Elina san Rafa besar di panti asuhan yang sama. Suatu hari mereka berpisah karena Elina diadopsi oleh sebuah keluarga kaya yang menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Lima belas tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam kondisi yang sudah amat berbeda. Rafa lah yang paham jika itu Elina dan kemudian memberinya cinta yang Elina butuhkan selama ini dengan kesederhanaan yang dimiliki.
Namun bukan itu masalahnya. Ternyata Rafa sudah bergabung dengan sekelompok mafia dengan tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Bahkan Rafa adalah yang terbaik disana.
Hingga suatu hari kenyataan pahit menghampiri keduanya, bahwa target terbesar Rafa adalah keluarga yang membesarkan Elina selama ini.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Bertahan dan Rafa berhenti dari dunia Mafia, atau Elina mengkhianati keluarga yang sudah membesarkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elina dan Rafa 27
“Rafa!!” pekik Ina yang saat itu datang ketempat mereka biasa bertemu. Padahal ini masih sangat pagi, tapi Rafa menghubungi Ina untuk segera menemuinya disana.
Ina langsung memeluk Rafa dengan begitu erat dan mengecupi pipinya secara membabi buta bagai gemas padanya.
“Kenapa pagi-pagi sekali ngajak bertemu?” tanya Ina yang masih menggelendot manja.
“Entah… Sebenarnya masih bisa siang, tapi rasanya aku seperti tak sabar untuk memberikan ini padamu.” Rafa megeluarkan kotak berisi cincin yang ia beli semalam untuk Ina. Gadis itu langsung takjub dan membungkam mulut sendiri sangking terharunya ia saat ini.
“Untuk Ina?”
“Iya,siapa lagi?” ucap Rafa. Ia segera meraih tangan Ina dan memakaikan cincin indah itu, yang kebetulan sangat pas dijari manisnya yang indah. Rafa langsung mengecup mesra tangan Ina saat itu dengan tatapan penuh cinta, tatapan yang tak pernah ia berikan oleh gadis lain sebelumnya.
Andai waktu masih panjang, pasti Ina sudah menghabiskan waktunya dengan Rafa saat ini, namun tak bisa. Ina haru kembali ke kampus untuk kuliah dan Rafa harus segera bekerja seperti biasa. Ia diundang ayah untuk melatih beberapa anggota baru dengan keahliannya sebagai penembak jitu.
Ina pamit setelah mendapat kecupan mesra dibibirnya saat itu. Begitu hangat dengan segala gelora jiwa mudanya yang benar-benar tengah panas membara, bagai ia telah membangunkan macan tidur saat ini dan siap untuk ia terkam kapan saja.
“Nanti Ina kerumah Rafa, ya?”
“Ya, pintu selalu terbuka untukmu kapan saja,” balasnya.
Ina melambaikan tangan melepas kepergian Rafa, kemudian ia naik mobilnya sendiri menuju kampus sesuai dengan janjinya pada sang kekasih hati.
Rafa melenggan santai membelah jalanan yang cukup ramai itu sendiri, hingga akhirnya ia tiba di markas Storm saat itu. Suara tembakan sudah terdengar dari tempatnya memarkirkan mobil, begitu menggema dan merdu baginya.
“Tuan R?” sambut salah seorang penjaga yang ada disana. Rafa hanay menganggukkan kepala untuk masuk dan langsung menuju sumber suara yang ada, dan disana ia langsung disambut oleh ayah Jo nya.
“Kau datang?”
“Kata ayah, aku yang harus melatih mereka. bagaimana?” tanya Rafa yang sudah ada dihadapannya. Ia menatap mereka semua disana yang mulai dengan senjatanya masing-masing sesuai bakat dan minat.
“Ya, memang Kau andalan ayah di Storm untuk skil tembak. Benar kan?” Rafa hanya tersenyum membalasnya saat itu dan segera menghampiri salah satu dari mereka.
“Permisi, cara pegangmu salah, harusnya_”
“Hey, Bung… Kau siapa?” tanya pria itu yang menyambut Rafa dengan wajah sinisnya.
“Aku? Aku bukan siapa-siapa, disini kita sama-sama belajar,” jawab Rafa dengan santai, namun pria itu tak membalas sesantai Rafa dengan raut wajah sombongnya. Ia meraih senjata laras panjang yang sempat ingin dibenarkan oleh Rafa saat itu dan ia kembali menggenggamnya sesuai yang ia mau.
“Jika sama-sama belajar, jangan sok menasehatiku. Aku bahkan jauh lebih hebat darimu jika hanya dengan senjata ini, bahka senjata lain yang mereka pegang disana.” Pria itu melirik semua yang ada disana dengan senjatanya masing-masing, dan ia bilang jika menguasai semuanya.
