" Meskipun gue sering gonta ganti cewek, tapi lo harus tahu, Cinta dan sayang gue cuma buat lo." Aldo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
“Nara!” Nana menghentikan langkahnya lalu menoleh pada sumber suara yang sudah sangat ia hapal. Lagi pula hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu, siapa lagi kalau bukan Aldo.
“Kenapa?” Tanya Nana saat Aldo sudah berada di hadapannya.
“Di harikelulusan, minggu depan maukan jadi pasangan gue?” Tanya Aldo langsung.
“Sorry gue gak bisa, Reno udah lebih dulu ngajak gue, dan gue udah setujuin.” Jawab Nana tanpa berpikir terlebih dulu. Senyum Aldo perlahan memudar saat mendengar jawaban dari mantan kekasihnya itu.
“Oh, Ok. Berarti gue telat ya,” ucap Aldo lesu.
“Sekali lagi Sorry ya, ajak yang lain aja.” Jawab Nana hati-hati. Aldo menggangguk lesu lalu setelahnya pamit untuk kembali kekelas dengan perasaan kecewa.
Nana menatap kepergian mantan kekasihnya itu dengan perasaan bersalah, sejujurnya Nana ingin pergi bersama Aldo, tapi ia sudah terlanjut menyetujui ajakan Reno terlebih dulu, dan tidak mungkin untuk ia membatalkannya begitu saja demi Aldo yang sudah bukan siapasiapanya lagi. Nana tidak ingin menyakiti perasaan Reno yang sudah baik kepadanya.
“Oy, ngelamun aja.” Suara dan tepukan dibahu menyadarkan Nana dari lamunannya. Nana menatap tajam orang yang baru saja mengagetkannya itu, dan setelah tahu bahwa itu adalah sepupu menyebalkannya Nana langsung melayangkan cubitan yang cukup keras hingga membuat Dino meringis kesakitan.
“Sakit Na. Nana udah, Na, sakit.” Ringis Dino saat pinggangnya menjadi sasaran cubitan pedas Nana.
“Suruh siapa lo ngagetin gue,” ucap Nana galak. Dino mengusap-usap pinggangnya yang amat sangat sakit lalu mendengus kesal.
“Ya siapa suruh lo ngelamun di tengah jalan kayak gini, kesambet baru tahu rasa lo,” ucap Dino dengan raut wajah kesal. Nana tak lagi membalas ucapan Dino dan pergi begitu saja meninggalkan Dino.
Nana berjalan cepat menuju kantin dimana sahabat-sahabatnya yang lain menunggu, tidak peduli dengan teriakan Dino yang terus memanggil dan menyumpah serapahi dirinya dibelakang sana. Sesampainya dikantin Nana memesan milksake terlebih dulu sebelum menghampiri teman-temannya yang sudah duduk di tempat biasa mereka berkumpul saat dikantin.
Setelah menerima pesanannya dan membayar, Nana berjalan santai menghampiri meja yang sudah diisi oleh Sisil, Luna, Alvin, Rizki dan juga Ridho. Lalu duduk disebelah Alvin seperti biasa.
“Dino mana?” Tanya Ridho celingukan. Nana hanya mengedikan bahunya cuek.
“Tadikan dia nyusul lo.” Kini giliran Rizki yang bersuara.
“Mati kali.” Jawab Nana asal dan tak peduli. Semua yang berada di meja tersebut mengucapkan inalilahi dengan kompak.
“Beneran mati dia, Na?” Tanya Luna dengan polos. Sisil menjitak kepala Luna yang kebetulan berada disampingnya membuat Luna meringis dan mendengus kesal. Nana tak mengubris, ia masih saja diam memikirkan Aldo. Ia merasa bersalah telah menolak ajakannya, apa lagi tadi saat melihat raut kecewa dari mantan kekasihnya itu. Nana mengusap wajahnya kasar menyesal sekaligus bingung.
“Lo kenapa Na?” tanya Alvin bingung melihat sahabat kecilnya seperti orang yang mempunyai banyak masalah. Nana menggelengkan kepalanya, tanda ia tak apa-apa.
“Ada masalah?” tanya Alvin lagi. Nana kembali menggeleng. Semua yang berasa di meja itu menatap Nana intens.
“Lo baik-baik aja kan, Na?” tanya Rizki kali ini. Nana mengangguk meng’iya’kan.
“Terus kenapa muka lo kusut gitu?” kini giliran Sisil yang bertanya. Nana diam tak menjawab.
“Pasti gara-gara mikirin ajakannya Aldo ya?” Tebak Luna yang sayangnya tepat sasaran. Nana menatap Luna dengan alis terangkat satu. ‘bagaimana dia bisa tahu’ pikir Nana dalam hati.
“Beneran, Na? Emang Aldo ngajak lo kemana?” Tanya Ridho penasaran.
“Aldo ngajak balikan?” tanya Alvin tak kalah penasaran. Nana menggelengkan kepalanya.
“Terus apa dong? Kita bukan lo yang bisa tahu pikiran orang.” Gemas Sisil. Nana menghela napasnya dalam.
“Dia ngajak jadi pasangannya pas hari perpisahan nanti.” jawab Nana pelan.
“Ya tinggal di‘iya’in aja apa susahnya sih,” ucap Alvin enteng. Nana mendelik tajam pada Alvin.
“Lah bener dong gue,” ucap Alvin saat mendapat delikan tajam sahabat kecilnya itu. Nana mendenggus kesal.
“Kalau bisa udah dari tadi juga gue iya’in, tapi masalahnya Reno udah lebih dulu ngajakin dan udah terlanjur gue iya’in. Masa gue harus batalin tiba-tiba? Gue gak mau nyakitin perasaan dia.” Jawab Nana akhirnya. Semuanya mengangguk paham.
“Jadi tadi lo langsung tolak ajakannya Aldo?” Tanya Luna. Nana mengangguk.
“Terus?” Ucap Ridho yang penasaran.
“Ya gitu, dia kayak kecewa gitu mukanya.” Jawab Nana lesu. Alvin menepuk pelan pundak sahabat sedari kecilnya itu.
“Kalau lo emang pengennya pergi sama mantan lo itu, lo coba bicarain sama Reno baik-baik, siapa tahu dia ngerti.” Nasehat Alvin.
“Gue gak mau nyakitin perasaan dia, Vin.” Jawab Nana lesu.
“Meskipun lo pergi sama Reno, tapi hati dan pikiran lo fokus sama Aldo itu juga sama aja lo nyakitin perasaan Reno. Tapi bedanya itu secara gak langsung,” ucap Alvin.
“Dan itu lebih menyakitkan.” Lanjut Sisil dengan nada penekanan sambil menatap kearah Alvin.
“Pengalaman kayaknya lo Sil?” Tanya Rizki menaik turunkan kedua alisnya.
“Lo gak tahu aja, Ki dulu gue hampir tiap hari ngerasain itu,” ucap Sisil melirik sekilas Alvin.
“Lo nyindir gue?” Tanya Alvin pada kekasihnya itu.
“Jadi lo ngerasa?” Tanya balik Sisil dengab wajah datar.
“Udah dong, Yang, itu kan dulu, sekarang udah enggak. Sekarang cuma lo yang ada dihati dan pikiran gue. Gak ada yang lain,” ucap Alvin lembut sambil menangkup wajah Sisil dengan kedua telapak tangannya. Sisil memutar bola matanya bosan.
“Emang dulu siapa yang lo pikirin, Vin?”
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
suksses
semangat
mksh