Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"A-aku tidak mengerti apa maksud mu mas?" Maureen berusaha untuk melepaskan tangan Arik yang mencengkram leher nya. Membuat nafas nya tercekat di tenggorokan.
Melihat wajah Maureen yang memucat, spontan Arik segera melepaskan tangan nya. "Selain pintar menipu kau juga pandai tebar pesona di depan pria lain, menjijikkan!" sinis Arik.
Maureen menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya pelan, sungguh entah apa lagi yang membuat Arik begitu marah pada nya.
"Tebar pesona apa mas? Aku hanya menjawab pertanyaan saja. Lalu apa yang salah?" Tanya Maureen menatap nanar. Dengan nada rendah hampir tak terdengar.
Darah Arik semakin mendidih saat melihat sikap Maureen, yang entah benar tidak paham atau memang pura-pura polos.
Namun dengan tegas dia menegur, jika Maureen tidak boleh sembarang berbicara atau pun hanya sekedar menjawab, walaupun itu dengan adik-adik nya.
Tak ingin Arik berlarut marah, membuat Maureen memejamkan kedua mata nya sejenak, lalu dia berusaha meyakinkan.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan banyak bicara dengan siapa pun," celetuk Maureen.
"Memang harus begitu," ketus Arik masih murka.
Ketika Arik masih menegur Maureen, tiba -tiba saja terdengar seseorang datang dan mengetuk pintu.
Tok..tok...
"Tuan, nyonya. Maaf saya menganggu, semua orang telah menunggu di meja makan," ujar sang pelayan di balik pintu.
Arik mengerutkan kedua alis tebal nya, lalu menyuruh pelayan itu segera pergi karena sebentar lagi dia dan Maureen akan segera turun.
Tanpa berani berkata lagi, pelayan kepercayaan nyonya Marisa segera mengundurkan diri. Arik kembali mendelik tajam pada Maureen, dia tak pernah bosan mengingatkan Maurer.
"Sekarang cepat turun, sekali lagi kau seperti tadi, jangan salahkan aku jika kedua orang tua mu yang menanggung akibat nya," Ancam Arik dengan mode wajah serius lalu berjalan lebih dulu.
Maureen hanya bisa patuh, air mata nya tanpa terasa menetes saat apa yang dia lakukan di mata sang suami selalu salah.
"Papa, Mama" Lirih Maureen dalam hati, yang begitu ingin sekali memiliki seseorang untuk sekedar mengeluh kesah, atas apa yang menimpa nya saat ini.
Arik yang belum mendengar suara langkah kaki Maureen, perlahan lelaki bertopeng silver itu pun memutar badan dan...
"Kenapa malah diam? Cepat! Kembali ke bawah semua orang menunggu!" ucap Arik dengan nada suara agak tinggi.
Maureen perlahan mengusap buliran air di sudut mata nya. "I-iya mas," sahut nya perlahan mengikuti Arik.
Sementara di ruang makan, Oma Eva rasa nya sudah tidak sabar ingin memberikan hadiah pernikahan untuk cucu mantu pertama nya.
"Lihatlah, kalung ini sangat cocok untuk Maureen. Dia adalah cucu mantu pertama keluarga kita menurut mu bagaimana Marisa?" Tanya wanita tua itu tersenyum sembari membuka kotak merah yang berisi perhiasan temurun keluarga Carlson.
Nyonya Marisa menatap senang, meskipun Arik tidak menyukai Maureen. Tapi dia berharap seiring berjalan nya waktu mereka bisa menjadi pasangan yang bahagia.
"Iya ma, itu sangat bagus dan cocok untuk Maureen. Semoga saja mereka segera memberikan kehangatan dan kebahagiaan dengan memberikan pewaris utama keluarga kita," Sahut Marisa dengan harapan besar nya.
"Tentu saja, Arik adalah pewaris utama Carlson Grup. Maka dia lah yang harus memberikan keturunan lebih dulu untuk keluarga ini," Imbuh Oma Eva.
Brayan dan pacar nya Gisella saling menatap, mereka sangat kesal saat melihat barang berharga itu akan di berikan pada Maureen.
"Tapi Oma, aku tidak yakin kak Arik akan segera memberikan apa yang Oma inginkan, " Celetuk Brayan dengan nada sinis.
