Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Makasih ya kak, Rin akan patuh dengan perintah kakak, termasuk menghabiskan bubur ini’ ucap Rindu dengan semangat baru.
Kenzo tersenyum lega mendengar ucapan Rindu. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu mencubit gemas hidung bangir gadis itu hingga membuat Rindu sedikit terpekik pelan.
"Nah, begitu dong. Itu baru Ratu Lintasan kebanggaan Kakak," ujar Kenzo sembari kembali merapikan posisi duduk Rindu agar nyaman untuk makan.
Rindu menghapus sisa air mata di pipinya dengan tisu, lalu kembali menyuap bubur hangat itu dengan lahap. Kali ini tidak ada lagi kesedihan di matanya, yang ada hanya binar semangat baru. Melihat Rindu makan dengan patuh hingga suapan terakhir, senyum di wajah Kenzo tak pernah luntur. Ia segera menyodorkan sebotol air mineral dan obat dari dr. Januar yang harus diminum setelah makan.
"Pintar," puji Kenzo saat Rindu berhasil menelan obatnya tanpa mengeluh.
Kenzo kemudian mengambil mangkuk kosong dari tangan Rindu dan merapikan sisa bungkus makanan mereka ke dalam plastik sampah. Setelah memastikan semuanya bersih, Kenzo menoleh ke arah jok belakang untuk mengambil tas perlengkapan renang miliknya sendiri.
"Oke, sarapan selesai, obat sudah diminum. Sekarang, waktunya kita fokus ke dunia kita," ucap Kenzo dengan perubahan aura yang cepat kembali menjadi sosok pelatih yang tegas, disiplin, namun tetap memancarkan perhatian yang besar.
Ia membuka pintu mobil, lalu berjalan memutari kap SUV-nya untuk membukakan pintu bagi Rindu. Sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Rindu turun, Kenzo menatap tajam ke arah gedung kolam renang di depan mereka.
"Mari kita tunjukkan pada dunia, dan pada orang-orang yang meremehkanmu, siapa Rindu Prameswari yang sebenarnya di dalam air. Tiga minggu lagi, piala itu harus pulang ke tanganmu, Sayang."
Baru saja Rindu menerima uluran tangan Kenzo dan bersiap melangkah menuju lobi gedung kolam renang, sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari balik pilar beton.
Seorang wanita dengan rambut dicat pirang dan riasan wajah yang tampak berantakan karena air mata mendadak menghadang jalan mereka. Itu Tria mantan kekasih Kenzo sekaligus orang yang beberapa waktu lalu menyebarkan gosip miring dan fitnah kejam di media sosial untuk menjatuhkan reputasi Rindu sebagai atlet.
"Ken! Ken, please... aku mohon dengerin aku dulu!" jerit Tria histeris. Ia langsung bersujud, mencoba menggapai ujung celana Kenzo dengan tangan gemetar. Wajahnya dipenuhi rasa panik yang luar biasa karena tekanan hukum yang menjeratnya.
"Tolong tarik tuntutan kamu, Rin! Karier aku di media sosial bisa hancur, nama baik keluarga aku juga taruhannya. Aku khilaf, Rin.. Ken. Aku cuma cemburu!"
Rindu refleks mundur selangkah, dikejutkan oleh kemunculan Tria yang tiba-tiba. Trauma akan serangan digital dan komentar jahat netizen sempat membuat dadanya berdesir ngilu. Namun, sebelum ketakutan Rindu meluas, Kenzo dengan sigap langsung menggeser tubuh tegapnya, berdiri pas di depan Rindu untuk memblokir pandangan Tria dari kekasihnya. Tatapan mata Kenzo yang biasanya hangat kini berubah menjadi sedingin es, memancarkan aura mengintimidasi yang sangat pekat.
"Tria, tuntutan Rindu terhadap kamu sudah ditarik. Jadi jangan ganggu kami lagi!" tegas Kenzo, suaranya menggelegar rendah namun penuh penekanan yang mutlak.
Kenzo sengaja menekankan kata *'tuntutan Rindu'*, karena kenyataannya, yang ditarik hanyalah laporan pencemaran nama baik atas nama pribadi Rindu demi menjaga ketenangan pikiran gadis itu menjelang turnamen. Tria yang bodoh tidak sadar, bahwa tuntutan pidana berlapis dari korporasi keluarga besar Kenzo sendiri masih berjalan dan siap menjebloskannya ke penjara.
