Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
SELAMAT MEMBACA !!!
Mendengar ucapan Arya, membutuh darahnya Fandi mendidih, muka merah dan gugup setelah Arya menyebutkan nama Ilyas.
"Tahu apa kamu, anak kemarin sore?! Saya nggak kenal siapa yang bernama Ilyas! Jangan sembarangan memfitnah orang kalau tak punya bukti nyata!" seru Fandi membentak keras, wajahnya memerah menahan gugup sekaligus marah begitu Arya menyebut rekening bodong atas nama lelaki itu miliknya.
Arya menatap dengan sinis melihat reaksi, Fandi. Ia hanya menggeser laptopnya ke arah Irfan. Sang Asisten itu paham bahwa laptopnya untuk di sambungkan pada proyektor.
"Nggak perlu berteriak begitu keras, Pak Fandi. Bukti ada dan sangat jelas," ucap Arya kembali dengan tatapan dinginnya.
"Kalian semua lihat, nomor rekening atas nama Ilyas itu. Perhatikan alamat penarikannya dan perangkat askesnya. Selalu bertepatan jam pulang kantor, anda. Itu juga ada bukti tranferan berkali-kali dari rekening resmi ulang tahun perusahaan dan anda alihkan ke rekening pribadi anda dan Bu Salma."
Tok tok tok
"Masuk...!" jawab Arya.
Masuklah Kavindra, ayah dari Arya. Wajah terkejut melihat banyaknya karyawan yang ikut rapat kali ini.
"Ada apa, Nak. Kenapa semua karyawan dari Divisi Keuangan dan Divisi Perencanaan berkumpul di sini. Apa ada hal yang serius?" tanya Kavindra kepada Putranya.
Arya menatap Irfan untuk segera menyalakan proyektor dari awal.
"Mati aku, kalau Tuan Kavindra tau masalah ini," ucap batinnya Fandi. Sedangkan Salma hanya menundukkan kepalanya, merasa karirnya akan berakhir hari ini.
"Lihatlah, Dad! Itu bukti kecurangan yang dilakukan Manager dan Direktur Keuangan kita. Uang yang masuk ke dalam rekening pribadinya mencapai satu milyar. Dan Pak Fandi ini, masih nggak terima dengab bukti yang saya lampirkan barang buktinya," jawab Arya dengan santai.
Kavindra membaca dengan teliti, jangan sampai anaknya ganti balik dilaporkan karena kurangnya bukti. Kavindra kadang mengernyitkan dahinya, kadang biasa lagi.
"Bagaimana ini, Pak Fandi. Bukti semua mengarah ke anda dan Bu Salma. Anda mau damai dengan mengembalikan semua dana yang anda ambil atau kami menempuh jalur hukum dengan resiko semua kekayaan anda akan di sita semua?!" tanya Vindra menatap tajam kepada Fandi yang sudah nggak berkutik sama sekali.
"Saya merasa nggak melakukan kecurangan terhadap Perusahaan, Tuan Vindra. Kemungkinan ada yang mau menjebak saya!" jawab Fandi masih nggak mengaku, padahal bukti sudah jelas ada.
"Irfan! Panggil pihak berwajib ke sini. Serahkan semua bukti kepada mereka. Biarkan mereka yang menangani dan menyelidiki manusia yang punya nggak moral itu!" perintah Arya dengan tegas.
Semua orang memandang sinis kepada Fandi dan Salma, mereka nggak menyangka konspirasi keduanya yang begitu rapi, terutama karyawan Keuangan.
Untuk bukti perselingkuhannya, Arya dan Irfan nggak mau tau. Arya nggak mau ikut campur urusan asmara mereka, biarlah pasangan mereka yang memergokinya sendiri. Seandainya ada yang meminta bantu, Arya baru akan membantu pasangan mereka.
Lima menit kemudian polisi datang keruangan rapat, kenapa cepat sampainya. Karena sebelumnya Irfan sudah bersiap karena seakan tau, apa yang dipilih manusia-manusia serakah seperti Fandi itu.
"Silahkan bawa dua orang itu, Pak Polisi. Nanti saya akan ke kantor polisi untuk membuat laporan dan memberikan barang buktinya!" perintah Arya kepada keempat Polisi yang dipanggil Irfan tadi.
