Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sujud yang Membongkar Kebenaran
Langkah kaki Rayyan terasa begitu berat dan gemetar saat ia menapaki jalanan gang menuju rumah Dinoyo. Sisa-sisa rasa pening di kepalanya masih terasa berdenyut, namun rasa takut yang bergemuruh di dadanya jauh lebih menyiksa. Sepanjang perjalanan di dalam angkutan kota, ia tidak berhenti meremas kedua telapak tangannya yang dingin, melafalkan istigfar dan doa-doa pendek yang ia hapal, memohon agar rumah tangganya diselamatkan dari badai yang sama sekali tidak ia mengerti ini.
Begitu sampai di depan pagar, Rayyan sempat terpaku. Rumah itu tampak begitu tenang. Aroma harum bunga mawar dari sudut teras tempat usaha RayyZa Florest berembus pelan, seolah menyambut kepulangannya dengan kelembutan yang biasa. Namun, ketenangan itu justru membuat dada Rayyan semakin sesak.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pagar besi yang berderit halus, lalu melangkah ke teras. Pintu depan ternyata tidak dikunci. Rayyan membuka pintu kayu itu perlahan, mengucap salam dengan suara yang serak dan bergetar.
"Assalamualaikum..."
Tidak ada sahutan langsung dari ruang tamu. Namun, saat Rayyan melangkah lebih dalam menuju ruang tengah, langkah kakinya seketika terhenti.
Di sana, di atas lantai yang dilapisi karpet tipis, Zaza sedang bersujud di atas sajadah merah marunnya. Gadis itu masih mengenakan mukena putih bersihnya. Bahunya tampak berguncang kecil, dan suara isak tangis yang tertahan lamat-lamat terdengar di keheningan ruangan. Zaza sedang mengadukan seluruh luka dan riuh batinnya langsung kepada Pemilik Semesta.
Melihat pemandangan itu, pertahanan Rayyan runtuh total. Air mata yang sejak pagi ia tahan di kamar hotel akhirnya tumpah. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya seperti godam besar. Ia tidak berani mendekat, ia merasa terlalu kotor bahkan hanya untuk menginjak sajadah yang sama dengan istrinya. Rayyan bersimpuh di lantai, beberapa langkah di belakang Zaza, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang sarat akan air mata, hingga akhirnya Zaza menyelesaikan sujud panjangnya. Ia duduk bertumpu, membaca selawat pelan, lalu perlahan memalingkan wajahnya ke belakang. Netra teduhnya yang tampak sembap dan merah menatap langsung ke arah Rayyan yang sedang bersimpuh layu dengan bahu yang naik turun menahan tangis.
Zaza tidak berteriak. Ia tidak melempar barang, tidak juga melayangkan makian yang menguras emosi. Dengan ketenangan seorang Penyulam Aksara, ia perlahan membuka mukenanya, menyisakan jilbab instan yang menutup dadanya, lalu bergeser mendekati suaminya.
"Mas... kamu sudah pulang?" tanya Zaza, suaranya mengalun sangat lembut namun terdengar begitu rapuh, memecah kesunyian di antara mereka.
Rayyan mendongak, matanya yang merah menatap Zaza dengan pandangan penuh permohonan ampun. "Za... Demi Allah, Za... Aku... aku gak tahu apa yang terjadi semalam," ucap Rayyan terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku bersumpah demi nama Allah, aku gak pernah punya niat sedikit pun untuk mengkhianati kamu, mengkhianati pernikahan kita. Semalam... Ghea bilang maag-nya kambuh parah di restoran. Aku cuma berniat mengantarnya sampai depan kamar hotel karena dia lemas. Tapi setelah dia kasih aku segelas minuman karena aku haus... kepalaku langsung sakit banget dan semuanya gelap. Pagi ini aku bangun sudah di kamar itu sendiri, dan Ghea sudah pergi ke Jember."
Rayyan menunduk dalam, air matanya menetes ke atas lantai. "Jas hitamku bau parfum dia, Za. Dua kancing kemejaku terbuka. Aku... aku takut kalau aku sudah melakukan hal sehina itu tanpa sadar. Maafkan aku, Za... Maafkan aku..."
Zaza menatap Rayyan dengan lekat. Di dalam benaknya, bayangan foto-foto laknat yang dikirimkan Ghea semalam kembali terlintas. Foto kemeja terbuka, rambut acak-acakan, dan jas yang tergeletak di lantai. Semuanya sangat pas dengan apa yang diceritakan Rayyan barusan tentang kondisi fisiknya saat terbangun.
Zaza menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sisa sesak di dadanya. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pundak Rayyan yang gemetar.
"Mas, lihat aku," ucap Zaza lirih namun tegas.
Rayyan perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Semalam... Mbak Ghea mengirimkan beberapa foto ke WhatsApp-ku," kata Zaza tenang, membuat jantung Rayyan rasanya berhenti berdetak seketika. "Foto kamu di atas ranjang bersama dia, dengan kemeja terbuka dan rambut acak-acakan. Dia bilang... kamu lebih memilih masa lalumu dengannya."
"Nggak, Za! Itu fitnah! Aku gak—" Rayyan panik, ia hendak bersujud di kaki Zaza untuk meyakinkan.
"Dengarkan aku dulu, Mas," potong Zaza lembut, menggenggam jemari tangan Rayyan yang sedingin es. "Semalam, saat foto itu masuk, hatiku rasanya hancur berkeping-keping. Ego wanitaku menyuruhku untuk marah, mengemas barang, dan pergi dari sini. Tapi di atas sajadah ini, Allah menenangkan hatiku. Aku mengingat kembali bagaimana perjuanganmu bersujud di sepertiga malam selama ini untuk memperbaiki diri. Aku mengingat bagaimana kamu menjaga batasan mahram dengannya di depan pagar rumah ini beberapa hari lalu."
Zaza tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca-kaca. "Laki-laki yang sudah merasakan manisnya iman di sepertiga malam tidak akan pernah menjatuhkan dirinya ke dalam kehinaan secara sadar, Mas. Aku memperhatikan foto itu dengan kepala dingin. Wajahmu sangat pucat, matamu terpejam kaku, bukan seperti orang yang sedang sadar. Dan cerita darimu pagi ini membuat semuanya menjadi jelas. Kamu dijebak, Mas. Minuman yang diberikan Mbak Ghea... itu pasti bukan minuman biasa."
Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Zaza, Rayyan merasa sebuah beban seberat gunung mendadak diangkat dari dadanya. Air mata kesedihannya kini berubah menjadi air mata haru dan syukur yang luar biasa. Ia tidak menyangka, di saat dunia luar mencoba menghancurkannya dengan fitnah yang begitu keji, istrinya justru berdiri tegak menjadi benteng kepercayaan yang paling kokoh berkat mata batinnya yang suci.
Rayyan langsung membawa Zaza ke dalam dekapan hangatnya, mendekap tubuh istrinya dengan erat seolah takut kehilangan separuh jiwanya. "Terima kasih, Za... Terima kasih karena sudah percaya sama aku. Terima kasih karena sudah menjaga rumah kita dengan doamu."
Zaza membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Rayyan yang berdegup kencang. "Kita hadapi ini sama-sama, Mas. Muslihat manusia mungkin bisa merancang skenario yang rapi, tapi mereka lupa... bahwa di atas hamparan sajadah sepertiga malam, skenario Allah jauh lebih berkuasa untuk membongkar seluruh kebenaran."
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe