Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
"ini hanya demam yang mulia, akan saya siapkan obat untuk yang mulia pangeran mahkota", tabib mengambil beberapa rempah dan meracik obat.
Eva sedikit tenang jika Felix hanya demam saja, akan sangat bahaya jika panas yang ada di tubuh Felix terkait pertentangan aura dan sihir. pihak kerajaan akan mulai mencurigainya karena dia masih tergolong orang luar.
Tubuh Felix masih terbaring lemah, dengan bantuan Brian yang saat jam itu melapor jadi dia bisa membawa Felix ke istana putra mahkota.
eva baru pertama kali masuk ke kamar Felix, ornamen yang sederhana tapi tetap berkelas, semua warna indentik dengan Felix, kecuali bunga-bunga aster yang ada di vas.
"untuk seorang yang pernah berada di Medan perang, baru kali ini aku melihatnya demam". Eva menatap Brian.
Brian menatap Felix, wajar bagi manusia untuk sakit. Tapi untuk manusia satu yang ada di ranjang sekarang itu seperti keajaiban bagi dataran ini.
"wajar kan manusia", Brian menatap Eva.
"hanya kau yang menganggap nya manusia biasa seperti kita". Eva tersenyum kecil.
Dipastikan Felix akan tersenyum mengejek jika mendengar kalimat Eva tadi, entah kenapa juga Eva mengatakan hal itu.
"yah aku tidak tau alasan Felix membawamu kemari, entah bosan bermain dengan permaisuri dan pangeran kedua, atau ada niat lain. yang jelas dia suka sekali membuat masalah jika dia terlalu menutupi nya" Brian duduk di seberang ranjang Felix, menatap Eva.
"maksud anda?", Eva menatap heran.
Brian melambai, dia bersandar dan menyilangkan kedua tangannya di dada, mata caramel itu menutup dengan pelan.
"jika dia bangun, bilang saja aku menunggu nya bangun membahas daerah timur tenggara.", Brian mulai diam tenang.
Eva hanya menatap kamar Felix, kalau bukan posisinya yang sebagai tunangan Felix, dia mana mau berdua dengan pemuda yang menyebalkan ini. ditambah adanya Brian dia tentu tidak bisa kabur dengan alasan apapun.
Eva bangkit dari posisinya pindah ke sofa, dia memandang lebih rinci kamar Felix setiap interior, membaca kebiasaan Felix yang ternyata sulit di tebak. Yang jelas Eva mendapatkan satu kesamaan antara dia dan Felix.
Eva mendekat pada rak buku yang cukup banyak menyimpan semua buku, baik itu buku umum atau rahasia semua tersedia disana.
Eva mengambil acak bulu di rak yang berada di kamar Felix, dia tertarik dengan buku bersampul coklat. Bukunya cukup tebal dan usang, ukiran bahasa yang menurutnya asing tapi anehnya dia bisa membacanya.
"Dewi alam dan dewa api? Aku baru tau di suka baca dongeng seperti ini ", kening Eva sedikit berkerut, menatap Felix dengan pandangan tidak bisa di tebak.
Eva duduk di samping ranjang Felix, membuka lembar kuno yang ternyata hanya seutas kisah legenda yang terdengar dongeng.
Eva menatap gambar dan simbol dalam buku, dia sedikit familiar ketika melihat simbol bunga kelopak lima dalam buku, dia seperti pernah melihat itu dulu.
"apakah yang mulia Felix masih didalam bersama tuan Brian".
Eva menoleh, mata yang tajam melihat di balik dinding yang mengarah ke lorong istana, demi keamanan, dia sudah memasang sihir untuk bisa mengecek apa ada orang yang berani bertingkah.
"para pelayan tidak melihat Brian maupun nona Evanthe keluar jadi mereka masih di dalam", suara itu sedikit berbeda dari suara yang pertama.
"akan sulit untuk membunuh Felix jika kembali pulih, apa ini dekat dengan bulan api jika sudah sampai fase bulan api akan sulit membunuh Felix. Ini kesempatan emas kita", suara lain kembali terdengar.
