Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Simpati di Kota Linglong
Han Yu memperhatikan dalam keheningan yang dalam saat Mei Li dan Qing Er mulai berselisih kecil di hadapan Ratu Lin Xian. Kedua gadis kultivator itu saling melempar argumen, berebut dengan sengit demi mendapatkan status sebagai pelayan pribadi utama yang akan mendampingi dan mengurus segala kebutuhan Han Yu selama menetap di wilayah mereka. Ratu Lin Xian sendiri sempat menampakkan raut wajah terkejut sekaligus tak percaya melihat dua murid muda terbaik klan yang biasanya bersikap dingin dan disiplin, kini begitu mudah bertekuk lutut dan kehilangan ketegasan hanya dalam satu malam pertemuan dengan seorang pemuda asing. Namun, melihat ketetapan hati kedua muridnya, sang Ratu akhirnya tidak melarang. Keputusan resmi dijatuhkan, dan Han Yu mendapatkan hak istimewa untuk membawa kedua wanita kultivator sejelita pualam tersebut sebagai pelayan pribadinya.
Ditemani oleh dua wanita menawan yang terus berjalan merapat di kedua sisi tubuhnya, Han Yu melangkah keluar dari istana giok menuju area pohon dewa raksasa yang terletak di pusat Kota Linglong. Pohon purba itu menjulang tinggi menembus awan, di mana pada setiap dahan kokohnya dibangun paviliun-paviliun indah tempat tinggal para petinggi klan. Di sepanjang perjalanan melintasi jalanan kota yang bertingkat, sepasang mata biru Han Yu berbinar-binar penuh kekaguman layaknya seorang anak kecil yang melihat keajaiban dunia untuk pertama kalinya. Tanpa sadar, sebuah senyuman tulus yang sangat tampan terulas di wajah surgawinya, menyebarkan gelombang getaran pesona alami yang langsung memikat perhatian setiap mata yang memandang.
Han Yu sangat terkejut saat menyadari bahwa atmosfer permusuhan dari penduduk ras suci yang tadinya dipenuhi kebencian mendalam terhadap energi iblisnya kini telah menyusut drastis. Berkat efek konstan dari karisma bawaannya, para penduduk wanita yang berpapasan dengannya mendadak menatap Han Yu dengan pandangan mata yang dipenuhi simpati, kelembutan, dan riak kasih sayang yang mendalam. Mereka berbisik-bisik kagum, memuji paras dan perawakannya yang gagah, sebuah perubahan drastis yang sempat membuat Han Yu tertegun kehilangan kata-kata.
Namun, tentu saja tidak semua orang menyukainya. Masih ada riak-riak kebencian yang tersisa di beberapa sudut jalan. Kebanyakan dari kelompok anti-Han Yu ini adalah para kultivator pria dari ras suci Lembah Lingshu. Han Yu sama sekali tidak mengacuhkan pandangan sinis atau kepalan tangan mereka yang bergetar menahan amarah. Reaksi penolakan tersebut memang sangat wajar dan masuk akal, mengingat bagaimana para wanita yang bahkan sudah memiliki pendamping kultivasi ganda pun secara terang-terangan menoleh demi memandang wajah surgawi Han Yu. Bahkan, tidak sedikit dari para wanita dewasa tersebut yang sampai membungkuk hormat penuh kekaguman tanpa memedulikan keberadaan pasangan mereka, yang seketika memicu kemarahan serta penolakan keras dari suami atau pasangan kultivasi mereka yang merasa harga diri laki-laki mereka telah diinjak-injak di depan umum.
Melalui tangga kayu spiritual yang melingkari batang pohon dewa raksasa, Han Yu melangkah naik menuju paviliun kediamannya yang mewah. Begitu pintu kayu berukir tanaman merambat itu terbuka, Mei Li dan Qing Er segera melangkah masuk dengan wajah yang merona merah tanpa berani membalas tatapan matanya langsung. Mereka dengan sigap mempersiapkan air hangat, menyalakan dupa penenang, dan menata ruangan demi kenyamanan sang tuan baru.
