Bercerita mengenai Alisya dan semua sahabatnya, berjuang melawan para zombie yang tiba-tiba saja menggegerkan kampus mereka, mereka berhasil keluar dari kampus tapi tidak sedikit pula yang menjadi monster itu (zombie). Apakah kami bisa menemukan tempat yang aman, melewati setiap rintangan dan juga konflik asmara? Penasaran dengan cerita selanjutnya. Ayo ikuti terus novelku yang berjudul "A World Full Of Zombies" 😄👍
Dan dukung aku dengan cara LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😊
Terimakasih 😊👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi Dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Dibalik kebahagian tersimpan kesedihan.
Kami semua berlari ke arah mereka disertai dengan air mata yang terus saja mengalir tiada henti sambil tersenyum, terlihat mereka sedang berdiri dan menjatuhkan semua barang bawaan di atas tanah dengan tangan yang menyambut pelukan hangat dari keluarga masing-masing. Kami semua saling memeluk mereka yang kami sayang dan larut dalam kebahagiaan, tubuh mereka memiliki noda darah dan juga lumpur, wajah yang letih tapi tidak lupa pula tersenyum dengan sangat manis. Aku melihat semua orang sangat bahagia didalam pelukan keluarga mereka masing-masing, terlihat Fikri dan Fadli terseyum kearahku yang berada didalam pelukan orangtua mereka yang berjarak tidak jauh dari tempatku berada.
"Syukurlah, Rasyid pulang dengan selamat." Ucap ibu yang memegang bahu dan pipinya sambil melihat abang Rasyid dengan kecemasan. Abang Rasyid terus tersenyum kearah kami berdua dan ibu pun berkata lagi, "kenapa kalian pulang sangat lama, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kami melewati begitu banyak rintangan, Bu!!" jawab abang Rasyid yang menundukkan kepalanya.
"Astaghfirullah," ucap ibu kepada abang Rasyid dan terus merasa sangat kuatir sambil mengelus bahunya dengan pelan, terdengar suara yang menahan rasa sakit. Ibu yang mengetahui hal tersebut langsung memutar balik tubuh abang Rasyid dan melihat kearah luka tersebut, "ya Tuhan. Tubuhmu berdarah, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Abang Rasyid melihat kearah ibu dan memeluknya dengan sangat erat sambil berkata, "Rasyid tidak bisa menyelamatkan mereka, Bu."
Ibu melepaskan pelukan abang Rasyid dan berkata lagi, "menyelamatkan siapa?"
Terlihat air mata terus mengalir dari wajah abang Rasyid, tatapan penuh penyesalan, dan bibirnya yang mulai komat-kamit. Tapi sebelum abang Rasyid mencoba menjelaskan kepada kami berdua terdengar suara tangisan yang sangat histeris, mendengar suara suara tersebut abang Rasyid langsung memeluk aku dan ibu sambil menangis terisak-isak. Aku yang berada didalam pelukan abang Rasyid melihat ada beberapa keluarga yang menangis meronta-ronta dan sesekali menjerit histeris.
Ibu melepaskan pelukannya dan berkata, "apa yang sebenarnya terjadi, Syid?"
Abang Rasyid hanya menangis dan terduduk lemas di atas tanah, mengetahui hal tersebut ibu pun duduk dihadapannya sambil terus menenangkan keadaan abang Rasyid yang semakin sedih.
Ada apa, apa yang sebenarnya terjadi?. Batinku.
Terlihat begitu banyak keluarga yang menangis terisak-isak sambil terduduk lemas di atas tanah yang berada di sekitarku sedangkan keluarga yang lainnya mencoba menenangkan ibu-ibu yang terus bersedih, aku melihat sekeliling mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melangkah pergi dan meninggalkan ibu yang sedang menenangkan abang Rasyid, menuju mereka yang sedang menangisi anggota keluarga mereka yang tidak selamat dari hujan deras kemarin malam. Terdengar tangisan yang mulai menjadi-jadi sambil meronta-ronta ingin pergi kearah hutan untuk mencari anak mereka yang telah terjatuh kejurang ketika hujan turun begitu deras dan angin kencang membuat sebagian dari mereka tidak ada yang selamat, abang Rasyid sangat terpukul dengan kejadian ini karena dia telah dipercayain sebagai ketua petugas pengambilan stok kebutuhan.
