Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
SELAMAT MEMBACA !!!
Malam itu, kediaman keluarga Kavindra tampak sangat ramai karena kedatangan tamu, Ayah Radit, Bunda Amel, dan tentu saja Nathan turut hadir.
Rena dan Runa merasa sangat bahagia, karena mereka diterima dengan begitu baik dan penuh kasih sayang di tengah keluarga angkatnya itu. Kini kedua anak itu sedang duduk santai menikmati tontonan televisi di ruang keluarga dengan ditemani seluruh keluarganya.
Mereka pun kembali melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda. Setelah selesai menyantap makan malam.
"Tante! Tadi siang aku pergi ke pemukiman di kolong jembatan itu. Astagfirullah, sungguh miris melihat kehidupan mereka di sana," seru Kapten William dengan nada yang masih terasa berat hati.
Wajah Freya tampak berubah menjadi sedih mendengarnya. "Memang sering sekali ada masyarakat yang kurang beruntung tinggal di sana, Nak. Lalu apa yang ada di pikiranmu saat ini?" tanyanya lembut kepada keponakannya.
Kapten William terdiam sejenak. Ia bertanya‑tanya dalam hati, apakah rencananya ini akan mendapat dukungan dari keluarga? Namun ia sadar, kalau tidak diungkapkan sekarang, mustahil masalah itu bisa diselesaikan. Kalau soal tenaga, ia yakin anak buahnya pasti siap membantu, tapi untuk urusan biaya, ia tak tega membebani mereka dengan permintaan seperti itu.
"Aku ada rencana ingin memindahkan mereka dari sana, Tante. Tapi aku terkendala dengan biaya operasionalnya. Mungkin untuk urusan tenaga, aku bisa meminta bantuan anak buahku. Tapi kalau soal biaya, aku tak mungkin membebani mereka, Tante. Tante pun tahu sendiri bagaimana kondisi kehidupan mereka. Apalagi yang sudah berkeluarga," jawab Kapten William dengan nada rendah hati.
"Betul, Bang. Aku setuju untuk membantu mereka! Insyaallah, aku akan bantu sedikit untuk biaya memindahkan mereka, Bang. Apalagi warga yang berada jauh dari tempat pertemuan tadi siang. Tambah miris lagi, kalau hujan mereka lebih memilih tinggal di tempat pertemuan daripada di rumah sendiri. Saat hujan deras mereka memilih duduk di tempat itu karena takut rumahnya roboh," ucap Luna itu nimbrung obrolan keluarganya.
Kapten William tersenyum tipis saat menatap wajah yang bersinar milik Bintang kecinya yang penuh harapan itu . Luna ternyata selama ini punya gagasan itu tapi ia pendam sendirian dalam hati, tak berani mengungkapkannya kepada keluarganya.
Arya menoleh ke arah ayahnya, matanya meminta persetujuan. Ia berniat menyumbangkan separuh uang yang tadinya dikorupsi oleh Fandi, untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. Kebetulan pula, abang dan kakaknya sedang berencana memindahkan warga yang tinggal di kolong jembatan ke tempat yang lebih layak.
Vindra tersenyum menganggukan kepala pelan, menyetujui apa yang dipikirkan putranya itu.
"Begini, Bang. Tadi siang kami sudah mengungkap kasus karyawan yang kedapatan menggelapkan uang perusahaan. Sebenarnya, awalnya aku dan Daddy berniat menggunakan separuh uang itu untuk dibagikan langsung kepada orang yang membutuhkan. Tapi karena Abang dan Kakak punya rencana memindahkan mereka ke tempat tinggal yang lebih layak, mungkin dana itu bisa digunakan untuk keperluan itu saja. Jumlahnya mencapai lima ratus juta, Bang," ucap Arya menjelaskan kepada kakak-kakaknya.
"APA?! Kok jumlahnya begitu besar, Dek! Memangnya berapa total uang yang dikorupsi orang itu sampai separuhnya saja sudah sebanyak itu?" tanya Kapten William, matanya terbelalak tak percaya mendengar angka yang disebutkan.
Arya tersenyum melihat reaksi terkejut abangnya itu. Padahal, ia pun merasakan hal yang sama, saat pertama kali mengetahui rencana jahat yang disusun dari Direktur dan Manajer Keuangan Perusahaannya itu.
