Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggemar
Gelcira tidak mengetahui kalau Amara sedang umroh. Maka keesokan harinya bukan Amara yang datang melainkan Keysha, hatinya pun menjadi kesal.
“Datang tak diundang, pergi tak diantar. Mengapa juga kamu yang ke sini,” gerutu Gelcira dalam hati, pada gadis yang kini melenggang dengan tenangnya ke ruang tamu.
“Apa kabar, Tante,” sapanya dengan penuh percaya diri.
“Baik. Tumben ke sini?” tanyanya dengan cuek.
“Aku punya sesuatu untuk tante,” kata Keisha sambil menyodorkan paper bag kepada Gelcira. Jika kemarin dia gagal meminta dukungan Om Gabriel. Kali ini dia akan mencoba untuk mendekati tante Gelcira. Siapa tahu berhasil. Dan dia bisa dekat lagi dengan Yordan. Pacar lama tak boleh lepas.
“Apa ini?” tanya Gelcira.
“Tas keluaran terbaru, Tante.”
“Wah kamu tahu saja selera tante,” kata Gelcira dengan raut wajah yang sangat gembira. Sekedar basa-basi, agar tidak terkesan kalau dia tuan rumah yang buruk. Hehehe....
Padahal dia tahu, barang itu tak sebanding dengan tas yang dia berikan pada pemulung kemarin.
“Tapi sayangnya Tante sudah punya banyak tas seperti ini. Kalau Tante kasihkan ke Mama Johana. boleh nggak?”
“Ih... tas kayak gini mau dikasihkan ke aku. Nggak level banget. Dan aku pun nggak mau memberikan kepada Mama. Dikira menantu durhaka kali,” bisik Gelcira dalam hati.
Mau berkata terus terang, akan diberikan ke pemulung, rasanya terlalu kejam. Jadilah bilang kalau mau diberikan ke mertuanya.
Niat hati ingin menyenangkan tante Gelcira. Namun ternyata tante Gelcira malah memberikannya kepada Yohana. Orang yang tidak pernah dia pandang. Tapi untuk menutupi niat yang tersembunyi dalam hatinya, maka Keisha pun mengangguk.
“itu sudah menjadi milik tante. Jadi terserah tante, mau digunakan sendiri atau diberikan kepada orang lain, aku tidak punya hak untuk melarangnya,” kata Keysha dengan senyum yang amat dipaksakan.
“Terima kasih Keysha. Besok kalau ke sini bawa hadiah yang lebih bagus lagi ya. Seperti berlian, emas. Ya seperti itulah. Kan aku suka investasi. Kalau sekedar tas nggak bisa buat investasi. Kalau emas berlian, bisa diunduh lagi di masa depan. Atau saat kita kepepet, bisa dijual kan,” kata Gelcira dengan angkuhnya. Dia memang bernafsu sekali, memanas-manasi Keysha.
Dia ingin membuat Keysha kapok. Karena sudah berani membuat rumor yang tidak-tidak tentang dirinya.
“Eh iya, Tante,” kata Keysha dengan gugup.
Gelcira tersenyum puas. Rasanya lega karena bisa menumpahkan kekesalannya pada orang yang sudah bikin gara-gara pada ketenangan keluarganya.
Dia tak mau tertipu lagi, dengan kebaikan Keysha. Yang selalu punya-trik jahat untuk mencapai tujuannya. Sangat menyebalkan bukan?
Jahat dibalas jahat agar impas. Hehehe...
“Tante, Kak Yordan ada?”
“ Oooo... Kamu cari Yordan toh. Aku kira kau ke sini, akan mengajakku jalan-jalan,”
Keysha tersenyum hambar, bingung mau jawab apa.
Entah mengapa, Gelcira masih belum puas untuk mempermainkan Keysha. Begitu ada kesempatan, dia langsung punya ide untuk mengecoh Keysha. Namun akhirnya, dia tak tega.
“Ada tuh. Tapi dia sedang sibuk di ruang kerjanya.” Dia pun mengatakan keberadaan Yordan.
Keysha segera bangkit, ingin menemui Yordan di ruangnya. Namun dicegah oleh Gelcira.
Dia tak ingin Keysha berlaku seenaknya di apartemen putranya. Dia pun bangkit dan segera menemui Yordan.
“Yordan, penggemarmu datang tuh,” ucapnya dengan kesal.
Yordan yang saat itu sedang fokus pada layar komputernya, berhenti seketika.
Penggemar?...
