Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Badai Datang dari Laut
Hari-hari berlalu dalam kesiagaan yang tenang. Tidak ada suara terompet perang, tidak ada awan debu yang mengepul di jalan. Namun udara di Karimun terasa berubah — menjadi lebih berat, lebih sunyi, seolah alam pun menahan napas menanti sesuatu yang besar akan datang.
Laras tidak membiarkan ketakutan menguasai rumah itu. Setiap pagi, ia tetap bangun saat fajar menyingsing, menyiapkan sarapan, merawat tanaman obat di halaman, dan tersenyum seolah tidak ada apa-apa yang mengancam di luar sana. Namun matanya lebih sering menatap ke arah laut lepas, dan tangannya sesekali meraba dada kirinya — tempat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dika memperkuat pintu dan jendela rumah kayu itu. Ia menyiapkan bekal, air bersih, dan obat-obatan cukup untuk beberapa hari. Ia tidak membawa senjata tajam yang terlihat mencolok, namun di balik pakaian hariannya, terselip sebilah belati yang selalu terasah baik — warisan yang dijaganya bukan untuk memulai pertumpahan darah, melainkan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.
Dan Bayu... Bayu tumbuh menjadi pemuda yang semakin tenang. Ia tidak banyak bertanya, tidak banyak mengeluh. Setiap sore, ia duduk di tepian pantai, menatap cakrawala dengan pandangan yang tajam dan waspada. Ia belajar membaca arah angin, membentuk tanda-tanda di pasir, dan menghafal setiap jengkal jalan setapak di sekitar rumah. Laras melihatnya, dan hatinya terasa perih sekaligus bangga — putranya sedang bersiap menghadapi sesuatu yang seharusnya belum perlu dihadapi di usianya.
Matahari terbenam dengan warna merah darah yang menyelimuti langit barat. Ombak berdebur lebih keras dari biasanya, memukul pantai dengan ritme yang gelisah. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang tajam dan sesuatu yang lain — bau asap kayu bakar dari arah kejauhan, yang seharusnya tidak ada di sana.
Laras berdiri di beranda, menatap laut yang mulai gelap. Di sampingnya, Dika berdiri diam, tangannya perlahan meremas bahu istrinya.
"Mereka datang," bisik Dika pelan.
Laras mengangguk perlahan. "Aku merasakannya. Angin membawa bau niat buruk."
Di kejauhan, di permukaan air yang mulai memantulkan cahaya rembulan, tampak bayangan-bayangan gelap yang perlahan mendekat. Bukan satu perahu. Bukan dua. Melainkan puluhan perahu besar yang berlayar tanpa suara, membelah ombak menuju pantai Karimun.
Bayu berlari mendekat, napasnya sedikit memburu namun suaranya tetap tenang. "Mereka sudah mendarat di pantai sebelah barat. Ada banyak orang. Mereka membawa obor."
Laras menatap putranya. Cahaya dari obor-obor yang mulai menyala di kejauhan memantul di mata mereka bertiga. Tidak ada yang berbicara. Namun di dalam keheningan itu, ketiganya saling memahami.
"Kita tidak akan lari," ucap Laras akhirnya, suaranya tegas dan jernih, terdengar jelas meski ditelan suara deburan ombak. "Rumah ini adalah rumah kita. Tanah ini adalah tanah yang melindungi kita selama bertahun-tahun. Jika kita pergi, di mana lagi kita bisa berdiri tegak?"
Dika meletakkan tangan di bahu Bayu, lalu menatap Laras. "Maka kita berdiri bersama. Seperti yang selalu kita janjikan."
Pasukan itu tiba di depan rumah kayu mereka saat malam telah sepenuhnya menyelimuti bumi. Obor-obor menyala terang, menerangi halaman rumah hingga sepanjang siang. Puluhan orang bersenjata berdiri melingkar, membentuk pagar besi yang tak dapat ditembus. Dan di tengah mereka, berjalan seorang pria yang tampak masih berusia muda, namun wajahnya dingin dan penuh keangkuhan. Jubahnya berwarna hitam legam, di dadanya terjahit lambang matahari yang terbalik — tanda bahwa ia bukan lagi pengawal, melainkan penguasa yang telah berkhianat.
Pria itu berhenti di depan pintu rumah, menatap Laras yang berdiri tegak di ambang pintu, diapit oleh suami dan anaknya.
