Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Kedua di Dasar Cawan
Aroma kuah kaldu sapi yang gurih, pekat oleh gumpalan lemak dan taburan bawang putih goreng, menyeruak megah dari sebuah mangkuk keramik putih berlogo ayam jago merah. Uap putih mengepul tebal, bergulung-gantung menyentuh permukaan meja formika biru yang agak lengket di sudut kantin bawah tanah Menara Wijaya. Tempat ini tersembunyi jauh di bawah fondasi beton lantai enam puluh—sebuah dunia bawah tanah yang bising oleh dentang sendok buruh cuci piring dan desau mesin generator raksasa, sangat kontras dengan kemegahan ruang kaca di atas langit sana.
Dika duduk di atas kursi bakso plastik merah tanpa sandaran. Kemeja katun hitam grosirannya sengaja dilepas kancing atasnya, membiarkan hawa gerah dari uap kuah bakso menyapu lehernya yang pucat. Sepasang matanya menatap intens tiga butir bakso urat berukuran jumbo yang tenggelam di antara gundukan mi kuning dan siraman sambal cabai rawit yang memerah laksana lahar gunung berapi fana.
Namun, ketenangan bersahaja itu terganggu oleh getaran halus yang merambat dari tulang ekornya naik menuju belikat.
“Ooooh, tusukan rasa nikmat yang berbalut linu!” lenguh suara batin Dika di relung batok kepalanya, meliuk-liuk dalam kepuasan spiritual yang menyedihkan. “Sambal rawit ini... pedasnya langsung menyengat urat meridian gue yang tersumbat! Sial, hantaman energi kaldu sapi ini jauh lebih efektif meregenerasi sel fana daripada pil pemulih jiwa di Sekte Langit Sembilan. Tapi kenapa setiap kali gue mengunyah ini bakso urat yang kenyal, pinggang belakang gue ikut getar seirama sama kunyahan gigi? Tolong jangan ada yang nyerang lagi di basement ini, kalau gue disuruh melompat dari kursi plastik meleyot ini, gue beneran bakal roboh sambil meluk gerobak abang baksonya!”
Lina yang duduk di seberangnya, bertumpu pada tas kanvas yang kini menggembung penuh oleh dokumen rahasia milik Hendra, hanya bisa mengaduk es teh manisnya dengan sedotan plastik. Sepasang matanya yang jernih menatap Dika dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa takjub yang mendalam setelah melihat keruntuhan Hendra di lantai tiga puluh lima, dan rasa gemas yang luar biasa melihat bagaimana sang 'Kaisar Naga' kini mendadak lumpuh menghadapi kekenyalan bakso urat.
"Makan yang banyak, Dika," bisik Lina, suaranya merendah di antara keriuhan para pegawai magang yang sedang bergosip di meja sebelah tentang ambruknya sang Sekretaris Utama beberapa menit lalu. "Dokumen transaksi Konsorsium Mahardika udah di tangan kita. Di lembar paling belakang, ada bukti transfer langsung ke rekening pribadi salah satu anggota inti Keluarga Wijaya bernama Adrian Wijaya. Dia dalang utama yang memotong jalinan nasib Dika yang asli."
Dika menghentikan sendok stainless steel-nya yang baru saja menyendok kuah merah kental. Ia mendongak, menatap Lina dengan sepasang mata yang menyisakan sisa pendar emas purba yang dingin dan tak tersentuh oleh emosi duniawi.
"Adrian hanyalah sebuah nama yang tertulis di atas pasir pantai fana, Lina," ucap Dika, suaranya mendadak berubah berat, bergaung rendah dengan intonasi purba yang sanggup meredam bisingnya suasana kantin bawah tanah. "Manusia bumi mengira mereka telah menggenggam hulu sungai takdir saat berhasil menggerakkan angka-angka triliunan rupiah. Mereka tidak tahu, di hadapan anyaman langit, seluruh konspirasi mereka tidak lebih berharga dari sekadar kepakan sayap lalat yang hinggap di tempat sampah."
Lina memutar matanya, mendengus tipis. "Filsafat lo boleh setinggi langit, Dika. Tapi kalau bibir lo masih belepotan minyak kuah bakso dan sambal rawit, wibawa dewa lo turun drastis, tahu gakk?"
Dika terbatuk kecil, memicu rasa ngilu yang mendadak menusuk pinggang bawahnya hingga wajahnya sempat berkerut masai selama setengah detik. Ia buru-buru menyeka bibirnya dengan selembar tisu murah yang kasar.
Namun, tepat saat Dika hendak menusuk bakso urat jumbo terakhirnya dengan garpu, gerakan tangannya mendadak membeku di udara.
Denyut. Denyut. Denyut.
Mata Takdir di balik selaput korneanya bergetar hebat dengan frekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rasa panas yang mendidih menyebar cepat, mengubah seluruh lanskap kantin bawah tanah menjadi dunia monokrom yang kaku secara instan. Suara bising uap dapur dan obrolan karyawan senyap seketika. Di mata sang mantan dewa, yang paling menarik perhatian bukanlah kertas dokumen di dalam tas Lina, melainkan aliran energi dari arah belakang tubuh Lina sendiri.
