Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Mengungkap Perasaan
"Din apa ini semua kamu yang memasak?'' Tanya Anton disana.
''Dokter meragukan saya!''
''Bukan meragukan kamu, tapi seniat itu kamu membuatkan saya makanan?''
Disana nampak Dinda terdiam memandang kearah wajah tampan milik Dokter Anton, disana nampak terlihat keteduhan dari pemilik wajah tampan di depannya. Wajah yang akhir-akhir ini mulai hadir di setiap hari-harinya.
''Dok, bolehkah saya berbicara?''
''Bicaralah!''
''Bolehkah saya tinggal lebih lama disini!''
''Apa maksud kamu Din? kamu sudah membaik dan kamu harus bisa melanjutkan hidupmu! Apa alasan kamu ingin tetap tinggal disini?''
''Karena, saya ingin setiap hari melihat Dokter!'' Disana nampak Dokter Anton benar-benar kaget dengan jawaban Dinda.
''Maksud kamu?''
''Maafkan saya Dok, anda tahu hanya anda yang mampu menghilangkan ingatan saya pada kekasih saya Andreas yang sudah tiada, entah mengapa saya melihat Andreas ada di diri anda!''
Disana dokter Anton mulai mencerna perkataan demi perkataan yang Dinda ucapkan ''Apa Dinda menyukaiku? gumamnya disana. Anton pun segera menepis fikiran yang baru saja terlintas di fikirannya.
''Dok, saya mencintai anda!''
Deg..........
Disana Anton benar-benar sangat kaget dengan ucapan Dinda, apa yang baru saja terlintas di fikirannya benar-benar terjadi. ''Dinda mencintaiku?'' ucapnya sekali lagi.
Sekarang Dinda mulai sedikit kecewa, disetiap pertanyaan yang ia katakan tak mendapat jawaban dari Dokter Anton.
''Maaf, ya sudah kalau begitu saya permisi!'' Dinda akhirnya memilih pergi meninggalkan Anton yang masih terdiam dengan semua pertanyaan Dinda yang menurutnya begitu mendadak. Melihat kepergian Dinda yang tiba-tiba meninggalkannya Anton segera menghentikan langkah Dinda yang sudah mulai menjauh darinya.
''Din, tunggu!!''
Disana Dinda segera menghentikan langkahnya kala Dokter Anton memanggilnya, hatinya kini mulai bertanya-tanya apa nanti yang akan ditanyakan oleh Dokter Anton padanya. Dinda pun segera menoleh kearah Dokter Anton yang masih berdiri di dekat mobilnya.
Disana Anton segera mendekati Dinda yang sudah berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri, kini Anton sudah berada tepat di depan Dinda.
''Din, katakan sekali lagi apa yang tadi kamu katakan. Saya takut salah dengar.''
''Apa yang Dokter dengar tadi?''
''Tadi saya mendengar kalau kamu mencintai saya! apa kamu tidak bercanda?''
''Buat apa saya bercanda Dok! semua yang saya katakan memang benar, entah mengapa akhir-akhir ini Dokter selalu ada dalam ingatan saya!'' sambil tertunduk Dinda berucap. ''Maafkan saya kalau saya sudah lancang mengucapkan semua itu!''
''Kamu tidak salah, kamu punya hak berbicara. Saya hargai semua keberanianmu berbicara pada saya, Din, tapi saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu tahu saya juga punya trauma dengan yang namanya cinta.''
''Apa Dokter juga pernah depresi?'' ucap Dinda sepontan.
Disana Anton tertawa kecil menanggapi ucapan Dinda, ada banyak hal yang tidak bisa Anton katakan pada Dinda tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
''Tidak, saya tidak depresi. Hanya saja saya sangat hati-hati dengan yang namanya cinta, karena saya pernah kecewa oleh yang namanya cinta!''
''Siapa yang sudah mengecewakan Dokter coba katakan pada saya!'' ucap Dinda sambil tertawa.
''Ada seseorang dimasa lalu saya, dan saya tidak bisa mengatakan padamu!''
''Baiklah kalau begitu, sekali lagi saya minta maaf. Saya sudah lancang dan dengan percaya dirinya saya mengungkapkan perasaan saya pada anda!'' dengan wajah yang mulai memerah menahan malu Dinda berucap.
