NovelToon NovelToon
Once Again

Once Again

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mesta Suntana

Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.

Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.

Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.

Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?

Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Berkunjung

Luas berwarna biru muda membentang tanpa ada goresan sedikitpun. Langit nampak polos tanpa awan putih yang mengarak dan bergumul tebal, membuat cahayanya terpancar begitu leluasa. Silaunya nyaris membutakan mata, teriknya paparan cahaya mentari menusuk kulit seperti ribuan jarum. Suasana panas di siang belong bergelut dengan suasana yang hening berbalut sendu-rindu.

Rerumputan yang luas terlihat mengering kepanasan — meski hijau segarnya masih terlihat meneduhkan, sekaligus usik akan cahaya mentari yang menimpanya tanpa ampun. Hamparan rerumputan yang terbentang meninggalkan bebatuan yang berderet rapih dengan nama yang tercantum. Tempat peristirahatan terakhir — tempat berkunjung melepas rindu meski jiwa dan raga mereka tidak saling bertemu.

Putih dan cantik. Bunga berwarna putih itu tersusun rapih dibalut kertas berwarna hitam. Kelopaknya yang merekah terlihat begitu bersih dan halus. Bunga Krisan dan bunga mawar putih bersanding menjadi satu membentuk sebuah simbol kelembutan, kesucian, cinta abadi dan juga — peringatan keabadian. Buket bunga itu tergenggam erat di tangan Lumi. Dihadapannya bertengger sebuah batu yang bertuliskan Diar Kratos.

"Maaf, lama tidak berkunjung Paman," ucapnya pelan bergelayut rasa rindu yang sendu.

Mata dinginnya yang tajam nampak mengendur layu — kala hatinya kecewa sekaligus marah. Raut wajah yang terkendali — kesedihannya nyaris tak kentara. Dia menyimpan rasa biru itu dalam senyap. Lumi selalu menyalahkan dirinya sendiri akan kematian Pak Diar.

...•...

...Sasaran yang seharusnya mengarah padaku. Jiwa yang harusnya tercabut, raga yang harus terkubur. Keberuntungan, kesialan atau penyesalan — aku tidak tahu mana yang harus aku pilih akan rasa sakit dalam hatiku....

...Meski targetnya salah sasaran — lalu jiwa yang mati seharusnya diriku. Sungguh ini lebih buruk dari kematian....

...•...

Lumi mengelus batu nisan tersebut seakan sapa hangat padanya.

"Terima kasih atas uluran tanganmu yang begitu tulus padaku. Seberapa banyak aku menolak," tuturnya terhenti sejenak kala Lumi mengingat perilakunya yang ketus selama Pak Diar menjadi asistennya. Senyum miring serta miris terukir begitu saja, mengingat kesabaran Pak Diar yang begitu lapang menghadapinya.

"Terima kasih kau tetap mau mengulurkan tanganmu padaku. Tidak ada orang yang sehebat dirimu, tidak ada orang yang mampu bertahan akan keras kepalaku. Kau telah lama menjagaku. Lebih dari sekedar asisten semata, teman bermain.... kau sudah kuanggap keluarga bagiku. Rasanya aku tidak puas hanya mengucapkan kata terima kasih," ungkap Lumi pelan menegarkan rasa sedih yang bergelayut dalam hatinya.

"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk melihat cahaya yang baru."

Bunga itu kini Lumi taruh bersama bunga yang lain di atas tanah makam tersebut. Setelah itu Lumi dan Bu Sri berdo'a, pandangan mereka kini mulai tertunduk.

Semilir angin ditengah cuaca panas yang menyengat memberi sedikit sensasi sejuk pada mereka, meluruhkan keringat yang terasa merayap pada kulit punggung mereka. Hening yang sudah ada, semakin meradang dan penuh khidmat — penuh kerinduan — penuh curahan kalimat yang berharap itu sampai padanya. Kenangan masa lalu yang pernah terjalin mulai berputar di dalam pikiran mereka.

Sedih, tentu tak dapat dipungkiri lagi. Tapi mereka mencoba cukup dan ikhlas. Dapat berkunjung di peristirahatan terakhirnya sudah membuat hati mereka lega, melepaskan kerinduan. Pandangan mereka kembali ke depan — di saat do'a dan kerinduan sudah terucap.

