“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: janji manis
Malam itu setelah makan malam bersama keluarga Kevin, suasana terasa mencekam. Alya masih memikirkan perkataan keluarga Kevin yang membuat hatinya terluka.
“Sayang, kamu jangan mikirin perkataan tadi, ya. kita bisa lewatin ini semua.,”
ucap Kevin lembut.
"yang aku mau cuma kamu, Alya. Aku cinta sama kamu. Aku akan berusaha biar papa dan mama setuju,”
lanjut Kevin.
“Mungkin sekarang kita belum mendapatkan restu dari Papa dan Mama, tapi aku janji, kita akan menikah walapun tanpa restu mereka. Jadi kamu jangan terlalu khawatir, sayang.”
Alya menepis tangan Kevin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku cuma cewek murahan, Kevin...” suara Alya bergetar.
“aku gak pantas menikah sama kamu? Aku tidak mau kamu dibenci keluarga kamu hanya karena aku.”
Kevin menatap Alya dengan penuh keyakinan.
“Kamu pantas, Alya.
Kamu dengar aku baik-baik. Kamu adalah orang yang aku pilih.
Masalah restu ini cuma sementara. Aku yakin suatu hari nanti mereka akan menerima kita.”
Namun Alya masih merasa takut.
“Sampai kapan, Kevin? Sampai kapan orang tua kamu tidak setuju dengan hubungan kita?” tanya Alya lirih.
Kevin terdiam.
“Aku tidak sanggup melihat kamu terus terluka karena aku. Mungkin lebih baik aku pergi,” kata Alya.
Dengan hati yang berat, Alya meninggalkan apartemen Kevin.
Langkahnya perlahan menjauh, sementara Kevin hanya bisa berdiri diam, takut kehilangan orang yang paling dia cintai.
Alya melangkah menjauh meninggalkan apartemen Kevin. Malam itu hatinya terasa hancur lebur, diselimuti kekecewaan mendalam pada dirinya sendiri.
Dalam isak yang ditahan, satu pertanyaan terus berputar pilu: Apakah orang yang tak memiliki apa-apa benar-benar tak pantas dicintai dan dihargai?
Alya melangkah menuju rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Rasa ingin bercerita meluap-luap di dada, tapi selalu tertahan. Ia tak sanggup menambah beban pikiran sang Ibu yang sedang berjuang memulihkan diri. Sebesar apa pun sakit yang ia rasakan, ia harus kuat sendiri di depan Ibu.
"andai ibu tau aku ingin sekali bercerita,"
Kevin yang sangat cemas akan keselamatan Alya segera memerintahkan bawahannya.doni
"Ikuti dia. Jangan sampai ketahuan."kevin.
"Baik, Bos."doni.
Tak lama kemudian laporan masuk.
"Dia sekarang ada di rumah sakit."doni.
"Sedang apa dia di sana?"kevin.
"Menjenguk ibunya yang sedang berjuang melawan kanker hati."doni.
"Awasi terus setiap gerak-geriknya. Pastikan dia tidak tahu kalian ada di sana."
"Siap, Bos."
Selama ini ibunya menderita sakit yang sangat berat. Ternyata permintaan dua ratus juta itu semata-mata demi biaya pengobatan ibunya. Ya Tuhan... Alya, hatimu begitu mulia. Kamu rela menanggung segala beban dan prasangka sendirian demi orang yang kau cintai.
Kevin berusaha terus menghubungi Alya. Namun berkali-kali telepon ditelepon, selalu saja ditolak. Tak ada satu pun yang terangkat.
Pesan demi pesan terus masuk dari Kevin:
"Sayang, tolong angkat teleponnya..."
"Sayang, jangan ngambek begini terus..."
"Sayang, aku sungguh cinta hanya padamu."
"Ih Kevin... kenapa sih? Padahal dia tahu aku sedang menemani Mama. Saat ini aku sungguh tak ingin berbicara dengan siapa-siapa, apalagi dengannya sekarang."
"Alya, angkatlah... Aku benar-benar cemas tak tenang memikirkanmu."
Alya yang merasa tak ingin diganggu, akhirnya memilih mematikan teleponnya seketika.
Tiba-tiba Mama terbangun dari tidurnya.
"Alya... kenapa sudah larut malam kamu masih di sini?"
"Iya, Ma... Alya kangen sama Mama."
"Tapi kenapa wajahmu terlihat sedih begitu, Nak?"
