NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Pagi Salah Paham

Sinar matahari pagi menyelinap melalui tirai balkon suite hotel.

Makassar baru saja memulai harinya.

Jalanan di bawah mulai ramai.

Kendaraan berlalu-lalang.

Suara aktivitas kota perlahan menggantikan ketenangan malam.

Namun bagi Almira Valencia Pradipta, pagi itu dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada kebisingan kota.

Aroma kopi.

Almira membuka mata perlahan.

Selama beberapa detik ia masih berada di antara mimpi dan kenyataan.

Lalu aroma kopi itu kembali tercium.

Hangat.

Kuat.

Dan cukup menggoda.

Ia melirik jam di samping tempat tidur.

Pukul enam pagi.

Lebih pagi dari biasanya.

Dengan sedikit malas, Almira bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar.

Begitu pintu terbuka, ia langsung menemukan sumber aroma tersebut.

Reynard.

Pria itu sedang berdiri di dapur kecil suite sambil menuangkan kopi ke dalam dua cangkir.

Masih mengenakan kaus hitam sederhana dan celana olahraga.

Jauh dari penampilan formal yang biasa ia tunjukkan saat bekerja.

Dan entah kenapa, penampilan santai itu membuatnya terlihat lebih muda.

Lebih manusiawi.

Lebih...

Almira segera menghentikan pikirannya sendiri.

Tidak.

Ia tidak akan melanjutkan kalimat itu.

"Kenapa menatapku seperti itu?"

Suara Reynard membuatnya tersadar.

"Aku tidak menatapmu."

"Bohong."

"Aku sedang melihat kopi."

"Kopi ada di tanganku."

"Itu detail yang tidak penting."

Reynard tertawa pelan.

Suara itu kembali membuat Almira merasa aneh.

Karena dulu suara tawa Reynard terdengar menjengkelkan.

Sekarang tidak lagi.

Dan itu adalah masalah.

"Ini."

Reynard mengulurkan secangkir kopi.

Almira menerimanya.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Untuk beberapa saat mereka menikmati pagi dalam diam.

Tidak canggung.

Tidak juga terlalu akrab.

Hanya... nyaman.

Dan itulah yang membuat Almira sedikit gugup.

Karena beberapa minggu lalu ia bahkan tidak bisa membayangkan duduk santai bersama Reynard tanpa berdebat.

Sekitar satu jam kemudian mereka turun ke restoran hotel untuk sarapan bersama tim proyek.

Sebagian besar anggota tim sudah hadir.

Begitu Almira dan Reynard masuk bersamaan, beberapa kepala langsung menoleh.

Lalu senyum-senyum aneh mulai bermunculan.

Almira langsung punya firasat buruk.

Sangat buruk.

Mereka mengambil makanan lalu duduk.

Belum sempat menyentuh sarapan, salah satu staf proyek bernama Bayu membuka percakapan.

"Selamat pagi, Pak Reynard."

"Pagi."

"Selamat pagi, Bu Almira."

"Pagi."

Bayu mengangguk.

Lalu tersenyum.

"Kompak sekali ya."

Sendok di tangan Almira berhenti bergerak.

"Apa maksudnya?"

"Turun sarapan bersama."

Almira menatap Bayu.

Bayu menatap balik.

Tidak ada yang merasa ada masalah.

Karena memang bagi Bayu tidak ada masalah.

Masalahnya hanya ada di kepala Almira.

Sialnya, Bayu bukan satu-satunya.

Beberapa staf lain juga mulai ikut bergabung.

"Saya lihat tadi Bapak dan Ibu keluar dari lift yang sama."

"Benar."

"Dan kemarin juga pulangnya bareng."

"Benar."

"Dan selalu duduk bersebelahan."

"Karena kami bekerja bersama."

"Oooh."

Nada panjang itu membuat Almira ingin melempar roti.

Reynard justru terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Yang membuat Almira semakin kesal.

"Kamu tidak akan mengatakan sesuatu?"

"Apa?"

"Mereka salah paham."

Reynard mengangkat bahu.

"Kalau kita menjelaskan, mereka juga tidak akan percaya."

Almira membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Karena sayangnya itu benar.

Hari kedua kunjungan lapangan berjalan cukup padat.

Mereka harus mengunjungi beberapa UMKM yang menjadi bagian dari proyek percontohan.

Mulai dari produsen makanan lokal.

Pengrajin.

Hingga usaha kecil yang sedang mencoba memperluas distribusi.

Salah satu lokasi yang mereka kunjungi berada cukup jauh dari pusat kota.

Perjalanan ditempuh hampir dua jam.

Dan karena kendaraan yang tersedia terbatas, mereka kembali harus duduk bersebelahan.

Takdir tampaknya sedang bekerja lembur.

Dalam perjalanan, suasana awalnya tenang.

Sampai salah satu ibu pemilik usaha mulai berbicara.

"Kalian suami istri ya?"

Mobil langsung hening.

Supir menahan tawa.

Beberapa staf menunduk.

Almira hampir tersedak air mineral.

"Bukan!"

Jawabannya terlalu cepat.

Terlalu keras.

Dan terlalu panik.

Ibu itu tampak terkejut.

"Oh maaf."

Almira langsung merasa bersalah.

Namun sebelum ia sempat menjelaskan, ibu tersebut kembali berbicara.

"Soalnya cocok sekali."

Kini Reynard yang menatap keluar jendela.

Mungkin berharap bisa melompat keluar.

Setelah kunjungan selesai, rombongan berhenti di sebuah pusat oleh-oleh terkenal.