"Semoga kau diberikan surga di sana." Suara Bu Sri begitu bergetar menahan tangis.

Lumi segera merangkul Bu Sri untuk menenangkannya.

"Paman pemberianmu akan kujaga denga baik," ucap Lumi seraya membelai halus pundak rapuh Bu Sri.

Rangkulan yang saling menguatkan. Rindu mereka lepas, meluap di tengah terik matahari — seraya menatap nisan Pak Diar. Mereka biarkan keheningan meliputi, memberikan kenyamanan dan suasana lebih intens. Lumi dan Bu Sri yang terhanyut dalam suasana. Tanpa mereka sadari sudah ada dua orang yang berdiri di samping mereka dalam jarak dua meter. Mereka hanya menunggu dan memperhatikan dari kejauhan.

Saat angin melipir menyentuh hidung Lumi lembut dari samping. Mata birunya melirik mengikuti arah angin bertiup. Dua orang yang setia memperhatikan mereka sedari tadi menyambut netranya.

Senyum terukir begitu sederhana tersungging pada Lumi. Perawakannya anggun dan bersahaja tengah berdiri menatap, menyambut Lumi dengan sorot matanya yang tenang dan hangat. Layaknya bunga tulip merah muda yang memikat akan kesederhanaannya.

Wanita tersebut mulai perlahan melangkah membawa sejuk — akan siapa yang melihatnya. Kulitnya cerah merona kala sinar matahari menerpa dirinya.

'Dia persis seperti ayahnya,' ujar Lumi dalam hatinya, saat jarak antara mereka kian menipis dan memperjelas perangai wajahnya.

"Nak Aruna?" pekik Bu Sri — tak menduga anak mendiang Pak Diar datang berkunjung di hari yang sama.

Garis wajahnya timbul akan senyumnya mengembang ingin menyapa, tangannya terbentang begitu luas — menyambut Aruna hangat dalam pelukannya. Begitu juga sebaliknya dengan Aruna, dia membalas pelukan hangat Bu Sri.

Di tengah sapa pelukan, satu sosok yang terlewatkan. Seseorang yang sedari awal berada di samping Aruna — mengiringi langkahnya bak kesatria penjaga. Perawakannya tinggi menjulang, visualnya persis mirip dengan Aruna — sederhana, tenang dan bersahaja. Hanya saja dia lebih tegas dan gagah.

Pemilik mata coklat keemasan yang sama, hubungan sedarah — Kinan Kratos, Kakak Aruna Kratos.

"Apa kabar Nak? Sudah lama Tante tidak melihat kalian?" Bu Sri mengelus pundak mereka.

"Kami baik-baik saja Tante." Kinan memegang tangan Bu Sri yang sudah mulai menua. Senyum sopan tertera pada wajah Aruna dan Kinan.

"Kalian begitu cantik dan tampan, bahkan garis lembut di wajah kalian persis seperti Ayah kalian," puji Bu Sri sambil mengelus pipi mereka satu per satu.

Setelah berbincang dengan Bu Sri kini mata Aruna beralih pada Lumi. Kontak mata pun terjadi. Senyum sopan Lumi menyapa Aruna. Aruna membalas kembali dengan senyum sopan dan elegan. Berbeda dengan Aruna, Kinan tidak memberikan sapaan hangat. Wajah masam dan enggan melihat Lumi itu terlihat padanya. Lumi mengerti dan tidak mencoba untuk mengusiknya. Karena Lumi tahu Kinan tidak menyukai dirinya.

"Kukira kalian sudah sampai terlebih dulu." Lumi membuka percakapan dan mencoba memberikan suasana yang nyaman.

"Tidak aku baru saja sampai dari LA dan langsung kesini," jawab Aruna.

"Benarkah? Aku pikir itu buket bunga milikmu." Lumi menunjukkan rangkaian bunga berwarna kuning cerah itu terbalut kertas cream dan putih.

Aruna mulai mengarahkan matanya pada apa yang di tunjuk Lumi. Bunga Matahari dan juga Tulip terikat dalam satu balutan. Begitu cerah dan penuh kesenangan. Aruna tersenyum cerah melihat bunga itu bertengger di makam ayahnya.

