NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAKTIK DI BALIK LAYAR

Begitu nama **Aurelia Maritime Corporation** berkedip di layar monitor raksasa, atmosfer di dalam aula mewah itu seketika berubah riuh. Kasak-kusuk rendah mulai memecah keheningan yang semula sakral. Beberapa anggota keluarga senior saling berpandangan dengan arti yang sulit diartikan; sebagian tampak terkejut, namun sebagian besar justru menyunggingkan senyum sinis yang samar.

Semua orang yang berada di ruangan ini tahu betul satu fakta krusial: perusahaan itu sudah setengah mati.

Tujuh tahun berturut-turut merugi tanpa henti, jajaran direksi silih berganti seperti komidi putar, investor kakap melarikan diri, dan tumpukan utang yang menggunung. Bahkan dalam kurun waktu enam bulan terakhir saja, grafik finansialnya menunjukkan kerugian masif yang menembus angka ratusan juta dolar. Singkatnya, siapa pun kandidat yang mendapatkan Aurelia Maritime sama saja menerima tiket VIP menuju jurang kegagalan mutlak.

"Ternyata dia yang kebagian sial," bisik salah seorang sepupu dari barisan tengah, suaranya sarat akan nada meremehkan.

"Aku hampir kasihan melihatnya. Perusahaan bangkrut seperti itu mustahil untuk diselamatkan, bahkan oleh seorang jenius sekalipun."

Rentetan kalimat bernada miring itu terus bergaung dari berbagai sudut aula. Primus mendengarnya dengan sangat jelas, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tulis. Dia sama sekali tidak peduli dengan tatapan iba atau ejekan terselubung di sekitarnya. Justru, yang menarik perhatiannya saat ini adalah ekspresi Adrian yang duduk tak jauh darinya.

Pria itu terlihat terlalu santai. Terlalu puas, seolah-olah seluruh hasil pengundian ini berjalan persis di atas papan catur yang telah dia rancang sebelumnya.

"Selamat, Primus," kata Adrian sembari menoleh, mengulas senyum yang terlihat begitu bersahabat namun terasa dingin di kulit. "Aku yakin kau akan melakukan yang terbaik untuk memulihkan aset keluarga kita."

Primus membalas tatapan itu dengan ketenangan yang mengintimidasi. "Lalu, perusahaan apa yang jatuh ke tanganmu, Adrian?"

"Hanya sebuah bank investasi kecil," jawab Adrian ringan, mengibaskan tangan seolah hal itu bukan masalah besar.

Mendengar jawaban kasual itu, beberapa anggota keluarga di dekat mereka langsung mengangguk kagum dengan mata berbinar. Bank investasi yang dimaksud Adrian adalah mesin pencetak uang yang sehat, stabil, dan memiliki potensi keuntungan raksasa di kuartal berikutnya. Ketimpangan di antara mereka berdua terlalu mencolok untuk diabaikan. Namun, di dalam ruangan yang penuh dengan intrik ini, tidak ada satu pun orang yang cukup bodoh untuk mengomentarinya. Semua tahu siapa sosok berkuasa yang berdiri kokoh di belakang Adrian.

---

Setelah rapat akbar dewan keluarga selesai, para kandidat penerus mulai meninggalkan aula dengan langkah beralih fungsi menjadi kesibukan masing-masing. Namun, Primus tetap bergeming di kursinya. Sepasang matanya yang tajam masih tertuju lurus pada layar monitor raksasa yang perlahan-lahan meredup lalu mati total.

Aurelia Maritime. Ocean Crown. Kapal misterius yang disebut Hector, serta tempat rahasia bernama Alaric. Dan kini, secara kebetulan yang terlalu rapi, perusahaan itu jatuh tepat ke pangkuannya.

*Kalau ini adalah sebuah jebakan, maka jebakan ini terlalu kentara,* batin Primus. Yang kini membuat benak dan logikanya berputar keras adalah satu pertanyaan: kenapa mereka justru mendorongnya masuk ke dalam lingkaran konspirasi ini dengan begitu terburu-buru?

"Karena mereka sangat yakin kau akan gagal, Primus."

