Juara 🥉 Event Air Mata Pernikahan S3
Ainsley dan Charlie adalah sepasang suami istri yang juga anggota FBI. Mereka bertugas menggagalkan penyelundupan narkotika di pelabuhan New York yang dilakukan oleh mafia bernama John Wilson.
Tapi rencana mereka di ketahui oleh musuh sehingga terjadi baku tembak antara kedua kubu.
John Wilson berhasil kabur, tapi Charlie tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengejar John hingga terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie.
Ainsley terpuruk dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari FBI. Dia terus mencari keberadaan suaminya karena dia tidak percaya suaminya meninggal jika belum melihat jasadnya. Bahkan dia berencana untuk balas dendam.
Tapi beberapa bulan kemudian saat dia berlibur, dia bertemu dengan pria yang mirip dengan suaminya. Tapi sayangnya, pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan.
Siapakah Michael sebenarnya? Dan apakah Ainsley bisa membalaskan dendam kematian suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Di Serang
Di markas FBI, Clara terus memperhatikan gerak-gerik Henry. Dia baru saja mendapat pesan dari Ainsley untuk mengawasi pria itu, apakah dia mempunyai komplotan di FBI atau bergerak sendiri. Untuk itu Clara tidak pernah melepaskan pandangannya pada Henry sedikitpun.
Seperti saat ini, mereka tengah melakukan rapat bersama anggota tim Alfa lainnya. Mereka membahas tentang rencana penangkapan John Wilson yang akan di lakukan dalam waktu dekat.
Namun semua tidak semudah itu. Mereka bisa saja menggunakan surat penangkapan untuk membawa John ke markas. Tapi mereka yakin anak buah John tidak akan terima dan akan mengangkat senjata mereka. Untuk itu mereka membutuhkan strategi agar John mau dengan suka rela ikut dengan mereka tanpa melakukan perlawanan.
Dan selama rapat berlangsung, Clara terus memperhatikan Henry. Entah mengapa pria itu terlihat tidak fokus pada pembahasan rapat yang sedang dilakukan. Pria itu justru lebih fokus pada ponselnya, seolah sedang menunggu kabar dari seseorang. Apakah dia merencanakan sesuatu? Tapi tunggu dulu!! Bukankah sekarang Ainsley pergi ke apartemennya? Atau jangan-jangan.....
"Kapten, aku permisi ke toilet sebentar." seru Clara meminta izin. Dia bergegas pergi ke toilet dan mencoba menghubungi Ainsley. Namun berkali-kali dia melakukan panggilan, tapi Ainsley tidak kunjung mengangkat telepon darinya.
"Come on Ainsley!! Angkat teleponnya!!" Clara lagi-lagi mencoba melakukan panggilan namun hasilnya sama saja
"Sial!!" umpat Clara. Dia memasukkan kembali ponselnya dan mulai berfikir. Apakah Ainsley dalam bahaya? Namun jika benar, dia tidak mungkin pergi untuk menyelamatkannya. Bagaimana jika dia salah?
"Aku harap kau baik-baik saja, Ainsley. Aku percaya kau bisa menghadapi musuh-musuh mu." batin Clara
Dan benar saja, saat ini anak buah John datang ke apartemen Ainsley. Mereka bertanya pada resepsionis di mana letak kamar apartemen milik Ainsley dan Charlie.
Awalnya resepsionis tidak mau mengatakannya, karena itu merupakan privasi dari pemilik apartemen. Dan mereka tidak boleh sembarangan memberitahu pada siapapun. Apalagi dia melihat jika pria-pria itu seperti bukan orang baik-baik. Namun anak buah John justru menodongkan senjata pada resepsionis itu dan mengancam akan membunuhnya. Akhirnya mau tidak mau resepsionis memberitahu mereka letak kamar apartemen milik Ainsley
Beberapa dari mereka langsung menuju ke lantai dimana kamar apartemen Ainsley berada. Sementara yang lain berjaga di bawah. Mereka menyandera semua orang yang ada di sana agar tidak melapor ke polisi
Anak buah John sudah sampai di depan kamar Ainsley. Mereka mencoba membuka pintu kamar tersebut dengan keahlian yang mereka miliki. Dan berhasil.
