NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 27

"Mas! Akhirnya kamu datang! Aku panik banget, Mas. Alisha, tangannya terluka, coba lihat nih!" katanya sambil menunjukkan tangan Alisha yang sebenarnya sudah dibebat perban.

"Kenapa Alisha?"

"Dia kesiram air panas di sekolah, Mas. Ada anak nakal yang bikin tangan anakku sampai kayak gini," adunya melebih-lebihkan.

"Kok bisa? Terus gimana?"

"Ceritanya panjang, sejak kemarin aku mau hubungi kamu tapi gak kamu jawab. Udah aku selesaikan kok, aku juga udah minta ganti rugi sama ibunya."

"Oh, baguslah. Maaf ya, Sayang. Mas lagi banyak banget pekerjaan di kantor," ucapnya sambil membelai kedua pipi Alina mesra.

"Eh, Mas, tanganmu kenapa? Kok lebam dan berdarah gini sih?" tanya Alina sedikit panik saat melihat noda merah di punggung tangan Hasya.

Hasya sendiri tak menyadarinya, agaknya lebam itu disebabkan karena ia memukul lemari saat bertengkar dengan Maura tadi sore.

Pria itu menghela napas panjang, lalu duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya. Kepalanya menengadah, Alina yang paham situasi langsung meminta Alisha untuk ke kamarnya.

"Kamu lagi ada masalah ya Mas?" tanya Alina pelan, sambil mengusap-usap bahu Hasya dengan lembut. Tak lupa, ia ambil kotak p3k dan mengobati punggung tangan Hasya yang terluka itu.

Hasya menoleh, punggung tangannya baru terasa perih saat Alina mengolesinya dengan obat merah. "Makasih, ya, Sayang. Kamu memang perhatian."

"Udah seharusnya dong, Mas." Setelahnya, Alina menempelkan plester pada luka Hasya. "Nah, udah selesai," kata Alina dengan bangga.

"Jadi?" tanyanya setelah beberapa saat mereka habiskan dengan diam.

Hasya menoleh, "Kami bertengkar."

"Karena apa?"

Menarik napas panjang, Hasya lalu berkata, "Maura menjual perhiasannya, aku marah lalu memukulnya."

"Astaga, Mas, kamu serius? Terus gimana?"

"Ya begitulah, dia bilang terpaksa menjual perhiasan itu. Aku marah karena perhiasan itu adalah pemberianku. Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi, aku pusing jadinya!" kata Hasya dengan nada agak tinggi.

"Ya sudah kalau gitu, aku juga gak akan tanya hal itu lagi. Tapi, Mas ...." Alina sengaja menjeda ucapannya, sedikit ragu untuk menanyakan hal yang menurutnya kurang tepat jika dibicarakan di saat seperti ini.

"Apa? Bicara yang jelas."

"Kapan kita menikah?"

Deg!

Belum selesai satu perkara, datang lagi perkara yang lain. Hasya tampak frustasi dan mengacak rambutnya asal. Mengapa perempuan-perempuan di sisinya selalu membuatnya pusing?

"Aku belum tahu, Maura memilih bercerai sebagai pilihannya," jawabnya sendu. Sebenarnya, ada setitik rasa bersalah yang menyentil hati kecil Hasya, ia pun tak rela jika harus berpisah dengan Maura, namun kecantikan Alina membuatnya mudah sekali berpaling ke lain hati.

Keindahan paras, membuat jiwa lelakinya serakah. Seolah ia bisa menggenggam keduanya sekaligus. Padahal diri tak memiliki kemampuan untuk itu.

"Kalau gitu kenapa kamu gak gugat cerai Maura? Dengan begitu, kalian akan lebih mudah untuk bercerai," ujar Alina mulai jengkel dengan Hasya.

Hasya menggeleng kuat, "Gak, aku gak bisa dan gak mau menggugat Maura."

"Kenapa? Kamu masih mencintainya? Bukannya kamu bilang kamu gak cinta istrimu itu?" Alina benar-benar tak habis pikir dengan Hasya.

"Gak semudah itu, Sayang. Kalau aku yang menggugat cerai Maura, biaya pengadilan itu cukup besar, belum lagi aku harus mengeluarkan biaya lain pasca perceraian, sedangkan kamu tahu sendiri, tabunganku sudah habis untuk membeli rumah dan mobil untuk kamu."

Sesaat, Alina terdiam.

"Sabar dulu, ya, Sayang. Kita tunggu Maura menggugat cerai aku baru kita bisa menikah."