''Kamu tidak perlu meminta maaf, saya yang seharusnya minta maaf kepadamu sedari tadi saya tidak menjawab pertanyaanmu. Tapi saya janji pasti saya akan menjawabnya nanti, oya terimakasih banyak kamu sudah repot-repot membuat masakan ini, nanti saya pasti akan memakannya.''
''Janji!''
''Janji!''
**
Sementara itu di meja kerja Tania, dia sedang sibuk merapikan berkas-berkas pekerjaannya seharusnya jam waktu pulang sudah sedari tadi, tapi Tania baru akan beranjak dari kursi kerjanya dan ingin segera meninggalkan kantor untuk segera pulang.
Di sana dia sangat khawatir pasti Mama Bela menghawatirkan dirinya karena sudah beberapa hari ini dia tidak pulang kerumah. Akhirnya setelah semua pekerjaannya selesai Tania segera meninggalkan ruangannya yang kini sudah mulai sepi karena semua karyawan sudah pulang sejak tadi.
Dia pun mulai berjalan keluar dari lobi, disana dia menghentikan langkahnya kali ini dia tidak akan naik kendaraan umum seperti yang biasanya dia lakukan, kini dia sedang berkutik dengan ponselnya, dia mulai memesan taxi online lewat sebuah aplikasi.
Sedari tadi tak ada satupun taxi yang kosong nyangkut di aplikasinya, tiba-tiba datang sebuah mobil berhenti tepat didepan ia berdiri. Tania sudah tidak asing lagi dengan mobil di depannya, ''Alex!'' gumamnya.
Disana nampak kaca mobil itu mulai terbuka, samar-samar sudah nampak Alex berada di dalam mobilnya.
''Masuklah!'' ucap Alex disana.
''Tidak Lex, terimakasih aku mau pulang kerumah Mama Bela!''
''Aku antar kamu pulang!''
''Tapi?''
''Tidak ada kata tapi! Masuklah kali ini ikuti kata saya!''
Tidak ada pilihan lain, Tania juga sedari tadi belum juga mendapatkan taxi online kalau dia menolak tawaran Alex sudah dipastikan dia akan terlalu malam sampai di rumahnya.
Akhirnya mau tak mau kini dia mengikuti perintah Alex, dia pun langsung masuk kedalam mobil didepannya. Disana hati Alex mulai sedikit lega karena akhirnya Tania mau mengikuti keinginannya.
Kini di kursi belakang sudah ada Tania dan juga Alex, disana Tania masih terdiam demikian juga Alex dia sedang menata hatinya. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Tania dia hanya menunggu waktu yang tepat.
"Lex, terimakasih banyak sebelumnya ya, kamu mau mengantarkan aku pulang. Meski sebenarnya aku bisa naik Taxi tapi malah merepotkanmu."
"Sudahlah aku yang memaksa ingin mengantarmu!"
Entah mengapa sekarang Tania malah tiba-tiba mengantuk, di dalam mobil dia sudah beberapa kali menguap. Mungkin karena beberapa hari ini dia tidak tidur dengan tenang apalagi sejak kejadian yang memalukan itu terjadi, memejamkan mata saja sungguh sangat sulit.
Disana nampak Alex sedang memperhatikan Tania sepertinya Tania sudah sangat mengantuk, Tania sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya kini dia mulai terpejam dengan sendirinya.
"Tania kenapa kamu malah tidur? Baru saja aku mau mengatakan sesuatu!" Gerutu Alex disana.
Tapi nampaknya Tania sudah benar-benar tidak bisa menahan kantuknya, rasa kantuknya sudah tidak bisa ia tahan. Dia bersandar di tempat duduknya sambil tertidur, disana nampak Alex sedang memandangi wajah cantik Tania yang sedang tertidur sangat lelap, tak henti-hentinya Alex mengagumi Tania disana. Bahkan belum memiliki Tania saja dia sudah melihat semua isi tubuh Tania.
Disana entah mengapa membayangkan kejadian itu saja sang junior miliknya tiba-tiba terbangun dengan sendirinya, dia mencoba menetralisir hati serta fikirannya walaupun susah payah kini dia bisa mengendalikannya.
Bersambung ...
Terimakasih atas Like nya Readers...semoga kalian suka dengan cerita ini ya....terus dukung Author ya...karena tanpa kalian siapalah saya🙏♥️😊