"Sekarang, angkat kaki kamu dari tempat latihan kami sebelum saya panggil keamanan untuk menyeret kamu secara paksa," tambah Kenzo tanpa belas kasihan sedikit pun.
Tanpa memedulikan ratapan Tria yang semakin histeris, Kenzo langsung merangkul pundak Rindu dengan protektif dan menuntunnya melangkah lebar masuk ke dalam area kolam renang. Pintu kaca lobi tertutup rapat di belakang mereka, seketika meredam suara tangisan palsu wanita itu.
Sementara itu, di area parkir, Tria perlahan bangkit berdiri. Rasa sedih dan bersalah yang tadi ia tunjukkan langsung menguap, digantikan oleh kilat kemarahan dan dengki di matanya. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar, lalu memicingkan matanya tajam ke arah mobil SUV hitam mewah yang tadi dikendarai oleh Kenzo.
Tria menyilangkan dada sambil mendengus sinis.
*"Cih, gaya banget bawa mobil semewah itu. Paling juga itu mobil sewaan, atau sengaja minjam punya sponsor kolam renang buat pamer di depan Rindu," batin Tria penuh prasangka.
Di kepala Tria yang picik, Kenzo hanyalah mantan pacarnya yang dulu seorang pemuda biasa, yatim piatu yang ia tahu tidak punya latar belakang keluarga mentereng, dan hanya menggantungkan hidupnya dari gaji sebagai pelatih renang di klub ini. Tria sama sekali tidak pernah tahu atau lebih tepatnya, Kenzo sengaja menyembunyikan fakta bahwa keluarga besar Kenzo adalah salah satu taipan pemilik saham terbesar di yayasan olahraga dan rumah sakit swasta tempat mereka berobat tadi.
"Kamu pikir dengan ditariknya tuntutan Rindu, aku bakal biarin kalian bahagia?" gumam Tria dengan senyum miring yang licik. "Kita lihat seberapa lama pelatih miskin kayak kamu bisa bertahan ngelindungi Rindu dari tekanan media kalau status 'kere' kamu ini aku bongkar."
Tria mengeluarkan ponsel dari tasnya, memotret pelat nomor SUV hitam milik Kenzo, lalu melangkah pergi dengan rencana baru yang sudah tersusun di otaknya yang penuh dendam.
Sementara di dalam area kolam renang, suasana justru berbanding terbalik. Bau kaporit yang khas dan pantulan air kolam yang biru jernih menyambut kedatangan Kenzo dan Rindu.
Kenzo menghentikan langkahnya di tepi kolam, lalu menoleh ke arah Rindu yang tampak sedikit melamun, mungkin masih memikirkan gangguan dari Tria tadi.
"Sayang," panggil Kenzo lembut, mengembalikan kesadaran Rindu. "Lupakan perempuan gila tadi. Sekarang, fokus kamu cuma air di depan kamu ini. Siap untuk pemanasan?"
Rindu tersenyum “Rin gak apa-apa kok kakak, ya udah Rin ganti baju dulu”
Melihat binar kekuatan yang kembali memancar dari mata Rindu, ketegangan di bahu Kenzo seketika runtuh. Ia mengulas senyum lega yang teramat tulus, merasa sangat bersyukur karena mental kekasihnya kini sudah jauh lebih tangguh menghadapi gangguan luar.
"Pintar. Gak usah buang-buang energi buat mikirin hal yang gak penting," ujar Kenzo sembari mengacak pelan puncak kepala Rindu, memberikan dorongan semangat yang hangat. "Ya sudah, sana ganti baju dulu. Kakak tunggu di sini sambil siapkan stopwatch dan program latihan kamu hari ini."
"Siap, Pelatih!" jawab Rindu dengan nada sedikit bercanda, lalu berbalik melangkah menuju ruang ganti khusus atlet wanita dengan langkah yang ringan dan penuh percaya diri.
Sepeninggal Rindu, senyum di wajah Kenzo perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam. Ia merogoh ponsel di saku celananya, lalu mengetik sebuah pesan singkat kepada pengacara pribadi keluarga besarnya.
