"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Mas Pisang
"Lontong! Eh, tolong, si Lutung nyolong Mas Pisang!" histeris si Nenek yang mengintip dari balik dinding kayu yang terbakar.
Ia letakkan kedua tangannya ke kepala, serta ia goyangkan kepala dan badannya ke kanan dan kiri panik. Ia ingin menyusul Kethek Abrid yang melompat-lompat membawa pergi Mas Pisang. Di sisi lain, si Nenek juga ingin memadamkan api yang semakin membesar sebelum si Jago merah itu melahap habis rumahnya.
"Bagaimana ini? Air-air!" si Nenek berlari ke arah dapur.
"Ah tapi Mas Pisangnya?" Akan tetapi, ia menghentikan langkahnya dan kembali menuju pintu keluar.
Sesampainya di luar, si Nenek menggigit jari, pandangannya mengitari seluruh halaman. Ia kehilangan jejak si Kethek.
"Duh Biyung, bagaimana ini?" Rintih si Nenek yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Ia kembali menoleh ke belakang. Api masih menikmati rumahnya dengan santai. Si Nenek pun lantas berlari mengambil ember yang diisi air untuk memadamkan api. Ia terus bolak-balik mengambil air untuk menjinakkan api dengan air mata yang mengalir sangat deras.
Ireng meringkik saat melihat kebakaran tersebut. Ia berlari tunggang langgang. Bukan berlari untuk kabur, melainkan untuk menyusul sang Kakek ke sawah. Karena sang Nenek terlihat sangat kesulitan mengendalikan api sendiri.
Di sawah, terlihat sang Kakek yang sedang sibuk membuka saluran irigasi. Ireng berlari mendekati sang Kakek tanpa memperdulikan apapun yang ia terjang. Kemudian ia meringkik di belakang sang Kakek yang berdiri membelakanginya. Kepalanya menubruk punggung sang Kakek hingga ia tercebur ke sungai.
"Astaga raga naga jaga kali paga! Pagi-pagi sudah disuruh berenang ke sungai!" rutuk si Kakek yang berendam di sungai.
Gigi sang Kakek kemlatak, tubuhnya menggigil karena air sungai yang masih sangat dingin. Ia segera mentas dari sungai tersebut.
"Brrr. Kau lagi, kau lagi. Ckckck. Kenapa sih kau ini suka sekali mencari masalah? Bukan hanya menceburkanku ke sungai. Tapi kau juga merusak tanaman padiku," si Kakek memarahi Ireng dengan suara bergetar disertai bunyi kemlatak dari deretan gigi yang saling berantukkan.
Ia kesal padinya rebah diinjak Ireng. Sementara Ireng yang tidak tahu bagaimana caranya memberitahu sang Kakek pun mencoba menggigit lengan sang Kakek.
"Eits! Mau apa kau? Tanganku bukan makanan, tahu?!" si Kakek menarik tangannya.
Ireng mendengus. Lalu, ia menggigit kaos bagian bawah sang Kakek.
"Heh, heh, heh, kalau lapar, sana makan rumput! Jangan makan bajuku!" si Kakek berusaha melepaskan gigitan Ireng dari bajunya dengan mendorong-dorong kepalanya.
Namun, Ireng menggigitnya sangat kuat. Ia mencoba menyeret sang Kakek. Sang Kakek pun terpaksa mengikuti Ireng. Mereka berjalan hingga menaiki lereng.
"Apa itu?" si Kakek menajamkan pandangannya saat sampai ke atas lereng.
Ia berjalan menghadap ke arah rumahnya. Terlihat kobaran api menyala-nyala di pagi buta yang masih petang.
"Jangan-jangan!" hati sang Kakek terperanjat melihat pemandangan itu.
"Ireng, lepaskan bajuku! Itu kebakaran. Aku harus menyelamatkan Nini dan Mas Pisang. Jangan-jangan mereka masih terjebak di dalam rumah. Lepas, Ireng!" pinta sang Kakek yang sudah dikuasai rasa khawatir.
Ireng melepaskan gigitannya. Sang Kakek langsung berlari dengan kecepatan penuh. Diikuti Ireng di belakangnya.
Sang Nenek terduduk lemas dengan deraian air mata. Ember yang ia gunakan untuk mengambil air tergeletak tidak jauh darinya.
Si Kakek mengerem laju larinya tepat di sebelah si Nenek. Gesekan alas kaki dan tanah yang sangat keras menciptakan hamburan debu yang menyebar ke atas, membuat sang Nenek terbatuk-batuk.
"Mas Pipipi huwaa, Mas Pipipipisang!" si Nenek menangis pilu.
"Mas Pisang dimana, Ni?" tanya si Kakek yang melihat si Nenek duduk menangis tanpa membawa Mas Pisang.
Akan tetapi, sang Nenek hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil nama Mas Pisang dengan suara paraunya tanpa bisa menjawab pertanyaan sang Kakek.
"Jangan-jangan Mas Pisang masih ada di dalam?" terka sang Kakek yang jantungnya berdegub semakin tidak beraturan.