"Itu, sepertinya sepupu perempuan saya yang datang pertama." Raut wajah Aruna sedikit sedih.

"Aku sudah lama mencarinya semenjak Ayah meninggal. Dia selalu datang lebih awal daripada kami. Ayahku sangat menyayanginya," lanjut Aruna dengan hati yang merasa bersalah.

Sebenarnya Lumi ingin bertanya lebih lanjut, tapi Lumi tahan. Ini bukan urusannya dan biarkan mereka yang mengaturnya.

"Dia memliki kepribadian yang luar biasa," sela Kinan sambil menaruh buket bunga miliknya dengan yang lain.

'Sepertinya mereka sangat merindukan sepupunya, juga sedikit ada rasa penyesalan dalam mata mereka,' telaah Lumi dalam hatinya.

"Sepertinya dia memang luar biasa, melihat karangan bunga yang kuning cerah — sepertinya dia orang yang ceria, " timbal Lumi, tersenyum sekedarnya pada Aruna.

"Kakak benar, dia memang wanita yang cerah dalam rimbunnya hutan yang hijau," sahut Aruna.

'Ceria dan juga tenang nampaknya.' Lumi menarik kesimpulan dalam hatinya, setelah mengetahui perangai sepupu Aruna.

Terik matahari yang tak sengaja menyakiti mata Lumi — saat itu juga dia merasa kunjungannya telah cukup lama. Mata Lumi terpejam sejenak akan silau yang tak bersahabat.

'Sebaiknya aku harus segera pergi,' ujar Lumi dalam hatinya. 'Mereka butuh ruang untuk melepaskan rindu.'

"Kalau begitu saya dan Bu Sri pamit terlebih dahulu, masih ada pekerjaan yang menunggu kami." Pamit Lumi sambil mengulurkan tangannya.

Uluran tangan perpisahan di sambut senyum hangat Aruna. "Terima kasih sudah mau berkunjung dan meluangkan waktunya. Tolong hati-hati di jalan."

"Tentu saja." Lumi melepaskan genggaman Aruna.

Setelahnya Bu Sri memeluk Aruna dan Kinan tak lupa salam perpisahan terucap oleh mereka.

Punggung Lumi dan Bu Sri kini mulai menjauh meninggalkan mereka. Aruna dan Kinan mulai memfokuskan diri pada makan ayahnya. Tangan Aruna meremas buket bunga yang dia genggam.

"Ayah aku kembali, maaf lama berkunjung." Aruna menyimpan bunga lily itu di tanah.

Sendu pilu, penuh kerinduan. Sekuat apapun Aruna menahan tangis — akhirnya akan tetap selalu terjatuh. Dia begitu merindukan ayahnya, baginya waktu masih kurang membiarkannya tetap bersama sang Ayah. Meski begitu, Aruna selalu melapangkan hatinya — dia ikhlas akan kepergian ayahnya.

...•...

...Jasadmu sudah terkubur, begitu juga harum tubuhmu. Kini hanya nama yang tertera dalam sebuah batu — kala aku bertemu denganmu. Harummu tak sama seperti dulu — hanya aroma tanah lembab dan juga rerumputan. ...

...Raga yang tidak akan pernah aku jumpai, tapi kenangan antara kita tidak akan pernah mati. Selama aku masih bernafas dan hidup, mengarungi dunia — kenangan antara kita tidak akan pernah aku lupakan....

...Gundukan tanah yang selalu aku temui. Rumah barumu. Patokan diriku jika ingin berjumpa. Raga termakan tanah, kenangan antara kita akan selalu timbul. Itu sudah cukup bagiku, kenangan yang muncul bagaikan ragamu yang terbentuk. ...

..."Maaf, Jika aku jarang berkunjung Ayah."...

..."Apa kabar dengan Ayah?"...

..."Maaf, aku selalu menangis di makam Ayah."...

...•...

Terlihat rapuh, Kinan mulai menggenggam erat tangan Aruna. Dia tak tahan akan rapuhnya adiknya — dia akan selalu menjadi penopang dan penguat Aruna —kapanpun dia butuhkan.

