NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

si gadis sombong

Naira melangkah cepat menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang. Langkah kakinya yang berbalut sepatu bermerek terdengar seirama dengan detak jantungnya yang masih diselimuti kekesalan. Kalimat Rama seolah menamparnya tepat di wajah. Kenapa repot-repot sekolah? Kalimat itu terdengar begitu lancang di telinganya.

​Di parkiran depan, sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu dengan mesin yang halus menyala. Pak Joko, supir pribadinya, segera turun dan membukakan pintu belakang tanpa suara. Naira masuk, mengempaskan tubuhnya ke jok kulit yang empuk, lalu membanting tasnya ke samping.

​Mobil mulai melaju membelah jalanan kota. Di dalam kabin yang kedap suara dan dingin oleh pendingin ruangan itu, Naira menatap keluar jendela. Dia melihat jalanan yang ramai, lalu pandangannya tidak sengaja menangkap sosok yang familier di atas motor bebek tua yang knalpotnya agak berasap.

​Itu Rama. Cowok itu mengendarai motornya dengan kecepatan konstan, punggungnya tegak, menembus terik matahari sore tanpa perlindungan selain jaket parasutnya yang sudah kusam. Rama tampak terburu-buru, sesekali melirik jam tangan murah di pergelangan tangan kirinya saat lampu merah.

​Naira membuang muka, kembali menatap layar ponselnya yang sepi dari notifikasi keluarga. "Dia tidak tahu apa-apa," bisik Naira ketus pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mendadak terasa hampa.

Sementara itu, Rama memarkirkan motornya tepat di depan sebuah ruko fotokopi di dekat area kampus. Jam dinding di dalam ruko menunjukkan pukul empat sore lewat lima menit. Dia terlambat lima menit dari jam shift-nya karena perdebatan di kelas tadi.

"Sori, Bang, agak telat. Tadi ada urusan kelompok sebentar," ucap Rama cepat sambil menyalami pemilik toko yang sedang sibuk melayani mahasiswa.

"Santai, Ram. Tuh, tumpukan modul di sebelah kanan tolong dijilid ya, mau diambil jam enam," sahut Bang Andi tanpa mengalihkan pandangan dari mesin cetak.

Rama mengangguk. Dia melepas jaket parasutnya, menyisakan seragam sekolahnya yang kini lengannya digulung hingga siku. Bau kertas hangat dan tinta pekat langsung menyergap indra penciumannya. Sambil tangannya dengan cekatan menyusun lembar demi lembar kertas, pikiran Rama justru kembali berputar pada ucapan Naira.

Kamu tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dunia bekerja, Rama.

Rama tersenyum kecut. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa yang pahit. Dia tahu persis bagaimana dunia bekerja. Dunia yang dia kenal adalah tentang bagaimana uang seribu rupiah harus ditukar dengan peluh keringat, tentang bagaimana tagihan listrik bulanan tidak bisa dibayar dengan kata "beres", dan tentang bagaimana dia harus menahan kantuk di kelas demi bisa menyambung hidup.

Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangannya. Tatapan mata Naira saat mengucapkan kalimat itu tadi tidak mencerminkan kesombongan seorang anak orang kaya yang meremehkan orang miskin. Ada kilat keputusasaan yang tertangkap oleh radar Rama. Tatapan itu terasa dingin, sekosong hasil analisis tugas ekonomi yang gadis itu kirimkan semalam.

Selesai menjilid tugas pelanggan terakhir pada pukul sembilan malam, Rama duduk di bangku plastik di sudut toko yang mulai sepi. Dia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah jurnal kecil dan laptop bekas yang layarnya sudah memiliki garis tipis di sudut kanan.

Dibukanya file tugas mereka. Rama tidak menyentuh atau mengubah satu kata pun dari bagian yang dikerjakan Naira. Namun, di bawahnya, Rama mengetik sebuah lampiran baru. Dia memasukkan data riil yang dia temukan dari koran-koran ekonomi bekas yang sering dia baca di toko, membandingkannya dengan teori kaku yang ditulis Naira. Dia membuat analisis itu hidup, memiliki jiwa, dan berpijak pada realitas.

Tepat pukul sebelas malam, sebelum dia menutup laptopnya, Rama mengirimkan file itu melalui pesan singkat ke nomor Naira.

Rama: Ini data pembanding untuk Bab 3 yang aku buat malam ini. Aku tidak mengubah ketikanmu, tapi kalau kamu ada waktu untuk membaca ini, kurasa kesimpulan kelompok kita akan jauh lebih kuat.

Setelah menekan tombol kirim, Rama mengemas barang-barangnya. Dia tahu, kuota internet malamnya baru saja berkurang, tapi bagi Rama, ini adalah investasi untuk sebuah pembuktian.

Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah rumah megah berpilar tinggi, Naira sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur king-size miliknya. Kamarnya luas, dipenuhi barang-barang mahal, namun suasananya terasa mencekam.

Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara pecahan kaca yang disusul oleh teriakan melengking ibunya dan bentakan berat ayahnya. Pertengkaran itu sudah menjadi "makanan" rutin dalam seminggu terakhir. Topiknya selalu sama. pembagian aset perusahaan pasca perceraian yang sedang mereka urus diam-diam.

Naira memejamkan mata rapat-rapat. Dia meraih headphone besarnya, memasangnya ke telinga, dan memutar musik dengan volume maksimal hingga telinganya berdenging. Dia benci rumah ini. Dia benci fakta bahwa semua kemewahan yang dia miliki dibeli dengan uang yang kini menjadi alasan kedua orang tuanya saling mencaci.

Bagi Naira, semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang. Orang tuanya membelikan dia mobil baru agar dia tidak protes saat mereka tidak pulang berminggu-minggu. Orang tuanya memberi kartu kredit tanpa limit agar dia diam saat mereka bertengkar. Uang adalah alat tukar untuk kedamaian palsu. Itulah mengapa dia membayar orang untuk mengerjakan tugas sekolahnya. karena baginya, proses tidak pernah ada artinya jika pada akhirnya semuanya tetap berantakan.

Ting.

Sebuah getaran di atas kasur mengalihkan perhatiannya. Naira membuka mata, meraih ponselnya. Sebuah notifikasi pesan dari Rama muncul di layar.

Naira mengernyitkan dahi. Dia membuka dokumen PDF yang dikirimkan cowok itu. Awalnya dia berniat mengabaikannya, namun baris pertama analisis Rama menahan jemarinya untuk tidak menutup aplikasi.

Naira membaca kata demi kata yang ditulis Rama. Analisis itu begitu detail,

menggunakan bahasa yang sederhana namun sangat tajam, meruntuhkan teori-teori instan yang Naira ambil dari internet. Di sana, Naira bisa melihat bagaimana Rama meluangkan waktunya yang berharga waktu yang harusnya dipakai untuk istirahat setelah bekerja hanya untuk memikirkan esensi dari tugas mereka.

Naira tertegun. Di tengah kamarnya yang megah namun terasa runtuh, sebuah file sederhana dari seorang cowok yang seragamnya sudah memudar justru memberikan sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan di rumahnya: sebuah ketulusan dan kesungguhan dalam berproses.

Naira menurunkan headphonenya ke leher. Suara keributan di bawah masih terdengar, namun kali ini, fokusnya tertuju pada catatan kaki terakhir yang ditulis Rama di file tersebut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naira merasakan dadanya sedikit menghangat. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh, mengalahkan rasa sepi yang biasanya menggerogoti malam-malamnya.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!