Terbit : 10 July 2020
Nama Author : Rizkaa
SLOW UPDATE!
Kehidupan mengajarkan kita untuk terus berjuang, sama halnya dengan gadis bernama Crystal. Ia hidup dengan penuh rintangan, kebohongan, ketakutan, dan terakhir yaitu kehilangan.
Saat ia sudah hampir merasakan bahagia, dunia seolah membalikkan kehidupan Crystal secara paksa. Ketakutan karna diancam dan kehilangan seseorang yang dicintainya, Crystal juga sudah melewatinya.
“Mom akan terus melindungimu, son.”
Kata terakhir sebelum ia benar - benar pergi dan kehilangan cintanya.
Ikuti terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan Like , Komen dan Votenya ya guys:)
Yuhuuu....
Enjoy baby!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizkaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi tahu
Harry dan Crystal sudah memasuki pekarangan butik milik Ellena, wajah mereka berdua terlihat begitu bahagia.
“Apa Aunty Ellena tidak mempunyai anak?.” Crystal memecah keheningan, yang semula terjadi diantara mereka berdua.
“Ada, tapi hanya anak angkat. Suami Aunty meninggal saat kecelakaan pesawat tiga tahun yang lalu.” Harry menatap Crystal sekilas lalu fokus kembali pada jalanan didepan.
Saat mereka sampai, Ellena terlihat berbincang dengan seorang wanita yang memunggungi Harry dan Crystal. Pembicaraan kedua wanita itu terlihat serius sehingga membuat Harry dan Crystal mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
“Kau tau siapa wanita itu?.” Crystal mencoba memfokuskan pada wanita yang berada dihadapan Ellena.
Harry menatap tubuh wanita itu secara keseluruhan, matanya pun membelalak sempurna. “Casie!.”
“Kau mengenalnya?.” Crystal menoleh, melihat Harry yang wajahnya berubah.
“Ehm, tidak. Aku tidak mengenalnya, ayo kita turun wanita itu sudah pergi.” Harry membuka self betnya, membuka juga untuk Crystal.
“Aunty...” Crystal berhambur memeluk wanita paruh baya yang masih segar itu. “Aku merindukanmu.”
Ellena membalas pelukan Crystal dengan senang hati, “Aunty juga merindukanmu, sayang.”
Harry hanya diam, ia masih memikirkan siapa wanita tadi. Harry meragukan penglihatannya, ia juga meragukan keyakinannya bahwa itu adalah Cassandra.
“Harry, apa yang kau pikirkan?.” Ellena menepuk bahu Harry berulang. “Kau memikirkan sesuatu?.”
Harry berdehem, “Tidak Aunty, aku sedang memikirkan pesta pernikahanku lusa.”
“Apa?! Kalian akan menikah secepat ini?.” Ellena terperanjat, ia memegangi dadanya.
“Iya Aunty, itulah alasan kami datang kesini.” Harry berusaha sebaik mungkin untuk terlihat tidak terjadi sesuatu.
“Masuklah, kita bicara didalam saja.” Ellena menggandeng tangan Crystal. “Crystal kau masuklah keruanganku terlebih dulu, aku ingin membicarakan sesuatu dengan Harry.”
Crystal mengangguk sebagai jawaban, ia diantar oleh salah satu karyawan Ellena kedalam ruangannya. Sementara Ellena, ia menyeret Harry ketempat yang sedikit sepi dari jangkauan orang.
“Cassandra, dia datang menemuiku.” Ellena menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka.
“Aku sudah tau, dia mengirimkanku surat bahwa dia sudah kembali ke London. Apa yang dia katakan padamu?.” Harry menatap serius wanita dihadapannya.
“Dia meminta bantuanku untuk mengajakmu bertemu minggu depan, dia menyesali semua yang pernah dilakukannya dimasalalu. Dia juga ingin memperbaiki hubungannya denganmu, tapi aku bilang padanya bahwa kau sedang sibuk akhir - akhir ini jadi akan sulit jika bertemu denganmu.” Ellena menjelaskannya dengan suara pelan.
