NovelToon NovelToon
AKU DAN CEO

AKU DAN CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Tamat
Popularitas:248.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ayu Fitrianingsih

Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.

Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Didalam kantor BYW, Zena sedang berkutat dengan dokumen-dokumennya. Sedangkan Bian, membaca dokumen yang harus ia tanda tangani.

"Pak Bian, apakah ini sudah jam istirahat?" Zena bertanya pada Bian.

"Sudah kukatakan, kalau tidak ada karyawan lain atau diluar kantor. Kamu jangan memanggilku Bapak," Ucap Bian.

"Iya-iya, maaf," Ucap Zena.

"Apakah ini sudah jam istirahat?" Tanyanya.

"Sudah," Sahut Bian.

"Akhirnya, aku bisa istirahat juga," Sahut Zena dan menyandarkan tubuhnya disofa.

"Kalau mau istirahat, masuk saja di kamarku," Ucap Bian. Ia menawarkan Zena tidur di kamar yang ada di ruangannya.

"Baiklah, terimakasih," Sahut Zena. Ia pun pergi ke kamar itu. Dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.

*****

Dua jam kemudian, Zena tidak juga bangun.

"Kenapa Zena belum juga bangun? Apa dia tidak lapar?" Bian membatin pada diri sendiri. Lalu, ia menghampiri Zena yang sedang tidur kamar.

"Zena, bangun!" Perintah Bian. Ia duduk di tepi ranjang.

"Wajahnya pucat kali," Gumamnya. Ia memegang dahi milik Zena.

"Astaga, dahinya panas," Lanjutnya. Bian terus membangunkan Zena.

"Hmmm, iya," Ucap Zena.

"Wajah mu pucat, dahi mu panas. Kamu sakit?" Tanya Bian.

"Hanya sedikit pusing," Sahut Zena.

"Yasudah, ayo kita ke dokter!" Ucap Bian.

"Aku tidak mau. Antar kan aku pulang saja," Sahut Zena.

"Tapi, dokumen yang belum ku siapkan bagaimana?" Tanyanya.

"Kamu tenang saja. Nanti asisten Han yang akan melanjutkan," Tutur Bian. Zena mengangguk.

"Han, tolong siapkan mobilku!" Perintah Bian dari ponsel.

"Baik, Tuan," Sahut Han dari sebrang ponsel.

Lalu, Bian membantu Zena berdiri.

"Kamu bisa berjalan sendiri?" Tanya Bian.

"Bisa," Sahut Zena.

Zena berjalan terhuyung-huyung. Lalu, Bian memegangi tangan Zena.

"Maaf, Bian. Jangan memegangi tanganku. Nanti karyawan pada salah paham," Tutur Zena.

"Tapi," Ucap Bian.

"Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa berjalan sendiri," Zena memotong ucapan Bian.

Zena pun mengambil tas nya, dan keluar dari ruangan CEO, berjalan beriringan dengan Bian.

*****

Saat sudah mau sampai di depan pintu keluar kantor, tiba-tiba pandangan Zena buram dan tidak bisa mengimbangi tubuhnya.

"Eh," Bian menangkap Zena. Tubuhnya sudah lemas.

"Zena, Zena," Bian memanggil Zena sambil menggoyang-goyang tubuhnya. Tetapi tidak ada respon.

Bian langsung memggendong Zena ala bridal. Dan ia memanggil Han untuk mengambil tas milik Zena yang terjatuh.

"Pak Bian sedang menggendong siapa?" Tanya karyawan satu.

"Entah, aku juga tidak tahu," Sahut karyawan dua.

"Eh, Bukannya itu sekertaris Pak Bian?" Ucap karyawan tiga.

"Iya, itu sekertaris baru. Kalau tidak salah namanya Zena," Ucap karyawan satu.

"Enak sekali ya. Baru kali ini loh, Pak Bian lembut pada seorang perempuan," Ucap karyawan dua.

"Aku juga mau digendong seperti itu," Celoteh karyawan tiga.

