NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azra Tumbang (Part 4)

Flashback On

Seorang gadis remaja, berseragam SMP berjalan perlahan memasuki sebuah gedung perkantoran. Seorang Satpam menghentikan langkah kecilnya, "Mau kemana, dik?"

"Aku mau ketemu ayah. Namanya Pak Hendra Baskoro." Jawab gadis itu dengan senyum lesung pipinya.

Satpam masuk ke dalam pos, dan melakukan panggilan ke bagian resepsionis. Tidak lama kemudian, Satpam itu keluar. "Ayahnya sedang rapat, dik. Sebaiknya pulang saja dulu, tunggu Ayah di rumah saja."

Mata hazelnut gadis itu meredup. Dia menunduk. Pupus sudah harapannya untuk bertemu dengan sang Ayah. Berjalan gontai meninggalkan pos Satpam.

Belum seberapa jauh berjalan, dia mendengar langkah kaki bergegas di belakangnya. Seketika dia berhenti dan membalikkan badan. Senyumnya terbit, melihat sosok yang dirindu ada di hadapannya.

"Ada apa lagi? Bukannya sudah ayah bilang, jangan cari ayah di kantor!" ucap pria tampan yang berdiri di depannya.

"Ayah, maaf. Besok ada pengambilan rapot di sekolah. Ibu sakit, Rara tidak mungkin meminta ibu mengambilkan rapot. Bisakah besok ayah mengambilkan rapot Rara?" tanya gadis remaja yang ternyata adalah Azra.

"Sakit apa lagi ibumu? Ya sudah kita lihat besok saja. Cepat pulang. Ini, ambil uang ini, buat beli makanmu dan ibumu!" Hendra mengangsurkan dua lembar uang dua puluh ribuan ke tangan Azra.

"Terimakasih, ayah," matanya berbinar bahagia menatap ayahnya.

Lelaki itu membalas dengan gerakan tangan menyuruhnya untuk segera pergi. Azra mengangguk patuh, berbalik badan dan berlari kecil riang, pulang ke rumah.

Keesokan harinya, Azra menunggu di gerbang sekolah. Mata hazelnut-nya berbinar bahagia, karena akan bertemu ayah yang selalu dirindu. Berjam-jam dia berdiri di bawah panas matahari, dan berkali-kali pula kepalanya terjulur menengok ke jalan. Berharap sosok yang ditunggu akan datang. Namun hingga siang, sang ayah tak kunjung hadir.

Langkahnya gontai masuk ke ruang Kepala Sekolah. Dia bertanya, apakah boleh mengambil rapot sendiri? Orang tuanya berhalangan hadir. Namun Ibu Kepala Sekolah menggeleng. Tanda tidak boleh.

Saat kakinya melangkah keluar, terdengar suara ayahnya dari halaman. Hatinya berbunga, setengah berlari dia menyambut ayahnya. Bayangan akan melihat nilai rapotnya sudah terpampang di depan mata.

Namun langkahnya kembali terhenti. Dari kejauhan, dia melihat ayahnya bersama temannya yang berbeda kelas. Mereka berdua tertawa ceria sambil membawa rapot.

"Vera hebat. Semester ini bisa dapat rangking tiga. Semester depan harus rangking satu ya!" peluk ayah Azra bangga pada gadis yang dipanggil Vera.

"Tentu, papa!" Tawa bahagia mereka menguar, berjalan beriringan memasuki mobil, meninggalkan sekolah bersama.

Azra terdiam di depan ruang Kepala Sekolah. Air matanya menetes. Menundukkan kepala lagi, berjalan lesu meninggalkan sekolah tanpa mengambil rapot.

Flashback Off

"Sudah bangun, Kak?" Linda menyentuh tangan Azra yang tengah melamun menatap keluar jendela. Langit masih gelap.

"Eh, kamu sudah bangun?" tanya Azra balik.

"Bu Kades dan Sekar salat subuh ke mushola. Kamu mau salat juga?"

"Nanti saja, Kak. Gantian sama Sekar jagain Kakak," jawab Linda. "Kakak mau ke kamar mandi, ayo aku temani."