"Laras..." suaranya berat dan tajam, membelah keheningan malam. "Sudah lama kita tidak berjumpa. Atau mungkin... kau sudah lupa wajahku?"
Laras menatap pria itu lekat-lekat. Di balik wajah yang berubah dan tatapan yang penuh kebencian itu, perlahan ia mengenali garis-garis wajah yang dulu pernah dilihatnya puluhan tahun silam.
"Arga..." gumam Laras pelan. "Anak laki-laki... sahabat Sena."
Pria itu tertawa sinis, suara tawanya terdengar pahit dan dingin. "Benar. Aku Arga. Dan Sena... Sena yang kau sebut sahabat itu... ia mati sendirian di gua yang lembap, memikirkan kesetiaannya yang tak pernah kau hargai."
Laras merasakan darahnya mendidih, namun ia tetap berdiri tegak, tak membiarkan kemarahannya menguasai akal sehat. "Kau datang ke sini hanya untuk membicarakan masa lalu? Atau kau datang untuk sesuatu yang lain?"
Arga melangkah maju selangkah, matanya menyala penuh ambisi. "Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kunci Kerajaan. Serahkan sekarang, dan mungkin... aku akan membiarkan keluargamu hidup."
Laras menatapnya tenang. "Aku sudah berkali-kali mendengar ancaman seperti itu. Dan aku sudah berkali-kali menjawabnya: benda yang kau cari itu tidak ada padaku. Dan sekalipun ada... aku tidak akan memberikannya kepada orang yang hatinya sudah gelap sepertimu."
Wajah Arga berubah merah padam karena amarah. "Kau kira aku tak berani membunuhmu? Kau kira kesaktianmu masih cukup untuk melawan seluruh pasukanku?"
"Aku tidak melawanmu dengan kekuatan, Arga," jawab Laras dengan suara yang tenang namun menembus ke hati setiap orang yang mendengarnya. "Aku melawanmu dengan kebenaran. Bahwa kekuasaan yang kau cari itu tidak akan pernah membuatmu bahagia. Bahwa emas dan permata tak akan bisa menghapus rasa takut yang kau rasakan setiap malam. Dan bahwa... meskipun kau membunuhku hari ini, kau tidak akan pernah bisa mengambil apa yang bukan milikmu."
Arga menggeram marah. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat kepada pasukannya untuk maju. "Kalau begitu... ambil paksa! Cari di mana saja! Dan bawa wanita itu kepadaku!"
Saat para prajurit itu melangkah maju, tiba-tiba Bayu melangkah keluar. Ia berdiri tepat di depan ibunya, tubuhnya yang masih muda dan belum sepenuhnya tumbuh berdiri tegak bagai pohon beringin muda.
"Berhenti!" teriak Bayu. Suaranya belum sepenuhnya berat, namun bergema jelas di seluruh halaman, membuat langkah para prajurit itu terhenti seketika. "Kau boleh mengambil apa saja yang kau inginkan. Tapi kau tidak boleh menyakiti orang tuaku. Selama aku masih berdiri di sini..."
Bayu menatap lurus ke mata Arga, tanpa rasa takut sedikit pun.
"...kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Keheningan menyelimuti tempat itu. Arga tertegun, menatap anak laki-laki itu dengan mata terbelalak. Ia melihat keberanian yang tak masuk akal di mata anak itu — keberanian yang tak lahir dari kesombongan atau ketidaktahuan, melainkan dari cinta yang begitu dalam sehingga rasa takut pun tak berdaya melawannya.
Laras menarik napas dalam-dalam, hatinya bergetar hebat. Ia ingin menarik putranya ke belakang, namun ia tahu — jika ia melakukannya, maka semua yang telah ia ajarkan selama ini akan kehilangan maknanya.
Arga menatap Bayu lama, lalu tiba-tiba tertawa keras. Tawa yang penuh kemarahan dan ejekan.
"Berani sekali kau, anak kecil!" bentaknya. "Kau pikir keberanianmu saja cukup menghadapi pedang tajam?"
"Pedang bisa memotong leherku," jawab Bayu dengan tenang. "Tapi ia tidak bisa memotong kebenaran. Dan ia tidak bisa mematahkan ikatan kasih sayang kami. Kau boleh membunuhku. Tapi kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti kami. Karena kau tidak memiliki apa yang kami miliki."