Sesosok pria bertubuh kurus dengan pakaian pelayan kantin yang dekil—membawa sebuah nampan berisi mangkuk-mangkuk kotor—sedang melangkah mendekat dengan ritme yang terlalu konstan untuk seorang manusia fana biasa.
Di atas pundak pelayan dekil itu, tidak ada selembar pun benang takdir berwarna ungu kelam milik Keluarga Wijaya. Sebaliknya, seutas benang tebal sewarna perak dingin—warna yang melambangkan energi kultivasi murni dari dimensi atas—meliuk-liuk di udara, memancarkan aroma bunga melati mati yang sangat menyengat indra penciuman spiritual Dika.
“Ini bukan kiriman dari faksi bisnis bumi...” desis keheningan di balik batok kepala Dika, kali ini murni dingin, tajam, dan kehilangan seluruh unsur komedinya. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak bukan karena encok, melainkan karena ancaman eksistensial yang nyata. “Pelayan ini... dia adalah pembunuh bayaran dari Sekte Kultivasi Nusantara tingkat tinggi yang menyamar! Sialan! Baskoro dan Keluarga Wijaya bukan sekadar konglomerat biasa, mereka menumbuhkan gurita bisnisnya dengan dukungan dari para pengultivasi sesat yang mencari batu energi langit!”
Pelayan itu meletakkan nampan kotornya di meja sebelah Dika dengan gerakan yang sangat natural. Namun, dari balik lipatan kain celemeknya yang bernoda kecap, jemari kurusnya bergerak secepat kilat, menarik sebilah belati tipis bermata dua yang permukaannya dilapisi racun kelenjar ular hitam. Target utamanya bukanlah Dika, melainkan leher Lina!
Musuh yang dihadapi sejak awal bukan sekadar korporasi bumi, melainkan perang selubung dengan dunia kultivasi yang telah menyusup ke jantung metropolitan.
"Lina, tiarap!" perintah Dika.
Suaranya tidak keluar sebagai teriakan manusia, melainkan sebuah benturan gelombang spiritual yang langsung menghantam kesadaran Lina melalui jalinan takdir mereka yang bocor. Lina yang belum sempat mencerna situasi secara fisik, merasakan tubuhnya seolah didorong paksa oleh angin gaib hingga jatuh tersungkur di bawah meja formika biru.
Wush!
Belati beracun milik pelayan itu membelah udara kosong, tepat beberapa milimeter di atas kepala Lina, memotong sehelai rambut gadis itu hingga putus dengan aroma hangus tipis. Bersamaan dengan momentum lawannya yang terdorong ke depan, Dika yang pinggangnya masih encok parah terpaksa mengayunkan tangan kanannya dari atas meja. Dua jarinya menjentik pelan, mengincar titik simpul kelabu di pergelangan tangan sang pembunuh.
Plak!
Sentuhan itu mengenai sasarannya. Namun, alih-alih meluncur jatuh laksana Rian atau Hendra, pelayan itu justru hanya mundur satu langkah. Aliran energi perak di tubuhnya bergetar hebat, menahan hantaman serangan balik takdir Dika dengan fondasi kultivasi fana yang kokoh.
Pria itu menyeringai licik, menatap Dika dengan sepasang mata yang mendadak berubah menjadi hitam pekat tanpa selaput putih. "Penguasa Takdir yang agung... ternyata Anda benar-benar telah jatuh menjadi rongsokan encok di bumi fana ini," desis sang pembunuh dengan suara yang berlapis ganda, bergema langsung di dimensi spiritual Dika. "Keluarga Wijaya mengira mereka menyewa saya untuk membunuh mantan karyawan penggelap dana. Mereka tidak tahu bahwa saya telah mencari sisa-sisa esensi jiwa Anda selama ratusan tahun untuk diserahkan kepada Pemimpin Sekte Hitam kami!"
Pembunuh itu tidak dikirim oleh Keluarga Wijaya untuk membungkam dokumen korupsi. Sebaliknya, Keluarga Wijaya-lah yang dimanfaatkan oleh Sekte Kultivasi tersebut untuk memancing Dika keluar dari persembunyiannya di kota tua sejak awal. Dika yang asli dikorbankan hanya sebagai umpan mati agar esensi dewa milik Dika yang baru bangkit bisa dilacak di bumi.
Mendengar kenyataan bahwa dirinya telah dijebak dalam permainan catur dua lapis sejak hari pertama jatuh ke bumi, batin Dika yang asli seketika meronta konyol di tengah kepungan aura membunuh yang mencekam.
“WADUHHH! Ini namanya ditipu kuadrat demi langit dan bumi! Gue kira gue lagi main drama kungfu kantoran lawan bos korup, ternyata gue lagi dikepung sama sekte sesat kosmik yang mau panen esensi jiwa dewa gue! Mana sisa energi gue tinggal delapan persen lagi setelah jentikan barusan! Lin, tolong jangan panggil polisi, polisi bumi nggak akan mempan lawan pembunuh yang matanya hitam semua begini! Panggilin tukang pijat urut sekalian dukun lokal sekarang juga, gue beneran udah di ambang batas estalase kematian!”