Kenzo: Pastikan semua berkas gugatan korporasi atas nama Tria tetap berjalan. Pantau pergerakannya di sekitar area kolam renang. Jika dia berani membuat masalah lagi, langsung eksekusi tanpa peringatan.
Setelah mengirim pesan tersebut, Kenzo memasukkan kembali ponselnya. Ia mengembuskan napas panjang, membuang semua urusan luar dari kepalanya, dan sepenuhnya kembali ke mode pelatih profesional yang siap mengantar Sang Ratu Lintasan merebut kembali takhtanya.
**
Sementara itu, di ruang kerja kediaman mewah Prameswari, suasana terasa begitu mencekam. Baskoro mengamuk hebat, menyapu beberapa dokumen di atas meja kerjanya hingga berserakan di lantai. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang membuncah.
"Bodoh! Goblok semua!" bentak Baskoro pada orang-orang kepercayaannya yang tertunduk gemetar di depan meja. Baskoro baru saja menerima laporan dari mata-matanya yang ditugaskan membuntuti mobil SUV hitam yang dicurigai membawa Rindu bersama laki-laki misterius. Namun, hasil pengintaian itu nihil. Orang-orangnya kehilangan jejak karena pengemudi SUV tersebut sangat cerdik membelah jalanan kota, membuat Baskoro mengira Rindu sengaja dibawa kabur untuk bersembunyi.
Namun, belum sempat amarahnya mereda karena kehilangan jejak, sebuah telepon dari Prof Tan dosen senior sekaligus sosok berpengaruh yang memberikan rekomendasi Kenzo sebagai pelatih Rindu membuat Baskoro benar-benar tercengang dan membeku di tempat.
Prof Tan menelepon untuk memberikan laporan rutin bahwa Rindu saat ini sudah berada di stadion akuatik dan sedang menjalani latihan intensif dengan sangat disiplin di bawah pengawasan Kenzo.
Baskoro mencengkeram ponselnya dengan erat, otaknya berputar keras mencoba mencerna situasi yang terasa sangat kontradiktif ini.
"Bagaimana bisa? Kalau dia berniat kabur atau membangkang, kenapa dia justru ada di kolam renang dan latihan sekeras itu?" batin Baskoro penuh tanya, ego besarnya merasa sedikit terpukul.
Di sofa ruangan itu, Diana yang sedang mengikir kukunya langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap suaminya dengan pandangan menghasut. "Tuh, kan, Pa... anak itu pasti cuma cari perhatian aja dari papa biar papa marah-marah. Buktinya sekarang dia langsung seger lagi buat latihan. Dia cuma mau bikin kita kelihatan jahat di depan orang-orang!"
Baskoro tidak menghiraukan ucapan istrinya. Ia melambaikan tangan, mengusir semua anak buahnya keluar dari ruangan. Pria paruh baya itu bersedekap, menatap lurus ke luar jendela kaca besarnya dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.
Sebagai seorang pengusaha yang terbiasa mengendalikan segala hal, Baskoro benci ketika ada sesuatu yang berjalan di luar kendalinya. Keberadaan Rindu di kolam renang memang melegakannya karena turnamen tiga minggu lagi adalah taruhan nama baik keluarga Prameswari. Namun, fakta bahwa Rindu pergi tanpa izinnya dan mengabaikan perintahnya tetap membuat harga diri Baskoro terusik.
"Rindu, Rindu... kamu pikir dengan bersembunyi di balik nama besar Prof Tan dan pelatih pilihanmu itu, kamu bisa lepas dari Papa?" gumam Baskoro dengan nada rendah yang sarat akan ancaman.
"Selesaikan latihanmu hari ini, karena setelah ini, Papa sendiri yang akan datang dan menyeret kamu pulang."
**
Di tepi kolam renang yang sepi, gema kecipak air perlahan mereda bersamaan dengan tubuh Rindu yang muncul ke permukaan. Ia berpegangan pada tepi kolam, mengatur napasnya yang memburu teratur, dengan bulir-bulir air yang membasahi wajah cantiknya.