"Tidak kok, Ma... Alya baik-baik saja."
"Jangan sembunyikan, ceritakanlah pada Mama."
"Sungguh, Mama... Alya tidak ada apa-apa."
Tiba-tiba sesosok yang sangat ia kenal muncul—Kevin ternyata sudah ada di rumah sakit itu.
Alya terbelalak kaget. "Kok kamu ada di sini?"
"Aku sungguh cemas padamu, Alya. Kamu pergi begitu saja larut malam..."
Mama menatap pria asing yang tampan itu, lalu menoleh ke arahku. "Siapa dia, Nak? Belum pernah Mama lihat sebelumnya. Apakah dia pacarmu?"
Belum Alya sempat menjawab, Kevin sudah melangkah mendekat dengan sopan namun mantap.
"Saya calon suaminya, Tante," ucapnya tegas, meski ini baru pertama kali mereka bertemu.
Mama terbelalak tak percaya. "Kamu... calon suami Alya?"
"Lho, kenapa Alya tidak pernah cerita sama Mama soal ini?"
Alya tersenyum canggung. "Iya... hehe, belum sempat cerita, Ma. Waktu itu Mama masih sakit parah..."
"Itu kabar paling indah, sayang! Kenapa baru sekarang diberitahu? Pasti Mama sangat bahagia mendengarnya dari dulu," ujar Mama tersenyum lebar.
"Iya, Mama..."
Kevin pun duduk tenang tepat di samping Alya.
Alya pun beranjak mengambil air minum yang tersedia di rumah sakit, memberi kesempatan agar Mama dan Kevin bisa berbincang berdua tanpa ada yang sungkan.
"Tante titip Alya ya... Jagalah dia, jangan sampai ia bersedih," pesan Mama lembut namun penuh makna.
"Siap, Tante. Saya akan menjaganya dan mencintainya sepenuh hati," jawab Kevin mantap.
"Syukurlah... Tante selama ini cemas, andai Tante sudah tiada, tak ada yang mendampinginya. Dia gadis mandiri dan hatinya sangat baik. Tolong kau rawat dia sebaik-baiknya."
"Siap, Tante. Saya janji."
Alya kembali ke kamar rawat sambil membawa bungkusan, lalu duduk di sisi ranjang.
"Ini, Ma... buah-buahan kesukaan Mama."
"Camilan sehat ya," ucap Alya tersenyum manis. "Mama harus rajin makan yang bernutrisi, biar cepat pulih. Nanti kalau sudah sembuh total, kita bisa jalan-jalan ke luar lagi bersama."
"Iya sayang... Mama ingin sekali itu," jawab Mama lembut.
"Nanti kalau Mama sudah sembuh total, kita liburan ke pantai lagi ya. Mama harus cepat sembuh, biar cita-cita kita itu segera terwujud."
"iyah sayang,"
Tiba-tiba Kevin berlutut di hadapan kami, menatap lekat pada Mama lalu padaku.
"Tante... saya mohon izin, saya ingin melamar putri Tante."
Perlahan ia mengeluarkan cincin berhias cantik yang berkilau lembut. Mataku membelalak tak percaya—tak pernah kusangka ia akan melamarku persis saat ini, di hadapan Mama.
"Alya... maukah kau menjadi istriku? Aku berjanji sekuat hati akan menjagamu, dan tak henti berusaha membuatmu bahagia selamanya."
Mama tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca bahagia menyaksikan kesungguhan itu. Bagiku, ada kebahagiaan meluap tak terkira—orang yang paling kucintai di dunia menjadi saksi momen terindah ini.
Dengan suara bergetar namun mantap, ku ucapkan: "Iya... aku mau menjadi istrimu."
Suasana di ruangan itu terasa begitu hangat dan penuh berkah. Tanpa ragu sejenak pun aku langsung merengkuh pelukan Kevin erat. Di hadapan kami, Mama tersenyum bahagia—hatinya tenang menyaksikan putri kesayangannya dipinang oleh sosok lelaki yang tulus dan baik hatinya.
Mama menatap Kevin dalam-dalam, lalu berpesan pelan namun tegas: "Jagalah Alya baik-baik ya, Kevin. Jangan pernah kau lukai hatinya dan membuatnya bersedih."
Kevin mengangguk mantap, menatap balik penuh kesungguhan: "Siap, Tante. Saya berjanji akan selalu menjaga dan menyayanginya seumur hidup saya."