"Tolong...tolong saya, Tuan. Saya hanya mengikuti perintah Pak Fandi. Jangan laporkan saya, Tuan!" seru Salma memelas kepada Arya tapi dia sudah nggak kasian dengan orang yang telah mengkhianati kepercayaannya.
"Bawa, Pak Polisi!" seru Arya lagi dengan wajah yang masih memendam emosinya. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya bisa menyayangkan perbuatan yang dua orang itu lakukan. Padahal kerja di Perusahaan Adhitama itu keberuntungan, gaji gede, bonus tiap bulan.
"Azizah...!"panggil Arya kepada Azizah.
"Ya saya, Tuan," jawab Azizah, sedikit gemetar tubuhnya. Takut dia yang juga disalahkan dan dikait-kaitkan dengan kedua atasannya itu.
"Tolong, kamu tangani dulu Divisi Keuangan ya. Kalau dalam sebulan pekerjaan kamu memuaskan, kamulah yang akan saya angkat jadi Manager Keuangan!" perintah Arya kepada Azizah.
"APA?!" seru Azizah dengan lantang, keluar begitu saja tanpa ia sadari , kaget mendengar ucapan Arya.
Teman satu Divisinya segera memukul pelan paha Azizah, memberi kode supaya ia sadar. Karena dia sudah berteriak di depan Tuan muda dan Tuan besarnya. Azizah seketika tersadar wajahnya memerah menahan malu, ia langsung menundukkan kepalanya.
Arya sedikit tersenyum melihat tingkah laku, gadis yang dulu disukainya. Masih saja menggemaskan seperti dulu menurut Arya.
Ia berdehem menyadari kalau dia sudah tersenyum saat menatap Azizah. "Untuk rapat pagi ini, saya akhiri dulu. Terima kasih kalian sudah jujur kepada Perusahaan. Dan sebagai apresiasi kerja kalian dalam menyusun acara ulang tahun perusahaan, saya akan memberikan sedikit bonus kepada kalian semua," ucap Arya mengakhiri rapat pagi ini.
Plok plok plok
Tepuk tangan menggema diruangan rapat, kebahagian terpancar diwajah mereka semua, saat mendengar akan ada bonus dari Tuannya.
"Fan, kamu ajak OG atau OB untuk membereskan semua barang milik Fandi dan Salma. Lalu suruh mengantarkan ke alamatnya masing-masing. Jangan lupa kasih bonus kepada mereka!" seru Arya kepada Irfan asistennya.
Arya, Vindra dan Irfan pun ikut keluar dari ruang rapat, berjalan menuju lantai ruang kerja berada. Irfan tak mau menunda pekerjaannya, ia langsung menelpon bagian OB meminta dikirimkan empat orang OB atau OG ke Divisi Keuangan secepatnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di Kodam Jaya, prajurit yang bergabung dengan pembagian nasi kotak, sudah bersiap dengan mobil khusus buat pasukan TNI saat bertugas.
Kapten Willian pun ikut dalam acara siang ini menuju ke rumah rusun yang terletak di kampung kumuh di bawah kolong jembatan.
"Astagfirullah, tempat apa ini? Apa nggak ada bantuan dari perintah untuk mereka?" tanya Kapten William kaget saat melihat daerah yang dikunjunginya sangat kumuh dan ada juga rumah yang terbuat dari kertas semen.
"Ya begitulah, Kapten William!" ucap Sertu Dimas yang berdiri di sampingnya.
"Assalamualaikum semua!" sapa Kapten William.
"Walaikumsalam, Pak Tentara," jawab mereka dengan serempak dan semangat.
"Bagaimana kabarnya kalian di sini?" tanya Kapten William miris melihat kehidupan mereka.
"Alhamdulillah seperti, Pak Tentara lihat," jawab salah satu dari mereka mungkin dianggap seperti ketua RT.
Kapten William masih maju mundur ingin menanyakan soal bantuan dari pemerintah, takut mereka tersinggung. Tapi kalau tidak ditanyakan, ia yang penasaran terus.
"Maaf, Pak. Apa warga sini semua mendapatkan bantuan dari pemerintah, Pak?" tanya Kapten William yang akhirnya terucap kata itu.
Mereka semua terdiam dan saling menatap, mereka juga takut kalau berbicara nanti semua bantuan yang disalurkan ke sini. Tidak dibagikan lagi.
Belum juga mereka menjawab dari belakang ada yang menabrak Kapten William dari belakang.
Brak...