"Jangan mimpi!!" Celetuk karyawan dua.

"Ayo balik kerja. Nanti kalau ketahuan bergosip, bisa-bisa dipecat," Sambungnya.

Tiga karyawan itu buru-buru balik dan bekerja.

*****

Didalam mobil, Bian sangat bingung. Ia harus membawa Zena ke rumah sakit atau ke rumah Zena. Karena tadi Zena menyuruhnya mengantar ke rumahnya. Bian pun mengambil pilihan pergi kerumah Zena. Dan ia juga tidak lupa menghubungi dokter pribadinya dan menyuruh dokter itu kerumah Zena.

Beberapa menit, Bian sampai dirumah Zena.

"Pak Satpam, buka gerbangnya sekarang!" Bian berteriak dari dalam mobilnya.

Pak Satpam pun langsung membukakan gerbangnya. Bian memasukkan mobilnya di dalam garasi. Lalu, ia turun dari kobil dan menggendong Zena.

"Pak Satpam, tolong pencet bel rumahnya!" Perintah Bian. Ia sudah sangat khawatir pada Zena.

Saat Bian masih menunggu pintu dibuka oleh pemiliknya. Tenyata, dokter pribadi Bian juga sudah sampai.

"Loh, Bian. Siapa yang kamu gendong ini?" Tanya Ninda. Ia tidak melihat wajah Zena.

"Ini Zena, Tante. Zena pingsan," Sahut Bian dengan cepat.

"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Ninda.

"Nanti saya ceritakan, Tante," Sahut Bian.

"Yasudah, ayo masuk!" Perintah Ninda.

Ninda menyuruh Bian membawa Zena ke kamar milik Zena. Sesampai kamar, dokter itu memeriksa keadaan Zena. Beberapa menit, dokter pun selesai memeriksa Zena.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Bian.

"Anak saya tidak kenapa-kenapa kan, Dok?" Tanya Ninda.

"Zena hanya kecapean, dan penyakit lambungnya kambuh," Sahut dokter itu. Nama dokter itu adalah Ryan.

"Sepertinya, beberapa hari yang lalu dia sering makan es krim, minum minuman bersoda yang terdapat zat asam didalamnya, dan makan snack pedas," Sambungnya.

"Sebaiknya untuk satu minggu ini. Nona ini jangan boleh makan makanan dan minuman itu," Lanjutnya.

Mendengar ucapan dokter pribadinya, Bian merasa sangat bersalah. Sebelumnya ia tidak tahu kalau Zena punya penyakit lambung.

"Maaf, Tante. Saya tidak tahu kalau Zena punya penyakit lambung. Dan saya juga sudah menyuruhnya tidak makan banyak es krim, tetapi dia tidak mau. Maafkan saya, Tante," Tutur Bian pada Ninda.

"Sudah, tidak perlu minta maaf, Kamu tidak salah. Zena, memang seperti itu. Dia memang susah dibilangi," Ucap Ninda. Ia mengelus pundak Bian.

"Terimakasih, Tante," Sahut Bian. Tetapi, ia masih ada rasa bersalah.

"Kapan Anak saya akan siuman, Dok?" Tanya Ninda.

"Mungkin satu jam lagi," Sahut dokter Ryan.

"Ini obat untuk anak Ibu, minumkan secara rutin," Sambungnya. Ia pun memberikan obat itu dan Ninda menerimanya.

"Bian, aku pulang dulu!" Ucap dokter Ryan.

Bian hanya mengangguk. Dan dokter Ryan juga tidak lupa berpamitan pada Ninda. Lalu, ia pun keluar dari dalam kamar Zena.

*****

"Maaf, Tante. aku tidak bisa lama-lama disini. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dikantor," Tutur Bian.

"Oooh, tidak apa-apa. Kamu balik saja ke kantor," Sahut Ninda.

"Terimakasih atas perhatiannya, Tante," Ucap Bian. Ninda hanya tersenyum.

"Kalau Zena sudah siuman, tolong sampaikan salam saya ya, Tante!" Ucap nya.