Kebahagian serta diselimuti dengan kesedihan yang terjadi di perkemahan ini, keluarga Amel beserta semua orang tua sahabat cowokku sangat bersyukur karena anak mereka pulang dalam keadaan hidup dan juga ke-lima teman abang Rasyid lainnya.
Tiba-tiba saja ada yang memegang tanganku dari arah belakang dan berkata, "Alisya."
Aku menoleh kearah belakang dan terlihat Fadli sedang berdiri di belakangku, aku pun berdiri tepat dihadapannya dan berkata. "Mengapa ini bisa terjadi?"
Fadli menarik nafas dalam dan berkata, "kami sudah sangat berusaha dimalam itu, tapi hujan yang turun begitu deras dan angin kencang disertai jalan yang sangat licin membuat kami begitu sulit untuk mendaki dan melawan zombie-zombie itu."
"Kami sudah sangat berusaha, kak." Sahut Zikri yang berjalan dari arah belakangku bersama dengan Amel dan berdiri tepat di sebelahku.
"Zikri, untunglah kau selamat. Ada berapa orang yang tidak selamat?" tanyaku kepada Zikri.
"8 orang, kak." Jawab Zikri dengan menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata.
"Astaghfirullah," balasku dengan kaki yang menggetar.
Mendengar perkataan Zikri membuat ku sangat kaget dan terpukul, aku Fadli, Zikri, dan Amel, masih terdiam membisu memikirkan peristiwa itu dan terlihat semua orang mulai berjalan kearah perkemahan dengan saling merangkul mereka yang sedang bersedih.
* * *
Di tengah-tengah api unggun yang sangat terang kami duduk dan tiada hentinya meneteskan air mata, mendengar perkataan dari abang Rasyid mencoba menjelaskan semua peristiwa yang terjadi kepada mereka ketika mengambil stok kebutuhan. Malam ini kami harus mendengar kenyataan yang sangat memilukan hati, kehilangan begitu banyak para pemuda berjuang dibarisan paling depan, setelah kehilangan anak kecil bernama Boby kami juga harus mengikhlaskan pemuda-pemuda itu dalam keadaan yang sama, sholat ghaib pun sudah kami laksanakan untuk mengikhlaskan kepergian mereka semua.
Hujan deras disertai angin kencang kemarin malam membuat petugas pengambilan stok kebutuhan mengalami kecelakaan ketika mendaki bukit, jalan yang licin ditambah lagi membunuh setiap zombie yang menghampiri mereka membuat langkah mereka menjadi tidak setabil. Mereka sudah berusaha keras untuk bertahan di kondisi seperti itu, tapi tanah yang sudah menjadi lumpur membuat mereka terjatuh tergelincir dan ada juga yang terjatuh kedalam jurang. Mereka yang terjatuh tergelincir mengalami luka parah sedangkan yang jatuh kejurang tidak bisa diselamatkan.
Abang Rasyid terus menceritakan kejadian dimalam itu sambil duduk di antara Fadli dan abang Farel sambil berkata, "aku mendengar suara mereka yang berteriak kencang dan semakin menghilang. Pemuda-pemuda itu sudah sangat berjuang, walaupun sebelumya kami juga mengalami kecelakaan mobil karena mengalami rem blong dan membunuh zombie-zombie itu ketika mencari stok kebutuhan. Tapi seandainya saja dimalam itu dia bisa ku tolong, tentu saat ini dia berada di tengah-tengah kalian dan bukannya aku." Jelas abang Rasyid kepada kami semua sambil meneteskan air mata, Fadli yang berada di sampingnya pun mencoba menenangkan abang Rasyid dengan mengelus pundaknya.
"Maksudnya? Mengapa kau bilang, dia lah yang berada di tengah-tengah kami dan bukannya kau?" tanya salah satu orang tua dari pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut.
