NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Aliansi yang Tak Terduga

Mobil itu melaju membelah malam, meninggalkan gemerlap lampu kota yang mulai memudar menjadi bayangan-bayangan gelap di pinggiran. Ibu Citra, editor senior yang dikenal karena ketegasannya, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya fokus pada kemudi, matanya menatap tajam ke arah kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti mereka.

Naura dan Kaelith duduk di kursi belakang, terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Ketegangan di dalam kabin terasa begitu pekat. Setelah apa yang terjadi di Bukit Pinus, mereka telah belajar untuk tidak lagi mudah percaya pada siapa pun yang muncul tiba-tiba.

"Kenapa Ibu menolong kami?" Kaelith akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar berat dan waspada.

Ibu Citra tidak langsung menjawab. Ia mengambil belokan tajam ke arah jalan lingkar yang jarang dilalui kendaraan, seolah sengaja ingin menghindari jalur utama. Baru setelah ia yakin mereka aman, ia menatap mereka sekilas melalui spion tengah. "Karena saya adalah satu-satunya orang di dunia jurnalistik yang tahu bahwa kalian bukan pengkhianat. Saya sudah lama mengikuti jejak yayasan itu, jauh sebelum kalian berdua muncul."

"Tapi Ibu bilang data itu tidak ada pada Pak Baskoro," sela Naura, ingatannya kembali pada ucapan wanita itu di depan kantor polisi tadi. "Kalau begitu, di mana? Siapa orang yang Ibu maksud?"

Ibu Citra menghela napas panjang, sebuah guratan lelah terlihat jelas di sudut matanya. "Kalian tahu mengapa Pramudita bisa begitu berkuasa? Karena dia tidak bekerja sendirian. Dia adalah boneka. Ada orang yang lebih besar di balik layarnya, seseorang yang mengendalikan pendanaan yayasan itu selama lebih dari satu dekade."

Kaelith mengepalkan tangannya. "Siapa?"

"Ketua Dewan Pembina Yayasan, Bapak Hartono Adiwangsa," jawab Citra dengan nada datar. "Dia bukan sekadar donatur. Dia adalah arsitek utama di balik proyek-proyek fiktif yang kalian temukan. Dan data asli—data yang tidak tersentuh oleh sistem penghapusan otomatis milik Pramudita—tersimpan di brankas digital milik Hartono."

Naura dan Kaelith saling berpandangan. Nama Hartono Adiwangsa bukan nama yang asing. Dia adalah seorang filantropis yang sering muncul di televisi, tokoh pendidikan yang dihormati, dan salah satu penyumbang terbesar bagi universitas mereka. Tuduhan ini terdengar gila, namun jika melihat polanya, semuanya menjadi masuk akal.

"Kenapa Ibu memberitahu kami semua ini?" tanya Kaelith. "Kalau Ibu punya data itu, kenapa Ibu nggak melaporkannya sendiri? Kenapa Ibu malah menaruh diri Ibu dalam bahaya dengan membawa kami pergi?"

Citra terkekeh pahit. "Karena saya tidak punya akses fisik ke kediamannya. Mereka sudah menutup semua jalan bagi jurnalis untuk masuk ke lingkaran dalam Hartono. Tapi kalian... kalian adalah orang yang sudah membuat mereka panik. Kalian adalah gangguan yang tidak terduga dalam rencana mereka. Mereka menganggap kalian sudah hancur, dan itulah celah satu-satunya."

Mobil akhirnya berhenti di sebuah gudang tua di kawasan industri yang terbengkalai. Citra mematikan mesin. "Kita tidak akan ke rumah Pak Baskoro. Kita akan ke tempat yang jauh lebih rahasia."

Mereka bertiga turun dari mobil. Tempat itu benar-benar sepi, hanya diterangi oleh lampu jalan yang berkedip di kejauhan. Citra membimbing mereka masuk ke dalam gudang, di mana di dalamnya ternyata terdapat sebuah kantor darurat yang dipenuhi oleh komputer-komputer dengan spesifikasi tinggi.

"Ini markas saya selama tiga tahun terakhir," jelas Citra. "Di sini saya mengumpulkan setiap kepingan puzzle tentang Hartono. Tapi saya butuh dua orang yang berani mengambil risiko untuk melakukan satu hal terakhir."

"Apa itu?" tanya Naura, insting jurnalisnya mulai bangkit.

Citra membuka salah satu layar komputer, menampilkan denah sebuah gedung yang sangat familiar—Gedung Serbaguna Adiwangsa. "Minggu depan akan ada gala makan malam amal. Hartono akan hadir di sana untuk meresmikan proyek pembangunan terbarunya. Di saat itulah, sistem keamanannya akan terbuka karena dia akan mengakses server pribadinya untuk memamerkan data perkembangan proyek tersebut ke para investor."

"Jadi, Ibu mau kami masuk ke sana dan mencuri data itu?" Kaelith menaikkan alisnya.

"Bukan mencuri," koreksi Citra. "Menduplikasinya. Kalian harus menanamkan device kecil ini ke terminal utama di ruang VIP tepat saat dia sedang melakukan presentasi."

Naura memandang benda kecil seukuran jempol yang diletakkan Citra di atas meja. Ini jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Jika mereka tertangkap, bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan, tapi nyawa.

"Bagaimana kami bisa masuk ke sana?" tanya Naura. "Itu acara tingkat tinggi, pasti ada pengamanan ketat."

Citra tersenyum penuh rahasia. "Itulah gunanya saya di sini. Saya punya akses sebagai tamu undangan media. Saya bisa membawa kalian masuk sebagai asisten saya. Tapi ingat, begitu kalian masuk, saya tidak bisa melindungi kalian lagi. Semuanya bergantung pada keberanian kalian."

Kaelith menatap Naura. Ada sebuah pemahaman yang tak perlu diucapkan di antara mereka. Mereka sudah sampai di titik ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupan yang tenang. Mereka telah melangkah terlalu jauh untuk berhenti sekarang.

"Kami akan melakukannya," jawab Kaelith mantap.

"Bagus," Citra mengangguk. "Mulai malam ini, kita latihan. Kalian harus tahu persis di mana titik buta kamera pengawas di gedung itu. Kita punya waktu tujuh hari. Jika dalam tujuh hari kita gagal, maka Hartono akan meluncurkan proyek itu dan bukti-bukti kejahatan mereka akan terkubur selamanya di bawah beton-beton gedung baru tersebut."

Naura duduk di depan komputer, menatap denah gedung tersebut dengan saksama. Ia menyadari bahwa pertempuran ini bukan lagi tentang membalas dendam pada Pramudita, tapi tentang membongkar sistem yang jauh lebih korup yang telah menjerat kampus dan masa depan ribuan mahasiswa.

Malam itu, di dalam gudang yang dingin, mereka mulai merancang rencana paling nekat dalam hidup mereka. Naura tidak tahu apakah mereka akan berhasil, namun melihat Kaelith yang kini begitu fokus dan bertekad, ia merasa bahwa setidaknya, mereka tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Di kejauhan, lampu kota tampak seperti titik-titik cahaya yang indah, namun bagi mereka, itu adalah labirin penuh jebakan. Dan di pusat labirin itu, sang arsitek utama sedang menunggu, sama sekali tidak menyadari bahwa di gudang terpencil ini, dua anak muda sedang menyusun rencana untuk meruntuhkan kekaisarannya.

Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, musuh mereka adalah orang yang paling diagungkan oleh banyak orang. Naura menarik napas dalam, memantapkan hati.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!