Suara berat yang familier itu tiba-tiba mengalun dari arah belakang, memutus kepungan lamunannya. Primus menoleh perlahan dan mendapati Hector sudah berdiri di sana. Pria tua itu bertumpu pada tongkat hitam berkepala peraknya yang ikonis. Sorot matanya setenang air telaga, namun menyimpan kedalaman yang berbahaya.

Primus menumpu dagunya dengan sebelah tangan, menyipitkan mata. "Atau mungkin... mereka justru sangat yakin bahwa aku akan mati di dalam sana."

Mendengar respons itu, kurva senyuman di wajah keriput Hector perlahan melebar, menyiratkan binar kepuasan yang jarang terlihat. "Kau mulai belajar bagaimana cara membaca jalan pikiran para ular di rumah ini."

---

Satu jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang membawa Primus tiba di depan kantor pusat Aurelia Maritime Corporation. Secara arsitektur, gedungnya berdiri dengan megah dan kokoh di kawasan distrik bisnis kelas atas. Namun, atmosfer di dalamnya sangat kontras dengan perusahaan yang sehat.

Lobi utama tampak lengang dan sunyi, menyisakan gema langkah kaki yang terdengar hampa. Beberapa karyawan yang berlalu-lalang berjalan dengan bahu merosot dan wajah lesu, seolah-olah sedang menunggu surat pemecatan mereka datang. Bahkan, sang resepsionis wanita di balik meja marmer sampai terlonjak kaget dan menjatuhkan pulpennya saat melihat siapa yang melangkah masuk.

"Tu-Tuan Muda Primus?" tanyanya dengan suara bergetar gelagapan.

"Ya," jawab Primus pendek.

"Mohon maaf sebelumnya, kami... kami tidak diberi tahu oleh pihak pusat bahwa Anda akan datang berkunjung hari ini."

"Tidak masalah," potong Primus dengan intonasi tenang namun sarat penekanan. "Di mana ruang direktur utama? Saya ingin menemuinya sekarang."

Wanita itu seketika tampak canggung, jemarinya meremas satu sama lain dengan raut wajah yang mendadak pias. "Beliau... Tuan Direktur..."

"Katakan saja."

"Beliau baru saja menandatangani surat pengunduran diri pagi tadi, Tuan Muda."

Langkah kaki Primus mendadak terhenti tepat di depan lift eksklusif. Dia membalikkan tubuhnya sedikit. "Mengundurkan diri?"

"Benar, Tuan. Bukan hanya beliau, tapi... beserta tiga direktur divisi utama lainnya juga ikut mundur serentak."

Mendengar laporan tak terduga itu, Primus justru melepaskan tawa kecil yang terdengar dingin sekaligus meremehkan. Cepat sekali permainan ini dimulai. Bahkan pergerakan musuhnya jauh lebih agresif dari perkiraan awalnya sendiri. Dia baru saja resmi menerima kepemilikan perusahaan ini dua jam yang lalu di aula keluarga, dan para petinggi di sini sudah kabur kocar-kacir seperti tikus yang mencium bau kebakaran.

*Menarik. Ini justru menjadi semakin menarik.*

---

Lantai paling atas merupakan area privat bagi jajaran eksekutif tertinggi. Primus mendorong pintu ganda ruang direktur utama perlahan. Begitu pintu terbuka lebar, pemandangan di dalam ruangan berukuran masif itu sukses membuat Paman Robert—pria paruh baya kepercayaan Primus—mengembuskan napas berat sembari menggelengkan kepala.

Ruangan itu kosong melompong. Benar-benar bersih. Tidak ada tumpukan dokumen kerja, tidak ada perangkat komputer di atas meja kerja, bahkan seluruh arsip fisik di lemari telah lenyap tanpa sisa. Jika diperhatikan lebih dekat, beberapa laci meja dan lemari besi tampak terbuka dalam kondisi dipaksa, menyisakan goresan-goresan kasar. Seolah-olah ada sekelompok orang yang dengan terburu-buru membersihkan seluruh jejak digital maupun fisik sebelum kaki Primus sempat menginjakkan kaki di tempat ini.