"Di saat dimana kami mengalami peristiwa itu dan tergelincir bahkan ada yang terjatuh ke jurang, aku mendengar suara yang minta tolong dari bawa jurang. Dengan sangat cepat aku berlari menuju jurang dimana tempat mereka terjatuh dan melewati semua orang yang sedang melawan beberapa zombie tersebut, terlihat Reza tergantung sedang memegang akar pohon dan berusaha untuk meraih atas tanah tapi ketika aku mulai menggapai tangannya dia mengambil pistol disaku celananya dan membidik mengarahkan tepat kearahku. Dan tiba-tiba saja mayat zombie terjatuh di atas tubuhku bersamaan dengan terjatuhnya Reza ke jurang itu," jelas abang Rasyid kepada kami semua sambil menundukkan kepalanya. Mendengar itu kami semua semakin menangis terisak-isak.
Setelah melewati malam yang terasa sangat panjang dan mengikhlaskan mereka yang sudah pergi untuk selamanya membuat kami harus menerima kenyataan sangat pahit ini, kehilangan satu persatu orang yang kita kenal itu sangat susah apa lagi mereka yang kita sayangi itu sangatlah berat.
* * *
Keesokan Harinya...
Terlihat hari yang sangat cerah dan juga sejuk tapi tidak mampu membuat hati kami seindah hari ini, kami terus melakukan aktivitas seperti biasanya walaupun berat tapi itulah kenyataannya. Petugas pengambilan stok kebutuhan ada yang pulang dengan selamat tapi luka di tubuh mereka lumayan parah, abang Rasyid dan beberapa temannya mengalami luka yang lumayan parah dibandingkan petugas lainya karena mobil abang Rasyid mengalami kecelakaan remnya blong yang mengakibatkan mobil mereka menabrak mobil-mobil yang terparkir di jalan menurun, sedangkan 2 mobil yang lainnya tidak mengalami kecelakaan tersebut walaupun begitu mereka semua harus dirawat dan beristirahat sampai mereka sembuh total.
yang Petugas kesehatan memeriksa dan mendatangi tenda satu persatu, begitu juga dengan petugas pos dapur kami membawakan makanan ke tenda mereka masing-masing.
Setelah makanan sudah selesai di masak barulah di hidangkan di atas meja kayu, semua orang mengantri untuk mengambil makanan di pos dapur yang berada di halaman perkemahan, disini juga tersedia 1 kursi dan 1 meja memanjang yang terbuat dari kayu bekas dari kayu yang sebelumnya digunakan untuk membuat pagar di pekarangan perkemahan. Setelah semua orang sudah mendapatkan makanan dan duduk di berbagai tempat, barulah aku menyediakan beberapa makanan yang akan diberikan untuk abang Rasyid dan pasien lainnya diletakan di atas nampan.
Aku berjalan ketenda abang Rasyid yang berada di samping tenda aku dan ibu, terlihat abang Rasyid sedang tertidur tanpa memakai baju hanya memakai celana santai selutut dan meletakkan pergelangan tangan kirinya diatas jidatnya. Aku masuk kedalam tenda dengan sangat perlahan agar dia tidak terganggu dengan kedatanganku tapi tiba-tiba saja dia berkata dengan mata yang masih tertutup, "sudah masuk saja untuk apa mengendap-endap, macam tidak pernah masuk ke kamar abang saja ketika kita masih dirumah dulu."
"Abang ngak tidur," tanyaku sambil meletakan piring di sampingnya yang berisi nasi, sayur, dan satu potong ayam goreng." Bukannya begitu, Alisya ngak mau mengganggu abang yang sedang beristirahat."
Abang Rasyid melihat kearahku yang masih merebahkan tubuhnya sambil berkata, "ini bukannya lagi istirahat, tapi abang malah disiksa sama petugas kesehatan karena tidak boleh keluar dari tenda. Itukan sangat meyebalkan namanya," tutur abang Rasyid yang memanyunkan bibirnya.
Aku pun tertawa kecil melihatnya tingkah lakunya itu sambil berkata, "iya sudah jangan bicara lagi, ayo makan!!" Aku memberikan piring kepada abang Rasyid dan berkata lagi, "setelah itu baru minum obatnya."
