Selamat datang di novel pertamaku.
IG Sept_September2020
Gagal menikah sekali, membuatnya patah hati berkepanjangan. Abbas yang sudah mengunci hatinya rapat-rapat, perlahan terbuka dengan sendirinya setelah bertemu dengan wanita yang tepat.
Bagaimana jika mantan pacar Abbas kembali dan mengusik pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelora jiwa
Suasana malam di kamar pengantin baru saat ini sangat mendebarkan. Di sebuah kamar apartment ini mereka akan menulis sejarah cinta mereka. Abas akan mulai menunaikan kewajibannya. Ia akan mengajak Mely melintasi ruang dan waktu, menikmati sensasi sakit dan perih yang bersamaan.
Melakukan hal yang lumrah untuk dilakukan pasangan pengantin baru di malam pengantin. Mungkin cukup terlambat bagi Abas dan juga Mely. Semuanya karena banyak drama yang terjadi dimalam malam sebelumnya.
Dengan sabar Abas menanti kesiapan dari Mely, ia tidak akan memaksa Mely melakukan dengan dirinya. Ia akan berusaha dengan telaten dan sabar. Hingga Mely datang padanya dengan sendiri tampa paksaan dan tekanan. Namun datang dengan Suka rela sepenuh hati.
Malam yang dingin menjadi saksi, Abas dan Mely kini telah memadu kasih. Menyatukan kedua jiwa dan raga mereka, merekatkan jalinan kasih melalui sentuhan sentuhan yang membakar gelora di dalam jiwa masing-masing.
Api cinta yang memanas di dalam tubuhnya seketika mencair, meleleh bersama keringat yang memenuhi dada Abas yang bidang. Ia begitu bersemangat, Karena semua yang tertahan selama ini tersalurkan. Hatinya yang berdesir kini telah menemui tuanya.
Dilihatnya Mely yang terlihat lelah tak berdaya, entah apa saja yang telah diperbuat abas padanya barusan. Yang jelas ada gurat kepedihan tergambar diwajahnya. Mely merasakan perih di sebagian tubuhnya rasa perih yang ia terima menjadi tanda, tanda bahwa ia telah selesai melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri untuk Abas.
Abas menciumi istrinya dengan lembut dan sayang, ia mengecup tiap inci tubuh Mely. Baginya Mely adalah hadiah terindah yang ia miliki. Ia berjanji untuk selalu membahagiakan istrinya seumur hidupnya. janji Abas didalam hati. Mely yang lemah lunglai tak berdaya mencoba untuk berdiri. Ia mau ke kamar mandi. Drama baru pun dimulai. Mely memasang muka melasnya di depan Abas saat ini.
" Sayang, kok sakit banget?" Mely menatap Abas dengan pandangan seperti menatap seorang penjahat.
"Ya katanya kan emang gitu Mely sayang," Abas tidak ingin di pandang sebagai seorang penjahat, ia mencoba memanis maniskan sikapnya. Seperti kucing jinak, padahal beberapa waktu yang lalu. Ia seperti singa yang kelaparan yang menatap Mely sebagai mangsa.
" Tahu begini, aku tunda aja tadi," ucapan Mely sambil meringis, Ia hanya bercanda.
Mely pun segera kekamar mandi. Ia mandi membersihkan seluruh tubuhnya. Dari ujung kepala sampai kaki. Abas juga akan mandi, ia berencana menyusul Mely. Niatnya dia batalkan, ketika ia menoleh disamping tempat tidur Mely. Matanya tertuju pada banyak bercak darah di atas seprai mereka.
Abas merasa bersyukur memilih Mely. Mely yang bisa menjaga kesuciannya selama ini. Membuat perasaan cinta dihati Abas semakin bertambah untuk sang istri.
Abas dengan telatennya kini menarik seprai dan bantal serta guling. Ia telah siap dengan seprai yang baru dicuci. Abas tidak menunggu Mely untuk mengantinya. Ia turun tangan langsung mengerjakan pekerjaan itu. Ia sudah sangat kasihan melihat Mely saat ini. Abas pun sadar siapa penyebab sekaligus pelaku utamanya. Selesai menganti seprai dengan yang baru dan bersih. Abas menuju kulkas. Ia mengambil beberapa minuman. satu untuk dirinya dan satu untuk sang istri.
Sesaat kemudian muncul lah Mely dari balik kamar mandi, Abas menatap Mely yang telah mengerai rambut panjangnya. Rambut basahnya dibiarkan terurai, ia kini duduk dimeja riasnya. Mely mengambil hairdryer dan mengeringkan tiap helai rambutnya. Abas melihat pemandangan itu perlahan berjalan mendekati Mely. Diambilnya hairdryer dari tangan istrinya.
" Sini, aku bantuin. "
Abas kini membantu mengeringkan rambut Mely. Hal hal kecil seperti ini sangat dinikmati oleh Abas.
"Sebelah sini belom!"
Mely menunjuk bagian kepalanya sebelah Kanan. Karena sedari tadi Abas hanya mengeringkan salah satu sisi saja.
"Sabar dong, kan memang belom. Ih.. kayaknya kamu jadi gak sabaran banget," goda Abas.
"Akibat perbuatan siapa ini?"
Mely balik menuduh dengan tatapan mengancam. Melihat reaksi Mely yang menurutnya mengemaskan saat ia goda, Abas membalik kursi Mely. Jadilah mereka berhadapan saat ini. Abas mulai memajukan wajahnya. Dikecupnya lagi Mely berkali Kali.
Mely yang masih memiliki sejuta rasa perih di tubuhnya, langsung mencubit lengan suaminya.
Abas langsung melepaskan Mely dan memberikan banyak senyuman penuh makna kepada sang istri.
" Makasih ya sayang, Love you!" Abas sudah mau nyosor lagi. Namun gagal seketika karena Mely menyetop bibir Abas dengan jari tangannya.
Keduanya sama sama tertawa, saling menetrawakan diri masing-masing. Setelah selesai mengeringkan rambutnya kini pandangan Mely tertuju pada seprai baru.
" Iya, tadi aku yang ganti. Habisnya banyak noda darahnya."
Sebelum ditanya, Abas udah jawab. Seakan Ia mengerti arti tatapan Mely. Sepertinya sudah semakin sehati saja mereka berdua ini.
"Hasil dari perbuatan siapa ini?"
Mely masih tidak terima dengan perih yang menderanya. Namun ia ucapkan dengan nada bercanda. Abas yang merasa mendapat intimidasi dari Mely hanya menyungingkan senyuman penuh arti di balik bibirnya.
" Gak papa sayang, berdarahnya cuma sekali kok. Perihnya juga sekali, nanti kita sering sering ya...biar gak sakit," goda Abas kembali.
Bukanya mendapat jawaban dari sang istri, Abas malah justru mendapat lemparan bantal dari Mely. Mely sudah sangat gemas dibuatnya. Abas sampai ampun ampun karena Mely sedari tadi menyerang dirinya dengan timpukan bantal berulang kali. Bagaimana tidak gemas. Abas dari tadi membuat candaan rasa sakit yang mendera sang istri.
" Hehehe...maaf maaf. ... Iya deh aku yang salah, gara gara aku hihihi." Abas berlalu ke kamar mandi. Kini giliran dirinya yang membersihkan diri.
Mely sudah menyiapkan pakaian Abas, Ia kini sedang berada di dapur. Terbiasa tinggal sendiri Mely sudah bisa memasak beberapa menu makanan. Tapi untuk rasa jangan tanya, Ia masih sangat amatir. Beberapa saat kemudian, nampak sudah siap hidangan di meja. Mely memasak dengan bahan seadanya. Karen ia baru saja tinggal di apartment Abas. Ia belum sempat berbelanja. Ia baru merapikan pakaian dan hal hal kecil lainnya belum sempat ke supermarkets.
Abas keluar dari kamar sudah rapi dan sangat ganteng menurut pandangan mata Mely. Ia berjalan menuju meja makan.
" Masak apa sayang?" tanya Abas tentang menu makan malam saat ini.
" Masak alakadarnya ya... Kita belum sempet belanja. Jadi aku masak dengan bahan yang ada," jawab Mely.
"Gak papa, Abis makan kita nanti ke supermarkets ya?" ajak Abas.
"Sip... !" Mely mengacungkan jempolnya kearah Abas.
Keduanya saat ini telah menikmati makan malam sederhana, biarpun sederhana bagi Abas ini akan menjadi makan malam yang sempurna untuk masa-masa yang akan datang. Karena biasanya ia hanya makan seorang diri, Ia lebih memilih menyibukkan diri dalam dunia kerjanya. Hal hal kecil seperti ini sangat ia rindukan. Karena Masa lalunya yang memiliki kedua orang tua selalu sibuk dengan urusan masing-masing, Abas seperti terabaikan.
Namun semua sudah terjadi, Ia tidak ingin larut dalam kenangan yang membuat sedih. Saat ini ia sudah hidup bahagia. Hidup bersama Mely istri yang sangat dicintai. Mereka akan mengukir hari Indah bersama.
Bersambung.
gk abis fikir aq
gek ono seng keri ternyata 😅