Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.
Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.
Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.
Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.
Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.
Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.
Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.
Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Antre Protes
Aroma roti butter naan khas Negara India itu memenuhi ruangan Regan. Ia duduk bersandar, kaki selonjoran di atas meja. Sebelah tangan memegang roti, satunya lagi memegang berkas.
Mulut sibuk mengunyah, dan matanya sibuk melihat setiap barisan huruf.
"Aku ngerti sekarang." Gumamnya pelan. Ia mengangguk beberapa kali sendiri.
Suara pendingin berdengung halus. Menciptakan ruangan terasa sejuk sekaligus sunyi yang memenangkan.
Namun, ketenangan itu seolah tidak berpihak kepada Regan kali ini. Pintu dibuka kasar oleh seseorang.
Ahsan masuk lebih dulu, Jenar menyusul di belakangnya.
Regan tidak menoleh sama sekali. Ia hanya berkata, "kalau mau protes antre."
Ahsan dan Jenar saling melempar pandangan. Lalu kembali menatap Regan. Penampilannya sudah rapi, bahkan aroma tubuhnya sudah wangi khasnya.
"Regan, kenapa kita dibuang di kantor? Apa tidak ada tempat lain?" Protes Ahsan akhirnya.
Jenar mengangguk cepat. "Padahal kan kamu bisa bawa kita ke tempat tinggal kamu dulu." Sahut Jenar.
Regan menurunkan berkas dari pandangannya. Ia menyimpan di atas meja. Mulutnya masih sibuk mengunyah. Tapi kali ini berhenti.
"Segitu aku masih baik. Tidak aku tinggalin kalian di depan club." Jawabnya tanpa dosa. Seolah tindakannya itu hal yang paling benar.
Ahsan mendengus. "Baik apanya? Saya dikira jadi orang paling rajin sama security."
Regan langsung menoleh, ia terkekeh kecil. "Jelas kamu rajin. Kamu tiba di kantor sejak subuh."
"Regan, aku belum mandi." Kata Jenar.
"Aku tidak bertanya," jawab Regan cepat.
"Aku mau numpang mandi di kamar mandi ruangan kamu."
"Tidak! Keluar sekarang. Perusahaan menyediakan toilet khusus karyawan, kenapa kamu mau mandi di tempatku?" Regan bangun dari duduknya.
Ahsan menoleh ke arah Jenar. "Percuma mandi juga. Emang kamu ada baju ganti?"
Jenar membuang napas. "Semua ini gara-gara kamu, Regan."
Regan mendecak kecil. Ia melangkah masuk ke satu kamar yang cukup luas di dalam ruangannya.
Lalu, ia membuka lemari. Mengambil satu kemeja putih, satu kemeja biru navy, dan satu celana panjang. Setelah selesai, Regan kembali keluar dari kamar.
"Ini, kalian pakai bajuku. Tidak usah dikembalikan." Katanya sambil memberikan baju itu ke Ahsan.
Ahsan melongo sebentar, ia mengambil baju biru navy dan celana panjang hitamnya. Sementara kemeja putih Jenar yang mengambilnya.
"Regan, ini kebesaran." Ucap Jenar sambil mengangkat kemeja putih itu.
"Daripada bau." Balas Regan cepat.
Ahsan mendesah pelan. "Regan, kamu pikir saya mandi tidak pakai sabun dan gosok gigi."
"Hm," Regan menunjuk wajah Ahsan. Ia kembali masuk ke kamarnya.
Di dalam, ia membuka laci dari lemarinya. Mengambil dua travel kit, berisi sabun mini, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dan handuk kecil.
Regan kembali muncul dari balik pintu kamar. "Kalian bawa ini."
Jenar meraihnya lebih dulu. Lalu Ahsan.
"Lagian kenapa sih. Aku cuma mau numpang mandi doang di kamar mandi kamu." Suara Jenar dibuat merengek. Mencoba mencari perhatian Regan.
"Tidak bisa! Kalian keluar sekarang!" Regan mendorong dua tubuh itu keluar dari ruangannya. "Kalian mandi dimana saja. Terserah kalian. Asal jangan di kamar mandi aku." Lanjutnya, sebelum ia kembali menutup pintu.
"Atasan stres!" Gerutu Jenar sambil pergi dari hadapan pintu.
"Dasar manusia rese." Omel Ahsan saat melangkah ke dalam lift.
...****************...
Semakin siang udara semakin terasa gerah. Di ruangan Alvero, ia duduk tegak di kursi kerjanya.
