NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Fakta Yang Mengejutkan

Pagi harinya, Alena bangun awal seperti biasanya.

Meskipun semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata, ia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Ia memasak sarapan, menata lauk-pauk di atas meja makan, lalu menyeduh secangkir kopi hitam kesukaan suaminya.

Alena menatap kopi yang masih mengepul itu sesaat.

Bayangan pesan yang ia lihat semalam kembali muncul di kepalanya, membuat dadanya kembali terasa sesak.

Ia sudah berulang kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin wanita itu memang hanya rekan kerja Arsen yang terlalu akrab.

Namun, saat ia mengingat nama yang tersimpan dengan emoji hati, sulit baginya untuk berpikir positif. Karena tidak ada orang yang menyimpan nama rekan kerja dengan panggilan mesra seperti itu.

Lamunan Alena buyar saat suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Ia segera menghapus wajah gelisah nya dan tersenyum, menatap Arsen yang turun dari tangga dengan setelan jas yang rapi.

Pria itu tampak tampan. Rambutnya tertata sempurna seperti biasa. Tapi entah kenapa, pagi ini terasa begitu asing.

"Sarapan dulu, Mas."

Arsen hanya melirik sekilas ke arah meja makan. "Tidak. Aku buru-buru. Ada meeting pagi ini."

Arsen mengambil kunci mobil lalu berjalan menuju pintu.

"Mas!" panggil Alena, berharap pria itu akan menoleh. Namun, harapan itu pupus. Pria itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun sampai menghilang di balik pintu.

Alena berdiri mematung di dekat meja makan. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Ia duduk di kursi makan dengan kepala menunduk.

Semalaman, ia memikirkan pesan mesra yang masuk ke ponsel kedua suaminya.

Ia ingin percaya bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Tetapi semakin ia mencoba, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.

Pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya seperti benang kusut yang tidak bisa diurai.

Alena menghela napas. Tatapannya teralihkan saat ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering.

Ia mengambil ponsel itu dan melihat nama yang muncul di layar.

"Dokter Gita?" gumamnya. Ia segera menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Dok?"

"Selamat pagi, Bu Alena. Maaf mengganggu anda pagi-pagi begini. Saya ingin memberitahukan bahwa hasil pemeriksaan anda dan suami sudah keluar. Sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit hari ini."

Alena langsung duduk tegak. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ponsel lebih erat.

"O-oh, baik, Dok. Nanti saya ke sana."

"Tapi, kalau memungkinkan, saya harap Ibu datang bersama suami karena hasil pemeriksaan ini menyangkut keluarga Ibu. Jadi, akan lebih baik jika dibicarakan bersama."

Mendadak jantung Alena berdebar kencang. Perasaan tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya.

Entah kenapa, ucapan dokter itu terdengar menakutkan dan membuat pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

"Bu Alena?" panggil Dokter Gita karena tidak mendapat jawaban.

Alena tersadar. "Ah... I-iya, Dok."

"Kalau begitu saya tunggu."

Panggilan pun berakhir.

Alena menatap layar ponselnya beberapa saat dengan perasaan campur aduk. Lalu, ia menarik napas panjang, dan segera membuka aplikasi pesan.

"Mas, Dokter Gita bilang hasil pemeriksaan sudah keluar. Nanti siang kita ke sana, ya."

Ia membaca ulang pesan itu sebelum mengirimkannya. Setelahnya, ia terus menatap layar ponsel, berharap Arsen akan segera membalas pesannya. Tapi, semua itu sia-sia, membuat perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya.

Alena menghela napas panjang lalu, meletakkan ponselnya di atas meja.

***

Siang harinya, Alena sudah berada di rumah sakit.

Ia duduk seorang diri di ruang tunggu dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat di atas pangkuan.

Sesekali matanya menatap layar ponsel. Tapi, belum ada balasan dari Arsen.

Alena menghela napas panjang. Perasaannya semakin tidak tenang. Jadi, ia memutuskan untuk menghubungi suaminya secara langsung.

"Halo?" suara Arsen terdengar tidak sabar.

"Mas, kamu di mana?" tanya Alena hati-hati.

"Di kantor. Memangnya kenapa?"

"Ini soal hasil pemeriksaan kita. Dokter Gita meminta kita datang bersama."

Arsen berdecak kesal. "Alena, aku sudah bilang aku sibuk."

"Tapi, Mas—"

Sambungan telepon terputus begitu saja.

Alena menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Dadanya terasa sesak. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan.

Tapi, semua itu segera teralihkan saat perawat memanggil namanya.

"Bu Alena?"

Alena segera berdiri. "Ya."

"Dokter Gita sudah menunggu."

Alena mengangguk lalu mengikuti perawat menuju ruang konsultasi.

Dokter Gita tersenyum, melihat Alena masuk. Namun, senyum itu perlahan memudar saat menyadari Alena datang sendirian.

"Selamat siang, Bu Alena," sapa Dokter Gita.

"Siang, Dok."

Dokter Gita melihat ke arah pintu. "Suaminya belum datang?"

Alena memaksakan untuk tersenyum. "Mas Arsen sedang ada pekerjaan penting, Dok. Jadi, saya datang sendiri."

Dokter Gita tampak ragu. Ia bahkan sempat terdiam beberapa saat.

"Apakah Ibu yakin ingin mendengar hasilnya sendiri?"

Alena mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Dok."

Dokter Gita menarik napas panjang sebelum membuka map berisi hasil pemeriksaan dengan ekspresi berubah serius.

Dan, hal itu berhasil membuat jantung Alena berdebar.

"Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa hasil ini bukan untuk menyalahkan siapa pun."