Merasakan beban yang bergelayut, Aruna sontak melirik lembut. Nampak besar dan kuat, menggenggam tangannya erat. Lalu, mata coklatnya yang keemasan mulai naik perlahan.

Hangat dan menenangkan, kala Aruna mendapati kakaknya yang tersenyum lembut dengan tatapannya penuh perhatian. Naluri seorang adik yang manja mulai muncul. Kepala Aruna kini mulai bersandar pada pundak Kinan yang begitu kokoh.

"Ayah kami merindukanmu, begitu juga matahari kita," ucap Aruna dengan mereka yang memandangi buket bunga matahari dan tulip kuning yang begitu cerah terpapat terik matahari.

Tangan mereka bertaut saling menguatkan, memandangi makam sang Ayah dan menceritakan hal-hal kecil yang entah itu tersampaikan atau tidak. Suasana hening dan penuh kerinduan tercipta.

......................

Semilir angin dingin menyeruak merinding menyentuh kulit. Wajahnya yang mulus mulai terasa kebas akan angin yang berhilir melewatinya. Tangannya begitu erat menggenggam, bukan karena dingin yang mengigit —tapi karena ia tengah menguatkan diri, menahan sesuatu yang tak kasat mata. Setiap kali dia berjumpa hatinya selalu sendu — bercampur malu.

Langkahnya pelan berjalan menulusuri jalan setapak yang sunyi tanpa kehidupan. Berjalan sendiri — hanya berteman tirai biru yang sedang dipersiapkan untuk terbuka, menampakan surya yang membawa terang.

Nampak dalam genggamannya yang erat, cerah yang seharusnya terlihat nampak redup akan fajar yang masih belum menyingsing. Bunga matahari dan tulip kuning tergenggam oleh rasa biru bersalah.

Langkahnya terhenti, kala seseorang dalam telanan tanah telah dia temui. Wanita itu termangu begitu lama, menatap makam yang dia kunjungi. Setelan kemja hitam yang dia kenakan tampak menyatu dengan suasana dini hari. Helaan nafas dingin mengepul di udara. Wanita itu kini mulai menunduk, kedua kakinya mulai dia tekuk. Bunga itu dia taruh di atas pemakaman.

"Hai Paman, aku berkunjung lebih awal lagi," ucapnya sambil mengusap nisan yang bertuliskan nama yang tertera.

"Maaf aku menjalankan hidup seperti ini," ucapnya sedih dan malu.

"Aku merindukanmu."

1
JEJE @●@
Punya sahabat gini asyikkk
MN.Aini
up lg dong thor🥺
Wang Lee
Mampir thor
Wang Lee
Ceritanya bagus
Aksara_Dee
cemas tanda suka gak sih 🫶
Aksara_Dee
aroma kayu putih biasanya bayi, lumi.
Aksara_Dee
Leta, hmm...
Aksara_Dee
thor aku masih ketuker² saat membayangkan tokoh lumi, lana, leta
Aksara_Dee
ibunya gak ada idekah?
Aksara_Dee
bener banget ini
Aksara_Dee
Terima kasih untuk karya bagusnya, kalimatnya sangat indah
Aksara_Dee
aahh aku jadi ngiler
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak aku mampir🤗 klo berkenan boleh mampir juga kecerita baruku "Falling Into You" makasih🥰
Tini Timmy
wahh dah lma bener gak up kak
Oma yeni*🦋
Oma sibuk kejar target misi baca novel lain jadi belum sempat mampir kesini 🤧🙏
Oma yeni*🦋: wkwkkw,, udah kecapean ya. Iya, harus byk istirahat apalagi kalo kesibukan real byk menyita waktu.
total 2 replies
Oma yeni*🦋
hai lumi, maaf baru mampir lagi 🤗
Tan
tau aja /Joyful/
Oma yeni*🦋
mungkin itu suara lana
Oma yeni*🦋
keren nih, cara menggambarkan hasratnya lumi sangat halus dan membuat nyaman pembaca
Oma yeni*🦋: iya syg, sama sama 🥰😘
total 2 replies
Oma yeni*🦋
semua berawal dari hal kecil ya lumi, lama lama benih itu akan tumbuh perlahan seiring waktu berjalan.
Tan: betul, apalagi hal-hal kecil itu sering datang dan bertumpuk banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!