Para staf langsung berpencar.

Ada yang membeli makanan.

Ada yang membeli kerajinan tangan.

Ada yang sekadar berfoto.

Almira sedang memilih beberapa produk lokal ketika seorang anak kecil berlari tanpa melihat arah.

Bruk!

Anak itu menabraknya cukup keras.

Tubuh Almira kehilangan keseimbangan.

Untungnya sebuah tangan segera menahan bahunya.

Reynard.

"Lihat jalan."

"Aku baik-baik saja."

"Kamu hampir jatuh."

"Tapi tidak jadi."

"Itu karena aku menangkapmu."

Almira terdiam.

Sayangnya percakapan itu dilihat oleh seseorang.

Dan orang tersebut segera mengambil foto.

Sore harinya bencana kecil pun terjadi.

Salah satu staf proyek tanpa sengaja mengunggah foto kegiatan hari itu ke grup internal.

Termasuk foto ketika Reynard memegang bahu Almira.

Dalam waktu kurang dari satu jam, foto itu menyebar ke beberapa grup kantor.

Lalu ke grup proyek.

Lalu ke grup alumni summit.

Dan akhirnya...

Sampai ke Nadia.

Ponsel Almira bergetar keras.

Begitu melihat nama pengirimnya, ia langsung menyesal membuka pesan.

Nadia:

"AKU TAHU ITU!"

Di bawahnya terdapat tangkapan layar foto tersebut.

Nadia:

"Kalian bahkan sudah foto candid sekarang?"

Nadia:

"Ini perkembangan yang luar biasa."

Nadia:

"Aku bangga."

Almira langsung mematikan ponselnya.

Untuk menjaga kesehatan mental.

Masalah serupa juga terjadi pada Reynard.

Karena beberapa menit kemudian Raka mengirimkan pesan.

Raka:

"Kamu terlihat bahagia."

Reynard:

"Keluar dari hidupku."

Raka:

"Tidak."

Raka:

"Aku akan menjadi saksi nikah nanti."

Reynard langsung memblokir kontaknya selama lima menit.

Hanya lima menit.

Karena mereka masih harus bekerja.

Menjelang malam, seluruh tim kembali ke hotel.

Agenda resmi hari itu selesai.

Mayoritas staf memilih beristirahat.

Namun Almira tidak langsung naik ke kamar.

Ia memilih berjalan-jalan sebentar di area taman hotel.

Udara malam terasa cukup sejuk.

Setidaknya sampai suara seseorang terdengar dari belakang.

"Kabur dari grup kantor?"

Almira tidak perlu menoleh.

Ia sudah tahu siapa orangnya.

"Aku sedang mencari ketenangan."

"Kalau begitu aku seharusnya pergi."

"Itu ide bagus."

Namun Reynard tetap berdiri di sana.

Mereka akhirnya berjalan menyusuri taman hotel bersama.

Lampu-lampu taman menyala lembut.

Suasana cukup tenang.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Lalu Almira menghela napas.

"Menurutmu kenapa semua orang selalu mengira kita bersama?"

Reynard berpikir sejenak.

"Mungkin karena kita terlalu sering terlihat bersama."

"Itu bukan salahku."

"Bukan salahku juga."

"Kita bisa menyalahkan takdir."

"Itu terdengar dramatis."

"Aku sedang lelah."

"Itu masuk akal."

Mereka tertawa kecil.

Kemudian kembali diam.

Namun kali ini keheningan terasa berbeda.

Lebih nyaman.

Lebih hangat.

Dan sedikit berbahaya.

Karena semakin lama Almira menyadari sesuatu.

Ia mulai menikmati percakapan seperti ini.

Tanpa debat.

Tanpa rapat.

Tanpa pekerjaan.

Hanya mereka berdua.

Di sisi lain, Reynard juga menyadari hal yang sama.

Dan itu membuatnya sedikit gugup.

Karena selama bertahun-tahun ia selalu percaya bahwa hubungan harus berjalan logis.

Terukur.

Terencana.

Namun setiap kali bersama Almira, logika itu mulai berantakan.

Dan ia tidak yakin apakah itu hal baik atau buruk.

Mereka akhirnya kembali ke suite menjelang pukul sepuluh malam.

Ketika pintu lift terbuka, keduanya melangkah keluar bersamaan.

Tanpa sadar tertawa karena kembali berjalan dengan langkah yang sama.

Namun begitu mereka mendekati pintu suite, sebuah suara memanggil dari belakang.

"Pak Reynard!"

Mereka menoleh.

Salah satu staf proyek berlari kecil menghampiri.

Wajahnya terlihat panik.

"Ada masalah."

Senyum Reynard langsung menghilang.

"Masalah apa?"

Staf itu menyerahkan tablet yang dibawanya.

"Data distribusi tahap pertama."

Reynard membaca layar tersebut.

Ekspresinya berubah serius.

Sangat serius.

Almira ikut melihat.

Dan dalam hitungan detik, wajahnya juga berubah.

Karena angka yang tampil di layar menunjukkan sesuatu yang tidak mereka duga.

Ada ketidaksesuaian besar dalam laporan distribusi.

Jumlah barang yang tercatat berbeda jauh dengan jumlah yang diterima.

Dan jika data itu benar...

Maka proyek pertama mereka bisa gagal sebelum benar-benar dimulai.

Malam yang awalnya tenang mendadak berubah menjadi awal masalah baru.

Masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar gosip atau salah paham.

Dan tanpa mereka sadari, tantangan pertama yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!