Abang Rasyid menarik nafas dengan sangat kuat dan duduk di hadapanku sambil berkata, "ya sudah sini makanannya," ucapnya sambil mengambil piring di tanganku dan berkata lagi, "untuk apa sih minum obat, ini kan cuma luka ringan."
Aku menggelengkan kepala dan berkata, "kayak gini abang bilang luka ringan, terus luka berat itu yang kayak mana? Udahlah bahu abang tergores gara-gara terkena ranting pohon dan dijahit, belum lagi memar yang ada di wajah abang akibat kecelakaan mobil. Itu yang abang bilang luka ringan? Is, is... Memanglah anak ini ya!!" ucapku dengan sangat kesel, abang Rasyid hanya tersenyum melihatku sambil menikmati makanannya.
Setelah makanan didalam mulutnya sudah habis abang Rasyid pun berkata, "iya, iya... Akan abang habiskan makanannya, tapi ngak perlu minum obatkan? Adek tahukan kalau abang paling ngak suka minum obat, rasanya itu loh... Pahit kali," ucap abang Rasyid sambil memasang raut wajah kasihan.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "ngak usah abang memasang raut wajah seperti itu, Alisya ngak bakalan terpengaruh. Jadilah anak baik dan minumlah obatnya!!" jelas ku kepada abang Rasyid yang terus saja mencoba merayuku.
"Tapi dek, itukan sangat pahit. Ngak usah minum obat, ya." Ucap abang Rasyid yang berusaha merayuku lagi, aku terus menatapnya dengan tatapan tajam dan menarik nafas dalam-dalam. Abang Rasyid berhenti merayuku dan berkata dengan sangat pasrah, "ngak bisa, iya?"
"Ngak...!!" jawabku ketus.
Abang Rasyid melihat makanan yang berada di tangannya sambil menggelengkan kepala dan berkata dengan pelan, "nasep... Nasep... Punya adek kok macam mama tiri."
Aku yang mendengar perkataannya langsung berkata, "apa yang abang bilang barusan? Alisya ngak denger."
Abang Rasyid tersenyum kearahku sambil berkata, "ngak kok. Abang cuma bilang, kalau Alisya itu baiiiik... Kali." Abang Rasyid langsung memakan makanannya dengan sangat cepat, melihat tingkah lakunya membuat aku tertawa terbahak-bahak.
"Pagi..." Sahut seseorang yang berada di luar tenda, aku berhenti tertawa dan menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah Amel. "Boleh aku masuk?"
Aku tersenyum kearah Amel dan berkata, "ayo masuk, Mel."
Amel duduk di sebelahku dan berkata, "ini bang obatnya, diminum iya."
Mendengar perkataan Amel, abang Rasyid pun terbatuk-batuk sambil memukul dadanya. Amel dengan sangat cepat mengambil botol minum yang berada disebelahnya dan memberikan kepada abang Rasyid sambil menepuk pelan pundaknya dan berkata, "abang masih takut minum obat, ya?" Abang Rasyid menganggukkan kepalanya yang masih meminum air mineral, mengetahui hal itu dari abang Rasyid mampu membuat Amel tertawa terbahak-bahak.
"Sudah dong jangan di ledekin terus, abang kan jadi malu." Ucap abang Rasyid yang memanyunkan bibirnya.
Aku menahan tawa dan berkata kepada Amel, "ya udah aku pergi dulu ya mau mengasih makanan kepada yang lain, aku serahkan abang Rasyid sama kau, Mel."
"Tenang saja, Lisya. Aku akan memaksa Pasian ku untuk meminum obatnya, walau bagaimana pun caranya." Jelas Amel kepada ku yang masih tertawa kecil.
"Nasep, nasep...!! Mama tiri sudah mau pergi, kok malah datang mak lampir." Balas abang Rasyid sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa...!!" jawab kami berdua dengan serentak sambil mencubit kuat pinggang abang Rasyid yang tanpa memakai baju itu.
"Aduh... Sakit. Iya ampun, we." jawab abang Rasyid sambil menahan rasa sakit yang masih memegangi botol minuman. Aku dan Amel pun melepas cubitan dan tertawa terbahak-bahak.