Di atasnya, Kenzo berdiri sambil menatap layar stopwatch di tangan kirinya. Sedetik kemudian, sebuah senyuman bangga yang teramat tulus mengembang di wajah tegas pelatih muda itu. Ia langsung berlutut di tepi kolam agar sejajar dengan Rindu, lalu mengulurkan handuk kering.
"Bagus, Sayang! Progres kamu luar biasa hari ini," puji Kenzo dengan mata berbinar puas. "Catatan waktu kamu untuk nomor 100 meter gaya bebas bahkan memecahkan rekor terbaik kamu bulan lalu. Dan yang paling penting... napas kamu stabil banget. Gak ada tanda-tanda sesak sama sekali."
Rindu yang masih menyandarkan tubuhnya di dinding kolam mendongak, menyunggingkan senyum lebar penuh rasa lega. Pujian dari Kenzo rasanya jauh lebih berharga daripada medali apa pun yang pernah ia menangkan.
"Ini semua karena Kakak," jawab Rindu tulus, suaranya sedikit terengah namun terdengar sangat bahagia. "Pikiran Rin ngerasa tenang banget hari ini. Gak ada beban, gak ada rasa takut."
Kenzo mengulurkan tangannya, mengusap air yang menetes di dahi Rindu dengan lembut sebelum membantunya naik dari kolam. "Itu karena kamu fokus pada kekuatan kamu sendiri, Rin. Obat dan penanganan Dokter Januar tadi memang membantu fisikmu, tapi tekad kamu di dalam air hari ini... itu murni kehebatan kamu."
Kenzo menyelimuti pundak Rindu dengan handuk tebal, lalu menuntunnya duduk di bangku pemain.
"Sekarang, istirahat dulu sepuluh menit, minum air yang banyak. Setelah ini kita lakukan cooling down (pendinginan) ringan, lalu latihan kita selesai untuk hari ini. Kamu harus pulang dengan kondisi tubuh yang bugar," ucap Kenzo, kembali memperhatikan kenyamanan Rindu dengan sangat detail.
Baru saja Rindu hendak meneguk air mineralnya, terdengar suara langkah kaki yang berat dan tegas menggema dari arah pintu masuk stadion akuatik. Langkah kaki yang sangat Rindu kenali langkah yang selalu berhasil membuat bulu kuduknya merinding ketakutan.
Rindu menoleh, dan seketika itu juga tubuhnya membeku. Botol air di tangannya hampir saja terjatuh. Di ujung koridor, Baskoro berjalan dengan angkuh didampingi oleh dua orang berbadan tegap yang mengenakan setelan hitam. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci figur Rindu yang sedang duduk di tepi kolam. Aura intimidasi yang dibawa pria paruh baya itu seketika merusak ketenangan yang baru saja Rindu bangun.
"Rindu," suara berat Baskoro menggelegar, memecah kesunyian area kolam renang.
Mendengar suara itu, refleks tubuh Rindu langsung bergetar. Kenzo yang sedang merapikan papan latihan langsung menangkap perubahan drastis pada gestur kekasihnya. Begitu menoleh dan melihat siapa yang datang, sorot mata Kenzo yang tadinya hangat langsung berubah menjadi setajam elang.
Tanpa membuang waktu, Kenzo langsung melangkah maju, memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan Rindu, bertindak sebagai perisai hidup untuk menghalangi pandangan Baskoro dari gadis itu.
"Selamat sore, Pak Baskoro Prameswari," sapa Kenzo dengan nada suara yang teramat tenang namun dingin, sama sekali tidak gentar dengan tatapan membunuh dari taipan di depannya. "Maaf, saat ini jam latihan Rindu belum sepenuhnya selesai. Ada keperluan apa Anda datang kemari?"
Baskoro menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Kenzo. Ia menatap Kenzo dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan, mengingat laporan dari orang-orangnya tentang "pelatih miskin" yang berani membawa putrinya pergi.
"Saya tidak ada urusan dengan kamu, anak muda," ucap Baskoro ketus, lalu mencoba melongok ke balik bahu Kenzo. "Rindu! Berdiri kamu. Ikut Papa pulang sekarang. Berani-beraninya kamu pergi dari rumah tanpa izin dan mengabaikan perintah Papa tadi pagi!"
—bersambung—