Bertemu kembali setelah terpisah sekian lama, perasaan cinta itu kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Mahes.
HAPPY READING...
***
"Arion, berangkat sama Papa saja ya... Mama ada pekerjaan sampai malam. jadi akan bawa mobil sendiri nanti..." bujuk Anna pada Arion yang tengah bersiap untuk menikmati sarapan paginya.
"Mama akan pulang malam lagi?". Kemarin pun Arion sangat lelah menunggu Anna di restoran. hingga ketiduran dan tidak tau kapan Anna pulang. Arion tidak suka hal itu. seperti Anna hanya mementingkan pekerjaan daripada anaknya.
terlihat sekali wajah penuh kekecewaan dari Arion. membuat Anna tentu saja merasa bersalah.
"Malam ini saja, oke? besok Mama akan pulang lebih awal..." janji Anna. memang saat ini ia tengah mengurusi pekerjaan yang begitu banyak. apalagi baru saja tercipta sebuah kerja sama dengan Perusahaan dimana Mahes bekerja.
Anna hanya tak mau membuat kerja sama itu berantakan.
Sean yang baru saja keluar dari kamar, ikut duduk bersama mereka. tak menanggapi masalah apa yang tengah terjadi antara ibu dan anak tersebut.
"Kamu tidak sibuk kan?" tanya Anna. membuat Sean mendongak mengamati Anna.
"Aku akan pulang malam nanti, temanin Arion dulu... dan aku sudah menyiapkan masaka di kulkas, tinggal hangatkan saat makan malam..." ucap Anna.
walaupun ia sibuk dengan pekerjaan, Anna tak lupa akan tugasnya sebagai seorang ibu.
Sejak tadi ia sudah memasak untuk makan malam Sean dan Arion nanti.
"Hm," jawab Sean singkat.
Kenapa? apa dia marah? Anna bingung dengan tanggapan Sean barusan.
Sarapan telah usai, Anna mereka bersama menuju ke Basement.
"Arion, sekolah yang pintar... oke?" ucap Anna langsung mencium pipi putranya bergantian dan masuk ke dalam mobilnya.
sedangkan Arion masuk ke dalam mobil Sean tanpa berkata apapun.
di Apartemen itu, keduanya berpisah. Anna lebih dulu keluar di susul Sean dengan mobil putihnya.
Matahari sudah mulai merangkak naik ketika Sean tiba di Perusahaan. langkahnya teratur dan berjalan menuju ke ruang kerjanya berada. di detik selanjutnya, sang Asisten pun mendekat. membacakan agenda yang akan Sean lakukan seharian ini.
Kenapa hanya diam?
Angga, itulah nama Asisten pribadi Sean. pria yang seumuran dengannya tapi sangat bisa diandalkan.
Dulu, Ayah Angga juga yang membantu Sean ketika awal-awal memimpin perusahaan. hingga pria itu mulai renta dan digantikan oleh Angga.
"Pak?" Angga mulai memberanikan diri untuk bersuara. memastikan apakah Bosnya itu mendengar jadwal yang ia bacakan atau hanya Angga sendiri yang seperti membaca dongeng pengantar tidur.
"Kau kenal Mahes?".
Terdengar sebuah nama terlontar dari mulut Sean.
Mahes? siapa? batin Angga bingung. sesekali ia kembali mengamati jadwal di Tab yang ia bawa. tak ada nama Mahes yang ia sebitka tadi.
"Anda inginkan saya mencari tahu informasi tentangnya?" tanya Angga. sepertinya memang begitu. ada pekerjaan lain yang harus ia lakukan saat ini. mencari tahu siapa itu Mahes dan segala sesuatunya.
Sean hanya diam, tapi menatap Angga dengan tatapan tajam. seperti ingin menerkam pria itu.
Eh?
"Baiklah, akan saya cari tau..." ucap Angga pada akhirnya. takut kalau Bosnya itu akan marah nanti.
Angga langsung undur diri. keluar dari ruangan Sean dengan terus memikirkan siapa Mahes yang membuat Sean penasaran kali ini.
Mahes? siapa dia? Bahkan sampai tempat duduknya, Angga masih mencoba berpikir. menarik bsnang secara runtut agar tak salah mencari Informasi.
Apa ada hubungannya dengan Nona Annara? hatinya bicara. karena Angga tau topik yang membuat Sean seperti ini hanyalah Annara, pelukis sekaligus mantan pacar Sean. sendiri.
Dengan banyak pertimbangan, pada akhirnya Angga telah memutuskan untuk mencari tahu siapa saja yang tengah dekat dengan Annara saat ini.
menggunakan kemampuannya di bantu oleh beberapa orang kepercayaannya, Angga mulai menyelidiki siapa Mahes yang membuat Bosnya penasaran itu.