Mereka membuka pintu perlahan dan melihat sekeliling. Sepertinya apartemen ini sudah lama tidak ditempati. Namun salah satu dari mereka meminta mereka untuk berpencar karena dia mendapat informasi jika Ainsley baru saja datang bersama seorang pria.
"Cari mereka dan tangkap hidup ataupun mati." perintahnya
"Baik!!" mereka mulai berpencar. Ada sekitar 6 orang yang masuk ke apartemen Ainsley.
Ainsley mendengar suara lantang musuh di luar. Dia bersembunyi di balik pintu kamarnya dan menghela nafas perlahan. Dia mengangkat dua senjatanya yang sudah dipasangi alat peredam dan bersiap untuk menyerang musuh.
Dia melihat kenop pintu kamarnya bergerak dan mencoba untuk tetap tenang. Dia menahan nafas sejenak saat melihat tiga orang masuk ke kamarnya.
"Let's party." batin Ainsley. Dia menutup pintu kamarnya perlahan saat ketiga pria itu fokus memeriksa kamarnya. Dan kemudian, Ainsley menembak ketiga pria itu dari belakang hingga tewas.
Michael yang bersembunyi di dalam lemari tidak tahu apa yang terjadi. Tapi dia mendengar suara mengaduh dan sesuatu yang terjatuh dengan keras. Dia yakin jika Ainsley berhasil melumpuhkan musuh.
"Apa yang harus aku lakukan?" batinnya. Dia mengeluarkan senjata yang dia simpan di dalam jaketnya. Dia melihat senjata itu sejenak, dan kemudian menggenggam erat. Dia sangat ingin keluar dari situ dan membantu Ainsley. Namun, dia takut hanya akan menyusahkan saja.
"Tiga tikus sudah berhasil dilumpuhkan. Oke, sekarang tinggal berapa lagi?" Ainsley bersembunyi di balik dinding. Dia membuka pintu perlahan dan mengintip keluar. Terlihat ada satu musuh yang berdiri tidak jauh di luar sana. Ainsley mengambil belatinya. Dia mengendap-endap mendekati pria itu. dan kemudian membekap mulutnya sambil menusukkan belati tepat di leher pria itu. Dalam sekejap pria itu tewas seketika
Namun sayang, aksinya itu dipergoki oleh musuh yang lain. Pria itu menembaki Ainsley, tapi beruntung Ainsley berhasil menghindar. Dia mengangkat senjata dan balik menyerang kedua anak buah John yang tersisa.
Namun sayang, peluru di senjata yang Ainsley gunakan telah habis. Dia berguling berpindah tempat untuk bersembunyi. Dan saat ada kesempatan, dia berlari menendang senjata musuh hingga terpental ke lantai dan membungkuk menendang kedua kaki musuh hingga tersungkur. Tapi dari arah belakang, teman pria itu mengarahkan senjata pada Ainsley dan bersiap untuk menembak. Namun beruntung Michael datang tepat waktu.
Dia yang mendengar keributan di luar sana, tanpa sadar keluar dari tempat persembunyiannya. Dia mengangkat senjatanya dan menembak salah satu dari anak buah John hingga tewas.
Ainsley terkejut dengan apa yang Michael lakukan, namun hal itu justru dimanfaatkan oleh musuh untuk membalas menyerang Ainsley. Tapi Michael menyadari hal itu dan menembak musuh hingga terkapar. Michael mendekati pria itu dan kembali menembakinya hingga tewas.
Ainsley menatap Michael tidak percaya. Apa itu artinya ingatan pria itu sudah kembali?
"Mich, kau..." ucapan Ainsley terdiam saat Michael menjatuhkan pistolnya. Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. "A-apa yang sudah aku lakukan? A-aku membunuh orang?" gumam Michael ketakutan. Dia tidak percaya bisa menggunakan senjata layaknya orang yang ahli.
"A-aku .. Argh!!!" tiba-tiba bayangan aneh kembali melintas di ingatannya dan membuat Michael merasakan sakit di bagian kepalanya. Dia terus berteriak sambil memegang kepalanya.