Aku pun keluar dari tenda dan membiarkan mereka berdua didalam tenda, terdengar Amel yang terus saja memaksa abang Rasyid untuk meminum obatnya, tapi abang Rasyid terus merayu Amel agar mengizinkannya untuk tidak meminum obat, aku yang berada diluar tenda masih saja tersenyum mendengar berdebatan diantara mereka berdua.
"Ayo cebat minum obatnya...!!" ucap Amel dengan sangat kesel.
"Ngak mauuuu...!! Ibuuu... Tolonglah anakmu ini, dari serangan mak lampiiir..." Tutur abang Rasyid yang meminta bantuan.
"Apaaa...!! jawab Amel dengan suara ngegas.
Aku yang masih berdiri diluar tenda pun berteriak kepada abang Rasyid, "Oalah bang, bang. Sudah besar kok takut minum obat."
"Alisya, adik abang yang paling manis... Tolong abang dari serangan mak lampir ini ya" ucap abang Rasyid sambil menutupi bibirnya menggunakan kedua tangannya dan menghindar dari Amel yang terus saja memaksanya untuk minum obat.
Aku melihat kearah Amel dengan sangat berusaha menjijili obat kearah abang Rasyid sambil berkata, "ayo semangat, Mel... Aku dukung kau dari sini. Tenang saja bakalan tidak ada yang dengar, semua orang masih di pos dapur."
"Tenang saja Alisya, ngak akan aku biarkan dia lolos." Jawab Amel yang sedang berusaha memberi obat kepada abang Rasyid.
Abang Rasyid memang sangatlah takut untuk minum obat maka dari itu dia lebih memilih disuntik dari pada minum obat, mamanya Amel adalah Suster peribadi kami sekaligus teman dekatnya ibu, semenjak aku kenal Amel di SMA keluargaku dan keluarga Amel menjadi sangat dekat mereka sudah kami anggap sebagai saudara kami sendiri.
Melihat mereka dari luar tenda membuatku tidak ada henti-hentinya tersenyum, aku pun mulai berjalan meninggalkan mereka dan menuju tenda abang Farel dan abang Malik yang berada di sebelah tenda abang Rasyid.
Ketika aku didepat pintu tenda mereka terlihat abang Farel dan abang Malik sedang tertawa terbahak-bahak sambil berkata dengan serentak, "Hay Alisya, ayo masuk." Aku pun tersenyum dan masuk kedalam tenda mereka.
"Ini bang, makanannya." Ucapku sambil duduk didekat mereka dan meletakkan nampan yang berisi 4 piring di tengah-tengah kami.
"Terimaksi ya, Alisya." Jawab abang Malik, aku pun tersenyum.
"Itu sih Rasyid kenapa? Kok bising kali, apa jangan-jangan lagi dipaksa untuk minum obat ya?" tanya abang Farel kepadaku yang masih saja tertawa dengan gelinya.
"Iya bang," jawabku sambil tersenyum, kami bertiga pun mulai tertawa terbahak-bahak, "WKWKWKW."
"Aku pergi dulu ya, bang." Ucapaku kepada mereka berdua.
"Oke," jawab mereka dengan serentak.
Aku pun keluar dari tenda mereka dan berjalan kearah tenda Fikri yang berjarak 3 tenda dari tempatku berada, Tenda Fikri dan tenda Fadli hanya terhalang 1 tenda saja, maka dari itu aku berjalan ketenda Fikri terlebih dahulu baru ketenda Fadli nantinya. Ketika aku hampir sampai ketenda Fikri, terdengar Fikri sedang tertawa terbahak-bahak sambil berbicara dengan seseorang.
Fikri sedang tertawa dengan siapa? Kedengarannya, Fikri sangat senang sekali. Batinku.
Aku sangat yakin kalau Fikri tidak sedang berbicara kepada orang tuanya, karena kedua orang tuanya sedang sarapan bersama yang lain di pos dapur yang berjarak sekitar 10 meter dari perkemahan. Dengan sangat penasaran aku pun menpercepat langkahku kearah tendanya dan terlihat Fikri sedang tertawa bersama Nia.
Nia... Apa yang sedang mereka bicarakan? Kelihatannya sangat seru. Batinku.
