NovelToon NovelToon
ARSIP KISAH HOROR

ARSIP KISAH HOROR

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Apakah kalian yakin sudah mengetahui semuanya?

Perihal peristiwa-peristiwa gaib dan misteri yang selama ini membisu berkeliaran di celah-celah kehidupan. Kemari lah akan aku beritahu.

Ini adalah Arsip Kisah Horor.

Kisah-kisah horor yang tercatat rapi dan selama ini bungkam telah bangkit kembali untuk diceritakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAPAS BUANGAN Tersembunyi

Lapas Buangan. Sebuah penjara yang berada di salah satu pulau yang terletak di antara ratusan gugusan pulau lainnya.

Penjara itu sudah ada sejak zaman dahulu. Sejarahnya tempat tersebut dibangun oleh Belanda sebagai markas inteligen mereka. Ketika Jepang mengambil alih, tempat itu dijadikan sebagai penjara yang khusus untuk menyekap pejuang-pejuang tanah air yang dianggap sangat berpengaruh dan menjadi ancaman besar bagi para penjajah.

Sekarang bangunan tua yang masih sangat kokoh itu oleh pemerintah dijadikan sebagai salah satu penjara yang diperuntukan untuk narapidana dengan catatan criminal tingkat tinggi dan bermasalah ketika di lapas lain.

Tidak jadi tiga orang. Hanya Aris dan satu tahanan lainnya yang diberangkatkan. Seperti yang sudah diketahui salah satu tahanan di kelompok yang akan dipindahkan ke Lapas Buangan harus dicoret karena mengundurkan diri dengan memilih kematian.

Di waktu pagi yang masih dingin dan berkabut. Dua tahanan berbaju warna biru dengan tulisan TAHANAN di punggungnya beserta nomor identitas di dada kirinya digiring keluar dari sel mereka. Dengan tangan yang terborgol Aris dan tahanan satunya yang belum dikenalnya keluar dari lapas. Sebuah mini bus lengkap dengan para petugas lapas membawa mereka.

Mobil melaju. Dua penumpang khusus itu tidak bisa menikmati perjalanan. Aris dan tahanan satunya mengenakan penutup kepala yang membutakan penglihatan mereka.

Entah berapa lama waktunya. Akhirnya kendaraan khusus tahanan dengan kaca yang gelap dan tebal itu berhenti. Habislah waktu keduanya di dalam tunggangan yang turut dikawal ketat petugas lapas.

Mereka sampai di sebuah pantai yang terbunuh sepi tidak ada suara sama sekali. Yang bisa didengarkan oleh Aris hanyalah suara dari gerakan-gerakan para petugas lapas yang mengawal mereka. Suara mobil yang mengantar mereka yang berhenti tanpa mematikan mesinnya langsung berlalu pergi meninggalkan Aris dan satu tahanan lainnya.

Yang begitu terasa adalah suara angin laut yang kencang. Dan pasir pantai yang semenjak ia turun dari bus langsung menyambut telapak kakinya yang tidak beralas.

Mereka telah ditunggu.

“Jalan…”,

Dua tahanan yang masih dibutakan dengan kain penutup kepala itu diperintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan hingga kaki mereka sampai kepada bibir pantai menyentuh asingnya air laut. Terdengar juga suara mesin kapal yang hendak membawa mereka ke tujuan berikutnya.

“Buka penutup mereka”,

Sebuah instruksi diberikan untuk membuka penutup kepala dua tahanan yang dibawa.

Speed boat berkecepatan tinggi tengah melaju. Ada dua penjaga di dalam sana. Satu orang petugas yang tengah duduk sambil menikmati cerutu. Sementara satu penjaga lagi berdiri tegap dengan sikap siaga membawa senjata laras panjang ditangannya.

Dan untuk pertama kalinya Aris yang telah bisa melihat bertatap muka dengan tahanan satunya lagi yang sama-sama akan di pindahkan ke lapas yang baru bersamanya.

Aris dibuat salah paham dengan sikap narapidana di hadapannya yang bersikap berbanding terbalik tidak sama seperti ketika di lapas sebelumnya. Meski tidak saling kenal Aris mengetahui sepak terjang napi bernomor 041 itu yang begitu bengal ketika di penjara. Selain suka bikin rusuh orang itu juga kerap melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap napi lainnya.

