NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26.Negosiasi Singa Betina

Ethan dan Evan berjalan mengapit Bianca, melintasi lantai ballroom yang dipenuhi para tamu elite. Bianca mengatur napasnya, menegakkan punggung, dan memasang senyum terbaiknya. Ego putri mafia miliknya mendadak bertarung sengit dengan debar jantung yang tak karuan.

Begitu mereka sampai di hadapan Narendra, Evan menepuk bahu pria itu dengan akrab. "Naren, santai sebentar. Ada yang mau gue kenalin ke lo."

Narendra membalikkan tubuhnya dengan tenang. Pandangan mata elangnya yang tajam berpapasan langsung dengan Bianca. Kedekatan jarak ini membuat Bianca bisa mencium aroma parfum woody maskulin milik Narendra yang sangat menenangkan.

"Narendra, kenalin, ini Bianca. Adik kembarannya Gavin, adik ipar Aruna," Ethan membuka suara, memperkenalkan dengan nada kasual.

 "Bi, ini Narendra. Kakak kembarnya Nareswari, tunanganku. Dia pewaris Mahesa Grup. Salah satu kolega Dom juga"

Bianca langsung mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan anggun namun tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Narendra. "Hai, Narendra. Gue Bianca. Senang bisa kenal sama lo malam ini."

Narendra menatap tangan Bianca selama satu detik, sebelum akhirnya menyambutnya dengan jabat tangan yang formal, singkat, dan terasa sangat kaku.

"Narendra. Senang bertemu Anda, Nona Bianca," jawab Narendra dengan suara baritonnya yang sangat jernih.

Gaya bicaranya begitu formal. Ia bahkan menggunakan kata 'Anda' dan menyematkan embel-embel 'Nona', menciptakan sekat jarak yang sangat tebal dalam sekali ucap.

Setelah melepaskan tautan tangan mereka, Narendra tidak memberikan respons lanjutan atau basa-basi untuk memperpanjang obrolan. Ia hanya berdiri tegak dengan kedua tangan yang kembali dimasukkan ke dalam saku celana jasnya, menatap Bianca dengan ekspresi wajah yang sangat datar dan dingin, seolah Bianca hanyalah tamu biasa yang kebetulan lewat di depannya.

Melihat reaksi yang terlampau dingin dan cuek dari Narendra, Ethan dan Evan di samping mereka harus sekuat tenaga menahan senyum geli. Di kalangan pebisnis, Bianca terkenal sebagai sosok yang tak tersentuh. Namun di depan Narendra, pesonanya seolah mental begitu saja.

Bukannya mundur atau merasa terhina, penolakan terselubung dari Narendra justru membuat darah muda Sterling di dalam tubuh Bianca berdesir hebat. Jiwa kompetitifnya terbakar seketika. Selama hidupnya, belum pernah ada pria yang berani menatapnya dengan pandangan sedatar dan setidaktertarik itu.

Narendra yang perfeksionis dan berwibawa dingin ini justru terlihat sepuluh kali lipat lebih seksi dan menantang di mata Bianca.

"Nona Bianca?" Narendra menaikkan sebelah alisnya tipis saat menyadari Bianca terus menatapnya tanpa berkedip dengan binar mata penuh kepemilikan yang intens. "Apakah ada sesuatu di wajah saya?"

Bianca tersenyum miring, senyuman khas keluarga Sterling yang persis seperti milik Gavin saat mengunci Aruna pertama kali.

"Nggak ada apa-apa, Narendra," jawab Bianca dengan nada suara yang sengaja direndahkan, terdengar sangat berani dan menggoda.

"Gue cuma baru sadar... kalau es di dalam ballroom ini ternyata bukan cuma ada di dalam gelas sampanye gue, tapi juga berdiri tepat di depan gue. Dan jujur, gue tertantang buat nyari tahu seberapa cepat es itu bisa mencair di tangan gue."

Mendengar kalimat blak-blakan dari Bianca, sorot mata dingin Narendra sempat bergetar sedikit karena terkejut dengan keberanian putri mafia ini, sebelum ia kembali memasang wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa.Narendra hanya merespons ucapan berani Bianca dengan satu dengusan tipis yang nyaris tak terdengar. Ia membetulkan letak jam tangan kulit hitamnya, bersiap untuk pamit dan memotong obrolan canggung ini.

