kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Mama pengen kamu segera menikah nak, mama pengen secepatnya punya cucu."
Ujar Bu Ayu yang melihat hubungan Regan dan Luna kian erat. Regan yang sudah mengetahui penyakit Mama nya merasa tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut, meskipun jauh di lubuk hati nya ia sama sekali tidak mencintai Luna,tapi demi bakti nya pada sang Ibu, Regan siap mengabulkan apapun selagi ia bisa, Regan hanya takut diri nya tidak bisa membahagiakan Ibu nya di sisa akhir hidup Bu Ayu.
Apa lagi Bu Ayu sudah banyak menderita karena perbuatan suami nya, sebagai anak laki-laki, Regan tak ingin ia menjadi pecundang seperti Ayah nya, mengingat Regan begitu sangat menyayangi dan menghormati Mama nya.
"Iya ma, Regan usahain secepatnya melamar Luna, yang penting sekarang Mama sehat aja dulu. "
Kedua mata nya tampak berkaca-kaca, Regan memeluk Mama nya dengan posisi tubuh nya yang berjongkok di lantai, sedangkan Bu Ayu duduk di kursi roda.
"Andai Papa mu sekarang ada di sini,mungkin Mama gak akan kesepian. "
Tiba-tiba saja Bu Ayu menyeletuk demikian seolah beliau sedang merindukan suami nya. tatapan nya kosong mengarah ke jendela yang menghadap ke gedung-gedung bertingkat, bola mata nya seperti menyimpan buih bening yang sudah menggenang di sana.
"Sudah lah Ma, gak usah ingat hal yang gak penting. "
Regan menyeka air mata Bu Ayu dengan lembut, jauh di lubuk hati nya ada dendam yang ingin ia balas atas sakit hati Mama nya.
Bertahun-tahun luka itu tak kunjung sembuh, semakin ia berusaha untuk mengobati, justru semakin menganga lebar, Regan tak pernah tau, hukum tabur tuai apa yang sedang ia lakoni, mengapa Tuhan seakan memberi nya banyak coba'an.
****
Seminggu sudah sejak kedatangan Ayana tempo hari ke rumah Bu Ayu. suasana dan tempat nya masih begitu terngiang-ngiang di ingatan, bahkan peristiwa yang hampir membuat nya kehilangan separuh nyawa nya. bagaimana tidak? kenyataan pahit tentang kebenaran yang tidak pernah ia duga, pria yang begitu dia cintai adalah anak dari suami siri nya, bahkan wanita yang sudah begitu baik kepada kluarga nya sudah ia sakiti secara lahir batin.
Ayana tak tau harus berbuat apa? ia sendiri bingung dengan arah tujuan hidup selanjutnya. langkah nya gontai menyusuri jalan, ia begitu depresi dengan kenyataan yang menimpa diri nya. hingga terbesit di pikiran nya untuk mengakhiri hidup, karena dirinya tidak sanggup jika perbuatan jahat nya yang sudah merebut keharmonisan rumah tangga wanita lain akan terungkap.
Ayana berdiri di sebuah jembatan yang cukup sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, lokasi nya agak jauh dari pemukiman, niat nya sudah bulat, ia begitu malu dengan diri nya sendiri, Ayana benar-benar kehilangan kewarasan nya.
Ia berdiri di sisi jembatan, memandangi ke bawah yang terdapat sungai kecil, posisi nya agak curam, beberapa bebatuan besar Terdampar di pinggiran sungai.
Ayana membuang nafas, air mata nya kembali mengalir, kedua mata nya bahkan sudah sembab karena menangis terus menerus.
Penampilan nya acak-acakan, rambut nya di biarkan tergerai, pakaian yang di pakai juga seadanya. ia masih memakai setelan piyama. entah lah, Ayana seperti sengaja berjalan tanpa tujuan. ia hanya mengikuti ke mana kaki nya melangkah, tidak ada tempat nya mengadu, atau sekedar membagi semua keluh kesah nya tentang masalah yang sedang di hadapi.
***
"Perasaan ku kenapa gak enak gini ya? seperti ada sesuatu yang akan terjadi. "
Bu Dini memegangi dada nya, wajahnya panik, pikiran nya tidak tenang, beliau kembali duduk sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Mama kenapa? "
Devan tiba-tiba muncul menyambangi Bu Dini yang sedang termenung di dapur.