Tapi sekarang situasinya sungguh berbeda. Dari raut mukanya yang penuh bekas luka itu ia terlihat sangat ketakutan. Keringat dingin, panik dan tidak bisa diam.

“Kenapa bang? Sakit?”, tanya Aris lirih.

“Memangnya kau tidak tahu kita mau dipindahkan kemana?”, orang itu balik bertanya kepada Aris.

“Izin Pak”, kata narapida itu kepada penjaga.

“Mau apa kau?”, tanya penjaga.

“Izin Pak. Saya mau buang air kecil”, ucap tahanan yang sepertinya telah kehilangan keberingasannya semenjak di atas kapal.

“Sana di luar. Ini kapal baru kemarin dibersihkan”, perintah petugas yang tengah duduk itu.

Penjaga yang berdiri dengan membawa senjata mengantarkan tahanan yang mau kencing itu keluar dari dek kapal. Dengan kedua tangan yang diborgol di depan tidaklah susah kalau hanya sekedar untuk buang air kecil saja.

“Byurrrrrrrrrrr…….!”,

Rupanya tahanan itu sama sekali tidak berniat untuk kencing. Tapi ia menolak untuk dipindahkan ke lapas yang baru. Ia lebih memilih mati tenggelam menceburkan diri ke dalam lautan yang begitu dingin.

“Kemana tahanannya?”, tanya petugas yang masih di dalam dek sewaktu penjaga yang bertugas mengantar napi untuk buang air kecil kembali seorang diri.

“Nyebur”, jawab penjaga yang sikapnya dingin itu.

“Mental lemah”, sahut petugas yang satunya lagi.

“Kamu tidak takut?”,

Pertanyaan itu ditujukan kepada Aris yang kini menjadi satu-satunya tahanan yang akan dipindahkan ke Lapas Buangan.

Mendengar pertanyaan itu Aris malah menjadi tampak bingung. Ia bertanya kepada dirinya sendiri kenapa mesti takut. Ia justru takut kalau salah memberikan jawaban kepada para petugas lapas yang tampak begitu sangar terlihat dari penampilan mereka.

“Jangan tegang, ini…”, kata petugas yang mengenakan topi memberikan sebatang cerutu kepada Aris.

“Santai saja”, katanya sambil menyalakan korek api untuk tawanan barunya.

“Siap Pak”, jawab Aris menikmati sebuah cerutu pemberian sang penjaga yang seketika berhasil menghangatkan tubuhnya yang kedinginan melaju di tengah lautan.

“Nama kau siapa?”, tanya sang penjaga.

“Aris Pak” jawab Aris.

“Kenapa kau masuk penjara?”, tanya penjaga.

“Membunuh Pak”, jawab Aris.

“Kenapa kau masih muda bukannya sekolah malah bunuh orang?”, tanya penjaga.

“Saya hanya membela diri Pak”, jawab Aris.

“Nama aku Romi. Yang bawa senapan laras panjang itu namanya Pak Gilang. Kalau kamu berniat kabur kamu bisa didor dari jauh sama dia. Yang mengendarai speed boot di kabin depan namanya Yosi,” Pak Romi selaku kepala Lapas Buangan memperkenalkan anggotanya.

“Kau masuk Lapas Buangan baik-baik ya. Tidak usah aneh-aneh. Tidak usah berulah. Apalagi sampai berniat kabur”, lanjutnya.

“Siap Pak”, jawab Aris.

Wajar bila Aris terlihat biasa saja ketika hendak dipindahkan ke Lapas Buangan. Aris yang baru beberapa minggu di penjara masih lah hijau soal rumor-rumor tentang dunia di dalam dinding bui. Apalagi memang ia baru pertama kalinya masuk penjara. Ia juga bukanlah anak berandalan yang sering bergaul dengan teman-teman dari dunia kriminal. Aris sama sekali tidak tahu menahu terkait berita-berita mengenai Lapas Buangan.

Penjara di atas laut yang sudah membuat dua tahanan lainnya bersedia mati supaya tidak masuk ke sana.

1
😱
serem
💞
baru bab 1 aja udah bikin merinding 😱😱😱
Mas Seiyo
manng eak
Kartini Kartini
waw serem
Romi Tama
menakutkan
Herlina Lina
serem
Herlina Lina
br bab awal aja udah serem
olenk3
oke lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!