Arga terdiam. Sesuatu di dalam dadanya seakan terhantam keras. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam kesepian yang penuh ambisi. Ia membunuh, mengkhianati, dan berjuang demi kekuasaan yang ia yakini akan membuatnya bahagia. Namun di hadapan anak kecil ini, tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: bahwa sekuat apa pun ia, sebanyak apa pun harta yang ia miliki... ia tetap sendirian. Dan kesendirian itu adalah hukuman terberat baginya.
Namun kebencian yang telah tertanam begitu dalam tak bisa hilang begitu saja. Arga menggeram, mencoba mengusir keraguannya.
"Pergilah!" bentaknya kepada pasukannya. "Serbu! Ambil paksa! Dan jika perlu... bunuh semuanya!"
Saat para prajurit itu kembali bergerak maju, Dika melangkah berdiri di samping Bayu. Laras berdiri di sisi lain. Ketiganya berdiri berdekatan, membentuk satu barisan yang tak tergoyahkan. Tidak ada senjata yang terangkat. Tidak ada ancaman yang diucapkan. Mereka hanya berdiri tegak, bersatu hati, menatap ratusan mata yang menatap mereka dengan niat buruk.
Namun sesuatu yang aneh terjadi. Semakin dekat para prajurit itu, semakin mereka merasa berat untuk melangkah. Sesuatu yang tak kasat mata seakan menahan mereka. Tatapan Laras yang tenang namun penuh wibawa, keteguhan Dika yang tak tergoyahkan, dan keberanian Bayu yang murni — semuanya menyatu menjadi satu kekuatan yang tak terlihat namun sangat nyata, membuat siapa pun yang mendekat merasa tak sanggup untuk mengangkat senjatanya.
Banyak dari para prajurit itu yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang dipaksa ikut. Mereka mendengar nama Laras. Mereka mendengar cerita tentang kebaikannya. Dan saat melihat keluarga itu berdiri bersatu tanpa rasa takut... hati mereka perlahan goyah.
Salah satu prajurit itu akhirnya menurunkan pedangnya. Lalu yang lain. Satu demi satu, hingga akhirnya hampir separuh pasukan itu berdiri diam, menurunkan senjata, tak berani melangkah maju lagi.
Arga melihat hal itu. Wajahnya menjadi pucat karena amarah yang meluap-luap. Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali. Bahwa kekuatan yang dimiliki keluarga itu jauh lebih besar daripada kekuatan pedang dan pasukan yang ia bawa.
"Kau..." geram Arga menatap Laras dengan mata yang menyala penuh kebencian sekaligus keputusasaan. "Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan pernah menyerah!"
"Menyerahlah, Arga," ucap Laras lembut namun tegas. "Kau sudah berjuang terlalu lama untuk sesuatu yang tidak akan pernah membuatmu bahagia. Berhentilah sebelum semuanya hancur."
Arga menggelengkan kepalanya hebat. Ia mundur perlahan, menatap mereka dengan tatapan yang penuh kepahitan. "Aku pergi sekarang. Tapi ingatlah... ini belum selesai. Aku akan kembali. Dan saat itu... aku akan datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar!"
Dengan langkah lebar dan penuh amarah, Arga berbalik dan berlari menuju perahunya. Sebagian pasukannya mengikutinya dengan tergesa-gesa. Sebagian lainnya tetap berdiri diam, lalu satu per satu meletakkan senjata di tanah, melangkah mendekat, dan memberi hormat kepada Laras dengan pandangan penuh rasa hormat.
Malam itu, badai fisik memang berlalu. Namun Laras tahu... badai sesungguhnya belum usai. Ancaman itu masih ada. Musuh itu masih hidup, dan ia pasti akan kembali dengan rencana yang lebih gelap.
Namun saat itu, saat obor-obor perlahan padam dan keheningan kembali menyelimuti rumah kayu mereka, Laras menatap suami dan anaknya. Di bawah cahaya rembulan yang kembali bersinar terang, ketiganya saling merangkul erat. Tidak ada yang berbicara. Namun di dalam pelukan itu, mereka merasakan satu hal yang sangat dalam: bahwa selama mereka tetap bersatu, selama hati mereka tetap baik dan teguh... tidak ada badai yang mampu merobohkan mereka.
Karena akar mereka telah merasuk begitu dalam. Dan cinta... cinta adalah kekuatan terbesar yang tak akan pernah dapat dikalahkan oleh kebencian apa pun.
Bersambung...