Rafa hanya tersenyum geli saat itu, dan kemudian masih berdiri disana untuk melihat bagaimana cara kerjanya dengan pegangan seperti itu pada senjata yang ada. Jelas salah dan tembakannya meleset parah saat itu, namun Ia justru berteriak seolah tepat dan ia begitu bangga dengan hasil tembakannya barusan.
“Kau lihat? Hanya beberapa inci lagi aku bisa menembus titik tengahnya. Pasti aku akan dipuji lagi setelah ini, dan bisa mendapatkan Latihan eksklusif dengan Mr, R.” Ia dengan bangganya menyebutkan itu semua didepan orang yang ia maksud saat itu.
“Kau tahu Mr. R siapa?”
“Siapa?” tanya Rafa yang barusan dicolek olehnya.
“Dia adalah R, rajanya senjata diantara semua Mafia. Ia paling ditakuti saat ini dengan segala prestasi ia miliki di usianya yang masih sangat muda,” jawabnya dengan nada yang menggebu-gebu saat itu.
Rafa hanya menganggukka kepala mendengar celotehnya saat itu yang begitu bersemangat, bahkan ia mengajari bagaimana caranya agar berhasil dan bertemu dengan Mr. R yang ia maksud saat ini.
“Ini, pegang pistolnya dan tembak kearah sana. Melenceng sedikit tak apa, yang penting sudah berusaha. Namanya juga pemula, kan?” tepuknya di bahu Rafa dan menunjuk kearah patung mereka disana.
Rafa mengikuti arahannya saat itu. Ia mengarahkan ujung senjara laras panjang itu kemudian memejamkan satu matanya. Jika dilihat, ia tak gugup atau pun tegang sama sekali dan santai ketika memegang senjata yang cukup berat itu dengan kedua tangannya, dan posisi yang ia pakai juga sempurnya.
Dor! Satu tembakan, mengengai tepat ditengah kepala patung itu dan tak melenceng satu inci pun. ,
Pria tadi lantas membulatkan mata melihatnya, tak percaya jika yang ia anggap sebagai si pemula itu ternyata berkali kali lipat lebih hebat darinya. Rafa menembak lagi, dan ia bahkan menyebutkan daerah apa saja sebagai titik vital manusia yang akan sangat mematikan jika Terkena timah panas senjatanya saat iut.
“Jantung, kepala, Aorta, paru-paru, hati dan ginjal.” Mereka semua beresiko tinggi mengalami pendarahan hebat dan akan sulit diselamatkan jika terkena peluru seperti ini. Bahkan Rafa menunjuk ke bagian tubuh pria itu dengan senjata yang ia bawa, hingga membuatnya gemetaran tak terkira.
“Kau ingin bertemu R?” tanya si pemilik panggilan, dan pria itu menganggukkan kepala segera padanya. Ia masih saja belum sadar jika R yang ia maksud saat itu ada didepan matanya.
“R_” panggil Tom yang datang saat itu. ia langsung menghampiri Rafa dan tos padanya. Pria yang ada disana langsung membulatkan mata dengan mulutnya yang ternganga, dan ia bahkan jatuh sendiri tanpa ada yang menyenggolnya sama sekali.
“Hey, kau tak apa?” tanya Tom saat itu, dan ia justru langsung berdiri meraih tangan Rafa meminta maaf padanya.
“Aku sama sekali tak paham. Maaf, Tuan…” sesalnya dengan wajah tertunduk saat itu.
Rafa hanya tersenyum begitu juga dengan yang lain yang sempat meremehkannya ketika baru datang tadi. Mereka datang dan langsung memberi hormat pada Rafa sebagai senior terhebat di Storm. Rafa hanya menatap mereka semua dengan kedipan mata dan menundukkan kepalanya, itu dibalas oleh mereka semua disana.
“Ya, Dia anakku yang paling disegani saat ini. tak salah aku mendidiknya dengan keras,” ucap ayah Jo yang melihat mereka semua dari kejauhan.
**
“Ina cincinnya bagus,” ucap Rita pada cincin baru yang Ina pakai saat itu. Bahagia Ina, karena cincin cantik itupun dipuji oleh teman sekelasnya.
“Iya, ini dari pacarku. Tapi dia belum lamar sih,” jawab Ina.
“Ya ngga papa, setidaknya dia sudah menunjukkan keseriusannya itu sama kamu. Aku aja salut loh,” balas Rita, dan itu semakin membuat Ina berbunga-bunga saat ini. Semakin cinta rasaya pada seorag Rafa.
lanjut kak upnya 💪💪💪💪