"Aissh ... aku sudah enakan, Linda. Nggak papa, tinggal aja. Aku bisa sendiri."

"Nggak ada!" Linda melotot marah ke arah Azra.

Azra cemberut, bibirnya manyun ke depan, "Aku kan masih sakit, kenapa kamu bentak-bentak?" rajuk Azra membuang muka.

"Hadeeh, tadi bilangnya sehat nggak papa, sekarang bilang sakit. Pernyataan yang tidak konsisten!" cibir Linda.

Azra tertawa mendengar perkataan Linda. Apalagi melihat bibir Linda yang bergerak mengejeknya.

Tawa renyahnya kembali terdengar.

Meski bengkaknya mata tidak bisa menyembunyikan kesedihan, namun tawanya yang renyah cukup membuktikan, bahwa dia berusaha baik-baik saja.

______

Pagi buta, di Suite Room Hotel Permana, Wita baru keluar dari kamar mandi. Matanya masih sembab. Sesekali dia menghapus air mata yang tiba-tiba menetes.

Aldo menatapnya prihatin dari ranjang tempat mereka melepas lelah tadi malam. Hatinya iba melihat istri yang baru dinikahi semalam, terus menerus meneteskan air mata.

Menyingkapkan selimut dari atas tubuhnya, dia berjalan menghampiri Wita. "Kamu serius mau menemui papa hari ini?" tanya Aldo memastikan. Wita mengangguk sambil merapikan riasan wajahnya di depan cermin.

Aldo menghirup napas dalam-dalam, duduk di tepi ranjang menatap Wita dari belakang punggungnya.

Tadi malam, setelah prosesi pernikahan selesai dilaksanakan, Wita bergegas menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan. Sedang Aldo masuk kamar sudah sangat larut, menunggu teman-teman dekatnya pulang semua.

Saat memasuki kamar, dia disuguhi pemandangan baju pengantin yang berserakan di lantai, selimut dan bantal berhamburan kemana-mana. Kamar pengantin yang awalnya indah mempesona, hancur berantakan seperti dihantam badai tornado sebelum dia datang.

Yang paling mengenaskan, Wita jongkok di pojokan kamar dengan memakai piyama tidur miliknya yang kebesaran untuk ukuran badan Wita.

Istrinya menangis tergugu di sudut kamar. Tanpa pikir panjang, Aldo bergegas mendekati istrinya dan memberikan pelukan hangat.

Cukup lama menunggu Wita memuaskan tangisannya. Setelah tenang, barulah istri cantiknya itu menceritakan semua kejadian tentang Azra saat pesta berlangsung.

Kini, gadis yang sudah menjadi istrinya itu sudah berdandan rapi, bersiap pulang ke rumah orang tuanya, untuk meminta penjelasan.

Wita menyambar tas yang ada di meja rias dan berjalan melewati Aldo. Tiba-tiba, tangan Wita ditangkap dan ditarik oleh Aldo. Sehingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuan suaminya.

"Aldo, lepasin. Ngapain sih, aku mau berangkat!" Wita mencoba mendorong tubuh Aldo.

"Dengarkan aku dulu, kalau memang kamu sudah menganggap aku sebagai suamimu," ujar Aldo lembut, sambil berusaha mendekap Wita.

Wita melunak, dia berhenti berontak. Aldo tersenyum bahagia di balik punggung istrinya.

"Jangan temui papa sekarang. Dari cerita yang kamu sampaikan tadi malam, masalahnya tidak sesederhana yang kamu bayangkan." Aldo menjeda omongannya. Dipegangnya lengan istrinya lembut, ditarik untuk menghadap ke arahnya.

Dirapikannya poni yang menutup kening Wita, kemudian ditatapnya mata Wita dalam-dalam. "Tunggu semua tenang. Aku janji, akan menemanimu menanyakan masalah ini sampai kamu puas. Bisa?!"

Mata Wita menatap netra Aldo yang melembut. Deg! Kembali jantung di dada Wita bertalu.

Sebelum Aldo melihat pipinya merona, Wita segera berdiri dan berjalan cepat menuju pintu.

"Aku ikuti saranmu. Aku mau sarapan."

Aldo tersenyum simpul.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!