Eva menutup buku, rahangnya mengeras dengan wajah merah menyala. Dia menjentikkan jari disertai mantra yang di lafalkan dalam hati.
pintu terbuka pelan, tiga sosok muncul dengan wajah yang sangat Eva kenal. tiga prajurit Alva yang pernah dilatih Felix, mereka mengendap-endap masuk ke dalam kamar.
Eva mengawasi mereka, tanpa ketiga orang tau.
"hah kemana mereka?", heran salah satunya.
lengkungan kecil di bibir Eva memunculkan ide jahil lainnya, Eva merapalkan mantra sejenak. Asap keluar dari kamar mandi, penanda ada orang yang sedang mandi di sana.
Ketiga orang itu menoleh melihat pintu kamar mandi terbuka, asap keluar di serta suara aneh, sejenak wajah mereka jadi pucat, tubuh gemetar mendengar suara-suara aneh.
Eva Tersenyum, dia menjentikkan jari lagi. Dari gumpalan asap itu membentuk sebuah bentuk besar dan semakin besar, ketiga prajurit itu gemetar sebelum akhirnya kabur dengan cepat.
Eva tertawa riang, "ah senang sekali bisa mengerjai orang".
"senang sekali ya".
"iya benar se_" tubuh Eva membeku sejenak.
Wajah nya pucat, perlahan dia menatap ke samping. Melihat mata merah yang semulanya terpejam kini menatapnya santai, lengkungan kecil di bibirnya terbentuk sinis.
eva masih memakai sihir dimensi ruang agar Brian tidak menyadari kemampuannya malah sialnya Felix yang bangun memergoki nya.
Felix Tersenyum miring, menarik tangan Eva. Tubuh mungil itu menabrak dada bidangnya, surai hitamnya berantakan menutupi wajah Eva.
"sesuai aturan seharusnya penyihir dibunuhkan", nada berat Felix di telinga Eva membuat tubuhnya sedikit tegang.
Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Dia mendongak menatap mata merah felix, yang baru dia sadari jarak wajah mereka berdua sangat dekat, deru nafas yang berat dan panas Felix mengenai wajah Eva seperti uap panas.
"jika kau memenggalku, percaya tidak kalau hutan Ilos akan mengamuk", Eva mengalihkan wajahnya.
Felix menaruh dagu Eva, mata biru kembali menatap mata merah. Suasana yang di buat dalam sihir dimensi terlalu tenang, jantung Eva hampir copot kalau Felix tidak memberi senyum sinis andalannya yang tentu memancing emosi Eva.
"yah kalau hutan itu mengamuk, percaya tidak kalau aku akan mudah membakar mereka", Felix melepas pegangan di dagu Eva.
Eva bangun dari posisinya, duduk kembali di kursi samping ranjang Felix.
"jika kau masih melakukan itu, jangan terkejut esok pagi aku sudah hilang dari Odelions", Eva menatap Felix.
"Dan kau akan terkejut jika tau anak-anak Ilos yang diculik menjadi tentara Odelions yang akan menyerang kampung kecil mereka", Felix tersenyum miring.
mata Eva membola lebar, wajah merahnya berganti pucat mendengar Felix mengatakan anak-anak Ilos yang diculik.
Awalnya Felix masih berpikir alasan Eva berbalik ketika dia kabur, tapi ketika mendengar beberapa pendeta kuil mulai menambah murid yang cukup ganjil. Dan munculnya anak-anak yang memiliki ciri fisik orang Ilos, semua menjadi lebih jelas lagi baginya.
Felix mencengkeram rahang eva, tatapannya sinis dan dingin. wajah demamnya masih tersisa, tapi tidak mengurangi efek domestik nya.
"selagi kau patuh, nyawamu dan anak-anak itu akan selamat. Jadi, bisa kah kau patuh menjadi calon tunangan yang tenang di Odelions". sinis Felix.
Rahang Eva mengeras, tangannya terkepal menahan diri untuk tidak memukul Felix dengan satu pukulan.
"sialan!" batin Eva.
...****************...