"Van, coba telpon kakak mu, kenapa perasaan Mama gak enak ya? "
Suara Bu Dini seperti tertahan di tenggorokan, kecemasan itu sudah membuat nya kehilangan konsetrasi.
Tanpa menjawab, Devan berlalu pergi menuju kamar nya, ia mengambil handphone yang sedang di charger.
beberapa detik berlalu, Devan kembali dengan handphone di tangan nya. ia meraih salah satu kursi lalu duduk di sebelah Mama nya.
Dengan lihai tangan nya mengotak-atik layar ponsel guna mencari kontak Whatsapp milik Ayana.
Panggilan berdering di seberang sana, namun tak ada jawaban sama sekali.
"Gak di angkat Ma. "
Devan menunjukkan layar handphone nya ke hadapan Bu Dini.
"Coba sekali lagi nak. " Pinta Bu Dini pelan.
Devan menurut dan melakukan panggilan ulang, namun tetap saja tidak di angkat oleh Ayana, bahkan bukan hanya sekali dua kali Devan menghubungi nomor kakak nya. hasil nya tetap sama.
"Mungkin kakak lagi sibuk kerja ma. "
Devan berusaha menenangkan Mama nya sembari mengelus punggung Bu Dini.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk seolah membenarkan omongan putra nya.
***
Ayana terdiam lesu, pikiran nya kosong, tatapan nya hampa, ia kini sudah berdiri tepat di pembatasan jembatan, hanya tinggal menunggu niat nya untuk terjun bebas hingga jatuh ke bawah sana.
Seseorang tiba-tiba berhenti saat melihat tindak tanduk prempuan muda di pinggiran jembatan dengan tatapan kosong, pria paruh baya itu menepikan motornya agak jauh dari posisi Ayana berdiri, niat nya hanya untuk berjaga-jaga agar wanita yang di yakini akan bunuh diri itu tidak nekat begitu saja saat beliau mendekat.
Pria berpostur tinggi kurus itu mengambil ancang-ancang agar keberadaan nya tidak di sadari oleh Ayana.
Namun sayang nya, Ayana justru menoleh dan menyadari keberadaan beliau.
Wajah pria itu langsung panik, beliau takut Ayana justru terganggu dengan keberadaan nya dan justru semakin nekat untuk terjun tanpa aba-aba.
" Nak tolong jangan nekat, kamu masih terlalu muda untuk mengakhiri hidup, perjalanan mu masih sangat panjang. "
Pria itu menasehati Ayana dengan lembut, mimik wajah nya juga terlihat sendu di balik kulit nya yang keriput.
Ayana terdiam tidak menjawab, ia sama sekali tidak perduli dengan apa yang di katakan Bapak itu, semua sudah tidak dapat di cerna oleh akal sehat nya.
"Jangan lakukan itu nak, orang tua mu pasti kecewa jika kamu sampai melakukan hal sekeji itu, Tuhan sangat membenci perbuatan mengakhiri hidup. "
Laki-laki itu terus menasehati Ayana meksipun ucapan nya tidak di dengar atupun di gubris.
"Ibu mu sudah susah payah membesarkan mu nak, tolong ingat Ibu nak. " Imbuh pria itu lagi berharap kali ini Ayana mau mendegarkan nya.
Mendegar kalimat itu, wajah Ayana berubah lebih tenang, seolah malaikat pelindung nya kini ada di sisi nya, ia menarik senyum tipis di bibir nya yang merah alami.
"Ibu." gumam nya lirih sembari menjatuhkan tubuh begitu saja. ia begitu rapuh dan Lunglai, penguat terbesar dalam hidup nya adalah keluarga, hal ini juga menjadi alasan ia kuat sampai di titik ini.
Beberapa orang sudah berkumpul di sana, menyaksikan kejadian itu dengan penuh antusias .
Ayana tiba-tiba pingsan ketika seorang wanita muda yang umur nya tidak begitu jauh dengan nya mencoba menghampiri seolah ingin memeluk.
Prempuan itu langsung membawa Ayana pergi menuju tempat nya tinggal tanpa pikir panjang, ia juga mengaku mengenal Ayana pada orang-orang yang menyaksikan hal ini. termasuk bapak-bapak yang telah berhasil mengagalkan usaha Ayana untuk mengakhiri hidup.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi