Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tamu Tak Diundang
"Siapa di luar?" seru Cala dengan suara bergetar keras.
Tidak ada jawaban. Gagang pintu logam di atas kepalanya berhenti bergerak. Hening. Sangat hening sampai Cala bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Ia menahan napas. Matanya melotot menatap gagang pintu itu.
Apakah itu satpam apartemen? Tidak mungkin satpam bergerak diam-diam seperti itu tanpa mengetuk atau memanggil namanya.
Ia merangkak mundur, menjauhi pintu. Lantai kayu apartemennya terasa sedingin es. Tangannya merogoh tas selempang yang sedari tadi belum ia lepas. Ia butuh senjata. Apa saja. Jari-jarinya meraba lipstik, bedak padat, dan akhirnya menemukan apa yang ia cari. Tabung kecil semprotan merica.
BRAK!
Pintu apartemennya ditendang dari luar dengan kekuatan penuh. Kayu tebal itu jebol seketika. Rantai pengaman baja yang Cala pasang putus berantakan seolah hanya terbuat dari plastik murah. Daun pintu terpelanting menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.
Pria berjaket hitam itu berdiri di ambang pintu. Napasnya teratur, sangat kontras dengan pisau berlumuran darah yang masih ia genggam erat di tangan kanannya. Matanya menatap lurus ke arah Cala. Tatapan kematian.
"Mau apa kamu? Uang? Ambil semua di tasku! Bawa semuanya!" teriak Cala kalap. Ia terus merangkak mundur sampai punggungnya menabrak meja konsol di ruang tamu.
Pria itu melangkah masuk tanpa bicara sepatah kata pun. Ia menutup pintu yang rusak dengan kakinya. Auranya membunuh dan sangat tenang. Dia bukan perampok biasa yang panik saat diteriaki. Dia datang untuk membungkam saksi mata satu-satunya.
Cala tahu memohon tidak akan ada gunanya. Otaknya memutar berbagai skenario buruk. Ia harus melawan mati-matian kalau mau selamat malam ini. Tangannya mengencangkan cengkeraman pada tabung semprotan merica. Ini barang wajib yang selalu ia bawa tiap kali pulang kerja larut mengurus vendor pernikahan.
Pria itu menerjang maju bagai predator.
"Rasakan ini, Brengsek!" Cala menekan semprotan merica itu tepat ke arah wajah si pembunuh.
Cairan pedas menyembur deras. Pria itu menggeram marah. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan matanya di balik lipatan lengan jaket kulitnya. Serangan Cala meleset sedikit, tapi cairan pedas itu cukup membuat pergerakan pria itu terhenti sejenak. Ia terbatuk-batuk pelan.
Cala tidak membuang waktu satu detik pun. Ia memutar tubuhnya, meraih vas bunga keramik berukuran besar dari atas meja konsol. Tanpa ragu, ia mengayunkan vas itu sekuat tenaga ke arah kepala pria tersebut.
PRANG!
Vas pecah berkeping-keping. Tanah basah dan bunga lili berserakan di lantai.
Pria itu terhuyung mundur. Darah segar menetes perlahan dari pelipisnya. Namun, bukannya tumbang atau pingsan, pria itu justru menatap Cala dengan kemarahan yang berlipat ganda. Matanya memerah menahan perih dan sakit. Ia menendang meja konsol hingga terbalik, memblokir jalan Cala untuk lari-lari menuju pintu keluar utama.
"Tolong! Siapa saja tolong aku!" jerit Cala sekeras mungkin.
Pria itu melompat melewati meja yang terbalik dengan gerakan sangat gesit. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram leher Cala. Cala meronta hebat. Ia menendang-nendang udara, mencakar lengan pria itu dengan kuku-kukunya, berusaha keras melepaskan cengkeraman yang mencekik saluran napasnya.
Tenaga pria ini terlalu besar untuk dilawan tangan kosong. Cala dibanting ke lantai kayu dengan keras. Rasa sakit menjalar ke seluruh tulang punggungnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang karena suplai oksigen ke otaknya terputus.
Pisau panjang yang sedari tadi dipegang pria itu kini terangkat tinggi di udara. Ujungnya yang tajam diarahkan tepat ke leher Cala.
"Kamu melihat terlalu banyak," desis pria itu dengan suara serak yang sangat mengerikan.
Cala memejamkan mata. Air mata ketakutan menetes dari sudut matanya. Ia terus melawan, menahan pergelangan tangan pria itu dengan kedua tangannya sendiri. Tapi tenaganya makin habis. Otot-ototnya menyerah. Ujung pisau itu perlahan turun, menembus lapisan kulit leher Cala hingga terasa perih yang amat sangat.
"Polisi! Angkat tangan dan jatuhkan senjatamu sekarang juga!"
Suara teriakan bariton meledak dari arah pintu depan yang terbuka lebar. Disusul suara derap langkah berat beberapa orang sekaligus.
Konsentrasi pria berjaket hitam itu pecah. Ia menoleh ke arah pintu. Tiga orang petugas berseragam polisi dengan rompi antipeluru sudah mengarahkan pistol moncong panjang tepat ke kepalanya.
Melihat situasinya benar-benar terdesak, pria itu melepaskan cengkeramannya dari leher Cala. Ia bergerak sangat cepat bak bayangan. Alih-alih menyerah dan mengangkat tangan, ia berlari menuju jendela balkon apartemen yang terbuka lebar.
Sambil berlari, tangannya menarik sebuah alat seukuran kepalan tangan dari sabuknya. Alat itu menembakkan kawat baja tipis yang langsung melilit kuat ke pagar balkon. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu melompat ke luar menembus kegelapan malam dari lantai delapan, meluncur turun dengan cepat menggunakan kawat taktis tersebut.
"Kejar dia! Cek area bawah sekarang!" teriak salah satu petugas.
Dua polisi berlari mendekati balkon, sementara satu orang lagi yang tampaknya adalah komandan bergegas menghampiri Cala.
Cala terbatuk-batuk hebat. Ia memegangi lehernya yang memerah dan sedikit berdarah, meraup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang terbakar. Seluruh tubuhnya gemetar parah dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu aman sekarang. Tenanglah. Tarik napas pelan-pelan," ucap komandan polisi itu sambil membantu Cala duduk bersandar di dinding. Ia memberikan isyarat pada anggotanya lewat radio komunikasi untuk memantau seluruh area gedung.
"Bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?" tanya Cala terbata-bata. Suaranya serak dan parau, tenggorokannya sakit tiap kali mengeluarkan kata.
"Sopir taksi yang membawamu peka," jawab komandan itu cepat. Diaa melihat ada mobil SUV hitam tanpa pelat nomor yang terus membuntuti taksinya dari Hotel Grand Valera. Sopir itu panik dan kebetulan setelah mengantarmu, dia melihat mobil patroli kami melintas di depan gerbang apartemenmu. Dia langsung mencegat kami. Anggota kami lari-lari naik lewat tangga darurat karena lift tertahan di lantai atas."
Cala menelan ludah. Syukurlah sopir taksi paruh baya itu peduli. Kalau dia langsung pergi begitu saja, nyawa Cala sudah melayang detik ini juga di atas lantai apartemennya sendiri.
"Pria itu... dia yang membunuh CEO Valera Group. Aku punya buktinya," ucap Cala cepat. Ia menunjuk tas selempangnya yang tergeletak tak jauh dari pecahan vas. "Ponselku ada di dalam tas itu. Aku merekam semuanya dengan jelas."
Mata komandan polisi itu melebar. Ini adalah bukti emas yang mereka cari. Ia menoleh pada anggotanya. "Amankan ponselnya. Pakai sarung tangan lateks, pastikan tidak merusak sidik jari di tas atau mencemari data apa pun di dalam ponsel itu."
"Bagus sekali. Kamu sudah melakukan hal yang sangat berani. Tapi kita tidak bisa bicara di sini. Tempat ini sudah tidak aman. Kita harus mengevakuasimu ke markas sekarang juga," tegas komandan itu.
Satu jam kemudian, suasana beralih ke ruang interogasi di markas kepolisian pusat yang dingin. Cala duduk memeluk cangkir teh manis hangat yang diberikan seorang polwan. Pikirannya masih kacau balau. Gaun kerjanya kotor oleh tanah, rambutnya berantakan, dan lehernya sudah diperban oleh tim medis.
Pintu ruang interogasi terbuka berdecit. Komandan polisi yang menolongnya tadi masuk kembali. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari sebelumnya. Ia membawa sebuah map tebal berisi foto-foto dan berkas laporan.
Cala langsung meletakkan cangkirnya. "Bagaimana, Pak? Kalian sudah menangkapnya? Rekamanku cukup jelas untuk mengenali wajahnya, kan? Kita bisa menyebarkan fotonya ke media."
Komandan itu menghela napas berat. Ia menatap Cala dengan tatapan iba sekaligus sangat serius, lalu menarik kursi di seberang meja.
"Duduklah dulu, Cala," pinta komandan itu lembut.
Cala kembali duduk dengan perasaan tidak enak yang menjalar di perutnya.
"Rekamanmu memang sangat membantu kami mengidentifikasi postur, jenis senjata, dan gaya bertarungnya," jelas komandan itu panjang lebar. "Tapi pria tadi berhasil lolos dari kepungan. Dan mengenai identitasnya... wajahnya tertutup masker khusus yang membiaskan cahaya kamera. Lensa ponselmu tidak bisa menangkap detail wajahnya sama sekali."
Cala meremas kedua tangannya sendiri di atas meja besi. "Lalu bagaimana nasibku? Aku tidak punya tempat tinggal lain. Kalian bisa mengirim petugas untuk berjaga di depan pintu apartemenku, kan?"
Komandan itu menggeleng tegas. Ia meletakkan map tebal itu di atas meja dan menopang dagunya.
"Tidak ada yang boleh kembali ke sana. Apartemenmu sudah terbongkar. Data dirimu, rutinitasmu, semuanya sudah bocor ke tangan mereka."
Cala menatap komandan polisi itu tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ruangan itu mendadak terasa hampa udara.
Komandan polisi menatap Cala lurus-lurus, wajahnya kaku menyiratkan bahaya besar. "Pelaku pembunuhan itu profesional. Mulai malam ini, nyawamu ada di daftar target utama."
berasa nonton adegan action