Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Selesai sarapan, Emily kembali melatih Leon berjalan. Kebetulan juga hari ini adalah hari libur, jadi Leon memiliki waktu lebih banyak di rumah. Rencananya sebelum makan siang mereka akan mengunjungi kedua orang tuanya Leon.
Emily sengaja berjalan mundur secara pelan-pelan. Ia membiarkan Leon tanpa pegangan melangkah.
"Semangat, Tuan!" Emily memberikan senyuman terbaiknya itu dilakukannya agar Leon tak pantang menyerah dan mengurangi hukuman untuknya.
Leon melangkah seperti bocah yang baru belajar berjalan. Jika musuhnya mengetahuinya begini, mungkin dengan mudahnya mereka akan menghancurkannya.
Emily yang begitu semangat tak menyadari ada sebuah batu dibelakangnya membuat tubuhnya terhuyung. Leon yang berada sangat dekat dengannya, secara cepat meraih tangan Emily dan memegangnya erat.
Emily sejenak terpaku menatap tangan Leon yang memegangnya.
"Apa kau tidak bisa hati-hati?"
Pertanyaan Leon membuyarkan lamunan Emily, ia hanya tersenyum tipis.
"Aku tak mau setelah aku yang berjalan, malah kau yang gantian berada di kursi roda," singgung Leon agar Emily lebih waspada dan berhati-hati.
"Maaf, Tuan!" Emily menundukkan kepalanya.
"Kau tetap di sampingku saja, jangan di depanku!" pinta Leon.
Emily dengan patuh menuruti perintah suaminya. Ia berada di samping suaminya tanpa memegang tangan.
Jam 11 siang, Leon dan Emily berangkat ke kediaman orang tuanya Leon. Selama diperjalanan, Leon terus memperhatikan jalan yang ada dibelakangnya.
Satu menit yang lalu Charles memberitahu Leon lewat sambungan telepon jika ada mobil yang tak dikenal dicurigai mengikuti rombongan mereka.
"Ada apa, Tuan?" Emily merasa tak nyaman dengan sikap yang ditunjukkan suaminya.
"Tidak ada."
"Apa ada orang lain yang mengikuti kita?" Emily coba menebak.
"Tidak. Kau tenang saja!" ucap Leon meskipun ia juga merasa cemas. Kesehatan dirinya belum terlalu pulih jika musuhnya mulai menyerang.
Sejam perjalanan akhirnya mereka tiba dikediaman Frans Anderson. Keduanya disambut Mama Rachel dengan senyuman kebahagiaan.
Mama Rachel memeluk Emily dengan erat seakan merindukan menantunya itu begitu lama.
"Leon tak membuat kesal 'kan?" tanya Rachel melepaskan pelukannya dan menatap menantunya.
"Tidak, Tante," jawab Emily.
"Panggil saja Mama, kamu juga adalah anakku!" ucap Rachel lembut.
"Baik, Ma." Kata Emily tersenyum.
"Mari masuk!" Rachel memegang tangan Emily dan mengajaknya menuju ruang makan.
Di sana Leon dan Papa Frans sudah menunggu. Rachel mempersilakan Emily duduk di sebelah putranya.
"Emily, terima kasih sudah berhasil membujuk dan membantu proses penyembuhan Leon," kata Rachel.
"Sama-sama, Ma. Aku juga ingin melihat Leon kembali berjalan," ucap Emily melirik suaminya.
"Leon sangat susah sekali diajak untuk sembuh. Sejak kalian menikah, dia mengalami banyak perubahan," kata Rachel lagi.
"Ma... aku tetap seperti biasa. Tak ada yang berubah," sahut Leon membantah.
"Leon hanya mengunjungi kami setahun dua kali. Sekarang, belum satu minggu kalian menikah dia sudah mengajakmu ke sini. Padahal mamanya baru sekali memohon padanya agar kalian berkunjung. Biasanya dia sangat sulit sekali datang ke sini meskipun mamanya terus membujuknya!" ujar Frans menjelaskan sifat putranya.
Emily hanya tersenyum mendengar cerita kedua mertuanya mengenai suaminya.
"Emily, setelah makan siang Mama ingin memberikanmu sesuatu!" kata Rachel.
Emily tak segera mengiyakan, ia menoleh ke arah suaminya meminta pendapat dari pria itu.
Leon menatap istrinya namun tak memberikan respon apapun.
"Anggap saja hadiah dari kami!" ucap Rachel menoleh sejenak ke arah suaminya.
Emily mengiyakan dengan memberikan anggukan kecil dan senyuman.
Sejam kemudian, Rachel mengajak Emily menuju sebuah ruangan perpustakaan mini. Rachel membuka sebuah laci meja dan mengeluarkan kotak merah berukuran sedang.