"Kau tidak apa-apa Mich?" tanya Ainsley khawatir. Dia menopang tubuh Michael yang hampir terjatuh. Tapi pria itu tidak menjawab dan hanya berteriak kesakitan.
Ainsley merasa khawatir terjadi hal buruk pada Michael. Dia mengambil senjata musuh dan membawa Michael pergi dari sana. Namun saat melewati lorong, mereka kembali bertemu dengan anak buah John.
Ainsley mendorong keras tubuh Michael hingga mereka masuk keruang kebersihan. Dia mengangkat senjata dan menembak semua anak buah John tanpa tersisa.
Setelah memastikan semua aman, dia membantu Michael berdiri dan memapahnya keluar dari sana. Namun semua tidak semudah itu. Anak buah John kembali mengejar mereka. Ainsley mengumpat dan menarik Michael untuk masuk kedalam lift sebelum musuh berhasil menangkap mereka.
"Sial!!" umpat anak buah John. Dia menghubungi teman-temannya yang berjaga di lobby dan mengatakan jika target berhasil kabur menggunakan lift. Mendengar hal itu, mereka bergegas berjaga di depan lift dengan senjata di tangan mereka
Sementara di dalam lift, Ainsley terus menenangkan Michael yang masih kesakitan. "Mich, aku mohon bertahanlah!!!"
Michael mencoba meredam rasa sakit di kepalanya. Dia menatap Ainsley dengan tatapan sayu. "Maaf aku hanya bisa menyusahkan mu, Ainsley."
"Tidak Mich. Aku justru berterima kasih karena kau menyelamatkan ku. Sekarang kita harus keluar dari sini. Apa kau bisa bertahan?" tanya Ainsley yang di jawab anggukan oleh Michael
"Baiklah kalau begitu." Ainsley mencari cara untuk bisa keluar dari sana. Dia yakin saat ini anak buah John sudah menunggu kedatangannya di lobby.
"Kita harus apa sekarang?" Ainsley tampak berfikir. Sampai dia melihat atap lift dan mendapatkan ide. "Tolong angkat aku, Mich." pintanya. Michael mengangguk dan mengangkat tubuh Ainsley. Wanita itu meraih atap lift dan berusaha untuk membuka
"Apa yang akan kau lakukan, Ainsley ?" tanya Michael
"Kita akan bersembunyi Mich." Ainsley berhasil membuka atap lift tersebut dan mulai naik di susul Michael. Dan mereka berhasil naik tepat setelah lift tersebut berhenti di lantai dasar.
Mereka menahan nafas sejenak saat pintu lift terbuka. Dan anak buah John langsung melepas tembakan. Namun tidak ada siapapun di dalam sana. Mereka semua masuk untuk memeriksa. Tapi Ainsley mengambil kesempatan itu untuk menembaki mereka dari atas lift hingga tewas.
Setelah memastikan semua aman, Ainsley dan Michael turun dari atap lift. Mereka bergegas keluar dari apartemen sebelum anak buah John yang lain menemukan mereka. Namun terlambat, musuh seperti tidak ada habisnya. Mereka mengejar Ainsley dan Michael yang kabur menggunakan mobil.
Ainsley mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun sungguh sial, dari arah depan ada mobil anak buah John yang lain. Dia melirik kaca spion di mana dari arah belakang ada mobil yang juga mengejarnya.
"Shiitt!!" umpat Ainsley. Dia melirik sekilas Michael yang memejamkan matanya karena ketakutan. Untuk sejenak dia tersenyum tipis. Dia beralih menatap tajam mobil di depannya. Dan dengan sekali putaran, mobil Ainsley berhenti dengan posisi melintang, menghalangi jalan. Dia mengeluarkan 2 pistol dan merentangkan tangannya, menembaki mobil-mobil tersebut melalui dua sisi jendela mobilnya.
Dan dengan beberapa kali tembakan, Ainsley berhasil melumpuhkan musuh dengan menembak kaca mobil hingga menembus musuh hingga tewas dan membuat kedua mobil tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.
Ainsley tersenyum puas. Dia kembali menjalankan mobilnya, pergi menjauh dari kota.
kerennnnn