Aku melangkahkan kaki mendekati pintu tenda sambil tersenyum dan mulai berkata, tapi sebelum aku berbicara terlihat Nia mengambil sendok dan mulai menyuapi Fikri.
Fikri berhenti tertawa dan berkata "Terimakasih Nia, aku bisa makan sendiri kok."
"Ngak papa kok, sini piringnya biar aku suapi." Balas Nia yang mengambil piring ditangan Fikri.
Aku pun menghentikan langkah dan terus melihat kearah mereka, terlihat Nia menyuapi Fikri yang berada dihadapannya.
Setelah makanan yang berada didalam mulutnya sudah habis barulah Fikri berkata, "terimakasih ya."
"Iya sama-sama, Fik." Ucap Nia yang semakin tersipu malu.
"Pipimu kok memerah?" tanya Fikri kepada Nia dengan heran dan berkata lagi, "padahal disini kan ngak panas," Nia menundukkan pandangannya ketika Fikri semakin melihatnya dengan sangat serius,
"Ngak papa kok, Fik." Nia melihat kearah Fikri dan berkata lagi, "ada nasi yang menempel di wajahmu."
Fikri pun mulai mengangkat tangannya untuk membersikan wajahnya, tapi sebelum itu terjadi dengan cepat Nia mendekati wajah Fikri dan menyentuh lembut bibirnya, wajah mereka kini saling berdekatan hanya berjarak 5 inchi dan mereka terhanyut didalam tatapan satu sama lain. Melihat Fikri dan Nia saling berdekatan membuat hatiku merasa sangat sakit dan air mataku tiba-tiba saja mengalir tiada henti, dengan perlahan aku melangkah mundur menjauh dari pintu tenda sambil terus melihat kearah meraka yang masih saling memandang.
[IYA!! Aku memang mencintainya!! Apakah aku salah, Alisya?]. [Kau sebenarnya ngak sukakan lihat aku dekat dengan, Fikri. Kau berusaha mendekatinya dan menjauhi aku darinya!!].
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang didalam ingatanku.
Aku menggenggam nampan dengan sangat erat dan menoleh kearah kiri sambil melangkah menjauh dari pintu tenda, ketika aku mulai melangkah terdengar sahutan dari dalam tenda yang mamanggil namaku dengan pelannya, "Alisya." Aku terus saja berjalan tanpa menoleh sedikitpun, ketika langkahku belum terlalu jauh Fikri memanggil namaku lagi, "Alisya, tunggu." Aku menghentikan langkah sambil menghapus air mata dan menoleh kearah belakang terlihat Fikri sedang berdiri didepan pintu tenda dan tidak lama kemudia Nia menyusul dan berdiri dibelakang Fikri.
"Iya, Fik. Ada apa?" tanyaku kepadanya sambil tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan berkata lagi, "Nia, kau ada disini juga. Oya bagaimana dengan yang lain apakah mereka sudah mendapatkan sarapan?"
"Sudah," jawab Nia singkat tanpa melihatku sedikitpun.
Sepertinya Nia ngak senang melihat keberadaan ku. Batinku.
"Baguslah kalau begitu, aku permisi dulu ya we." Ucapku kepada mereka sambil tersenyum.
Aku terus berjalan tanpa melihat kebelakang lagi melewati 1 tenda dan menuju tenda Fadli, Ketika aku sudah berada di depan pintu tenda Fadli terlihat dia sedang duduk didalam tenda sambil mengutak-atik pistol.
"Apa yang sedang kau lakukan?" sahutku yang masih berdiri didepan pintu tendanya.
Fadli berhenti mengutak-atik pistol dan melihat kearah ku sambil tersenyum manis, "ayo masuk, Alisya."
Terimakasih ya sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel Thor 👍😄, kritik dan saran sangat diperlukan agar Thor lebih semangat lagi up episode terbaru. janagan lupa LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😁😉
Terimakasih 😊
dan InsyaAllah, sekarang sudah mulai aktif lagi nulis😁
do'a kan ya... semoga saja Alisya bisa nulis novel yang baik 🙏🥰
boom like untuk karya terbaikmu
semangat trs menulisnya^^
Akan Ku Pantau Selalu Hehee,😉