"Rapi sekali cara mereka bekerja," gumam Primus, melangkah masuk menembus keheningan ruangan yang pengap.

Paman Robert berjalan mengekor di belakangnya dengan raut wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Mereka benar-benar picik, Primus. Mereka sama sekali tidak berniat memberimu celah atau kesempatan sedikit pun untuk membangun kembali perusahaan ini dari nol."

"Bukan, Paman. Kau salah menilai situasi," jawab Primus sembari berjalan mendekati meja besar berbahan kayu jati mahal di tengah ruangan. Tatapannya terkunci pada satu titik. "Mereka tidak sedang menutup jalan kita... mereka justru baru saja meninggalkan sebuah petunjuk berharga."

"Petunjuk?" Robert mengernyitkan alis, tampak bingung.

Primus mengulurkan tangannya, mengambil sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang tergeletak pasrah di sudut kolong meja. Itu adalah satu-satunya benda konkret yang tersisa di ruangan terkutuk ini. Entah karena mereka terlalu terburu-buru hingga melupakannya, atau memang sengaja ditinggalkan sebagai bentuk intimidasi psikologis.

Primus membuka kancing map tersebut, membalik halaman pertamanya, dan sedetik kemudian, seulas senyum penuh arti terbit di wajah tampannya. Halaman pertama itu memuat daftar manifes dan transaksi pelayaran gelap yang tidak tercatat di pembukuan resmi publik. Dan di sana, satu nama lambung kapal muncul secara konstan dan berulang kali dalam tujuh tahun terakhir: **Ocean Crown.**

---

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang VIP sebuah restoran bintang lima yang eksklusif di pusat kota, Adrian sedang menikmati makan siang mewahnya bersama beberapa pemegang saham eksekutif dewan keluarga. Denting garpu dan gelas kristal beradu, mengiringi atmosfer obrolan yang tampak begitu santai dan penuh kemenangan.

"Semuanya berjalan sesuai dengan skenario kita, Tuan Muda Adrian," ujar salah seorang pria bertubuh tambun sembari menyeka sudut bibirnya dengan serbet. "Bahkan jauh lebih lancar dari yang kita duga."

Adrian menyesap anggur merahnya perlahan, tatapannya beralih menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit di luar jendela besar restoran. "Terlalu lancar untuk ukuran permainan tingkat atas."

Pria di seberangnya terkekeh geli, menganggap kekhawatiran Adrian terlalu berlebihan. "Aurelia Maritime itu sudah menjadi bangkai kapal yang karam di dasar laut, Tuan. Kalaupun si anak haram itu bekerja siang dan malam tanpa tidur, dia tidak akan pernah mampu memompa air keluar dari kapal yang sudah hancur. Perusahaan itu mati, dan reputasi Primus akan ikut terkubur bersama kebangkrutannya."

Adrian tidak langsung menyahut. Dia memutar-mutar tangkai gelas kristal di jemarinya, memperhatikan riak cairan merah di dalamnya dengan dahi yang perlahan berkerut. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah perasaan tidak nyaman yang terus menggerogoti ketenangannya sejak tadi.

Perasaan aneh itu selalu muncul dan semakin menguat setiap kali Primus entah bagaimana berhasil lolos dari jebakan maut yang dia pasang sebelumnya. Seolah-olah, ada satu potongan teka-teki besar tentang sepupunya itu yang luput dari pengawasannya. Dan Adrian, di atas segalanya, sangat membenci segala sesuatu yang berada di luar kendali dan kalkulasinya.

---

Kembali ke ruang kerja direktur Aurelia Maritime yang sunyi. Primus telah menenggelamkan dirinya di balik tumpukan lembar dokumen dari map cokelat tadi selama hampir satu jam penuh. Lembar demi lembar diperiksanya dengan ketelitian seorang predator, membandingkan setiap kolom debit dan kredit terselubung.