Oma Eva dan Marisa pun melirik penuh keheranan, saat melihat ekspresi Brayan yang selalu mencela harapan mereka pada Arik.
"Brayan! Cukup, bagaimana pun juga Arik adalah kakak mu. Jangan mencari masalah terus," Tegur Hans yang baru duduk.
Lagi-lagi pria paruh baya itu pun merasa jengah pada putra kedua nya, karena selalu saja menentang ucapan nya.
"Tapi Oma, Mami. Aku dan Gisel juga satu bulan lagi akan menikah. Jika aku yang lebih dulu memiliki seorang anak. Maka aku berhak menggantikan posisi kakak sebagai pimpinan utama," kata Brayan menuntut.
Suasana di sana seketika menjadi hening, Arik dan Maureen yang baru kembali. Mendengar hal itu tak hanya diam saja.
"Kami kembali, maaf membuat kalian menunggu, ayo sayang duduk," Arik meraih dan memegang pinggang Maureen di depan semua keluarga nya.
Melihat pemandangan romantis itu pun Oma Eva, semakin bersemangat dan begitu yakin untuk memberikan kado pernikahan yang special telah di siapkan nya jauh hari.
"Kalian kenapa lama sekali? Ayo cepat duduklah. Ada beberapa hal yang akan Oma katakan pada kalian." Perintah nya sudah tak sabar seraya memegang kotak merah di tangan.
Arik dan Maureen duduk bersama saling berdampingan, semua orang di sana menatap pada mereka saat tangan kedua nya saling memegang erat.
"Apa yang ingin Oma katakan pada kami?" Satu pertanyaan Arik dengan nada bariton nya yang khas, memecah keheningan di meja makan yang panjang dan mewah itu.
Membuat Oma Eva tersenyum lalu menjawab, jika dia akan memberikan sebuah kado pernikahan special terutama untuk Maureen. Cucu mantu yang telah berhasil membuat nya senang.
"Didepan semua orang di sini, Oma hanya ingin mereka tahu. Jika Maureen adalah menantu pertama dari keluarga ini maka sesuai janji, perhiasan temurun leluhur kita, akan di berikan pada nya!" ucap Oma Eva dengan tegas.
Semua orang di sana terkejut, saat wanita tua yang berusia enam puluh lima tahunan lebih itu pun mulai membuka sebuah kotak merah berukuran sedang dan..
Kilau cahaya perhiasan membuat semua pasang mata berbinar dan takjub.
"Wah, indah sekali." Celetuk Gisel menatap penuh obsesi, saat melihat kalung berlian dengan liontin safir berwarna biru. Bibir nya mengerucut lalu menatap Brayan gemetar, jika dia juga menginginkan nya.
Maureen masih termangu, ia berusaha menggeliat kecil tangan nya agar tersadar dari apa yang dia dengar barusan. Karena menggeliat itu sangat mustahil bagaimana bisa kalung mewah itu akan diberikan untuk nya.
Sementara dia sangat tahu diri, jika diri nya bukanlah wanita yang diinginkan oleh suami nya, melainkan hanya seorang istri pengganti sementara saja.
Melihat ekspresi wajah manis Maureen murung, membuat Oma Eva terheran dan penuh tanda tanya besar di dalam hati.
"Maureen! Apakah kamu tidak suka kado dari Oma?" tanya Oma Eva.
Arik menatap tajam, lalu dengan pelan dia terpaksa menyentuh lengan Maureen. Sampai Maureen tersadar, dan segera menyahut ucapan Oma.
"Ti-tidak Oma, aku sangat suka. Tapi itu terlalu mahal. Rasa nya tidak pantas untuk ku," ujar Maureen berusaha menyesuaikan diri.
Karena memang kalung itu sangatlah tidak tepat untuk nya. Apa lagi mengingat Arik yang sangat tertarik pada Maura.
Sebagai pemilik utama Carlson Grup peninggalan suami nya, Nyonya Eva Alexander perlahan beranjak dari tempat duduk nya lalu ia meraih dan mengelus tangan Maureen. Sampai membuat Maureen terkesiap, dan merasa sangat insecure.
"Anak manis, ini memang hak mu sebagai istri Arik dan cucu mantu pertama," Oma Eva tanpa ragu perlahan membuka kotak, lalu memasangkan kalung berlian mewah itu tepat di leher jenjang Maureen sebagai restu dari nya.
\*
Bersambung..................