Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Arina segera mengangkat tangan kanannya. Api ungu kecil perlahan muncul dari telapak tangannya, lalu ia mengarahkannya ke luka di lengan Orion.
Ssssss...
Terdengar suara mendesis, disusul bunyi menyerupai air yang sedang mendidih.
Asap berwarna ungu keperakan perlahan keluar dari luka itu, berputar di udara sebelum akhirnya menghilang tertiup angin malam.
Melihat pemandangan itu, Arina mengembuskan napas lega.
Itu berarti racunnya belum mencapai jantung dan masih cukup mudah dikeluarkan.
Selene Bane...
Tatapan Arina menjadi dalam.
Kenapa orang itu menggunakan racun khusus seperti ini?
Tangannya tetap bergerak, perlahan menarik racun keluar dari tubuh Orion menggunakan kekuatannya.
Namun, sesaat kemudian wajahnya berubah.
Jangan-jangan... sudah ada yang mengetahuinya?
Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jika benar demikian, ia harus mencari tahu siapa orang yang memberi perintah pembunuhan ini.
Warna wajah Orion perlahan kembali normal. Napasnya menjadi lebih teratur. Kini pria itu hanya tampak seperti seseorang yang sedang tertidur lelap.
Setengah jam kemudian, Arina akhirnya berhasil mengeluarkan seluruh racun dari tubuh Orion.
Namun, wajahnya sendiri berubah pucat pasi.
Menggunakan kekuatannya secara terus-menerus telah menguras hampir seluruh tenaganya.
Untuk beberapa saat, Arina hanya duduk bersandar di batang pohon di samping Orion, mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
Meski begitu, pandangannya tidak pernah lepas dari sosok berjubah yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Setelah tenaganya sedikit pulih, Arina bangkit.
Ia berjalan mendekati pria itu, lalu mulai menggeledah seluruh pakaiannya dengan teliti. Di balik jubahnya, ia menemukan belasan belati yang semuanya telah dilumuri racun.
Di bagian dada, tersembunyi sebuah peta tua dengan tanda-tanda aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Arina mengambil seluruh barang tersebut.
Kemudian, ia mengulurkan tangan untuk membuka tudung yang menutupi wajah pria itu.
Perlahan, tudung itu terangkat.
Hal pertama yang menarik perhatian Arina adalah sebuah tahi lalat kecil di dagunya.
Ia kembali mengangkat tudung itu sedikit demi sedikit, berniat melihat wajah orang tersebut. Namun, tepat sebelum tudung itu benar-benar terbuka...
Wusss!
Embusan angin yang sangat kencang tiba-tiba menerjang hutan. Debu dan dedaunan beterbangan ke segala arah hingga memaksa Arina menutup matanya.
Ia segera mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya. Beberapa saat kemudian, angin mulai mereda.
Saat Arina kembali membuka mata...
Tatapannya langsung berubah. Sosok berjubah yang tadi terbaring di hadapannya...
Telah menghilang tanpa jejak.
Arina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada jejak sedikit pun yang menunjukkan ke mana sosok berjubah itu menghilang.
"Hng..." Orion mengerang pelan. Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Tatapannya langsung berubah waspada saat menyadari dirinya masih berada di tengah hutan.
"Arina...?"
Arina segera menoleh dan menghampirinya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Orion sambil bangkit perlahan. Namun, saat matanya menatap wajah Arina, dahinya langsung berkerut.
Wajah wanita itu tampak jauh lebih pucat daripada sebelumnya.
"Kita sebaiknya segera kembali," ujar Arina sambil mengalihkan pandangan. "Warga Asterra masih menunggu kita."
Orion mengangguk pelan. "Ya, kau benar."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mulai melangkah keluar dari hutan.
Arina segera menyusul di belakangnya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya terasa semakin ringan. Pandangan di depan matanya mulai berkunang-kunang.
Kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung ke depan.
"Arina!" Orion yang kebetulan menoleh langsung bergerak cepat. Sebelum tubuh Arina menyentuh tanah, ia berhasil menangkapnya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya dengan nada serius.
"Aku tidak apa-apa," jawab Arina datar, meski napasnya mulai terdengar tidak beraturan.
Orion menatapnya tajam.
"Tidak apa-apa bagaimana?" gerutunya kesal. "Wajahmu sepucat ini, lalu kau masih bilang baik-baik saja?"
Tanpa memberi kesempatan Arina membalas, Orion langsung menyelipkan satu tangan di bawah lututnya dan satu lagi di punggungnya.
Dengan mudah ia mengangkat Arina ke dalam gendongannya.
"Orion, turunkan aku."
"Tidak. Kau bahkan tidak sanggup berjalan."
Arina terdiam. Ia tahu tenaganya memang belum pulih setelah mengeluarkan racun Selene Bane dari tubuh Orion.
Melihat Arina tidak lagi membantah, Orion segera mempercepat langkahnya.
Sosok mereka berdua pun dengan cepat menghilang di antara pepohonan, meninggalkan hutan yang kembali diselimuti kesunyian malam.
...***...
...Like, komen dan vote ...