“Apa dia tau bahwa aku akan menikah?.”
“Tidak, dia tidak membicarakannya atau bertanya padaku.”
“Itulah kenapa aku datang kesini, aku mempercepatnya karna khawatir Cassandra akan mengacaukan segalanya. Aku tau siapa dia, dia tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.” Harry mengeraskan rahangnya, ia tersulut emosi jika kembali mengingat penghianatan yang dilakukan Cassandra dulu.
“Kita temui Crystal, dia pasti sangat bosan menunggu kita.” Ellena berjalan terlebih dulu, diikuti Harry dibelakangnya.
Ceklek
“Crystal apa kau bosan? Maafkan kami sudah membuatmu menunggu, sayang.” Ellena duduk disamping Crystal disusul oleh Harry. “Lihat, kau menggambar gaun? Kau bisa?.”
“Iya Aunty, aku pernah mengikuti kursus menggambar. Tapi Mommy melarangku untuk melanjutkannya lagi.” Raut wajah Crystal berubah, ia terlihat sedih.
“Apa alasannya? Bukankah ini sangat bagus.” Ellena mengamati rancangan gaun yang Crystal gambar, terlihat berbeda daripada yang pernah digambar oleh Ellena sendiri.
Crystal mengedikkan bahunya, “Aku juga tidak tau.”
“Aunty, aku ingin lusa gaun Crystal sudah siap dimansion.” Harry menyela perbincangan antara Ellena dan Crystal.
“Kau tenang saja, gaun itu akan sampai tepat waktu. Baiklah, apa kalian mau minum sesuatu?.” Ellena hendak berdiri, tapi Harry mencegahnya.
“Tidak perlu Aunty, kami akan segera pulang.” Ucap Harry yang kemudian berdiri disusul oleh Crystal.
“Kami pulang dulu, Aunty.” Pamit Crystal, ia memeluk Ellena sebagai tanda perpisahan. “Aku sangat senang jika kau bisa hadir diacara pernikahanku.”
“Tentu saja sayang, Aunty akan hadir diacara pernikahanmu.” Ellena melepas pelukannya.
Harry dan Crystal pun pulang, mereka berdua menuju mansion dimana Adrine tinggal. Karna mereka ingin menyampaikan berita pernikahan mereka yang dimajukan.
“Sayang, apa kau mau makan siang terlebih dulu?.” Harry memperlambat laju mobilnya, ia menatap intens wajah Crystal.
Crystal mengulur tangannya untuk menggenggam tangan Harry, “Tidak perlu, kau fokus saja pada jalanmu.”
“Baiklah.” Harry kembali menyetir mobilnya dengan satu tangan.
Sesaat mereka kembali terdiam, Harry masih memikirkan surat yang Cassandra kirimkan dan ucapan Cassandra pada Ellena. “Kenapa kau kembali, saat aku sudah ingin bahagia dengan gadis pilihanku.”
Crystal menatap jalanan yang dipenuhi dengan mobil lalu lalang, ia berpikir apakah Robert akan datang dipernikahannya atau tidak. Seharusnya memang seorang ayah yang mengantarkan putrinya keatas altar, dan memang seharusnya keluarganya datang untuk melihat putrinya menikah.
Harry mengguncang pelan bahu Crystal. “Sayang, kita sudah sampai.”
Crystal tersadar dari lamunannya, ia menatap mata Harry dalam. “Aku takut mereka akan mengusirku lagi.”
“Percayalah, mereka tidak akan mengusirmu lagi. Kalaupun mereka mengusirmu tidak apa - apa, masih ada aku disini.” Harry merapikan anak rambut Crystal yang menutupi sebagian wajahnya. “Ayo kita turun.”
Crystal mencoba menata hatinya kembali, ia menggenggam tangan Harry sangat erat. “Baiklah, ayo kita temui mereka.”
Harry dan Crystal turun, mereka berdua berjalan beriringan. Crystal menyembunyikan setengah tubuhnya dibalik tubuh kekar Harry.
“Maaf anda siapa?.” Pria berseragam mendekat pada Harry dan Crystal.