Alena langsung menegakkan duduknya, mendengar dengan seksama.

"Kami sudah memeriksa kondisi reproduksi Ibu dan suami secara menyeluruh. Dan, dari hasil pemeriksaan yang kami dapatkan terdapat gangguan kesuburan yang cukup serius pada salah satu pihak."

Alena membeku. Wajahnya perlahan memucat. "A-apa maksud Dokter?"

Dokter Gita mendorong beberapa lembar hasil pemeriksaan ke arahnya.

"Karena ini menyangkut privasi masing-masing pasien, saya tidak bisa menjelaskan detail pihak yang mengalami masalah tanpa kehadiran yang bersangkutan."

Alena menggenggam hasil pemeriksaan itu dengan tangan gemetar.

"Tapi, yang bisa saya sampaikan, kondisi ini menjadi penyebab utama mengapa kehamilan belum terjadi selama ini."

Ruangan mendadak terasa sesak. Alena bahkan merasa kesulitan bernapas.

"A-apa masih bisa diobati, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dokter Gita terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur. "Kemungkinannya masih ada."

Mata Alena langsung berbinar penuh harapan. "Benarkah?"

Dokter Gita mengangguk. "Tapi, peluang keberhasilannya tidak besar. Sekitar tiga puluh persen."

"Tiga puluh persen?" lirih Alena dengan air mata yang mulai menggenang. Tapi, ia berusaha keras menahannya.

"Saya tahu ini tidak mudah untuk diterima," ucap Dokter Gita. "Karena itu, saya berharap Ibu bisa datang lagi bersama suami agar kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya."

Alena hanya mampu mengangguk pelan. Pikirannya terasa kosong.

"Saya akan membicarakannya dulu dengan suami saya, Dok."

Dokter Gita hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, Alena keluar dari ruang konsultasi dengan langkah yang terasa goyah, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Sementara di tangannya masih tergenggam map hasil pemeriksaan.

Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa benar-benar melihat ke mana ia melangkah. Saat ini pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Tiga puluh persen?" bisiknya lirih.

Ia menopang tubuhnya di dinding. Lalu, dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya dari dalam tas.

"Aku harus menghubungi Mas Arsen," ucapnya.

Bagaimanapun juga, ini menyangkut masa depan mereka. Jadi, pria itu harus tahu tentang hasil pemeriksaan ini.

Alena menekan tombol panggil pada kontak Arsen lalu, menempelkan ponsel ke telinganya. Tapi, sebelum nada sambung terdengar, tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya membelalak sempurna.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu memakai jas abu-abu. Jas yang sama seperti yang Arsen pakai pagi tadi.

Alena mengerjapkan mata beberapa kali, berharap ia salah lihat. Namun sedetik kemudian, pria itu menoleh sedikit. Dan, dunia Alena seolah runtuh saat itu juga.

Itu benar-benar Arsen, suaminya.

Pria yang mengaku sedang sibuk bekerja dan tidak mau meluangkan waktu untuk menemaninya menerima hasil pemeriksaan, saat ini justru berada di rumah sakit bersama seorang wanita berambut panjang yang berdiri sangat dekat dengannya.

Dan, yang lebih membuat Alena sesak, lengan Arsen melingkar mesra di pinggang wanita itu yang tersenyum manja sambil menyandarkan kepala di bahunya.

Ponsel yang berada di tangan Alena perlahan terlepas dan jatuh ke lantai.

"Tidak mungkin," bisiknya lirih. "Mas Arsen... "

1
nunik rahyuni
dimulai drama ikan terbang hati suami yg terkuyak karena kesadaran istri🤣🤣🤣
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
atik
Dasar suami durjana, cuekin aja Alena gk penting juga ngobrol ma Arsen
atik
Kamu pasti bisa Alena mengalahkan suami laknatmu itu
nunik rahyuni
baru sadar klo istrimu itu pinter..biarpun kamu kurung dirumah dg berteman sepi klo pinter ya pinter aja✌️✌️
atik
Rasain kamu Arsen
makin seru thor, lanjut...
Ade Chubi
kasihan istri nya di bohongin
atik
Ayolah kenan turuti ja keinginan kakekmu biar kamu bisa bahagia
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Tidak semudah itu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
atik
Kapok, ibu mertua tak tau diri dicuekin menantunya semoga segera setruk gara2 darah tinggi
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pikiranku berkelana karena setruk. Aq pikir tadi Truk kendaraan. 🙏🤧
total 1 replies
atik
Puas2in senyum kalian para penghianat sebelum perselingkuhan terbongkar
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak💜
total 1 replies
atik
gak sabar nunggu Arsen hancur
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hohoho... Pelan-pelan aja, kak. banyakin sabar🤭
total 1 replies
atik
Seru
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: thankiyu, kak 💜
total 1 replies
atik
lanjut thor, semangat 💪
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Siyap
total 1 replies
Ma Em
Alena lbh baik pura2 tdk tau saja , semoga Alena cepat mendapatkan pekerjaan dgn gaji yg besar agar Alena bisa cepat berpisah dgn Arsen .
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Cepet dapat CEO kaya juga,🤭
total 1 replies
Neng Saripah
ikut deg2an Thor 🤭🤭
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Itu tandanya kakak sedang jatuh cinta 🤭
total 1 replies
Nining damayanti
nggk buat CS bru thor
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Maaf, kak. soalnya sekarang cs gak bisa kontrak.
total 3 replies
Neng Saripah
belum apa2 udah nyesek euy...kira2 sanggup lanjut ga ya aku 😱
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pasti sanggup, kak. Semangat 💪🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!