"Dan besok Zena gausah kerja dulu. Tunggu dia sudah baikan baru masuk kerja lagi," Sambungnya.

"Pasti akan Tante sampaikan pada Zena," Sahut Ninda.

"Yasudah Tante. Saya pamit," Ucap Bian.

Lalu, Bian melihat Zena yang masih belum siuman. Rasanya ia ingin menangis melihat Zena seperti itu.

"Nak Bian," Panggil Ninda seraya memegang pundak Bian.

"Eh iya, Tan," Sahut Bian. Ia tersadar dengan lamunannya.

"Jangan terlalu memikirkan Zena. Nanti malah kamu yang jadi sakit," Tutur Ninda.

"Ohiya, hati-hati dijalan!" Sambungnya.

Bian tersenyum pada Ninda.

"Terimakasih, Tante," Sahut Bian. Ia pun keluar dari kamar Zena dan balik kekantor nya.

*****

Beberapa menit, Bian sudah sampai kekantor nya. Dia langsung masuk kedalam ruangannya. Lalu menghubungi asisten Han agar datang keruangan nya. Beberapa menit, asisten Han pun sampai keruangan Bian.

"Han, apakah dokumen yang aku suruh kamu kerjakan tadi sudah siap?" Tanya Bian pada Han.

"Sudah, Tuan," Sahut Han. Ia pun memberi hasil pekerjaannya tadi. Bian pun memeriksa nya dengan teliti.

"Ok, tidak ada masalah," Ucap Bian setelah selesai membaca hasil kerjaan Han.

"Ohiya, besok kamu yang jadi Sekertaris ku," Sambungnya.

"Kenapa saya?" Tanya Han.

"Zena sedang sakit. Mana mungkin dia masuk kerja," Sahut Bian.

"Besok ada meeting. Siapkan segala keperluanku. Dan kamu jangan lupa hafal isi dokumen ini!" Perintah Bian. Ia menyerahkan satu berkas pada Han.

"Baik, Tuan," Sahut Han.

"Apa ada lagi, Tuan?" Tanyanya.

"Tidak ada. Silahkan balik keruangan mu!" Sahut Bian.

*

*

*

*

*

Like, coment, vote

Bersambung...

1
pink magenta
awal cerita menarik penulisan lumayan rapih mungkin sedikit saran thor, untuk percakapan langsung jangan di Italic hurufnya, kecuali kalo berbicara dalam hati bisa di Italic untuk membedakan kalimat langsung sama yang gak langsungnya gitu thor hehe
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!
Yupit Upik
smangat
sylvia rachman
buat season 2 thor
AF_Cemong: Akan di usahaakan.
makasih kak, udah dukung dan baca karya ini 🙂
total 1 replies
Ramadani Sapitri
kenapa belum update kak
Adhelie
visualnya dunk thor
Wahyuni Yuni
suka dg critanya,apa sampai dsini j critanya?
AF_Cemong: ditunggu aja thor. ceritanya pasti berlanjut kok 🙂
total 1 replies
Chococips
10 like tertinggal untukmu Thor semangat 😍 maaf baru mampir Thor semangatt terusss yaa:3 jangan lupa feedback "IPA IPS Jadi Penghalang" dan "REVLA":3
Chococips
2 like episode terbaru author semangat 😻 jangan lupa feedback nya "IPA IPS Jadi Penghalang":3 atau kecerita aku yang lain terimakasih:)
Devi Ardiansyah
next
Echa Adreena Zulfa
lanjut
sofyan chanel
lanjut dong
Echa Adreena Zulfa
lnjut dong
Nayyira
lanjut
uchiha madara
lanjut thor
Vania Anindya
lanjut thor...
Evi Hopipah
lanjut
Widyasari official
ceritanya hampir sma dengan drama china yg pernah aku nonton kak
Nora Yunetra
lanjut,, penasaran nih,,,
Lusialyana Klementina
lanjut
Yeyen Dhevan
hmmmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!