Sampai akhirnya, sebaris angka nominal di lembar terakhir membuat gerakan tangannya mendadak terkunci di udara. Sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan kilat dingin yang berbahaya. Pria itu membaca ulang barisan angka tersebut. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

*Tidak mungkin salah. Struktur enkripsi akuntansinya terlalu gamblang jika dilihat dari sudut pandang yang benar,* pikirnya. Angka yang tertera di sana terlalu masif untuk ukuran perusahaan yang diklaim sedang sekarat di ambang kebangkrutan.

"Tiga miliar dolar...?" gumam Primus lirih, suaranya terdengar seperti bisikan kematian di tengah ruangan yang sunyi.

Paman Robert yang sejak tadi berdiri waspada di dekat pintu langsung berjalan cepat mendekat ke arah meja. "Apa? Apa yang kau temukan, Primus?"

Primus membalikkan lembaran kertas laporan keuangan internal tersebut, mengarahkannya tepat ke hadapan sang paman. "Perusahaan ini sama sekali tidak pernah bangkrut, Paman Robert."

Robert mengernyitkan dahi sedalam mungkin, memindai angka-angka rumit tersebut dengan ekspresi tidak percaya. "Tapi... tapi seluruh laporan audit resmi yang diserahkan ke dewan keluarga besar menyatakan bahwa—"

"Laporan resmi itu palsu. Semua itu bohong besar," potong Primus tegas.

Ruangan megah itu seketika diselimuti oleh keheningan yang mencekam. Primus bersandar pada kursi kerjanya, menatap barisan angka di depannya dengan senyuman yang perlahan terukir di bibirnya. Sebuah senyuman yang sangat tipis, dingin, dan mematikan. Karena kini, tirai misteri itu telah tersingkap sebagian di hadapannya.

Aurelia Maritime Corporation bukanlah perusahaan gagal. Bukan aset mati, dan sama sekali bukan perusahaan yang bangkrut karena salah urus. Melainkan... **sebuah perusahaan yang sengaja dibuat terlihat bangkrut oleh sistem.**

Seseorang di jajaran tertinggi keluarga besar telah menjadikan perusahaan ini sebagai wadah pencucian uang raksasa, menguras dan mencuri miliaran dolar dari kas utama selama bertahun-tahun tanpa ada satu pun orang yang menyadarinya.

Primus perlahan menutup map kulit cokelat itu dengan gerakan anggun, mengetukkan jemarinya di atas logo perusahaan. "Akhirnya... aku menemukan ujung tali kendalimu, Tikus Sialan."

---

Di tempat yang berbeda, di sebuah kediaman tersembunyi yang dijaga ketat di pinggiran kota, seorang pria paruh baya bertubuh tegap sedang berdiri membelakangi meja kerjanya. Nada dering khusus dari telepon satelit miliknya tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan ruangan.

Dia mengangkat telepon tersebut tanpa bersuara. Namun, begitu mendengar laporan panik dari suara di ujung sambungan sana, air muka pria itu seketika berubah drastis. Gurat ketenangan di wajahnya luntur total, digantikan oleh kilat keterkejutan yang luar biasa.

"Apa katamu?! Coba ulangi sekali lagi!" geramnya dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.

*"T-Tuan... Primus tidak memeriksa pembukuan baru. Dia entah bagaimana berhasil menemukan dan membuka brankas arsip lama perusahaan yang berusia tujuh tahun lalu..."*

*Plaaakkk! Brakkk!*

Gelas kristal berisi minuman mahal di tangan pria itu tanpa sadar dicengkeram terlalu kuat hingga pecah berkeping-keping, menumpahkan cairan dan darah segar ke atas meja marmernya. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, pria berkuasa itu merasakan sensasi panik yang mencengkeram dadanya.

Arsip lama yang ditemukan oleh Primus seharusnya sudah dimusnahkan dan dibakar habis sejak bertahun-tahun lalu berdasarkan perintah mutlaknya. Dan jika pemuda sialan itu terus menggali lebih dalam ke akar pelayaran Ocean Crown... maka rahasia busuk yang terkubur rapat selama tujuh tahun di dalam dinasti Aristokrat ini akan terbongkar ke permukaan.

Termasuk... nama sang penguasa tertinggi yang berada di puncak konspirasi berdarah ini.

---

**BERSAMBUNG...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!