"Totalnya lebih dari satu miliar rupiah, Bang. Waktu pertama kali tahu pun aku sama tak percaya persis seperti Abang. Tapi ada hal yang membuat semakin mencolok saat perayaan ulang tahun perusahaan, mereka mengambil anggaran lebih dari separuh ketentuan yang berikan dari Divisi Perencanaan. Itulah sebabnya aku sengaja menunda dan mengumpulkan bukti yang cukup kuat dulu sebelum menindak mereka," jelas Arya sambil mengepalkan tangannya.
"Astagfirullah… jumlahnya sungguh luar biasa banyaknya, Dek. Apa orang itu tidak sadar bahwa uang hasil korupsi itu tidak akan membawa keberkahan, bahkan bisa mendatangkan celaka bagi keluarganya sendiri? Ya Allah… jauhkan lah hamba dan seluruh keluarga hamba dari sifat serakah dan perbuatan seperti itu, Ya Allah," ucap Kapten William sambil menggeleng pelan, hatinya merasa ngeri.
Arya terkekeh pelan sambil menatap abangnya. "Keluarganya sama sekali tidak tahu soal itu, Bang. Manusia yang tidak tahu diri itu justru menghabiskan uang itu untuk bersenang‑senang bersama wanita-wanita lain, dan salah satu orang yang jadi selingkuhannya ya itu Manajer Keuangan perusahaan!" jelas Arya sedikit kesal kepada dua orang pengkhianat perusahaannya itu.
"Nak! Bagaimana dengan tanah yang lokasinya berdekatan dengan Perumahan Griya Laksana? Bukankah lahan itu bisa kamu gunakan untuk membangun tempat tinggal baru bagi warga yang akan dipindahkan?" seru Ayah Radit yang kini turut menyimak dan memberikan saran dalam percakapan itu.
Freya menatap lekat wajah ayahnya, seolah berusaha mencari kepastian di sana dan ingin memastikan apakah saran itu benar‑benar sudah dipikirkan matang‑matang.
"Kenapa? Kamu menatap Ayah begitu, Sayang?" tanya Ayah Radit sambil menatap balik ke arah Freya. Di sampingnya, Vindra justru terkekeh pelan melihat raut wajah istrinya yang tampak belum sepenuhnya percaya itu.
Freya terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Begini,Yah. Freya masih agak sulit percaya kalau Ayah begitu saja bersedia memberikan tanah itu untuk pembangunan rumah untuk mereka," jawab Freya sambil tersenyum canggung, merasa sedikit tidak enak hati karena telah meragukan ucapan ayahnya sendiri.
Ayah Radit tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab, Sayang. Bukankah kamu yang sering mengingatkan Ayah untuk selalu berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan? Sebenarnya kemarin Ayah sempat berniat menyerahkan tanah itu kepada Nathan, jika dia berkeinginan membangun tempat tinggal di sana. Tapi bagaimana pendapatmu, Nak?" tanya Ayah Radit beralih kepada Kapten William.
"Sebaiknya tanah itu disumbangkan saja untuk mereka, Opa. Sebagai amal kebaikan Opa dan Oma. Nanti sebaiknya nama Opa, Oma dan juga keluarga Adhitama dicantumkan, supaya mereka tahu bahwa tempat tinggal itu merupakan pemberian dari Opa, Oma, dan seluruh keluarga Adhitama," ucapnya dengan penuh hormat sambil tersenyum bangga.
Ia merasa sungguh beruntung telah dilahirkan dan tumbuh di tengah keluarga yang begitu baik hati dan penuh kasih.
"Ada usulan lagi nih, Bang. Kalau begitu, bolehkah aku menyumbangkan sebagian dana tapi untuk pembangunan klinik kesehatan di sana? Nanti kalau aku berkunjung, jadi ada tempat untuk beristirahat sebentar juga, hehehe," seru Luna dengan nada bercanda kepada abangnya.
Akhirnya kesepakatan sudah diambil, Kapten William juga akan berkoordinasi dengan anggotanya. Supaya mereka juga ikut dalam pembangunan rumah itu. Kebetulan juga lokasinya tak terlalu jauh dari Markas Kodam Jaya.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka