Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Lelaki itu mengangkat kepalanya berusaha menatap Biah yang berada diatasnya walau tidak bisa. Dia ketakutan setengah mati, dia sungguh tidak mau mengorbankan kedua orangtuanya yang begitu menyayanginya selama ini
Melihat tatapan itu Biah hanya menghela nafasnya, dia memang marah tapi dia tidak mungkin melenyapkan orang tua dari seorang anak yang begitu menyayangi mereka.
"Katakan siapa orangnya, aku akan menjamin keselamatan karier dan juga keluargamu, apa mereka tidak memberitahu siapa aku? ".
Lelaki itu menunduk, walau dia tidak memakai seragamnya ternyata perempuan dihadapanya ini tahu siapa dia.
"Maaf komandan, aku hanya menjalankan perintah atasan, saat dikarantina mereka selalu membahas anda disana, aku bertarung bersama anda disini membuat aku yakin anda yang terbaik".
"Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu". Perintahnya dengan tegas.
Dia tidak peduli pada pujian yang baru saja lelaki ini berikan kepadanya, baginya dia harus tahu informasi itu.
"Jendral Bram komandan". Lirihnya pelan.
Biah tertawa sumbang, dia sudah menduga hal itu, dia hanya ingin memastikan pengakuan lelaki ini untuk meyakinkan dirinya.
"Dia akan mencarimu setelah ini, aku akan membantumu bersembunyi, pastikan kamu tidak membuka mulutmu karena mereka akan membunuh mu tanpa ampun".
"Terima kasih komandan".
Dia bergegas berdiri tapi dia kesulitan, melihat itu Biah menghela nafas dan membantunya berdiri.
"Dor".
Biah langsung mendorong tentara muda itu kesamping untuk menghindari peluru, dia langsung mengambil pistolnya dan segera bersembunyi begitu juga dengan pemuda itu.
Biah mencari kesegala arah untuk mencari orang yang menembak mereka barusan, matanya terkunci pada gerakan mencurigakan dari balik pagar.
Dia bersembunyi tapi senjatanya tetap berada didepan begitu terlihat pergerakan sedikit Biah langsung menembak, beruntung pistolnya kedap suara.
Tembakan itu tepat sasaran dan lelaki itu langsung berlari untuk menghindar, tapi saat akan mengejarnya Anak-anak nya muncul dari dalam dan mendekati dirinya dalam keadaan berjongkok dan menunduk agar tidak terlihat karena tanaman disekolah memang lumayan tinggi.
"Bunda, apa semuanya baik-baik saja? ". Tanya Umar pelan dan matanya waspada.
Anak-anak itu memang sejak kecil dilatih untuk bisa melindungi diri mulai dari bela diri dan keadaan darurat seperti ini,
"Sudah nak, ayo kita pulang, kalian waspada, kita harus pergi sekarang, mereka mengincar kita".
Ketiganya hanya bisa mengangguk mengikuti langkah sang bunda untuk pergi dari sana, mereka yakin setelah ini mereka akan menjalani sekolah dirumah karena permasalahan ini akan sangat besar.
Mereka akhirnya pergi tapi tidak menggunakan mobil nya, dia menggunakan mobil yang terparkir dibelakang sekolah karena dia memang sudah meminta orang untuk menyiapkannya disana karena dia yakin akan ada insiden seperti ini yang akan terjadi.
Setelah berhasil menyelamatkan anak-anaknya, dia membawa mereka ketempat yang tidak akan ada orang yang tahu.
"Kalian seperti nya memang harus diberi pelajaran".
Biah menyiarkan rekaman cctv sekolah dan memperlihatkan kepada media massa, negara kembali gempar sedangkan presiden kini mulai turun tangan membereskan kekacauan yang ada.
"Komandan Nurbiah, tolong kekantor kepresidenan sekarang". Perintah dari balik telpon yang merupakan sekretaris negara itu.
"Baik pak". Jawabnya singkat
Biah bergegas menemui sang presiden karena dia tahu ini akan terjadi, dia sudah mempersiapkan segalanya, jika dia diberhentikan dari kemiliteran dia sudah punya rencana bagus untuk membongkar semua rahasia besar yang merupakan kejahatan kelas kakap di meja hukum
"Apa yang anda lakukan ini komandan Biah?, apa anda tahu yang anda lakukan ini sangat beresiko dan mengganggu kestabilan pemerintahan dan juga negara".
Nurbiah yang kini memakai seragam tentara yang menjadi kebanggaannya kini menatap sang presiden dengan berani.
"Ini salinan semua bukti mereka semua terlibat pak presiden, saya tidak bisa memberikan anda salinan yang asli karena itu adalah bagian dari tugas saya".
Sang presiden yang merupakan seorang tentara senior hanya bisa menghela nafas, dia tahu jika anak buahnya ini adalah tentara setia yang menjaga janjinya pada negara.
"Tapi kamu sudah mengambil dan bertindak terlalu jauh komandan, kamu pasti tahu mereka akan memburu kamu jika terus seperti ini".
"Maaf pak presiden, saya akan membawa kasus ini kemahkamah hukum internasional, ini sudah fatal dan sangat keterlaluan, anda pasti tahu berapa banyak mereka merugikan negara karena perbuatan mereka, anda seorang prajurit yang setia, saya yakin anda paham apa yang saya katakan".
Sang presiden hanya bisa menghela nafasnya kasar, ini akan betul-betul mengguncangkan negara jika semuanya terbongkar karena bukan hanya militer tapi juga aparat kepolisian, anggota legislatif dan juga beberapa pengusaha besar ikut terseret.
"Baiklah, aku memberimu izin untuk membongkar semuanya, untuk sementara kamu harus berhati-hati terutama anak-anak mu".
Nurbiah tersenyum lebar dan mengangguk, dia memandang presiden dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih pak, aku janji setelah tugas yang diberikan ini, aku akan menjadi warga biasa yang hidup dengan bebas".
"Saya bangga menjadi presiden mu, kamu memiliki jiwa kepemimpinan yang sempurna sebagai pemimpin, andai nanti kamu selesai Dnegan tugas dan usiamu cukup, ikutlah pemilihan menjadi gubernur agar orang-orang bisa kami lindungi dan mensejahterakan mereka, kamu cocok untuk itu".
Nurbiah menggelengkan kepalanya pelan, dan menatap presiden Dnegan negara itu dengan penuh penghormatan.
"Saya hanya ingin menjadi warga biasa pak, saya ingin hidup tenang bersama keluarga kecil tanpa banyak gangguan dan intervensi walau saya ingin bekerja untuk memajukan negara tetap saja keluarga saya yang utama".
Sang presiden hanya tersenyum lembut, dia menepuk pelan kepala komandan tanggu didepannya ini.
"Kamu memang tangguh komandan, saya tidak akan melupakan jasamu yang besar ini untuk negara".
"Terima kasih pak, saya permisi".
"Oh iya komandan, persiapkan orang-orang yang terpercaya yang bisa kamu kumpulkan dan pastikan mereka setia pada negara seperti mu, dan selamatkan keluarga mereka terlebih dahulu sebelum kalian melakukan aksi kalian, ingat yang kalian hadapi adalah petinggi besar".
Nurbiah mengangguk kemudian berjalan keluar dan merencanakan serta melaksanakan semua yang telah berjalan.
"Kalian semua akan tahu jika kalian sudah membuat singa tidur terbangun dan siap menerkam kalian