Si Kakek mengambil ancang-ancang hendak berlari masuk ke dalam rumah yang terbakar. Akan tetapi, si Nenek mencekal pergelangan kaki kanan sang Kakek. Sehingga sang Kakek terjerembab ke tanah.
"Ugh," rintih si Kakek.
Ia segera bangkit dan menoleh ke arah si Nenek, lalu berkata, "Lepaskan kaki Aki! Aki harus mengambil Mas Pisang dari dalam!"
Si Nenek mengatur napas. Kemudian menjawab, "Ja-ja-jangaaan pe-peerrrreeeegiii kekek da-a-alam...."
Si Kakek tidak mengerti dengan sikap sang Nenek yang berusaha mencegahnya untuk menyelamatkan Mas Pisang. Padahal Mas Pisang mungkin saja masih selamat di dalam sana.
"Nini, lepaskan kaki Aki, Aki mohon! Mas Pisang butuh bantuan Aki di dalam sana. Aki harus segera menjemputnya sebelum terlambat!"
Permohonan dari sang Kakek itu hanya ditanggapi gelengan kepala oleh sang Nenek. Sementara itu, api semakin membesar. Bunyi gemerubuk api yang membakar kayu menambah suasana hati semakin gelisah.
Bunyi kratakan dan gabrukan dari suatu yang rubuh mulai menghiasi ketegangan pagi itu. Syaraf sang Kakek turut semakin menegang memikirkan keselamatan Mas Pisang. Api yang memantul di iris mata sang Kakek merefleksikan bara kecemasan yang semakin berkobar.
Sang Kakek yang sempat tertegun menatap kobaran api pun kembali menoleh ke arah sang Nenek.
"Aki mohon! Aki janji akan berhati-hati dan kembali dengan selamat!" pinta si Kakek dengan nada memelas.
Namun, si Nenek tetap tidak mau melepaskan cengkeramannya. Si Kakek pun menarik paksa kakinya. Ia sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Mas Pisang yang kemungkinan terjebak di antara kobaran api.
Dengan terbata-bata si Nenek mulai angkat bicara, "Lebih baaaik Aki padaaamkan apinya dulu. Daripada nekad masuk."
Si Kakek memahami maksud si Nenek. Memadamkan api terlebih dahulu memang akan mengurangi resiko dan membuat semuanya menjadi lebih aman.
"Baiklah!" si Kakek memandang kobaran api dengan serius.
"Akan Aki padamkan api nakal itu. Sekarang lepaskan kaki Aki!" lanjutnya.
Si Nenek melepaskan cengkeramannya. Si Kakek pun mulai berdiri. Ia memasang kuda-kuda, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Kemudian ia menghentakkan kakinya ke tanah, menggerak-gerakkan kedua tangannya seolah mengangkat-angkat dan menarik-narik sesuatu.
Air sungai yang mengalir dengan tenang tiba-tiba mulai membentuk ombak-ombak kecil. Ombak-ombak tersebut bersatu menjadi gulungan ombak besar. Ombak pun semakin meninggi dan membesar dengan tambahan air yang mengalir tanpa batas.
Ombak tersebut mulai bergerak maju, menciptakan bunyi gemuruh yang turut meramaikan pagi menegangkan.
Si Kakek menggerakkan kedua tangannya ke depan seolah memberi isyarat untuk maju. Ombak yang datang dari belakang sang Kakek pun bergerak maju, menerpa rumah yang terbakar. Air ambyar kemana-mana. Sebagian air bergerak masuk melalui celah-celah rumah seperti pintu yang terbuka. Air tersebut menghantam api yang masih menyala, memadamkan kobaran dari dalam.
Setelah itu, air yang menerjang bak air bah itu surut secara perlahan. Menyisakan bangunan kayu yang sebagian telah gosong menjadi arang.
"Keeeenapa Niiini ikutan diguyur?" tanya si Nenek masih dengan sesenggukan akibat menangis.
Air matanya bercampur dengan air guyuran. Membuat si Nenek tidak terlihat sedang menangis.
"Maaf, salah perhitungan" kata si Kakek yang juga basah kuyup akibat ombak yang ia buat sendiri.
Benar sekali. Ombak tersebut tidak hanya menelan api dari rumah kakek dan nenek. Melainkan juga jatuh mengguyur kakek dan nenek.
Ireng sempat berlari menghindar saat ombak itu datang. Sehingga, dia menjadi satu-satunya di antara ketiganya yang selamat dari terjangan ombak buatan.
Pagi kembali sunyi. Hanya bunyi tetesan air yang tidak beraturan membuka keriuhan hari. Entah kemana perginya para jangkrik dan burung yang biasanya lebih dahulu meramaikan pagi.
Si Kakek bergegas memasuki rumah untuk mencari Mas Pisang. Hatinya masih harap-harap cemas. Ia berdoa agar sesuatu hal yang baik terjadi kepada Mas Pisang.
Mari saling mendukung