"Kita langsung nikah aja, Mas. Bukannya laki-laki tetap bisa menikah walaupun belum bercerai."

•••

"Kenapa sih Jee? Kok murung gitu," tanya Anin saat pelajaran selesai. Biasanya, Jee akan aktif bertanya selama jam pelajaran berlangsung, tapi kali ini, perempuan itu lebih banyak diam dan tampak lesu.

Jeehan mendongak, "Gak apa-apa kok, Nin, aku cuma lagi capek aja," jawabnya dengan lesu.

Anin semakin menangkap gelagat yang tak biasa. "Kalau gitu, ke kantin, yuk?" ajaknya bersemangat.

Meski malas, Jee tak enak hati menolak ajakan Anin. Keduanya berjalan ke kantin, ikut memadati tempat yang menjadi surga bagi para siswa itu.

"Ya Allah, Nin, penuh banget kantinnya, balik lagi yuk!" ajak Jee tak tahan melihat kerumunan siswa itu. Mendadak selera makannya hilang.

"Iya, Jee, kita ke koperasi aja kalau gitu." Jeehan mengangguk lalu mengikuti langkah Anin dengan tertunduk.

"Beneran gak apa-apa? Gak mau cerita nih?" tanya Anin saat mereka akhirnya berhasil menjauhi kantin.

Jeehan mendongak, "Iya, aku gapapa kok, emangnya mukaku kelihatan sesedih itu ya?"

"Banget, kelihatan banget! Makanya gue merasa aneh, biasanya Jeehan yang gue kenal itu always senyum, ceria, happy. Pokoknya positive vibe banget deh, nah hari ini agak beda nih."

Jeehan mendadak gugup. Anin memang mengenalnya lebih baik dari dirinya sendiri. "Mau cari tempat sepi buat modjok?" Tanpa menunggu persetujuan dari Jee, Anin langsung menarik lengan perempuan berhijab putih itu. Membawanya ke taman, Anin tahu bahwa Jee sangat membutuhkan bahu untuk bersandar. Walau barang sejenak untuk meluapkan kesedihan yang ia tutupi dengan rapat.

Namun, hal yang tak pernah ingin mereka lihat berada di sana. Keduanya terhenti di tempat, tak lagi berani melangkah meski hanya sejengkal. Jantung Jee berdetak cepat tak tentu. Hal yang pertama ia rasakan adalah sesak. Sedangkan Anin, tertegun dengan apa yang dilihatnya.

"Aku ... aku mau ke kamar mandi," kata Jee langsung berbalik pergi. Matanya sudah menggenang.

"Jee! Tunggu Jee!" Dengan cepat Anin menyusulnya. Meskipun Jee tak mengatakannya secara langsung, tapi Anin paham sekali bahwa Jee tengah terluka hatinya. Siapa yang tak terluka hatinya saat melihat seseorang yang paling dicintainya memeluk perempuan lain?

Di kamar mandi sekolah, Jeehan menangis sejadi-jadinya. Meski Anin sudah mengetuknya berkali-kali, Jee tetap tak menggubrisnya.

"Jee? Are you okay? Maaf, gue gak tahu kalau ada mereka di sana. I'm so sorry, okay? Gue bakal tunggu lo di luar sampai lo merasa lebih lega," katanya serius.

Tak lama dari itu, Jee akhirnya membuka pintu. "Ku gak apa-apa kok, Anin. Aku cuma kelilipan," katanya beralasan. Padahal, meskipun Jee tak mengatakannya, Anin tahu bahwa Jee sedang gam baik-baik saja.

"Jee, lo gak bisa membohongi diri lo terus-menerus kayak gini. Lo harus bisa mengakui perasaan lo, atau gak, lo akan terus terluka dan kecewa."

Jeehan menggeleng kuat, "Gak bisa, Nin, aku gak bisa." Hatinya memang terluka, tapi itulah prinsipnya. Dan akan ia pegang teguh.

"Kenapa? Kenapa gak bisa?" tanya Anin, ia selalu penasaran dengan keputusan Jee untuk mencintai dalam diam, padahal ia memiliki banyak peluang untuk menyatakan cintanya jika saja Jee mau. Tapi Jeehan tidak pernah melakukannya.

Saat Anin menanyainya, maka Jeehan akan menjawab dengan tegas.

"Karena aku tidak mau membawa cintaku ke jalan yang tidak direstui-Nya."

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!