“Saya calon menantu Tuan Robert, saya datang kesini bersama putri sulungnya Crystal Elizabeth.” Harry menatap pria itu dengan tajam.
“Silahkan.” Pria berseragam itu memberi jalan untuk Harry dan Crystal.
Mereka berdua memasuki mansion yang terlihat tidak seperti sebelumnya, banyak yang berubah entah itu tata letak ataupun barang yang dipajang. Crystal mengedarkan pandangannya pada setiap inci mansion itu, ia merasa asing berada didalam sana.
“Fotoku masih pada tempatnya, bukankah Daddy sudah membuangku?.” Gumamnya lirih, ia terus saja menelusuri ruangan demi ruangan yang ia lewati.
Lexa yang berada diruang tengah pun menghampiri Harry dan Crystal. “Nona, senang bertemu dengan anda kembali.”
“Aku juga Lexa. Dimana Mommy, apa dia ada dirumah?.” Crystal mengulas senyumnya pada Lexa bodyguard Adrine.
“Madam berada dirumah, apa Nona ingin menemuinya? Biar saya memanggilkannya untukmu.” Lexa membungkukkan setengah badannya.
“Iya, panggilkan Mommy. Oh ya apa tante Velika ada?.” Crystal mencari sosok perempuan yang membuatnya terusir itu, tapi ia sedari tadi tak kunjung menemukannya.
Lexa mengangguk pelan, kemudian ia pergi memanggil Adrine dikamarnya. Crystal dan Harry pun memilih untuk duduk terlebih dahulu.
“Crystal sayang, Mommy sangat merindukanmu.” Adrine berhambur kedalam pelukan putrinya yang masih duduk. “Kau sudah lama sekali tidak menghubungi Mommy.”
“Maafkan aku, aku banyak pekerjaan dikantor.” Crystal melepas pelukan mereka berdua.
“Harry, terimakasih sudah mengantar Crystal pergi kesini. Aku benar - benar sangat merindukan gadis manja ini.” Adrine tersenyum pada Harry kemudian tangannya mengusap kepala Crystal.
“Tidak masalah Aunty, aku senang melihat Crystal bahagia seperti ini.” Harry membalas senyuman Adrine dengan sopan.
“Oh ya, Mommy kita datang kesini untuk memberi tau Mommy sesuatu.” Crystal yang menggenggam tangan Adrine pun melepasnya, ia lebih memilih untuk menggenggam tangan Harry yang ada disampingnya.
“Apa itu sayang?.”
“Lusa kita akan menikah, Mommy dan Lexa datang ya? Kalau mungkin ajak Daddy juga.” Crystal menatap mata Adrine yang mulai berkaca - kaca.
Tanpa menjawab, Adrine justru memeluk Crystal. Adrine menumpahkan semua air mata kebahagiaannya dibahu Crystal. “Selamat sayang, Mommy pasti akan hadir dipernikahanmu.”
“Terimakasih Mom.” Crystal mengusap cairan yang terus mengalir dipipi Adrine dengan hati - hati.
“Harry tolong jaga putriku dengan baik, aku menyerahkan semua tanggung jawab ini padamu. Nak.” Adrine terharu, ia tidak henti - hentinya mewujud syukur pada tuhan.
“Tentu saja Aunty, aku akan menjaga Crystal seumur hidupku.”
“Jangan sungkan, kau sekarang adalah putraku jadi kau bisa memanggilku Mommy.” Adrine kembali memeluk Crystal.
“Kami pamit pulanh dulu Mom.” Crystal mengecup pipi Adrine seraya melepas pelukannya.
“Baiklah, nanti aku akan membicarakannya pada Daddymu. Kalian istirahatlah.”
“Terimakasih Mom.” Harry menggandeng tangan Crystal, mereka kemudian pergi dari mansion Robert.
-
Nikah! Nikah! Nikah!
Hayo nunggu mereka nikah ya?.
Tap dulu lah jempol kalian.
Enjoy baby!
cuman terkesan buru² cerita ya
GK ada pagi siang MLM,