Rachel kemudian mengeluarkan isi kotak yang berupa liontin dengan mata berwarna biru. "Ini buat kamu!"
"Mama, ini sangat indah sekali!" kagum Emily.
"Liontin ini pemberian ibunya Papa Frans dan hari ini Mama memberikannya kepadamu!" kata Rachel.
"Ma, apa ini tak terlalu berlebihan? Aku tak pantas memakainya!" Emily menolak secara halus.
"Kamu adalah menantu di keluarga ini. Kamu sudah berhasil meluluhkan hati Leon. Maka, kami mohon jangan pernah sakiti dan tinggalkan dia!" kata Rachel berharap.
Emily terdiam. Ia tak dapat berjanji.
"Emily, kamu adalah wanita yang baik dan tulus. Mama bisa merasakan kalau kamu sangat mencintai Leon," ucap Rachel.
Emily lantas memeluk Rachel, air matanya menetes.
Rachel mengernyitkan dahinya.
Emily melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya dengan jemarinya. "Maaf, Ma. Aku malah jadi menangis begini!"
Rachel pun tersenyum.
"Terima kasih sudah mempercayai aku mencintai Leon!" ucap Emily berbohong. Meskipun hati kecilnya sebenarnya mulai jatuh hati kepada suaminya itu.
Dari ruangan itu, Emily dan mertuanya kembali menemui kedua pria itu. Mereka menikmati waktu santai dan mengobrol di taman belakang rumah.
Leon melihat istrinya kini memakai liontin milik ibunya. "Ma, kenapa kalung itu--?"
"Mama memang memberikannya, Emily pantas menggunakan kalung warisan keluarga kita," kata Rachel menjelaskan.
Tepat jam 4 sore, Leon dan Emily pamit pulang. Dalam perjalanan, Leon memandangi Emily yang jauh lebih cantik mengenakan kalung pemberian Mama Rachel.
Emily yang sadar dipandangi menoleh ke arah suaminya. "Apa ada yang salah?"
"Kenapa mamaku mempercayaimu menggunakan kalung itu?"
"Saya juga tak tau, mungkin menurut mereka saya pantas mendapatkan ini." Emily tersenyum bangga.
"Ciih, percaya dirimu terlalu tinggi sekali!" Leon menatap sinis.
Emily hanya tersenyum saja, ia tak membantah ucapan suaminya.
Sesampainya di istana mewah Leon, mereka tak segera membersihkan diri melainkan ke taman. Emily kembali mengajarkan Leon berjalan.
Leon berhasil melangkah cukup panjang tanpa pegangan, itu membuat Emily begitu senang.
Sangking bahagianya Emily melompat kegirangan, ia memeluk Leon dengan senyum sumringah. Tanpa sadar juga ia memberikan kecupan di pipi suaminya.
Leon mendelikkan matanya mendapatkan kecupan mendadak dari istrinya.
"Maaf, Tuan!" Emily merasa bersalah dan malu karena berani menyentuh pipi Leon dengan bibirnya.
"Kenapa kau bersikap kurang ajar begini?" desis Leon.
"Saya sangat senang dan bahagia," Emily beralasan sambil tersenyum nyengir.
Leon yang merasa harga dirinya jatuh dicium wanita yang tak disukainya itu lantas melangkah.
Emily memegang lengan suaminya, "Mau ke mana, Tuan?"
"Aku mau mandi, membersihkan bekas bibirmu di pipiku!" kesal Leon.
"Tuan, tidak memakai kursi roda?" tanya Emily.
Leon yang tak mungkin berjalan sendirian menuju kamarnya lalu duduk di kursi rodanya.
Emily hendak mendorongnya, namun Leon menolaknya dan meminta Charles yang mengantarkannya ke kamar.
Emily hanya menghela napas dan menatap suaminya yang berlalu dengan perasaan semakin membencinya.
Setelah Leon menghilang dari pandangannya, Emily kemudian menyusulnya. Ketika tangannya hendak menyentuh kenop pintu, terdengar suara keributan dari arah pintu utama.
Emily yang penasaran lantas mendekati asal suara. "Sepertinya itu Kak Belinda!" gumamnya.
Emily mempercepat langkahnya dan tebakannya ternyata benar. Belinda mengamuk di rumah suaminya. Ia pun merasa senang, akhirnya sang kakak pulang. "Kakak!"
Belinda, 27 tahun, mengarahkan pandangannya kepada adiknya. "Emily, di mana suamimu?" tanyanya dengan lantang meskipun para pengawal memegang kedua lengannya dari arah belakang.
"Dia ada di kamar, Kak," jawab Emily.
"Emily, dia itu pembohong. Dia sudah mengurung papa kita di ruangan bawah tanah rumah ini!"