Menunggu kedatangan Ahsan dan Jenar yang sudah ia hubungi sejak sepuluh menit lalu. Matanya terus menatap ke arah pintu.
Waktu masih tetap berjalan, sehingga sepuluh menit sudah berlalu lagi. Alvero mendesah pelan.
"Kemana mereka? Tumben lama banget?" Gumamnya dengan nada setengah kesal.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit penuh. Kini pintu terbuka, Ahsan dan Jenar datang bersamaan.
"Maaf, menunggu lama, Pak Al." Kata mereka hampir serentak.
Alvero membuang napas, ia kembali menegakkan bahunya. "Tidak apa-apa."
Ahsan dan Jenar duduk bersebelahan di hadapan Alvero. Dengan napas masih terengah.
Alvero memutar layar laptop menghadap mereka.
"Hari ini saya masuk setengah hari. Dan besok saya cuti." Kata Alvero.
"Cuti sampai kapan, Pak?" Tanya Jenar sambil mengernyitkan alis.
"Cuma sehari," jawab Alvero. Ia mengambil dua berkas, lalu tatapannya lurus ke Ahsan.
"Ahsan, meeting PT Arunika besok kamu yang tangani." Suaranya lebih serius. Sorotnya datar.
"Baik, Pak." Ahsan mengangguk.
Tatapan Alvero beralih ke Jenar. "Kamu presentasi calon investor jam sebelas."
"Siap, Pak Al." Jawab Jenar dengan semangat.
"Kalau ada keputusan di luar wewenang kalian, langsung telepon saya." Alvero menyerahkan berkas kepada Ahsan dan Jenar.
Alvero kembali menarik laptopnya. Aroma kopi dingin yang bercampur dengan pewangi ruangan. Kini berubah sejak Ahsan dan Jenar masuk.
Alvero mengendus mereka. Aroma yang tidak asing. Bahkan sangat familiar. Aroma bergamont yang segar bercampur kayu cedar tercium semakin kuat. Wangi bersih dengan sedikit sentuhan musk, aroma yang terlalu khas untuk tidak dikenali.
Ia menatap baju yang Ahsan dan Jenar pakai. "Kalian... habis dari ruangan Regan, atau pakai baju miliknya?"
Ahsan langsung mendongak menatap Alvero. "Keduanya, Pak."
Alvero manggut-manggut. "Pantesan, aromanya terlalu khas."
"Oh iya, Pak," Ahsan kembali bersuara. "Pak Al tahu tidak? Semalam kita habis dari club sama Regan. Karena kita sudah mabuk, Regan malah buang kita ke halaman kantor." Ahsan menceritakannya kepada Alvero.
Jenar langsung menjentikkan jarinya. "Betul, Pak. Dan saya heran, kenapa Regan gak bawa kita ke tempat tinggalnya aja."
Ahsan mengangguk beberapa kali.
Sementara Alvero hanya terkekeh.
"Dan satu lagi ya, Pak. Dia ngasih kita baju, travel kit juga. Tapi kita gak diizinkan pakai kamar mandinya." Lanjut Jenar.
Mendengar penjelasan Jenar. Alvero tertawa kecil. "Bagi kalian mungkin heran. Tapi bagi saya tidak." Jawabnya. "Regan memang sangat privat orangnya. Tidak sembarangan membawa orang lain ke tempat tinggalnya. Apalagi sampai memasuki area pribadinya."
"Hmm," Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pak Al, tahu banget tentang Regan kayaknya."
"Oh iya, Pak. Pak Al pernah datang ke penthouse nya?" Tanya Ahsan. Ia memajukan sedikit wajahnya.
Tapi, belum sempat Alvero menjawab. Ahsan kembali bersuara. "Ya iyalah sudah. Masa seorang Alvero tidak pernah masuk ke penthouse Regan sama sekali." Ia menatap Alvero, lalu menaik-turunkan alisnya beberapa kali sambil tersenyum jahil.
"Kalau kamu tahu jawabannya, kenapa nanya saya?" Jawab Alvero, ada tawa kecil diujung katanya.
Ahsan langsung tertawa kikuk. Sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Kalau tidak ada hal penting lagi. Kalian sudah boleh keluar. Sebentar lagi saya bersiap mau pulang." Alvero bangun dari duduknya.
"Baik, Pak." Kata Jenar. Ia ikut bangun dan langsung berjalan ke arah pintu.
Tak lama, Ahsan menyusul.
Ruangan itu kembali jatuh sunyi. Hanya meninggalkan aroma khas yang dulu terasa akrab dan sekarang perlahan mulai berjarak.
hati-hati lidah tak bertulang vey
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri