Kanaya merantau ke ibukota setelah lulus SMA. Dia menjadi asisten pribadi dari seorang aktor bernama Satya Ganendra yang senang memerintah sesuka hati. Selain itu, ternyata Satya juga meminta Kanaya menjadi pacar kontrak, demi mengalihkan gosip tentang kandasnya hubungan bersama sang mantan.
Lalu, bagaimanakah perjalanan Kanaya saat menjadi pacar kontrak dari Satya? Mampukah dia mempertahankan perasaan agar tidak ikut campur dalam pekerjaan ini? Atau justru Kanaya benar-benar jatuh cinta kepada sang aktor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Hati Satya
"Ibu mau belanja ke pasar sebentar, nanti kita makan siang bersama," pamit Lasmi setelah keluar dari ruang keluarga. Wanita paruh baya itu memakai pakaian rapi serta hijab instan.
Prayoga beranjak dari tempat duduknya. Dia mengikuti langkah Lasmi keluar dari ruang tamu. "Bu, saya antar ke pasar ya? Berada di sini sepertinya kurang nyaman," tanya Prayoga. Sempat terjadi perdebatan di antara Prayoga dan Lasmi, tetapi pada akhirnya Lasmi berhasil ditaklukkan oleh Prayoga.
Kini, hanya tinggal Kanaya dan Satya yang berada dalam rumah sederhana itu. Sepertinya Prayoga sengaja memberikan ruang untuk mereka berdua. Suasana di dalam ruang tamu itu pun mendadak sunyi sepi. Satya terus mengamati wajah cantik yang sudah lama dirindukan. Lantas, dia pindah di sofa yang sama dengan Kanaya.
"Nay," gumamnya seraya meraih tangan Kanaya. Kedua tangan itu saling bertautan.
Kanaya memberanikan diri menatap Satya. Kedua mata saling bersirobok dalam waktu cukup lama. Saling menyelami telaga bening untuk mencari kesungguhan yang tersembunyi di dalamnya. Hati Kanaya bergetar tatkala menemukan sesuatu yang dia inginkan akhir-akhir ini.
"Kamu harus kembali ke Jakarta," ucap Satya tanpa mengalihkan pandangan dari mata Kanaya.
"Tidak. Aku tetap di sini, karena tidak mungkin aku berada di kota yang membuatku tersiksa," jawab Kanaya dengan tegas.
"Kamu harus menemaniku, Nay," pinta Satya lagi.
"Ada banyak orang yang bisa menemanimu di sana," jawab Kanaya setelah mengalihkan pandangan ke arah lain.
Kanaya melepaskan genggaman tangan Satya saat teringat jika aktor tampan itu bukan miliknya. Kanaya menggeser tubuhnya agar bisa menjaga jarak dengan Satya. Dia tidak mau menaruh harapan atas pernyataan yang diucapkan oleh Satya.
"Akan tetapi aku hanya butuh kamu, Nay. Aku ingin menikah," ujar Satya seraya kembali meraih tangan Kanaya. "Aku ingin kita menikah," jelas Satya sekali lagi.
Tentu saja hal ini membuat Kanaya terkejut bukan main. Gadis cantik itu terperangah dengan tatapan tak lepas dari Satya. Dia tidak mau percaya begitu saja dengan pria yang biasa akting di layar kaca itu. "Jangan percaya, Nay. Mungkin dia hanya sedang menjebakmu." Kanaya berusaha meyakinkan diri untuk tidak terbawa perasaan.
"Naya, aku serius. Aku ingin kita menikah!" ucap Satya untuk yang kesekian kalinya.
"Aku tidak mungkin menikah dengan pria yang mencintai wanita lain," jawab Kanaya.
"Aku hanya mencintaimu, Nay."
Kanaya kembali tercengang mendengar pengakuan tersebut. Terlalu naif jika dia percaya begitu saja tentang pengungkapan cinta dari Satya. Napas Kanaya memburu karena gemuruh yang ada di dalam hati. Dia bingung harus percaya atau mengabaikan semua ini.
"Nay, selama kamu pergi, aku merasa hidupku kacau. Bahkan, saat itu aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Aku melampiaskan kemarahanku kepada pak Yoga dan semua orang yang ada disekitarku," jelas Satya seraya menatap Kanaya dengan lekat.
"Lalu?" Kanaya mengenyitkan kening.
"Sebelum datang menemuimu, aku sempat merenung. Aku memikirkan saran dari Mami, kak Arum dan pak Yoga. Ternyata, aku tidak mencintai Megan. Aku hanya memiliki perasaan kepada kamu, Nay. Selama ini aku nyaman berada di dekatmu. Selama kamu pergi rasanya hidupku hampa, karena seperti ada bagian penting yang hilang."
Satya berusaha meyakinkan Kanaya mengenai perasaannya. Dia tidak mau jika sampai kehilangan untuk yang kedua kali. Satya membuang semua egonya dan ingin memperbaiki hubungan dengan Kanaya.Toh, keluarganya setuju jika dia menjalin hubungan serius dengan gadis asal Bandung itu. Satya sangat berharap Kanaya menerima permintaannya.
"Aku masih ragu. Aku belum bisa percaya jika apa yang kamu ucapkan adalah kebenaran. Kamu pemain drama yang sangat pandai berakting. Aku takut jika semua ini hanya sebuah kepalsuan," jawab Kanaya.
"Aku akan membuktikan jika aku benar-benar serius, Nay," ucap Satya dengan tegas.
"Lalu bagaimana jika suatu saat kamu kembali kepada Mbak Megan?" tanya Kanaya.
"Tidak akan pernah, Naya!" tegas Satya, "setelah ini aku harap kamu bersedia kembali Jakarta. Aku ingin selalu dekat denganmu. Lagi pula aku sudah menemukan asisten baru, seorang pria. Dia menggantikan pekerjaanmu, Nay," jelas Satya
"Lalu untuk apa aku kembali ke Jakarta jika sudah ada yang menggantikan pekerjaanku?" Kanaya mengernyitkan keningnya.
"Untuk menjadi istriku." Sekali lagi Satya mengungkapkan keinginannya, "aku ingin meresmikan hubungan ini secepatnya," pinta Satya.
Rasanya, Kanaya ingin terbang tinggi setelah mendengar semua ungkapan hati dari pria yang diinginkannya selama ini. Air mata bahagia mengalir dari pelupuk mata tatkala Satya mengeluarkan kotak bludru berwarna merah. Satya menyematkan cincin permata itu di jari manis Kanaya sebagai tanda jika hubungan mereka dimulai. Gadis cantik itu mengembangkan senyum bahagia karena mendapat kejutan tak terduga dari Satya.
"Jangan menangis, Nay! Seharusnya kamu bahagia karena kita resmi jadian," ujar Satya seraya mengusap bulir air mata yang tak henti mengalir dari pelupuk mata Kanaya.
"Ini adalah air mata kebahagiaan, bukan sedih," gumam Kanaya di sela-sela isak tangisnya.
Satya mendekap tubuh Kanaya dengan erat. Kecupan mesra kembali dirasakan oleh Kanaya. Gadis cantik itu mengeluarkan semua isi hatinya selama ini tanpa mengubah posisinya. Dia menikmati momen romantis yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Kemana ayah dan kakakmu?" tanya Satya setelah menyadari jika di rumah tersebut hanya ada Kanaya.
"A Firdi tersandung masalah," jawab Kanaya. Lantas, dia menceritakan bagaimana kejadian nahas yang menimpa kakak tirinya itu, "jujur aku sangat takut jika kita menikah nanti. Aku takut mereka akan memeras kita," keluh Kanaya.
"Kita pikirkan nanti. Bu Lasmi pasti bersedia pindah ke Jakarta jika kita sudah menikah," jawab Satya tanpa berpikir panjang.
Mereka mulai membahas rencana pernikahan yang akan dilangsungkan nanti. Satya ingin secepatnya meresmikan hubungan ini agar tidak ada lagi yang mengganggu hubungan mereka. Bahkan, Satya ingin melangsungkan resepsi pernikahan di pulau dewata.
"Eh tapi ya—" Kanaya menghentikan ucapannya dan menarik diri dari dekapan Satya, "kita membicarakan pernikahan, tetapi belum bicara dengan ibu. Kamu yakin jika ibu akan memberikan restunya?" tanya Kanaya seraya mengernyitkan kening.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Semoga othor selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan..agar bisa berkarya kembali
ditunggu slalu karya2nya
Di novel juga bu Lasmi ikutan meninggal..
Sedih banget
banyak bawang nya 😭
lanjut lagi Thor 🙏
semoga saja Satya g berubah
ternyata kena prank😀
tapi syukur deh.. walau kena prank tapi aku senang 🥰😀
Semangat buat author 😍