"Tuan Han Yu, saya siap melayani seluruh keperluan Anda dengan sepenuh hati. Saya akan dengan sangat gembira bertanggung jawab atas semua urusan, tugas, dan perintah apa pun yang Anda berikan kepada saya," ucap Qing Er sambil mengangguk patuh dan mendudukkan dirinya tepat di samping Han Yu yang sedang beristirahat di kursi kayu cendana.
Dengan gerakan yang sangat manja dan penuh kepatuhan, Qing Er merengkuh lengan kokoh Han Yu dan membawanya bersandar pada bidang dadanya yang lembut dan berisi. Tidak mau kalah, Mei Li pun segera berlari kecil dan mengambil posisi di sisi lain tubuh Han Yu, menggenggam erat telapak tangan pemuda itu dan menempelkannya di atas dadanya yang montok, membiarkan Han Yu merasakan debar jantungnya yang berpacu kencang. Mei Li menyunggingkan sebuah senyuman lembut yang penuh kepatuhan.
"Hmm, apa yang harus kulakukan sekarang? Tampaknya sangat mustahil untuk mengatakan tidak di hadapan dua wanita sejelita kalian," ucap Han Yu sembari tersenyum menawan, lalu melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk pinggang ramping kedua wanita tersebut, membuat tubuh mereka semakin merapat tanpa jarak. Sepasang matanya berkilat nakal. "Namun, aku memiliki satu permintaan khusus untuk kalian berdua mengenai pakaian pelayan kalian, tentu saja kalian tidak wajib untuk menerimanya jika merasa keberatan atau tabu."
"Kami pasti siap memenuhinya dan tidak akan menolak, Tuan!" teriak kedua wanita itu secara serempak dengan nada suara yang penuh semangat, membuat senyuman di wajah Han Yu semakin lebar.
Han Yu kemudian mengambil selembar kertas perkamen khas Lembah Lingshu dan mulai menggambar sebuah desain pakaian baru menggunakan pena bulu angsa. Dia merancang sebuah pakaian pelayan pribadi dengan konsep hanfu mini yang dimodifikasi, menampilkan potongan kain sutra hijau ketat yang sangat pendek di atas lutut, mengekspos bagian bahu yang mulus, serta dikombinasikan dengan kain pelapis sutra putih tipis yang membungkus ketat bagian paha mereka hingga ke betis. Setelah selesai memakai pakaian rancangan tersebut di balik tirai, Mei Li dan Qing Er keluar dan diminta untuk berputar di depannya. Han Yu tersenyum sangat puas dan memberikan acungan jempol tanda setuju. Potongan hanfu pelayan itu membuat lekuk tubuh montok, pinggul seksi, dan payudara besar mereka terlihat sangat sensual dan berani, membuat Han Yu merasa seolah-olah dirinya baru saja melangkah masuk ke dalam gerbang surga duniawi.
Han Yu memanggil kedua wanita tersebut agar mendekat ke arah ranjang. Dia mendudukkan Mei Li di paha kanannya dan Qing Er di paha kirinya, lalu merangkul tubuh mereka dengan erat. Kedua telapak tangannya perlahan-lahan bergerak turun ke bawah, meraba dan meremas lembut bagian pinggul dan bokong kedua gadis itu, memicu suara erangan pelan yang sangat manis keluar dari bibir mereka secara bersamaan.
Han Yu sengaja mengalirkan getaran spiritual dari teknik Sentuhan Lembut Surgawi, yang seketika membuat tubuh Mei Li dan Qing Er gemetar hebat merasakan gelombang kenikmatan batin yang luar biasa di sekujur meridian mereka. Namun, Han Yu memilih untuk tidak melanjutkan tindakan intim tersebut lebih jauh pada sore itu karena dia bisa melihat bahwa kedua wanita itu masih sangat gugup dan seluruh tubuh mereka bergetar hebat. Sambil melempar senyuman menenangkan, Han Yu membawa tubuh kedua pelayannya itu untuk berbaring bersama di atas ranjang kayu yang empuk, mendekap mereka dalam pelukan hangat yang damai hingga malam tiba.