Fokusnya terhenti sejenak. Dahinya berkerut, wajahnya tampak serius menanggapi ucapan dari mamanya. Namun kemudian dia sadar, kalau mama Gelcira sedang mempermainkannya.
Dia bukan artis. Mana mungkin dia mempunyai penggemar.
“Mama Gelcira ini ada-ada saja,” gumamnya dalam hati, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Yang dipanggil tidak datang-datang, kesabaran Gelcira pun hilang.
“Yordan, Apa kamu tidak kasihan pada Keysha. Penggemar sejatimu sejak dulu. Dia telah lama di sini, menunggumu,” kata Gelcira kemudian.
Oalah... Ternyata Keysha toh. Aku kira siapa. Ada urusan apa dia ke sini. Kurang kerjaan kali.
“Maaf Ma. Suruh lah menunggu. Kurang sedikit lagi nih, Ma,” kata Yordan pada Gelcira yang kini tengah berdiri di tengah pintu ruang kerjanya. Dia berusaha untuk menghindar, tak ingin menemui Keysha.
“Ya sudah. Yang penting Mama sudah sampaikan. Kalau dia mengambek, kamu tanggung sendiri.”
“Iya...ya...Ma. Nanggung banget nih, Ma.”
Gelcira pun meninggalkan Yordan dengan santai, tanpa beban. Yang penting adalah dia sudah menyampaikan tentang keberadaan Keysha. Masalah Yordan mau menemui atau tidak, bukan urusannya lagi.
Dia pun melenggang, meninggalkan Yordan, kembali ke ruang tamu, menjumpai Keysha yang sedang sibuk bermain handphone.
Dari kaca aquarium pembatas ruang tamu dan ruang keluarga Gelcira dapat melihat apa yang dilakukan Keysha pada handphonenya.
Wadalah...anak sekarang. Kurang kerjaan sekali, men-scroll gambar-gambar yang tidak perlu. Dan ber-selfie ria lalu upload. Nggak penting banget.
Tapi biarkan saja lah. Selama tidak mengganggunya, tak masalah. Gelcira pun meninggalkan Keysha begitu saja.
Keysha agak merasa aneh dengan sikap Gelcira kali ini. Mengapa Gelcira tidak lagi hangat ketika bertemu dengannya. Apalagi saat ia seakan dihalangi oleh Gelcira ketika akan menemui Yordan.
Apakah Gelcira ingin memisahkan dirinya dengan Yordan?
Dia yang memang sejak awal sangat cemburu dengan keberadaan Gelcira di samping Yordan, sakit hati.
Dulu Gelcira bisa diperdaya sehingga mereka menjodohkan Yordan dengan dirinya. Tapi kalau Gelcira menginginkan Yordan, dia pasti kalah. Karena dia tahu kalau sejak dulu Yordan tak punya rasa sedikit pun pada dirinya.
Begitu Gelcira beranjak menemui Yordan, dia segera mengambil handphone-nya. Dia merekam dari awal, semua yang Gelcira lakukan. Dari memanggil, sampai masuk ruang kerja. Lalu keluar dengan wajah yang agak masam. Semua tak luput dari perhatiannya. Sambil berpura-pura selfie, untuk menutupi aksinya.
Yordan yang telah selesai dengan pekerjaannya, dia pun keluar. Dia tak menyangka kalau Keysha masih ada di apartemennya.
“ Hei Keysha. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Pingin ketemu Tante. Jarang-jarang ada kesempatan.”
“Iya, mama selalu ikut Papa, ke mana pun pergi.”
“Jadi tak bisa sering bertemu. Tapi kangen-kangenannya makin mendalam.”
“Maksud mu?” Yordan menatap Keysha dengan tajam.
“Oh tidak. Tidak ada apa-apa kok.” Keysa tersenyum semirik.
“Keysha, dia adalah istri Papa. Jangan kamu sembarang menuduh orang.” Yordan mencoba bersabar. Dia tak ingin tersulut emosi hanya karena omongan orang yang sakit hati karenanya.
“Kakak, tak bolehkah aku curiga.”
Yordan geleng-geleng kepala.
“Apa gunanya kamu curiga. Itu akan membuatmu makin sakit.” Yordan mencoba menasihati.
Keysha menunduk sedih. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa Yordan sudah meninggalkannya. Itu saja.
🌺
Ding dong ...bel apartemennya berbunyi. Sepertinya orang yang dia suruh menghadap sudah datang.
Keysha terkejut melihat siapa yang datang.
“Fian.”Wajahnya berkerut. Apa hubungannya dengan Yordan
“Keysha. Kamu di sini, tho?” tanya Fian dengan tenang.
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️