Di tempat lain.
Anna baru saja datang ke sebuah Perusahaan cukup jauh dari kantornya berada. saat menginjakkan kakinya di Lobby, ada perasaan aneh merayapi hatinya. entah kenapa Anna merasa dag dig dug. inilah pertama kalinya ia menemui seseorang seorang diri.
Karena Mita yang sibuk, Anna benar-benar datang ke Perusahaan dimana Mahes bekerja hanya seorang diri.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang resepsionis menyapa kedatangan Anna pada gedung itu.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Mahes..." jawab Anna menjelaskan.
"Sudah membuat janji?".
Anna hanya mengangguk kepalanya. sebelumnya ia memang sudah mengabari Mahes tentang rencananya datang ke sini. hanya saja pria itu belum membalas pesan Anna sampai sekarang.
"Tunggu sebentar Nona...".
membuat Anna duduk di bangku yang sudah di sediakan sambil mengamati seluruh sudut gedung mewah itu.
Tak berapa lama setelah Resepsionis itu menelepon seseorang, Ada seseorang yang menyambut kedatangan Anna.
"Nona Annara?".
"Iya..." jawab Anna dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Silakan ikuti saya..." ucap pria itu dan langsung berjalan menuju ke Lift diikuti oleh Anna di belakangnya.
Angka di Lift terus naik sesuai dengan jumlah lantai yang ada di Perusahaan tersebut. hingga Lift berhenti diikuti dengan pintunya yang terbuka lebar.
Anna keluar dari sana. langkah kakinya masih mengikuti kemana pria di depan itu membawanya.
"Silakan..." ucap pria itu mempersilahkan Anna masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintunya lebih dulu.
Terlihat ruang kerja CEO di depan sana. Anna masuk tentu saja dengan detak jantung yang masih berpacu seperti tadi.
"Maaf Nona, saya tidak membaca pesan anda tadi...". Mahes pria itu langsung menyambut kedatangan Anna dengan permintaan maafnya.
sungguh pria yang sopan dan juga tampan.
Sedangkan Anna hanya membalas permintaan maafnya dengan sebuah senyum canggung.
"Saya datang untuk membawa ini..." jelas Anna tak berbasa-basi. menyerahkan berkas ke hadapan Mahes dan duduk di kursi yang telah disediakan.
"Terimakasih..." jawab Mahes dan menerimanya.
Sambil Mahes memeriksa berkas, Anna menunggu dengan sesekali mengedsrkan pandangannya.
Apa seperti ini ruangan pimpinan perusahaan? entah kenapa hak itu yang Anna pikirkan saat ini. membayangkan seperti apa ruang kerja Sean di Perusahaan. karena tak sekalipun Anna pernah datang dan melihatnya.
Ruang kerja yang mewah, dengan interiornya yang terkesan rapi dan enak di pandang.
Tanpa Anna sadari, Mahes juga sesekali mencuri pandang ke arah wanita itu. bahkan tersenyum entah apa alasannya.
"Hhmm...". Terdengar sebuah helaan nafas pelan. dan Mahes menyadari bahwa wanita di depannya itu sedikit jenuh berada di ruang kerjanya tanpa melakukan apapun.
"Bagaimana kalau kita membicarakannya sambil di taman bawah saja?" tanya Mahes.
"Bagaimana?". Anna yang memang tak memperhatikan pria itu menjadi gugup, lebih tepatnya bingung harus berkata apa.
Mahes tersenyum dan bangkit dari duduknya. ia sudah membaca berkas pemberian Anna tadi. hanya sedikit koreksi saja.
"Mari...".
Walaupun bingung dengan apa yang ingin Mahes lakukan, tapi Anna tetap mengikuti pria itu. keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke taman yang ada di samping Perusahaan.
"Saya sudah membacanya tadi," jelas Mahes. "Hanya ada sedikit yang harus dikoreksi..." lanjutnya.
"Kirim saja bagian yang perlu di koreksi, biar pihak dari kantor nanti yang akan membenahinya..." timpal Anna.
Wanita itu duduk di bangku taman sedangkan Mahes berdiri di sampingnya. satu tangannya masuk ke dalam kantong celana mengamati sekitar dengan kacamata yang masih bertengger di pangkal hidungnya.
"Bisa untuk tidak berbahasa formal seperti ini? aku merasa aneh..." keluh Mahes jujur. dengan senyum yang masih sama sopannya dengan yang tadi.
sungguh Ia seperti aneh saja berbicara dengan Anna menggunakan bahasa formal. walaupun pada kenyataannya memang antara Anna dan Mahes baru saja mengenal.
"Baik..." jawab Anna sama kakunya. dan keduanya pun tertawa canggung.
***