia tiga puluh tahun yang sejak tengah malam mengalami demam hingga empat puluh dua derajat tiba-tiba berhenti bergerak. Monitor jantungnya menunjukkan garis lurus selama beberapa detik sehingga seorang dokter segera memerintahkan tindakan penyelamatan.

"Tekanan darah turun!"

"Siapkan defibrillator!"

Perawat segera berlari mendekat sambil membawa peralatan. Namun sebelum alat itu sempat menyentuh dadanya, tubuh pria tersebut melengkung secara tidak wajar hingga terdengar suara retakan yang membuat seluruh ruangan membeku.

Krek...

Pembuluh darah hitam menjalar cepat dari leher menuju wajahnya, sementara kedua matanya yang semula terpejam mendadak terbuka lebar. Bola matanya telah berubah putih pucat tanpa pupil sedikit pun. Sang dokter mundur satu langkah dengan wajah membeku.

"Apa..."

Kalimat itu tidak pernah selesai.

Graaakh!

Pria itu menerjang dengan kecepatan yang mustahil dimiliki manusia yang baru saja sekarat. Giginya menghujam leher sang dokter hingga darah menyembur ke dinding ruangan, sementara jeritan memenuhi bangsal ketika para perawat berlarian menyelamatkan diri.

"Ada pasien mengamuk!"

"Tolong!"

"Tutup pintunya!"

Namun semuanya sudah terlambat. Dalam hitungan menit, orang pertama yang tergigit mulai mengalami kejang hebat, lalu bangkit kembali dengan sorot mata yang sama mengerikannya.

Adegan serupa terjadi hampir bersamaan di rumah sakit Singapura, Tokyo, Sydney, London, New York, Beijing, Jakarta, Surabaya, hingga puluhan kota lainnya. Kamera CCTV merekam lorong-lorong yang berubah menjadi lautan kepanikan ketika dokter, pasien, keluarga, dan petugas keamanan berlari tanpa arah, sementara infeksi menyebar seperti api yang menemukan hutan kering. Perlahan, jeritan manusia mulai menggantikan suara mesin-mesin medis.

Di ruang kontrol vila, layar televisi mendadak berubah menjadi siaran darurat. Seorang reporter tampak berbicara dengan napas terengah-engah di depan sebuah rumah sakit yang dipenuhi kendaraan polisi dan ambulans. Dengan suara bergetar ia berkata, "Kami belum mendapatkan konfirmasi resmi mengenai penyebab insiden ini, tetapi sejumlah saksi melaporkan adanya pasien yang menyerang tenaga medis secara brutal. Aparat telah menutup area dan meminta masyarakat menjauh..."

Gambar tiba-tiba berguncang ketika reporter itu menoleh ke belakang dengan wajah pucat. Beberapa detik kemudian, siaran langsung terputus begitu saja, menyisakan layar hitam tanpa penjelasan.

Arga meraih remote lalu mematikan televisi. Ruangan kembali sunyi, sementara ayah, ibu, dan Sari yang berdiri di belakangnya tidak lagi memiliki sedikit pun keraguan terhadap semua peringatan yang selama ini ia sampaikan. Seluruh kenyataan yang terdengar mustahil kini sedang berlangsung tepat di depan mata mereka.

Arga menatap layar televisi yang telah gelap selama beberapa saat sebelum berkata pelan, "Sekarang... dunia lama sudah berakhir."

Tidak seorang pun menjawab. Mereka semua memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar kiasan, melainkan kenyataan yang tak lagi bisa dihindari.

Arga kemudian berjalan menuju ruang persenjataan di samping bunker. Lemari baja otomatis terbuka, memperlihatkan seluruh perlengkapan tempur yang telah ia persiapkan selama sebulan terakhir. Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, ia mengenakan armor ringan berbahan komposit, memasang pelindung lengan, menyelipkan belati di pinggang, lalu memeriksa pistol dan senapan yang telah terisi penuh.

Ceklek...

Magasin terkunci sempurna. Kristal-kristal yang telah dimurnikan masuk ke dalam sabuk penyimpanan khusus, sementara perlengkapan cadangan segera dipindahkan ke dalam Ruang Dimensi yang hanya bisa diakses olehnya. Perlahan, wajah Arga kembali berubah menjadi sosok yang pernah ditakuti ribuan zombie dan manusia di kehidupan sebelumnya.

Ia kembali ke ruang utama lalu memandang keluarganya satu per satu dengan tatapan yang penuh ketegasan.

"Ayah, Ibu, Sari... dengarkan baik-baik."

Mereka berdiri tegak tanpa mengalihkan pandangan. Arga melanjutkan dengan suara tenang namun tegas, "Jangan buka gerbang untuk siapa pun. Kalau situasi di luar memburuk, langsung masuk ke bunker. Ikuti semua prosedur yang sudah kita latih."

Sari menggigit bibirnya sebelum akhirnya bertanya dengan suara lirih, "Mas... kamu mau ke mana?"

Arga tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tetap setajam bilah pisau.

"Ada banyak orang yang masih bisa diselamatkan."

Pandangan itu bergantian jatuh kepada kedua orang tuanya, lalu berhenti pada wajah sang adik yang berusaha menahan air mata.

"Kali ini... aku tidak akan membiarkan sejarah lama terulang."

Gerbang baja vila perlahan bergeser terbuka ketika matahari pagi mulai menyinari dunia yang telah berubah. Dari kejauhan terdengar sirene yang bersahutan tanpa henti, disusul ledakan samar dan jeritan manusia yang terbawa angin dari arah kota.

Wuuuu... Wuuuu...

Arga menginjak pedal kendaraan hingga mesin meraung dalam. Mobil itu meluncur menuruni perbukitan menuju kota yang perlahan berubah menjadi neraka, sementara di dalam hatinya hanya ada satu tekad yang tak tergoyahkan.

Perburuan demi bertahan hidup telah dimulai.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!