"Permisi, Nona Bianca, Ethan, Evan. Gue duluan," ucap Narendra formal, mulai menggeser posisinya untuk melangkah pergi.

Namun, Bianca tidak membiarkan mangsa pertamanya lolos begitu saja.Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Bianca melangkah maju, memotong jalur jalan Narendra. Jarak mereka mengikis hingga menyisakan beberapa puluh sentimeter saja. Bianca mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Narendra yang kini menatapnya dengan keterkejutan yang tertahan.Bianca merogoh tas pesta kecilnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlapis casing titanium hitam, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Narendra dengan gerakan yang sangat tegas.

"Ponsel lo, Narendra. Keluarin," perintah Bianca. Suaranya beralih dari nada menggoda menjadi sangat dingin, dalam, gaya bicara khas keluarga Sterling saat sedang melakukan transaksi bisnis bawah tanah yang tidak menerima bantahan.

Narendra mengernyitkan dahi tebalnya, menatap ponsel di tangan Bianca, lalu beralih menatap wajah tegas putri mafia tersebut.

 "Maaf? Untuk apa?"

"Ketik nomor lo di sini sekarang," tegas Bianca tanpa basa-basi, matanya berkilat penuh kepemilikan yang intens.

"Gue nggak suka bertele-tele. Gue tertarik sama lo sejak lo melangkah masuk lewat pintu ballroom tadi. Dan di dunia gue, apa yang menarik perhatian seorang Sterling, tidak akan pernah dilepaskan begitu saja tanpa kepastian."

Ethan dan Evan di belakang mereka langsung menepuk jidat secara bersamaan, menahan tawa melihat bagaimana cara Bianca meminta nomor telepon pria incaran pertamanya justru mirip seperti bos mafia yang sedang memeras uang jaminan keamanan kompleks perumahan.

Narendra tetap bergeming di tempatnya, kedua tangannya masih setia berada di dalam saku celana jasnya.

"Nona Bianca, saya rasa cara Anda meminta sesuatu terlalu... mengintimidasi. Dan maaf, saya tidak biasa memberikan kontak pribadi saya pada orang asing yang baru saya temui tiga menit lalu."Bianca tersemprot senyum miring, sebuah senyuman yang sarat akan dominasi.

"Gua kasih lo dua pilihan, Narendra," bisik Bianca, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat hingga Narendra bisa menghirup aroma parfum floral berkelas miliknya.

"Pilihan pertama, lo ketik sendiri nomor lo di ponsel gue sekarang secara sukarela. Pilihan kedua, gue bakal minta Ka Dom buat nyari tahu nomor lo, alamat rumah lo, jadwal kerja lo, sampai seluruh isi rekening bank lo dalam waktu lima belas menit dari sekarang lewat jaringan intelijen keluarga gue. Setelah itu, gue yang bakal meneror lo duluan."

Bianca mengetuk layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan papan ketik kosong.

 "Jadi, mau pakai cara halus, atau cara keluarga Sterling, Narendra?"

Mendengar ancaman gila yang sangat terstruktur dari wanita di hadapannya, ketenangan perfeksionis Narendra akhirnya retak juga. Ia menatap Bianca lekat-lekat, menyadari bahwa singa betina di depannya ini benar-benar tidak sedang bercanda.

Narendra mengembuskan napas panjang yang pasrah. Ia menarik tangan kanannya dari saku jas, merebut ponsel dari genggaman Bianca dengan sentakan pelan, lalu jemarinya dengan cepat mengetikkan nomor teleponnya di layar sebelum mengembalikannya dengan kasar.

"Itu nomor saya. Dan tolong, jangan libatkan jaringan intelijen keluarga Anda untuk hal sekonyol ini,"

ucap Narendra ketus. Wajah dinginnya kini tampak sedikit gusar karena kalah telak dalam negosiasi pertama mereka.

Bianca menerima ponselnya kembali, menatap rentetan angka tersebut dengan binar kepuasan yang luar biasa membuncah di dadanya. Ia mengunci ponselnya, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Narendra dengan sangat jenaka.

"Pilihan yang cerdas, Narendra. Sampai ketemu di ruang obrolan malam ini. Jangan berani-berani lo blok nomor gue kalau lo nggak mau lihat mobil SUV hitam Kak Dom nangkring di depan kantor lo besok pagi," ancam Bianca manis, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah anggun meninggalkan Narendra yang masih mematung menahan dongkol di tengah lantai ballroom.

****

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!